
Setelah selesai bermain seharian kini Aruna dan putri pergi ke restaurant terdekat untuk makan malam.
"Gilaa gue laper banget Put." kedua bola mata besar Aruna berbinar menatap hidangan yang ada di depan mata nya. Perut nya sudah sangat lapar tak sabar ingin mengeksekusi semua nya.
Putri hanya tekekeh geli melihat tingkah sahabat nya yang sudah makan dengan lahap seperti babi rakus.
"Kayak seminggu gk pernah nemu makan aja Run."
"Uhmm enak banget Put, gk sia sia nih restaurant di jadiin tempat pavorit kita."
"Maka dari itu gue mau suatu saat nanti kalau kita udah punya pacar atau suami double date nya disini aja, ini juga kan tempat pertama kita makan bareng." Putri berujar dengan Antusias.
Aruna yang mendengar penuturan sahabatnya hanya bisa memutar bola mata malas, kenapa sahabat nya suka sekali berbicara tentang pasangan.
"Masih lama Put, belum juga lulus sekolah udah mikirin suami. Terus pacar aja belum ada."
"Yahh kan gue ngomongnya suatu saat nanti Run, dan itu entah kapan, ehh ngomong-ngomong gimana hubungan lo sama pak Faisal?."
"Uhhuk uhuuk,,, gk usah aneh-aneh deh Put!." Aruna kesal kenapa sahabatnya harus bertanya soal Faisal.
"Lo yang aneh Run!, laki-laki langka kayak Pak Faisal lo tolak!, mana ada coba cowok kayak Pak Faisal yang bertahan 3 tahun buat ngejar lo doang." Putri tak habis pikir pada Aruna kenapa hati nya keras sekali untuk melihat perjuangan Guru tampan nya itu.
Dua tahun lebih bukan waktu yang singkat, selama itu pula Faisal berjuang untuk mendapatkan hati Aruna, Putri yakin gk ada yang sanggup buat bertahan selama itu kalau cuman mau main-main. dan sahabat nya ini benar benar keras kepala sekali huhh!.
"Ish gk usah bahas itu bisa gk sih?, gue jadinya gk nafsu makan lagi." Aruna melap bibirnya dengan tissue menyudahi makan nya yang tiba-tiba hilang selera. Padahal makanan di piringnya masih banyak tapi gadis itu memilih berhenti makan.
"Aruna Dwigantri yang cantik jelita, ini tuh penting untuk dibahas, lagian kenapa sih lo tuh selalu jutek kalau di deketin sama pak Faisal. Lo tuh harus nya bersyukur bisa di kejar sama pak Faisal, gue yakin kok padahal di luar sana pasti banyak yang mau sama Pak Faisal. Tapi aneh nya cuman lo doang yang bersikap kayak gitu ke pak Faisal." terang Putri panjang lebar mencoba membuka pikiran Aruna, agar melihat perjuangan Faisal selama tiga tahun hanya untuk mengejar gadis itu.
"Terus dengan lo bilang kayak gini lo pikir bakal ngerubah sikap gue jadi baik ke pak Faisal?, lagian gue juga gk minta di kejar kok emang tuh guru aja yang gk ada kerjaan." Aruna memotong steak dengan kasar seolah dirinya tengah mencabik cabik sahabat didepan nya ini.
Putri yang mendengar nada ketus dari Aruna hanya bisa menghela nafas, susah sekali membuat Aruna mengerti.
"Kalau gue jadi lo udah pasti gue bakalan terima Pak Faisal, sayang banget nolak cowok se perfect pak Faisal "
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu sana lo aja yang jadian sama pak Faisal." entah kenapa saat Aruna mendengar penuturan tersebut dirinya semakin sewot tak karuan.
"Tapi sayang nya gue bukan Lo Aruna, yang bisa di kejar sama Pak Faisal. Entah kapan ada cowok yang kayak Pak Faisal di hidup gue."
"Udah lah ya gk usah di bahas lagi, mendingan kita pulang pengen istirahat nih pegel banget badan gue, lagian besok harus sekolah."
.
.
.
.
.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 21:00 Wib. Di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi satu pencahayaan yang temaram seorang laki-laki nampak tersenyum puas memandang foto hasil jepretan nya secara diam-diam. Semua ruangan nya terdapat banyak sekali potret seorang gadis cantik, laki-laki itu sudah terlihat seperti seorang stalker dan mata mata.
Laki laki itu berdiri sempoyongan dia mabuk dan terlihat sangat kacau, dia kadang tertawa dan menangis tiba-tiba saat pandangan nya menatap foto seorang gadis yang selama ini membuat nya seperti orang gila, Sebegitu besar pengaruh gadis itu untuk nya.
"Jadi gadis ini yang buat kamu uring-uringan selama ini?, meninggalkan gelar CEO hanya untuk dia yang bahkan tidak bisa kamu miliki sampai sekarang." pria paruh baya menghampiri putra nya yang sedang berbicara sendiri seperti orang gila, aroma Wine tercium sangat pekat di indra penciuman nya.
"Yaa semua nya demi dia, walaupun harus memberikan nyawa ku sendiri akan ku lakukan untuk dia, sebut saja aku gila itu memang kenyataan nya haha." matanya memerah dan tertawa menyeramkan, menyeringai seperti iblis dari kegelapan.
"Lebih baik kamu lupakan gadis itu dan kembali ke kehidupan normal mu, banyak yang menginginkan gelar CEO tapi kamu malah mengabaikan nya demi gadis itu?!." tegas pria paruh bayah mengingatkan putranya.
"Aku tidak akan kembali normal sebelum mendapatkan gadis itu, dunia ku berada di bawah kaki nya, hanya dia yang bisa membuatku bertekuk lutut meminta belas kasihan nya."
.
.
.
__ADS_1
.
.
"Aaruna cantik siapa yang punya?!." pagi pagi sekali Faisal bersenandung di depan kelas Aruna, menyambut kedatangan gadis pujaan nya.
"Pak Faisal!." kompak semua murid kelas XII IPA yang sudah di calling oleh Faisal untuk membantunya menyambut Aruna.
Bukan nya senang justru Aruna merasa malu karna menjadi tontonan semua orang. Apa gurunya sudah tidak waras, kenapa bisa berbuat hal gila seperti ini!, Aruna menghela nafas mencoba menetralkan emosinya yang sudah berada di ubun ubun siap untuk meledak.
Aruna berangkat sekolah dengan semangat 45, tapi semua semangat nya sirna saat melihat hal memalukan seperti ini.
"Aaruna cantik calon istrinya siapa?!."
"Pak Fa-."
"STOOPPP!!!." teriakan Aruna menghentikan kehebohan teman-teman nya dan guru menyebalkan yang sayang nya terlihat sangat tampan, gilaa sempat sempat nya Aruna terpesona oleh Faisal!.
"Lebih baik kalian semua bubar!!, dan untuk Pak Faisal yang terhormat!, bapak tuh seorang guru yang tugas nya untuk mengayomi anak didik nya, Bukannya malah membuat hal gila seperti ini!. Saya gk tau harus ngomong apa lagi mood saya bener-bener hilang sekarang karna tingkah kalian semua." Aruna pun berjalan lesu pergi meninggalkan semua orang yang di anggapnya sudah gila.
"Aruna tu-."
"Saya mohon saya mau sendiri dulu Pak, gk usah ganggu saya!." Aruna mengabaikan Faisal yang mengejarnya, dan tatapan semua orang yanh kasihan pada Faisal.
"Yaahh belum aja di tembak udah pata hati duluan."
"Belum berjuang udah di suruh mundur duluan."
"Sad boy again!."
Begitulah kira-kira ucapan para guru yang lain saat melihat Adegan Faisal di abaikan oleh Aruna. Benar benar memalukan tapi untung nya ini Faisal tidak ambil pusing dengan semua sindirian orang-orang.
"gimana caranya supaya kamu mau melirik saya Aruna." gumam Faisal pelan dada nya terasa sesak melihat sikap Aruna yang menghindar dari nya, bahkan untuk melirik nya saja Aruna tidak mau. akhirnya Faisal meninggalkan semua nya dengan perasaan yang sesak lagi-lagi dia di tolak oleh Aruna, tapi Faisal tetap lah Faisal yang tidak akan pernah menyerah mengejar Aruna.
__ADS_1
---------------
dukung cerita aku ya supaya semangat buat Update lagi:).