
Sebelum baca, kasih like, tip & favorite dulu ya.
Udah?
Selamat membaca
.
.
.
Suny hanya bisa terdiam mendengar balasan dari Seokjin. Loli? Lagi-lagi cewek itu tidak pernah menyerah untuk mengusik hidupnya.
Apa yang membuatnya kini bingung adalah bagaimana menjelaskan tentang Loli kepada Seokjin sekarang. Tidak mungkin cowok itu akan percaya begitu saja padanya.
Mengingat pandangan Seokjin terhadap cewek itu sangat baik. Malah yang ada nanti Suny yang dituduh menjelek-jelekan Loli.
Suny kini menatap pada Seokjin yang kembali sibuk berlatih mengerjakan soal. Sebaiknya dia urungkan saja niatnya itu.
Dia hanya bisa tersenyum masam. Perasaannya sedikit sedih menyadari bahwa saat ini ada jarak diantara dirinya dan cowok itu.
Padahal dulu hal sekecil apapun akan mereka bicarakan. Tak peduli itu adalah hal yang penting atau bukan. Kenapa sekarang jadi begini?
Terdengar suara ponsel Seokjin yang berdering. Dia yang tadinya fokus pada bukunya teralihkan pada benda itu. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat layar ponselnya.
"Suny kayaknya malam ini sudah dulu belajarnya. Lanjutin besok ya," seru cowok itu beranjak pergi meninggalkan kamar itu.
Suny hanya mengangguk pelan. Dia jadi penasaran. Siapa orang yang menelpon cowok itu sampai membuatnya rela berhenti belajar seperti ini.
Padahal Seokjin sudah bela-belain tidak main game agar bisa belajar malam ini. Tidak tahunya tekatnya runtuh hanya karena mendapat panggilan telepon orang itu.
Suny menghela napasnya sembari merapikan buku-buku yang berserkan di lantai. Dia meletakan buku dan alat tulis Seokjin di laci kamar cowok itu kemudian pergi ke kamarnya dan ibunya.
Dalam perjalanan menuju kamarnya dan ibunya dia melihat Seokjin yang sedang duduk di balkon sembari mengobrol dengan seseorang di telepon.
Cowok itu terdengar bahagia sekali dari nada bicaranya. Lalu kemudian akhirnya nama seseorang disebut oleh Seokjin. Ternyata orang yang sedang menelponnya adalah Loli.
Jadi orang yang membuat Seokjin begitu adalah Loli? Suny tidak menyangka hubungan mereka berdua sudah sedekat itu. Cowok itu juga tidak pernah becerita padanya tentang Loli.
__ADS_1
Dengan langkah berat Suny kembali melanjutkan jalanya. Entah kenapa perasaanya menjadi sedih sekarang. Ini semua terjadi karena kesalahanya yang memaksa Seokjin agar mau nge date dengan Loli waktu itu.
Kalau saja dia mengabaikan saja cewek itu. Mungkin sekarang hubunganya dengan Seokjin tidak jadi seperti saat ini. Hal itu benar-benar membuat Suny menyesali perbuatanya.
Tidak-tidak, ini bukan kesalahanya. Waktu itu Suny belum tahu siapa Loli sebenarnya. Lagipula cewek itu bermuka dua. Suny sudah tertipu dengan sandiwara Loli.
Lihat saja nanti, Suny akan perlihatkan sifat Loli yang sebenarnya pada Seokjin. Suny tidak rela jika cowok itu harus bersama dengan cewek seperti Loli.
Tapi bagaimana caranya pikir Suny. Akhir-akhir ini juga dia tidak pernah bertemu dengan cewek itu. Apa jangan-jangan Loli kena skorsing ya. Kemarin 'kan dia dipanggil ke ruang guru karena kasus di toilet waktu itu.
Hal yang membuat Suny heran adalah Bim yang juga ikutan tidak datang ke sekolah. Apa yang sebenarnya terjadi pada ketua kelas yang terkenal sangat rajin itu? Tidak mungkin 'kan cowok itu juga ikutan kena skorsing.
Suny menyesal karena tidak menyimpan nomer Bim. Malah yang ada di kontak handphone nya nomer milik Loli. Jadinya dia tidak bisa menghubungi cowok itu.
Tidak mungkin dia menelpon Loli untuk menanyakan kabar Bim. Malah yang ada belum sempat berbicara nomernya akan di blokir oleh cewek jahat itu.
Padahal Suny penasaran kenapa Bim yang tidak sekolah. Guru-guru sampai menanyakan kenapa ketua kelas mereka tidak masuk akhir-akhir ini. Padahal sebentar lagi akan di adakan ujian.
.
.
.
Jadi Suny hanya menurut saja. Setelah pekerjaan di rumah ini selesai. Pagi ini mereka segera siap-siap. Suny mengerutkan dahinya heran melihat ibunya yang berdandan memakai make up.
Ini benar-benar membuat Suny penasaran siapa sebenarnya orang yang akan mereka temui. Jarang-jarang dia melihat ibunya berdandan.
Ketika mereka sudah hendak ingin pergi, Suny baru ingat dia belum memberi makan ikan hiasnya. Jadi dia meminta ijin ke ibunya untuk kembali ke kamar sebentar.
Selangkah lagi dia akan masuk kamarnya. Dari celah pintu itu dia melihat seseorang di dalam sana. Orang itu tidak lain adalah Seokjin.
Dia perhatikan gerak-gerik cowok itu ternyata sedang memberi makan ikan hias di dalam sana. Seokjin dengan senyum kecilnya menabur makanan ikan itu ke dalam aquarium.
"Sama kamu aja dia lupa apalagi sama aku 'kan?" celetuk Seokjin berbicara pada ikan hias itu.
Samar-samar Suny dapat mendengar ucapan cowok itu. Apa maksud Seokjin dengan Suny yang melupakan cowok itu dan ikan hiasnya?
Suny tidak merasa kalau dia melupakan cowok itu. Dia masih sama seperti biasanya. Bukanya Seokjin semalam yang lebih memilih telponan dengan Loli ketimbang belajar bersama denganya?
__ADS_1
"Sepertinya bukan cuma saat makan saja kita terlihat mirip. Tapi perlakuan Suny ke kita berdua juga sama."
Mendengar itu membuat dada Suny sesak. Bagaimana bisa Seokjin berpikir dia melupakan cowok itu? Dia akan selalu ada untuk Seokjin.
Karena lama menunggu putrinya Manda memutuskan untuk mengecek ke dalam. Dia melihat Suny mengintip ke dalam kamar mereka sendiri.
Apa gerangan yang di lihat olehnya. Saat dia menepuk pundak Suny, putrinya kaget bukan main. Manda jadi ikutan terkejud juga.
Belum juga bertanya alasan kenapa Suny mengintip ke kamar mereka. Putrinya buru-buru mengajaknya agar segera pergi dari sana. Seolah takut akan ada yang datang.
Kali ini mereka memutuskan berangkat memakai taksi karena tempat yang akan mereka tuju cukup jauh. Dalam perjalanan Manda memperhatikan Suny terlihat murung sekali. Seperti ada yang dia pikirkan.
Setelah cukup lama perjalanan mereka berdua akhirnya sampai di tempat itu. Sebuah taman di mana lokasinya dekat dengan rumah Manda dan mantan suaminya dulu.
"Ini di mana bu?" tanya Suny memperhatikan sekitar. Tempat ini asing baginya. Baru pertama kalinya dia ke sini.
"Ini daerah tempat kita tinggal dulu. Mungkin kamu gak tahu 'kan."
"Terus kenapa ibu ngajak aku kemari?"
Sebelum menjawab pertanyaan putrinya Manda duduk pada sebuah kursi taman yang berada di dekat mereka berdua.
Manda mengambil napas pelan. Sejujurnya dia agak gugup mengatakan hal ini pada Suny. "Kita akan bertemu dengan ayahmu di sini."
Sontak saja Suny tertegun. Dia menatap pada ibunya tidak percaya. Kalau tahu akan begini dia tidak akan mau ikut dengan ibunya.
Pantas saja ibunya merahasiakan akan bertemu dengan siapa. Ternyata mereka akan berjumpa dengan pria brengsek itu.
"Maaf apa kalian sudah lama menunggu?" terdengar seruan seorang pria oleh Suny.
Suny berbalik badan menatap pada orang itu. Mereka berdua sama-sama tertegun saling memperhatikan. Jadi ini ayahnya? Pikir cewek itu.
.
.
.
MY PRINCE FRIEND
__ADS_1