
"Talinya kemana yah?, aneh banget bisa hilang tanpa sebab"
Tiba-tiba kakaknya membuka pintunya dengan keras, sambil melempar talinya ke arah Brianna.
"Dek, kamu jangan bercanda ya, kamu kira aku takut dengan cara kamu masukkan tali itu ke lemari baju ku"
"Apaan sih, tiba-tiba teriak-teriak, ketuk dulu kek sebelum masuk, tau gak jantung ku udah mau copot ni"
"Iy iy, sorry"
"Kok bisa sama kakak talinya?"
"Kakak juga gak tau, tiba-tiba tu lemari kakak bukak, eh nongol talinya, tapi anehnya, gulungan talinya tu rapi (sambil melihat kearah Brianna yang wajahnya serius)"
"Wahhh, kak, aku semakin penasaran, masak iy talinya punya kaki, atau dia ngesot?, ohhh aku tau kak, talinya udah nyaman di lemari kakak, kanyak kakak sama Reza, Hahaha"
"Ok, udah cukup bercandanya, kakak juga penasaran, gimana kalau besok pulang sekolah kita langsung ke halaman belakang, buat ayunan, tapi waktu mama papa gak adak di rumah"
"Emang kenapa kalau ada papa mama?"
"Dimana-mana, adik itu harus nurut sama kakaknya"
"Ya udah, santai lah, orang sini ngomong baik-baik, situ ngegas"
"Maaf ya dek, soal ya ,di bilang mama, kita tu gak boleh buka pintu belakang, buka aja gak boleh, apa lagi keluar, jadi kakak juga penasaran, kenapa yah mama larang kita ke halaman belakang?"
"Mungkin dibelakang ada ha...(kalau ku bilang pasti nanti dia takut, terus gak mau temenin aku) dalam hati Brianna.
"Ada apa?"
"Berpikir positif aja lah kak, mama nyuruh kita gak usah ke halaman belakang karena ada halaman depan atau mungkin, supanya maling gak masuk dari pintu belakang jadinya masuk pintu depan"
"Hahahaha, lucu ya (ketawak paksa)"
"Uda ah, uda malam, pintu terbuka lebar, tolong keluar"
"Dek, malam ini kakak tidur sini ya!"
"Gak boleh, nanti papa marah, marah y bukan sama kakak tapi sama ku, coba bayangin deh orang yang bersalah, dia yang kena hukumannya, kan gak adil"
"Pliss, gak bakal ketahuan papa, lagian aku punya 1001 cara"
"Serah lah, tapi ada syaratnya"
__ADS_1
"Apa syarat nya?"
"Tutup pintu, cepat, nanti papa dengar, kakak disuruh minggat"
"Itu syaratnya?"
"Iy"
"Itu bukan syarat, itu nyuruh (dengan suara keras)"
"Jangan keras-keras, tolong kak"
Arianna berdiri dan menutup pintunya, saat dia menutup pintunya, tiba-tiba angin melintasi arah pintunya sebentar, Arianna langsung menutup dan mengunci pintunya dan berlari ke arah Brianna.
"Ahhhhh, ihhhh"
"Kenapa kak?"
"Tadi kamu ada ngerasa kayak ada angin gak?"
"Ada, kipas angin"
"Aku serius lo"
" Gak dak kak, emang kakak ngerasa angin nya tu gimana?"
"Terus ini namanya apa?"
"Tadi lo dek, sebelum aku lari. Ih, kamar mu serem banget sih, terus ya dek, waktu pertama kali aku masuk ke kamar ku, masak ada tempat tidur bayi terus ada mainan nya lagi"
"Kak"
"Ya, serem kan?"
"Sampai kapan aku dengar curhatan kakak, kapan tidurnya?!!"
"Iy, tapi talinya Bawak dekat kamu aja"
"Oh y, lihat baik-baik, ni talinya aku letak disini, kalau hilang berarti talinya ngesot"
"Iy iy"
Waktu pun berlalu, besok harinya seperti biasa Ayah dan mereka berangkat bersama-sama, mereka mengucapkan salam kepada mamanya
__ADS_1
"Good morning ma, kami berangkat sekolah dulu yah ma" ucap Brianna
"Kami berangkat sekolah dulu ya ma" ucap Arianna
"Belajar yang bener yah sayang"
"Kami bukan anak SD lagi ma!" ucap Arianna
"Jadi harus anak SD aja yang digituin?"
"Udah, nanti mereka terlambat"
"Aku pergi kerja dulunya sayang, kalo ada kenapa-kenapa langsung hubungi aku!"
"Iy, hati-hati yah"
Mamanya berjalan ke arah depan rumahnya sambil melihat ke arah belakang rumah nya, dia bingung kenapa di samping rumahnya kosong (kanan kiri) dan kenapa halaman belakangnya di buat tembok.
"Berarti daerah sini, yang punya halaman belakang hanya rumah ini (memandang rumahnya)?, apa maksudnya ini, mas Bagas (suaminya) gimana sih beli rumah gak lihat latar belakangnya dulu, asal belik aja, itu apa sih maksudnya dikasih tembok, jadi penasaran aku"
Dia pun masuk ke dalam dan memastikan pintu depan udah dikunci kuat supanya maling gak masuk, dia berjalan kearah pintu belakang dan memastikan gak ada jejak kaki cap merah di dekatnya. Dia membuka pintu belakangnya dengan hati-hati, dia berjalan pelan keluar, melihat beberapa rumah penduduk dan satu pohon yang besar.
"Walaupun hanya dibatasi tembok, tpi cuacanya disini kok gelap yh?" kata Mamanya
Dia mulai berjalan lagi dengan pelan, sambil melihat sekitarnya, dia bertanya kepada dirinya sendiri.
"Kenapa yang dikasih tembok hanya rumah ini?"
"BRUK" Tiba-tiba suara pintu tertutup dengan keras, dan tiba-tiba angin tertiup sekilas mengarah pada nya. Dia mencoba menarik pintu dengan sekuat tenaga, dia menghela nafas lalu menarik pintu dengan secara tiba-tiba, pintu akhirnya terbuka, tapi dia merasa seperti ada yang menarik bajunya dari belakang, saat dia melihat ke belakang, tidak ada siapa-siapa dibelakangnya, dia langsung berjalan masuk ke dalam, menutup dan langsung mengunci pintunya. Dia ingin berlari tapi seperti ada yang menariknya, dia mencoba lari sekuat tenaga, tapi terasa seperti berjalan pelan.
"Aku gak sanggup lagi, apa yang harus ku lakukan, gak mungkin aku menunggu mereka sampai pulang"
Waktu menunjukkan pukul 11.30 siang, dia mencoba berdoa menurut kepercayaannya, setelah berdoa dia merasa lebih ringan walaupun sedikit pegal. Dia mencoba untuk membuat pikirannya tenang dengan berjalan santai tanpa ada rasa takut, dia pun bisa sampai ke pintu depan tapi yang menarik bajunya tadi udah masuk ke dalam rumahnya
(Ada berapa banyak makhluk halus di halaman belakang rumahnya? sebanyak rumah disitu dan ditambah setiap anggota dalam satu rumah. Tapi, apakah yang menarik dia tadi hanya 1 makhluk halus atau lebih? atau mungkin, sudah berapa makhluk halus yang masuk ke dalam rumahnya? bagaimana kondisi keluarganya untuk selanjutnya? apa yang terjadi di rumah itu saat masa lalu?).
Semua jawabannya ada di bab selanjutnya.
Ok guys kita lanjut
Mamanya mulai ketakutan dicampur kebingungan.
"Apa aku harus bilang sama mas Bagas?, tapi aku takut dia khawatir, dan kalau ku bilang pun dia gak mungkin percaya karena belum dilihatnya"
__ADS_1
Mamanya yang sedang berdiri di depan, Marasa sesuatu terjadi di dalam rumahnya, seperti benda yang terjatuh, saat diperiksanya tidak ada benda yang terjatuh, dan seperti ada yang merabah badannya, dia pun kembali keluar, dari luar ia mendengar lemparan batu dari atap rumahnya tapi batu itu tidak menggelinding, ketakutan dan jiwa penasarannya pun tercampur.
Dia tidak bisa apa-apa kecuali menunggu suami dan anak-anaknya.