
Sebelum baca, kasih like, tip & favorite dulu ya.
Udah?
Selamat membaca
.
.
.
Beberapa waktu yang lalu Loli mengatakan pada Bim kalau dia akan menyatakan perasaannya kepada Seokjin. Mendengar itu rasanya membuat cowok itu merasakan sesak di dadanya.
Bagaimana dia harus bersikap biasa saja? Ketika cewek yang dia cintai sedari kecil akhirnya untuk pertama kalinya akan menyatakan perasaan pada cowok lain dan bukan dirinya yang selama ini tulus menyukai Loli.
Bim sadar diri kalau dia hanyalah anak pembantu. Perasaan yang dia miliki tidak seharusnya dia miliki. Tapi dilain sisi dia hanyalah manusia biasa yang juga tidak bisa terus-terusan mengelak dari perasaan yang tumbuh di hatinya.
Hari ini adalah waktunya, dimana Bim harus merelakan apapun yang akan terjadi nantinya. Apa yang bisa Bim lakukan hanyalah mengawasi Loli diam-diam.
Meski dia sendiri ragu apakah itu akan baik untuk dirinya sendiri ketika mendengar dan melihat langsung pernyataan cinta Loli ke Seokjin nantinya.
Loli berencana menyatakan perasaanya di taman tempat dulu pertama sekali dia dan Seokjin berkencan. Karena pasti akan menjadi kisah yang indah ketika tempat itu juga menjadi saksi diterimanya perasaan Loli selama ini oleh Seokjin.
Mereka berdua awalnya hanya minum kopi di cafe dan berjalan-jalan mengelilingi taman wisata itu. Loli sedikit heran dengan raut wajah Seokjin hari ini. Dan hari-hari sebelumnya juga.
Cowok itu terlihat murung dan sedang memikirkan sesuatu. Terkadang ketika Loli berbicara sesuatu ternyata Seokjin tidak mendengarkannya karena sedang melamun.
Padahal Loli pikir rencanya sudah berhasil. Seokjin dan Suny sepertinya tidak selengket dulu lagi. Bahkan Loli mendapati Seokjin yang dengan sengaja menghidar dari Suny. Itu berarti rencananya sudah sukses 'kan?
Jadi Loli rasa sekarang adalah saat yang tepat. Dia tidak perlu menunda-nunda lagi. Jika bukan sekarang sampai berapa lama lagi dia harus menunggu.
Tidak penting baginya dia yang harus duluan menyatakan perasaannya pada Seokjin. Karena yang terpenting sekarang dia dan cowok itu harus jadian.
Ketika sampai di sebuah bangku taman Loli mengajak Seokjin untuk duduk di sana setelah capek berjalan-jalan mengelilingi taman.
__ADS_1
Seokjin melirik heran pada Loli yang duduk disampingnya. Kenapa cewek itu jadi tiba-tiba resah begitu. Matanya tidak fokus harus memandang entah kemana.
"Kamu kenapa?" khawatir Seokjin memerhatikan Loli.
"Ah gak apa-apa," tampik Loli tertawa hambar untuk menutupi kegugupanya.
Kenapa dia jadi seperti ini? Padahal Loli sudah merencanakan apa yang akan dia katakan pada cowok itu. Sekarang seolah kepalanya kosong dan Loli jadi bingung sendiri harus mulai dari mana.
Sementara tidak jauh dari sana. Bim memerhatikan Seokjin dan Loli yang sedang duduk di bangku taman. Sementara dia sendiri bersembunyi di balik pohon. Dia meremas kuat batang pohon itu dengan emosi yang menggebu.
"Seokjin," panggil Loli pelan dengan kepala tertunduk.
"Hm, kenapa?" sahut Seokjin yang dipanggil.
"A-Aku suka sama kamu," cicit Loli pelan, sangat pelan sampai Seokjin sendiri tidak mendengar apa yang cewek itu katakan.
"Kamu ngomong apa? Aku gak denger," terang Seokjin yang memang tidak mendengar ucapan Loli.
"Aku suka sama kamu Seokjin," tutur Loli kali ini dengan suara yang jelas.
Dan ini adalah perasaan berbeda yang Seokjin rasakan daripada saat cewek-cewek yang selama ini mengejarnya menyatakan perasaanya pada dirinya.
"Kamu juga suka 'kan sama aku?" tanya Loli dengan percaya diri meski dirinya sangat gugup saat ini.
Seokjin mengerjapkan matanya bingung harus menjawab. Apa yang harus dia katakan? Ditatap seperti itu oleh Loli membuatnya semakin terdiam.
"Aku...," gugup Seokjin melihat wajah Loli yang kini tersenyum manis padanya.
Disaat seperti itu tiba-tiba sosok Suny hadir dalam pikirannya. Cewek yang selama ini selalu menemaninya. Kenangan waktu mereka sedari kecil dulu terlintas begitu saja.
Saat mereka pertama kali bertemu, saat mereka bermain bersama, saat mereka belajar bersama. Dan senyuman tulus yang Suny berikan padanya.
Senyuman yang menjadi pengobat rasa sakitnya. Penyemangatnya sedari dulu adalah senyum milik Suny. Dan sekarang dengan egoisnya dia menghindari cewek itu hanya karena masalah kedua orangtua mereka.
Senyum yang sedari dulu ada untuk memberi semangat pada dirinya berubah menjadi wajah murung karena keegosianya sendiri.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf karena sudah kasih harapan ke kamu. Tapi
aku gak bisa terima perasaan kamu Loli," ujar Seokjin dengan perasaan bersalah.
Senyum yang mengembang di wajah Loli perlahan memudar. Kepalanya tertunduk lemas dengan tangan terkepal kuat. Seokjin dapat melihat buliran air mata mengalir di pipi Loli.
"Kenapa sih anak pembantu itu nyebelin?" cetus Loli dengan suara serak. Seokjin mengerutkan dahinya bingung apa maksud dari perkataan cewek itu.
"Pertama, anak pembantu di rumah aku sudah ambil perhatian orang tua aku sampai-sampai aku gak diperhatiin. Cuma karena aku cewek. Mereka lebih mentingin anak pembantu yang mereka angkat jadi anak angkat. Bahkan sampai perusahaan milik keluargaku bakal diwarisin ke anak pembantu itu."
Bim yang mendengar itu terdiam membatu. Cengkraman tanganya pada batang pohon itu perlahan melemah lalu terlepas karena tubuhnya yang tiba-tiba melemas.
Dia tidak percaya kalau selama ini Loli berpikiran dan menganggap dirinya seperti itu. Jadi selama ini Loli diam-diam membencinya?
Padahal dia tidak berniat sama sekali untuk mengambil apa yang seharusnya Loli miliki. Dia memang senang karena di angkat menjadi anak angkat oleh orang tua Loli. Dan diberi kesempatan untuk mengejar cita-citanya.
Tapi dia tidak tahu kalau dia akan mewarisi perusahaan yang di kelola oleh orang tua Loli. Malahan dia berencana untuk menempuh jalannya sendiri. Dan akan membalas kebaikan orang tua Loli serta membahagiakan kedua orang tuanya.
"Kedua, anak pembantu di rumah kamu yang ngehancurin satu-satunya jalan supaya aku bisa buktiin ke orang tua aku kalau anak cewek juga bisa berguna buat perusahaan keluarga aku. Kamu tahu Seokjin? Perusahaan orang tua kita itu saingan berat. Jadi dengan aku yang punya hubungan bahkan kalau bisa sampai menikah sama kamu nanti. Perusahaan orang tua kita bisa jalin kerjasama dan gak perlu ada persaingan lagi," jelas Loli sesegukan karena menangis hebat.
"Aku capek dari kecil sampai sekarang, harus ngeliat orang tua aku yang terus-terusan anggap aku gak ada. Aku punya orang tua yang lengkap tapi dua-duanya seolah bertingkah cuma punya satu anak laki-laki yaitu Bim. Mereka kasih semua yang mereka pikir aku perlu padahal yang aku butuhin itu cuma perhatian mereka berdua."
"Aku juga pengen jadi anak pembantu Seokjin. Anak pembantu yang punya kasih sayang tulus dari orang tuanya," tukas Loli menatap sendu Seokjin dengan wajah berlinang air mata.
Lalu tanpa Loli sadari ada seseorang yang merangkul tubuhnya dari belakang tiba-tiba. Orang itu juga terisak menangis terdengar dari suaranya.
Saat Loli menoleh pada sosok itu. Ternyata orang itu adalah Bim. Loli jelas kaget bukan main. Matanya yang berlinang air mata melebar tidak percaya. Bagaimana bisa Bim berada di sini?
.
.
.
MY PRINCE FRIEND
__ADS_1