
Arianna pun langsung lari kearah dapur, saat dia turun tangga seperti ada yang memegang kaki dan akhirnya dia terjatuh, Brianna langsung berlari menolongnya, tapi untung saja Arianna memegang erat pegangan tangga, hanya saja kakinya sedikit terkilir.
"Aau, sakit banget"
Di saat Brianna menolong Arianna dia mendengar suara aneh itu lagi.
"Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan, mengurung ku di dalam dan mengambil keluarga ku satu persatu"
"Ngurung mereka? dimana? dalam hatinya Brianna, hey, walaupun aku gak bisa lihat kalian, mau kalian siapa aku gak peduli, tapi kami orang baru di kampung ini atau pun di rumah ini, kami gak ada bermaksud jahat, jadi aku mohon sama kalian tolong jangan ganggu kami, kami juga gak tau apa-apa"
"Dia ngomong sama siapa, entah"
"Aku ngomong sama kalian makhluk idiot, aku tau mama ku berubah pasti gara-gara kalian (sambil menunjuk dan berputar), kembalikan mama ku, aku mohon"
Kakaknya heran melihat dia berputar sambil berbicara sendiri.
"Dek, kamu kenapa? kamu ngomong sama siapa?"
"Kakak bilang kakak percaya sama aku tapi kenapa kakak masih nanyak?"
"(Menghela nafas sambil berusaha untuk berdiri), omaigat sakit banget, tolongin kakak, kita ke dapur aja, sayang banget lauknya kalau dicuri kucing"
"Aku gak mikirin lauk kak, aku mikirin mama sama papa lagi dimana? kenapa lama banget ya?"
"Udah, itu nanti aja, temani kakak yok!"
"Uda berlama-lama aku dikurung disana, sekarang waktunya aku balas dendam, perbuatannya harus dibayar dengan nyawa juga". Suara itu terdengar lagi oleh Arianna
"Siapa maksud mu dibayar dengan nyawa, kami gak tau apa-apa, kami juga masih baru disini, kami gak tau dimana dia yang punya rumah ini dulunya dan siapa maksud mu itu aku pun gak tau"
"Dek (dengan suara keras memanggil Brianna yang sedang di pintu dapur)"
"Apaan"
"Kamu ngapain disitu, lihat sini!"
"Kenapa? (sambil berjalan pelan dia merasa kakinya dipenuhi pasir), padahal cuman beberapa jam belum disapu, kok udah banyak pasir ya kayak udah berhari-hari gak di sapu"
"Ikannya hancur berantakan, tapi kok gak ada berkurang ya? satu pun gak ada diambil, tapi mubasir, bantu bersihkan dek"
Saat Arianna dibawah meja untuk membersihkan makanan yang jatuh, tiba-tiba ada yang meraba punggungnya dengan lembut, Arianna merasa geli dan dia kira itu Brianna, dia menahan emosinya dan melanjutkan mengutip makanan jatuh tadi, lalu dia meraba lagi kali ini bukan punggung tapi pahanya dia terkejut dan kepala terantuk meja, dia keluar dari bawah meja dan melihat Brianna gak ada di belakangnya.
"Dek..., dia ke mana sih, disuruh bantuin nyapu, mala hilang, pasirnya makin banyak lagi, woi dek"
"Apaan sih teriak-teriak"
"Kamu lagi nyapu? ini pasir yang di dapur?"
"ya iy lah, jadi dari tadi aku ngapain"
"Jadi... tadi siapa yang nyentuh paha ku (dengan suara kecil?"
__ADS_1
"Apa?"
"Enggak jadi, pasirnya masih ada di dapur dek, kamu gimana sih nyapunya"
"Masak sih? (sambil berjalan ke arah dapur), wah wah wahhh, kayak punya Adek kecil aku"
Melihat sekelilingnya dipenuhi pasir halus matanya tiba-tiba tertuju ke arah pintu dapur, suara-suara itu terdengar terus oleh Brianna tapi dia tidak memperdulikannya, matanya hanya tertuju ke satu arah. Waktu pukul 16.00 sore.
"Kreak" Briana membuka pintunya
"Pintunya nampak seperti baru ternyata udah pintunya udah tua"
"Dek, kamu mau ngapain?"
Dia terus berjalan keluar tanpa memperdulikan pertanyaan kakaknya. Andai dia bisa melihat makhluk yang bersuara itu dan betapa ngerinya makhluk itu, dia menyentuh tembok dan melihat rumah-rumah yang sudah tidak kokoh lagi dan pohon tinggi.
"Aku gak percaya ternyata pohonnya beda sama yang kebanyakan"
"Dek, serem Lo, masuk yuk!"
Mereka berjalan kearah pohon tua itu
"Plakkk" pintunya tertutup dengan keras
"Dek pintunya tertutup, kalau papa pulang gimana?"
Brianna tidak memperdulikannya, suhu di tempat itu berubah menjadi panas.
"Kita masuk kerumah itu aja dulu"
"Enggak mau, lebih baik kita paksa tarik pintunya"
"Ayok aja kak, kakak mau sendiri disini, kenapa rumah-rumah disini harus dibatasi?"
"Gak usah nanyak karena aku pun gak tau, dek kamu gak usah sok pemberani deh nanti kalau kamu lihat baru kamu pingsan, dek kalau setannya keluar gimana?"
"Pintunya udah tua jadi gampang dibuka"
"Ada darah dek, ayok keluar, aku belum mau mati, kita disini aja, nanti pintunya tertutup"
"Kak aku mau kakak bantu aku, mungkin disalah satu makhluk halus disini ada yang masuk ke tubuh mama"
"Jadi aku harus gimana ni sekarang, kamu berharap sama aku, aku aja orangnya penakut, lebih baik kita masuk dulu kerumah, nanti aja kita bicarakan, mungkin mereka udah pulang, mereka gak bawak kunci dek, ayok"
Mereka kembali kearah pintu, dengan memaksa pintu terbuka, segala cara mereka lakukan agar pintu itu terbuka, pintunya terbuka dan Arianna langsung menutupnya.
"Suhunya betul-betul beda, hampir mau mati aku" ucap Arianna
"Tin tin, tin" suara klakson mobil
"Itu papa"
__ADS_1
Arianna dan Brianna pun berlari kearah pintu dan mereka berhenti melihat semuanya berantakan, hancur, dan guci kesayangan papanya pecah.
"Dek gimana ni?"
"Arianna... papa pulang, buka pintunya!"
"Buka aja kak, lagian ini bukan kesalahan kita"
"Jadi ini salah siapa? salah kamu aja ya"
"Enak aja salah aku, kita gak tau apa-apa, Uda bukak aja"
"Enak aja kamu ngatur-ngatur"
"Jadi kakak yang rapikan? gak papa aku yang buka pintu"
"Yodah"
Membuka pintu sambil melihat kearah mamanya.
"Beli daging kok banyak banget ma?"
"Papa Uda pulang, gimana kalau papa duduk dulu di depan"
"Papa mau mandi, temani mama kamu belanja, badan papa jadi bau"
Dengan wajah cemas dia mengikuti jalan papanya.
"Brianna.... apa yang terjadi dirumah ini, pasir dimana-mana, barang-barang berjatuhan dan... guci kesayangan papa pecah, ha? (dengan suara keras)"
"Pa, papa tenang dulu, kami keluar kamar tiba-tiba berantakan"
"Gak ada alasan, kalian gak dapat uang jajan sebulan"
Tiba-tiba ada suara ketawak melengking, suaranya itu terdengar jauh dari tempat itu (konon katanya kalau suara itu jauh artinya dia dekat dan sebaliknya), Mamanya berjalan kearah dapur
"Suara apa itu pa?" Ucap Arianna
"Itu dia, yang membunuh kita satu persatu" terdengar oleh Brianna, dia pun langsung mengarah ke mamanya.
"Udah jelas, bersihkan semuanya, papa gak mau selesai papa mandi masih berantakan"
"Kamu ngapain berdiri disitu, ini itu gara-gara kamu, coba aja kalau kita gak ke halaman belakang, entah ini perbuatan maling, kita juga gak tau entah ada yang hilang"
Brianna berjalan mengikuti Mamanya, dia melihat mamanya sedang menangis, saat mamanya berbalik, wajahnya bercucuran darah bola matanya tiba-tiba mengecil dan mengeluarkan kuku panjangnya sambil menghampiri Brianna dan mencekik nya. Arianna yang sedang melihatnya ketakutan melihat perubahan itu terjadi, dia berpikir untuk melukai tangan mamanya sedikit.
"Mungkin itu membuat mama tersadar"
Dia langsung mengambil pisau dan mengarahkan ke mamanya. Mamanya pun langsung mundur sambil menangis dan sebentar ketawak dengan suara melengking, suaranya terdengar jauh.
"Kuntilanak" ucap Brianna dan Arianna
__ADS_1