MY PRINCE FRIEND - KSJ (Selesai)

MY PRINCE FRIEND - KSJ (Selesai)
29. ** Jangan Lupakan Aku **


__ADS_3

Sebelum baca, kasih like, tip & favorite dulu ya.


Udah?


Selamat membaca


.


.


.


Alat pendeteksi aktivitas jantung itu masih menunjukan gambar yang stabil. Sesekali berbunyi diheningnya malam. Di ranjang itu ada Seokjin yang masih tidak sadarkan diri. Setelah beberapa bulan lamanya.


"Kamu masih belum mau pulang?" tanya Wonju pada Suny yang masih fokus pada bacaanya.


"Aku masih mau di sini Kak. Kalau Kak Wonju mau pulang, duluan aja," ungkap Suny seraya membalik halaman buku yang dibacanya.


"Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya," pamit Wonju mengambil tas kerja dan jasnya yang berada di atas sofa lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Jam di dinding sudah menunjukan jam sepuluh malam. Tapi Suny masih belum berniat untuk pulang juga. Dia menutup buku yang sedang dibacanya.


Suny menatap murung pada sosok yang terbaring lemah di depanya. Dia memang suka memandang wajah Seokjin ketika sedang tertidur. Tapi kali ini tidurnya cowok itu sudah terlalu lama.


Dia berharap agar Seokjin segera membuka matanya dan kembali sehat seperti dulu. Tidak apa-apa jika cowok itu harus menjauhinya sekalipun. Asalkan Seokjin tetap sehat dan menjalani hidupnya dengan bahagia.


Seokjin sudah terlalu lama menderita selama ini. Dan disaat semua sudah membaik justru kemalangan menimpa cowok itu. Hal ini membuat Suny sangat bersedih untuk Seokjin.


Apakah dunia tidak dapat melihat Seokjin bahagia untuk sesaat saja? Kenapa harus penderitaan yang selalu cowok itu rasakan. Kenapa cowok sebaik Seokjin harus merasakan ini semua.


Suny memegang tangan Seokjin yang saat ini terpasang selang infus. Fakta bahwa ketika sadar kemungkinan besar Seokjin akan mengalami hilang ingatan karena cedera kepala yang Seokjin alami karena kecelakan waktu itu.

__ADS_1


Membuat Suny lagi-lagi tak kuasa untuk menahan tangisnya. Apakah ini cara terbaik untuk menghapuskan rasa sakit yang selama ini Seokjin rasakan?


Jika benar begitu maka Suny juga akan rela. Sekalipun dia akan merasakan sedih yang mendalam karena kemungkinan akan dilupakan oleh orang yang berharga dalam hidupnya.


"Kamu harus cepat bangun ya Seokjin. Jangan jadi pangeran tidur terus," ucap Suny dengan suara terisak.


Tiba-tiba ada orang yang masuk. Suny mengusap wajahnya yang basah karena air matanya sendiri. Ternyata yang datang adalah Loli.


Loli juga sering menjenguk Seokjin selama cowok itu dirawat. Suny pikir wajar saja karena Loli adalah pacarnya Seokjin. Saat Loli datang menjengguk, Suny sadar diri dan akan pamit pulang.


Begitupun malam ini, dia segera mengambil tasnya dan hendak pergi. Tapi ternyata Loli memanggilnya sepertinya ada sesuatu yang ingin cewek itu katakan padanya.


"Kamu sama Bim udah gak dekat lagi ya?" ujar Loli langsung. Dari kemarin-kemarin dia ingin untuk menanyakan tentang hal ini pada Suny.


"Maksud kamu apa Loli? Lagian 'kan aku sama dia emang gak ada hubungan apa-apa," jelas Suny heran pada cewek itu yang tiba-tiba membahas Bim.


"Bukanya kalian selama ini dekat ya? Aku kira kalian sudah jadian lho."


"Ah bukan apa-apa. Aku cuma penasaran doank," tampik Loli sembari mengambil posisi duduk di damping Seokjin. Tempat dimana tadinya Suny duduki.


"Kalau gitu aku pulang duluan. Jagain Seokjin ya," ujar Suny hendak pergi dan Loli hanya balas mengangguk pelan.


Dalam perjalananya tanpa sengaja Suny bertemu dengan Bim di luar rumah sakit. Saat bertanya kenapa Bim bisa ada di sana ternyata cowok itu yang mengantar Loli ke sini.


Sejak kejadian waktu itu, Bim dan Loli mencoba untuk saling terbuka. Bim bilang kalau dia akan selalu ada untuk mendukung Loli dan cewek itu tidak perlu takut jika Bim akan mengambil alih perusahaan milik orang tua Loli. Karena Bim bertekad untuk menempuh jalannya sendiri.


Lolipun kini sudah berubah, dia yang dulu sangat egois karena rasa takut yang dia harus alami perlahan perasaan itu menghilang. Dia memiliki semangat baru untuk membuktikan pada orang tuanya kalau dia pantas untuk mendapat perhatian kedua orang tuanya.


Itu perlahan terbukti dengan Loli yang berpindah ke kelas yang sama dengan Bim. Kelas unggulan yang berisikan siswa-siswa terpilih. Loli tidak menyangka bisa melakukan hal itu. Kedua orang tuanya juga bangga dengan Loli.


Akhirnya Loli dapat memulai apa yang menjadi tujuanya tanpa harus mengandalkan bahkan menyakiti orang lain untuk mencapai keinginannya.

__ADS_1


Suny juga sebenarnya sudah lama tidak melihat Bim. Karena Suny yang pindah sekolah. Ya, dia pindah sekolah karena biaya sekolah di sekolah lamanya yang terlalu mahal bagi ekonomi kedua orang tuanya saat ini.


Sebenarnya keluarga Seokjin bahkan Kak Wonju memaksa Suny untuk tetap bersekolah di sana tapi Suny menolak karena tidak ingin lagi merepotkan keluarga itu. Akhirnya Suny pun pindah ke sekolahnya saat ini. Jaraknya juga dekat dengan rumahnya. Jadi Suny bisa pulang-pergi dengan jalan kaki saja.


Suny tidak bisa mengobrol banyak dengan Bim karena harus segera pulang. Tapi ternyata Bim menawari untuk mengantar Suny pulang.


Suny menolak karena dia bisa pulang naik kereta saja. Lagipula saat ini Bim pasti sedang menunggu Loli yang sedang menjenguk Seokjin di rumah sakit.


Tapi Bim bilang kalau sebenarnya Loli hanya minta di antarkan saja. Jadi cowok itu bisa mengantar Suny untuk pulang. Akhirnya Suny pun di antar oleh Bim pulangnya.


"Kamu kedinginan gak? Soalnya naik motor kena angin malem-malem gini," tanya Bim cukup keras agar Suny dapat mendengar ucapanya dengan jelas.


Suny menggelengkan kepalanya. "Aku gak kedinginan kok. Maaf yah udah ngerepotin kamu Bim."


"Gak ngerepotin Suny, 'kan aku sendiri yang nawarin buat nganter  pulang kamu," sanggah Bim terkekeh geli. Kenapa cewek itu jadi tidak enakan padanya seperti ini sih.


Disaat tawanya reda samar-samar justru Bim mendengar isakan tangis di belakangnya. Entah kenapa tiba-tiba saja Suny menangis.


Suny mengeratkan rangkulan tangan di pinggang Bim. Membenamkan wajahnya di balik punggung cowok itu. Terisak sejadi-jadinya saat itu. Perlahan Bim pun memelankan laju motornya.


"Kamu jangan lupain aku ya Bim. Kamu janji ya! Pokoknya kamu gak boleh lupain aku!" pinta Suny dengan isakan tangis yang menjadi-jadi.


Bim hanya mengiyakan meski tidak tahu apa maksud Suny kenapa berkata seperti itu. Apa ini ulah Loli lagi?


Tapi tidak mungkin, Loli yang sekarang sudah berubah. Cewek itu tidak akan melakukan hal seperti ini lagi pada Suny. Pasti ada alasan lain kenapa Suny begini.


.


.


.

__ADS_1


MY PRINCE FRIEND


__ADS_2