MYSTERI HANGING ROPE

MYSTERI HANGING ROPE
Apakah ada pembalasan?


__ADS_3

"Ma? mama jangan bengong jangan berhayal, jangan mikir yang lain, mama pegang tangan ku aja"


"Kenapa sayang?"


"Gak papa ma"


"Tangan mama aja dipegang, tangan papa enggak? Hp papa tinggal dibawah, hp kalian mana?"


"Hp kami dikamar pa, hp mama mana?"


"Hp mama lowbet, dari pagi gak mama chas"


"Arianna ambil hp kamu!"


"Ah, papa panggil aku? gak salah nama? dalam kondisi terang aja aku ketakutan apalagi gelap, terus rumah ini ada..."


"Semua rumah pasti ada penunggunya sayang, tapi ada yang mengganggu ada yang enggak, paling penunggu disini gak ganggu"


"Paling? masih paling (dengan suara kecil)" ucap Arianna


"Salah banget kamu mas, penunggu disini lebih dari yang kamu kira, kalau ku bilang mungkin kamu gak percaya, harus kamu lihat sendiri sama seperti Brianna (dalam hati Mamanya)"


"Papa yang ngambil, kalian tunggu disini"


"Iy pa"


Arianna mendekati Brianna dan langsung memegang tangan nya dengan erat, Arianna merasa tangan itu benar-benar beda dengan tangan Brianna, ukuran telapak tangannya yang langsing dan suhu badannya yang dingin.


"Dek, kamu sakit ya?"


"Iy kak perut ku sakit banget kak karena gak makan, memang kalau anak kembar sehati, tau apa yang dirasakan saudaranya (dalam hatinya), enggak kok aku baik-baik aja, gelap gini mata kakak terang juga, ya kan ma?"


"Iy, Arianna ternyata punya kelebihan tersembunyi"


"Ma, aku gak becanda, aku lagi pegang tangan Brianna, tangannya dingin banget,


pasti dia sakit ma karena gak mak..."


"Tangan ku disini kak"


Brianna membuka pegangan tangan nya tapi tangganya di tahan, tangannya yang satu lagi berusaha membuka tapi yang dia dapat kuku yang memegang tangannya.


"Au, kuku ku copot, kau lihat pembalasan ku"


"pembalasan?" ucap Brianna


"Ini apa? dek tolong kakak"

__ADS_1


"Aku gak bisa ninggalin mama, sini tangan kakak"


"Tangan ku ditahan, haaaaa, dek tolong aku"


Arianna yang merasa ketakutan gak sengaja menyentuh rambutnya sampai ke lantai, dan langsung menjambak nya dengan kuat, karena ketakutanny dia sampai lupa berdoa.


"Gak salah lagi, i... i... itu dia"


"Siapa Sayang yang kamu lihat?"


"Ma..... di... dia disamping ku, kukunya panjang rambutnya panjang, semuanya panjang, tangan ku gak bisa dilepas"


"Mama langsung percaya sama Arianna, memang benar kalau apa yang kita lihat itu lebih dipercayai orang dari pada apa yang masih kita dengar (dalam hati Brianna)"


"haaaaa, haaaaa, ma, badan ku gak bisa gerak, dia marah karena ku Jambak, kukunya ku copot, ni lagi, lampu lama banget hidupnya gak ada hujan cuma suara petir aja langsung mati"


"Bah (meletakkan senter hp nya di bawah dagunya)"


"Haaaaa, setannn...."


"Itu papa kak"


"Ha? papa, kalau anak mu ini mati gimana? (sambil memegang dadanya)"


"Ya... kalau mati tinggal dikubur, papa gak mau punya anak penakut"


"Kejam banget, lihat aja nanti sebelum aku mati ku sediakan ember buat papa nangis, dan jangan berharap aku kembali lagi"


"Papa yang mengucap nya duluan, becanda becanda"


Arianna gak menyadari yang ia pegang tadi terjatuh di bawah tempat tidur Ibunya, tiba-tiba lampu menyala. Brianna mempunyai sakit maag dia menahan sakit dari tadi akhirnya lega dan dia cepat-cepat lari turun mengambil nasi"


"Pelan-pelan Briana, nanti kamu jatuh" ucap mamanya


"Kamu ajak Brianna makan, nanti Papa nyusul, Papa mau nyuapi mama kamu dulu"


"Ya Pa"


Brianna yang berada di bawah langsung mengambil sesuap nasi.


"Kenapa cuman sesuap makannya, nanti papa nyusul, kita makan duluan (sambil mengambil nasi), dek, mungkin kamu gak percaya apa yang kakak bilang, tapi tadi itu benar-benar nyata, aku pegang tangannya aku copot kukunya terus ku Jambak rambutnya, kuku? Lo mana kukunya? tadi kukunya ada dek"


"Bisa diam gak sih, uek, uek (sambil berjalan ke kamar mandi), uekkkk, kepala ku pening banget (menghela napas panjang)"


"Lama banget sih dia, kalau mati lampu lagi gimana? ngingat kuku aku jadi ketakutan"


Kursi yang didepannya bergerak dan piringnya berpindah, karena rumahnya tidak ada suara jadi terdengar suara tetesan keran air "Tes... Tes... Tes..." suara air itu terngiang-ngiang di pikiran nya, sambil mengingat kejadian tadi dia langsung lari cepat ke arah pintu depan, dia dalam pikirannya "lebih baik aku keluar dari pada di dalam" dia lebih takut sama hantu dari pada manusia.

__ADS_1


"Karena terlambat makan maag ku Kambu lagi, la... kakak mana? makan aja kayak anak kecil, Uda siap langsung ditinngal, masa cuma karena ku bilang diam dia langsung sakit hati (sambil berjalan ke ruang tamu), kakak ngapain disitu?"


"Dek... kamu lama banget, lihat baju ku udah basah jari-jari ku udah gemetar, tadinya aku mau keluar karena ku pikir lebih nyaman di luar"


"Di luar lebih banyak"


"Aku bisa lari ke tempat yang ramai"


"Jam segini mana ada orang, yang ada geng motor anak-anak bandal, terus nanti kakak di..., lagian kok gitu kali kakak ketakutan, biasa aja kali"


"Mana ada biasa aja ketakutan, itu namanya bukan ketakutan"


"Justru kita ketakutan dia semakin mendekat (sambil menarik kakaknya ke meja makan), volume ketakutan kita bertambah dia makin senang, dia kan gak bisa nyentuh kita jadi dia membuat kita hilang iman pikiran udah kemana-mana disitu lah dia memasuki tubuh kita, lihat ini kakak makan kayak anak kecil"


"Ini bukan kakak yang buat"


"Jadi siapa? hantu?"


"Iy"


"Masuk akal sih, yaudah bertanggung jawab lah"


Selesai mereka merapikan meja, mereka naik keatas.


"Mana kukunya?"


"Kuku apa? oh ya kuku dia, panjang banget dek, panjangnya setengah dari penggaris 30 cm, kalau kamu di posisi aku tadi mungkin tangannya udah kamu patahkan, terus tadi dek rambutnya panjang sampai aku mau jongkok pun gak habis-habis panjangnya"


"Itu apa namanya kak?"


"Ya hantu lah (sambil melihat Brianna)"


"Hantu apa namanya?"


"Kamu lihat apa?"


"Di depan kamar kakak ada yang nunggu"


"Siapa?"


"Mengkaya kutanyak siapa namanya? (sambil membuka pintu kamarnya)"


"Walaupun kamu nakut-nakuti aku, aku tetap tidur disini, cepat tutup pintunya"


"Terserahlah"


"Good night dek"

__ADS_1


"Too"


Saat mereka sudah tidur dengan nyenyak, Brianna yang sedang tidur telungkup tiba-tiba ada yang menduduki punggungnya, dia sadar tapi matanya tidak bisa dibuka dan dia terasa ada yang menarik kakinya, dia memanggil nama Brianna tapi mulutnya terasa susah di buka, tangannya terasa ditekan padahal yang menekan tubuhnya sendiri, rasanya seperti mimpi padahal itu nyata, dia hanya bersuara dengan mulut tertutup, badannya kaku dan lemah, terasa semua tenaga sudah habis karena punggungnya yang terasa berat, dia hanya bisa berharap kepada Tuhan dia pun berdoa dengan imannya.


__ADS_2