My Sexy Student

My Sexy Student
14. Faisal Marah


__ADS_3

"Astaga! Aruna?! Kamu kenapa sayang?." Renata terkejut melihat putri nya datang dengan keadaan memakai kursi roda, kalau bukan karna Faisal Aruna tidak mau memakai kursi roda.


laki-laki itu berlebihan sekali katanya Aruna belum sembuh total jadi jangan banyak gerak dulu, padahal Aruna merasa dirinya tidak apa-apa.


"Aruna tadi pingsan dia kelelahan." Faisal mendorong Aruna masuk mengabaikan Renata yang terkejut melihat Faisal, bahkan Renata kembali terkejut melihat sikap sekonyong-konyong nya Faisal yang memasuki rumah nya tanpa ijin.


"Kamar Aruna dimana?." suara Faisal membuyarkan lamunan Renata.


"Saya bisa membawa nya sendiri, terima kasih sudah membantu Aruna lebih baik anda pergi Aruna biar saya yang mengurus nya." Renata mengambil Alih kursi roda Aruna dia juga secars sengaja mengusir Faisal dengan halus.


"Mah?, ko bilang nya gitu sama Pak Faisal?." Aruna menatap ibu nya penuh tanda tanya, kenapa sikap ibunya cuek sekali pada Faisal.


"Tidak apa-apa Aruna, kalau begitu saya permisi ya?." Faisal mengerti akan situasi pun segera meninggalkan Mansion Aruna. Meninggalkan Aruna yang sedikit merasa sedih.


"Mamah kok gitu,,Pak Faisal tuh baik sama Aruna!, dia udah tolongin Aruna."


"Jadi dia laki-laki yang kamu bicarakan?, kalau papah kamu tau kamu bisa di marahin Runa."


Di kediaman Aruna Saat ini tengah makan malam terasa hikmat dan tenang tidak ada yang membuka suara sedikitpun hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar.


Aruna merasa canggung saat ini, apalagi saat pembicaraan dirinya dan ibu nya tadi siang. Membuat Aruna tidak bernafsu makan sekarang. Dengan makanan yang masih tersisa Aruna beranjak dari duduk nya.


"Mah, Pah Aruna udah kenyang, selamat malam." Pras dan Renata menatap Aruna dengan tatapan tak terbaca.


"apa tidak ada pelukan hangat pengantar tidur Runa?." Ucapan Pras membuat langkah kaki Aruna berhenti. gadis itu segera menghampiri ayah dan ibu nya lagi dan memeluk nya satu persatu tanpa kata.


"semoga mimpi indah my princess Aruna." Pras mengecup puncuk kepala putrinya. Aruna hanya merespon dengan senyuman tipis dan kembali melangkah pergi.


"Jangan membuat Aruna tertekan Pah, dia tadi siang drop kondisi nya melemah, gk seharus nya kita buat dia seperti itu." Renata menatap suami nya tatapan melemah.


"Dia hanya belum menerima saja, nanti juga dia pasti akan menerima nya."


"Terserah Papah, tapi jika ada apa-apa dengan Aruna jangan menyalahkan Mamah."

__ADS_1


Cahaya matahari masuk melalui celah gorden membuat seseorang yang tertidur nyenyak kini mulai terganggu karna cahaya sang mentari.


"Eungh Hoaaam." Aruna menguap dan mengheliatkan tubuhnya meregang kan otot otot nya yang terasa kaku.


"Astaga!! Ini udahh jam 8 mati gue!." Aruna repleks bangun dari kasur nya saat melihat jam di meja dekat kasur nya menunjukkan pukul 8 pagi. Dirinya kesiangan dan tidak ada yang membangunkan nya?!, kenapa ibu nya tidak membangun kan nya,pikir Aruna.


Aruna segera keluar menuruni tangga untuk menemui ibu nya yang ternyata berada di dapur tengah berkutat dengan peralatan dapur.


"Mamah!, Mah!, Kok Aruna gk di bangunin sih!."


"Hari ini papah kamu ngasih ijin buat gk sekolah, kondisi kamu belum pulih."


"Aruna udah baikan tau!, kenapa gk biarin Runa sekolah aja." Aruna merengut kesal lebih baik dia sekolah daripada harus dirumah bosan.


"Kamu masih sakit, sana bersih-bersih dulu mamah buat kue sama camilan kesukaan kamu." Renata kembali membuat adonan kue.


"Kesel ihh!."


"Putri!."


"Ehh Pak Faisal, Aruna hari ini gk masuk sekolah karna sakit." Saat Putri akan keluar menuju kantin langkah nya terhenti karna teriakan seseorang yaitu Faisal. Putri sudah tau pasti Faisal akan menanyakan Aruna.


"Yaudah kalau gitu." Faisal menjatuhkan bahu nya lemas. Hari ini Aruna tak masuk sekolah pantas saja Faisal tak melihat Aruna sejak tadi. Dirinya merasa malas untuk melakukan Aktivitas mengajar nya karna tidak melihat vitamin nya hari ini.


Semua siswa siswi memandang Faisal heran biasanya Faisal akan memasang wajah Sangar dan galak tapi hari ini berbeda wajah Faisal terlihat kusut dan masam. Seperti perempuan yang tengah mendapat tamu bulanan.


"Pak Faisal ko murung sih, di tolak sama Aruna ya?."


"Mendingan sama saya aja Pak, saya bisa bikin Bapak Bahagia loh."


"Ishh kalian apa-apaan sih Pak Faisal tuh punya gue jangan pada Halu!."


Begitu lah kira-kira ucapan para siswi yang sangat mengidolakan Faisal, benar-benar menjengkelkan batin Faisal.

__ADS_1


"Apa kalian tidak punya sopan santun?! Saya ini guru kalian!." Tekan Faisal pada sekumpulan siswi yang menggoda nya dari tadi. Tatapan Faisal benar-benar tajam, sudah tidak mood karna tidak melihat Aruna di tambah ocehan-ocehan yang membuat telinganya panas.


Ketiga siswi tadi merasa takut sepertinya Faisal sedang dalam mode singa, tidak bisa di ajak bercanda. Biasanya saat ada yang menggoda nya Faisal akan mengacuhkan itu dan bersikap dingin tidak seperti sekarang yang terlihat menyeramkan.


"A-aanu kita bertiga minta maaf Pak, kita tadi cuman bercanda ko beneran."


"I- iya Pak kita tadi cuman bercanda, janji ini yang terakhir kali kita kaya gini." badan ketiga siswi itu bergetar bahkan tubuhnya sudah berkeringat dingin takut karna tatapan tajam Faisal. mereka hanya menunduk tidak berani memandang Faisal yg terlihat galak. seram sekali!.


Faisal menatap ketiga siswi itu bergantian dan tanpa sepatah katapun Faisal meninggalkan mereka.


"Hufttt akhirnya gue bisa nafas juga." ujar salah satu diantara mereka bertiga.


"Pak Faisal serem banget kalau lagi marah."


mereka tidak pernah membayangkan bisa melihat wajah menyeram kan Faisal, orang semanis Faisal bisa marah juga ternyata.


"Gak lagi gue gangguin dia, si Aruna pake pelet apa sih bisa-bisa nya Pak Faisal bucin akut ke dia." kedua temannya mengangkat bahu nya acuh. dan segera pergi menuju kantin.


"Jadi bagaimana? Kesepakatan nya akan tetap berlanjut kan Pras?."


"tentu saja, dan untuk Aruna itu masalah mudah dia pasti sudah bisa menerima nya sekarang." Pras berbicara dengan nada tenang, Aura Pras memang selalu tenang dan tidak menunjukkan ekspresi yang lain.


"Tapi bagaimana jika Aruna tidak setuju?, kita tau kan bahwa Aruna dari dulu menentang kesepakatan ini." Arsenio Aditama menatap sahabat nya yang terlihat santai tanpa beban.


Kedua pemimpin perusahaan besar itu sedang berdiskusi tentang suatu hal yang sangat penting bukan urusan kantor melainkan urusan keluarga.


Pras memandang sahabat nya sejenak bingung bagaimana dia menjawab pertanyaan sahabat nya yang memang benar ada nya. Aruna tidak menyepakati kesepakatan yang sudah dibuat oleh dua keluarga.


"Arsen, percaya padaku Putri ku pasti tidak akan mengecewakan orang-orang yang dia sayangi." Pras mencoba meyakin kan sahabat nya walaupun sebenarnya dirinya tidak sebegitu yakin pada ucapan nya sendiri.


Aruna bahkan dengan terang-terang an menentang dengan keras kesepakatan itu.


"aku pegang kata-kata mu Pras."

__ADS_1


Hi👋


__ADS_2