
Kakinya mulai bisa di gerakkan tapi Badannnya masih terasa berat dan dia merasa hampir sedikit lagi mendapat kan tangan Briana padahal tangannya masih tertekan badannya, 5 menit kemudian bunyi alarm menandakan pukul 05.30 wib "Bangun woi bangun, bangun woi ba...(alarm masih bunyi)".
"Kak alarm ya matikan dong, ini kan hari Minggu, kita mau kemana bangun pagi? kak? kakkkk? woi kak?(sambil duduk dan melihat Arianna)"
"Dek tolong kakak (berbicara tapi mulutnya tertutup)"
"Kak, biasanya dia duluan bangun kalau dengar alarm, ngantuk banget dia kali ya (sambil mematikan alarm), tangannya kasihan (sambil menarik tangan Brianna), woi kak"
Mulutnya akhirnya bisa terbuka dan memaksa kan badannya untuk berbalik sambil menghela napas.
"(sambil berbalik), dekkkkkk, ya Tuhan aku hampir mau mati"
"what? mati?"
"tadi kaki ku terasa kayak ditarik, dicubit, di tusuk-tusuk, ah semuanya lah, seperti mau di hidangkan"
"sama siapa?"
"gak tau"
"ohhh, itu karena kakak tadi malam jadi terbawak mimpi, mengkaya sebelum tidur itu berdoa kayak Papa Mama, jangan asal tidur aja, oho nasip- nasip"
"aku gak mimpi, ini itu nyata, nyata banget, aku itu sadar kalau ada ganggu kaki aku dan naikin punggung ku, tpi mulut ku ini kayak ada yang nutup dan tangan ku gak bisa gerak sama sekali"
"ya iyalah gak bisa gerak kan kakak tiduri"
"iy kah? pantesan (melihat kakinya yang banyak bekas cubitan), haaaaa kaki ku, kayak bekas kenak pukul Ibu tiri, tapi kok gak sakit ya?"
"biasanya kalau itu perbuatan makhluk halus belum sakit, sakit nya beberapa jam lagi atau sewaktu kakak mandi, punggung kakak kabarnya gimana?"
"tadi itu sakit banget, kayak kenak timpa..."
"semut?"
"bukan, itu ringan banget, pokok ya itu sakitttt banget tapi ini udah lumayan"
"nanti sakitnya, tapi kalau kakak lihat dia sama orang lain sakit ya bersamaan sama kebahagiaan nya tapi kalau hilangnya lihat hatinya bisa bertahan sampai kapan?"
"lari cerita kamu lah (sambil berdiri dan membuka pintu)"
"oh ya kak, jangan di biarkan, bilang sama mama, mana tau perlu diurut atau mama tau obatnya"
"ya (sambil menutup pintu)"
Brianna melanjutkan tidurnya tapi tiba-tiba dia mengingat Mamanya yang sedang sakit dia langsung bangun dan berlari ke arah kamar Mamanya, dia membuka pintunya tetapi kamar itu kosong dia berjalan masuk dan menginjak sesuatu dia langsung mengambilnya, ternyata itu adalah kuku yang panjang dan tipis.
"ini mungkin kukunya... Kunti, iy, gak mungkin ini kuku mama kotor begini, kalau papa, gak mungkin papa kan gak suka kuku panjang, kuku ini uda bisa jadi penggaris, simpan aja dulu deh, mana tau bisa jadi ancaman, mana dia ya mungkin lagi nangis kali ya tapi kok gak kedengaran"
__ADS_1
"haaaaaaaaaaa, mati aku, tulang ku kenapa?"
"kak Arianna kenapa? (sambil berlari turun tangga), kakak kenapa?"
"lihat ini pasti ini perbuatan dia dan kawan-kawannya, dek sekarang kakak percaya kalau kamu bisa dengar suara-suara aneh, dan sekarang kakak minta tolong sama kamu bilang sama mereka kakak minta maaf, apalagi sama dia yang semalam, ihhhh, lihat badan kakak warna warni ada biru hijau merah, bentar lagi jadi pelangi, dek tolong bilang"
"aku juga gak tau dia dimana, aku gak ada dengar suara, lagian ini masih pagi mungkin dia lagi bobok"
"kami jangan bercanda, sempat banget bercanda kalau papa lihat badan ku gimana?"
"gak mungkin sampai dalam diperiksa kan? Yaaa jujur aja lah"
"apa dia ikut sama Mama?"
Brianna langsung terkejut bercampur ketakutan.
"ha? gak mungkinlah, Papa sama Mama kemana?"
"gak tau, aku turun udah dengar suara mobil keluar"
"coba telpon!"
"lihat kaki ku, gerak aja gak bisa, harus jalan pelan-pelan, bisa sampai satu hari aku sampai ke kamar ngambil hp uda keburu pulang mereka"
"banyak banget sih kamu bicara bilang aja gak mau, susah amat (sambil berlari naik ke atas)"
Briana langsung mengambil hpnya dan menelpon Papanya "Tut...Tut...Tut...".
"halo Brianna, ada apa"
"Papa lagi dimana?"
"Papa sama Mama lagi ke pasar, pagi-pagi mama kamu udah ngajak Papa ke pasar kata Mama kamu dia mau daging, udah ya papa lagi nyetir sayang"
"tunggu pa kasih hp ya sama Mama aja"
"nih Ma"
"halo Sayang"
"bicaranya biasa gak berubah dan kata-kata akhirnya sayang tapi Mama kenapa ngidam daging ya (dalam hatinya)"
"Halo... Brianna?"
"iy mah, hmmm, kenapa Mama gak bilang ke pasar?"
"kenapa harus bilang? kan udah biasa hari Minggu pagi-pagi buta Mama ke pasar"
__ADS_1
"oh iy, tapi bukan itu maksud Brianna, Brianna kepingin minum minuman yang warna merah itu loh Ma, aduh Brianna lupa lagi namanya Karena udah jarang Brianna minum"
"darah?"
"ha?"
"bercanda, iy nanti Mama beli tapi kalau jumpa"
"iy Ma, aku matikan ya Ma?"
"iy sayang"
"Mama gak nanyak kak Brianna, memang Mama mau kemana? tapi harus ya Mama juga nanyak makanan atau minuman kesukaan kak Brianna"
"woiiii dekkk, lama banget sih cuma ngambil hp, aku kan juga kepo mereka kemana, ya ampun, dekkkkkk"
"apaan sih"
Brianna yang berbicara dari atas dan melihat kakaknya yang berada dibawah, mendengar suara seseorang sedang berlari dan tiba-tiba berhenti, tiba-tiba dia tidak mendengar apa-apa padahal kakaknya sedang teriak dibawah memanggil namanya, seketika dia mendengar suara loncatan dia langsung berjalan dengan pelan ke arah suara itu dengan keadaan tidak sadar. Suara loncatan itu berada di tangga atas
"dia turun tapi kenapa kayak patung, woii, kalau bukan karena kaki ku.... (sambil melihat tangan Brianna), itu kukunya, kok bisa sama Brianna (sambil menaiki pelan anak tangga)"
Brianna yang berada di atas tiba-tiba berhenti dan terdorong ke depan Arianna langsung menangkapnya dan yang pertama dia tangkap adalah tangannya, sebenarnya dia takut mengambilnya tapi dari pada nanti hilang, dia langsung memegang erat tangga agar tidak jatuh.
"aku udah gak kuat, berat banget (sambil mendorongnya ke belakang agar seimbang), ini itu kayak kerasukan juga soalnya dia gak sadar, udah dia yang *kak, kalau kita ketakutan dia makin bahagia terus tubuh kita dimasukinya*, lah sekarang siapa yang kenak, woiii sadar (sambil menampar pipinya pelan)"
"ha? kenapa kita disini?"
"kamu nanyak kenapa kita bisa disini?"
"iy"
"kita lagi menanti dan melihat masa depan yang cerah, sangaaattt cerah, mau lihat?"
"dimana lihatnya?"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu "Tok Tok Tok..."
"nah itu masa depan"
"masa depan siapa?"
"gak tau, kita lihat dulu"
"kalau uda tua itu masa depan kakak kalau masih seumuran atau ya diatas ku berapa tahun itu punya ku, kalau di bawah umur kita berarti bukan masa depan kakak atau aku"
"Uda tua, enak aj
__ADS_1