
Nadia Paramitha
Ddrrrtttt….
Akhirnya alarm ponselku berbunyi sesuai waktu yang telah aku setting sebelum tidur. Padahal sebelum dia membangunkanku, aku telah mendahuluinya. Kuraih ponsel di samping bantalku dan segera ku matikan. Begitulah, karena dari semalam aku memikirkan hari pertamaku bekerja, aku tidak mau terlambat. Memikirkan hal itu membuat tidurku kurang nyenyak.
Segeraku berlari ke kamar mandi melepaskan jerat kantuk yang menempel dipelupuk mata. Setelah kurang lebih lima belas menit menghabiskan air untuk mandi dan ritual pagi lainnya kemudian ku laksanakan kewajibanku.
Ku matikan pendingin udara di kamarku dan ku buka jendela, langit masih gelap, udara pagi yang terasamenusuk namun menyegarkan otakku. Ku pakai baju yang telah aku siapkan sejakmalam tadi, dan mempersiapkan peralatan apa saja yang akan aku bawa untuk mengajar.
“Sayang sudah rapi, pasti semangat banget ya hari pertama kerja.” Ucap bunda ketika melihatku keluar dari kamar.
“Pasti dong bun.”
“Mau sarapan apa? Bunda dah bikin nasi goreng sama roti bakar.”
“Roti bakar aja bun.” Jawabku sambil mengoles selai strawaberi kesukaanku di atas roti.
“Ini susunya.” Bunda membawakan segelas susu low fat ke hadapanku. “Habiskansarapannya biar kuat menghadapi anak-anak sampai siang.”
Aku tertawa mendengar nasehat bunda, dan segera mengahabiskan sarapanku.
“Bun, jangan lupa do’akan Nadia ya.” Pintaku pada bunda.
“Selalu teriring do’a bunda untukmu sayang.” Bunda meraih wajahku dan menghujani aku dengan kecupan sayangnya.
Kulihat jarum jam jam tanganku sudah tegak lurus antara angka enam dan dua belas. Waktunya untuk segera berangkat dan ku pilih untuk berangkat menggunakan motor kesayangku.
“Hati-hati di jalan ya sayang, jangan ngebut-ngebut, pelan saja, jangan…..”
“Siap bun.” Segera ku potong wejangan bunda yang gak bisa habis memberi peringatan. Sejak kecelakaan yang merebut nyawa ayah dulu, bunda lebih protektif terhadapku kalau mau berkendara. Bisa dibilang agak sedikit trauma, namun semua telah di aturoleh yang Maha Kuasa.
Memang banyak orang yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas namun banyak juga orang yang meninggal di tempat tidur. Semua orang punya jalan yang berbeda menuju ke abadiannya dan aku ingin mencari jalan yang tidak menyakitkan ketika kembali kepada Tuhanku. Itulah kata-kata penguat ketika trauma kecelakaan itu melintas kembali di pikirannku.
Hatiku penuh semangat untuk pergi ke sekolah, tentu saja bukan sebagi pelajar seperti dahulu,namun sebagai guru yang akan memberikan ilmu kepada murid-muridnya.
“Selamat pagi bu.” Ucap seorang penjaga keamanan ketika aku masuk melewati gerbang sekoalah.
“Pagi pak.” Jawabku renyah menampilkan senyumku.
Tepat setelah ku parkirkan motorku, tak lama kemudian disamping motorku berhenti sebuah mobil hitam. Ku buka helm sambil merapikan rambutku yang tertiup angin selama di motor tadi.
Ternyata seorang pria yang keluar dari mobil itu, dia tidak menyadari kehadiranku. Akupun berjalandi belakang pria tadi. Sepertinya kami searah menuju ruang khusus guru.
“Selamat pagi Pak Ardi, Bu Nadia….” Sambut bu Hana padaku dan pria yang berjalan di depanku.
Ternyata namanya Ardi
“Selamat pagi bu Hana.” Pria itu menjawab salam dari bu Hana. Kemudian menoleh ke arahku
dengan wajah kaget.
“Maaf saya tidak tahu kalau tadi anda berjalan dibelakang saya.” Ucapnya dengan wajah ramah. “Apakah benar anda guru baru di sini?”
“Betul pak, ini hari pertama saya.”
__ADS_1
“Perkenalkan pak Ardi, ini bu Nadia yang akan menggantikan bu Yola yang sedang cuti
melahirkan.” Sambung Bu Hana memperkenalkanku padanya.
Kami pun berjabat tangan saling memperkenalkan diri. Bu Hana mengajakku menuju mejaku dan membimbingku tentang apa saja yang harus aku lakukan.
“Dek Nadia, kalau ada yang perlu ditanyakan silahkan hubungin saya ya, jangan sungkan.” Ujar bu Hana.
“Baik bu, terimakasih.”
Satu persatu guru lain pun datang, mereka terlihat ramah menyambut kedatanganku sebagaipartner baru mereka. Kemudian bel tanda masuk kelas pun berbunyi, semua guru bergegas menuju kelasnya masing-masing.
“Bu Nadia, sudah tahu dimana kelas yang akan ibu isi hari ini.” Suara bariton itu mengagetkanku.
“Oo..iya belum pak.” Jawabku sedikit gugup.
“Mari saya tunjukkan.” Pak Ardi menawarkan diri.
“Terimakasih pak.”
Aku mengikuti langkahnya yang besar dan membuatku sedikit tertinggal. Sepanjang koridor kelasbeberapa anak memperhatikanku, mungkin mereka merasa asing denganku.
“Bu Nadia, ini kelas anda sekarang.” Pak Ardi berdiri di depan ruang kelas yang masih terdengar suara canda para siswa yang sedang menunggu gurunya.
“Baik pak, sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas bantuannya.”
“Jangan sungkan bu Nadia.” Jawabnya santai sambil melemparkan senyumnya yang menawan.
Akupun melangkahkan kakiku masuk menuju ruang kelas yang telah ditunjukkan Pak Ardi tadi. Sambil sedikit merapalkan do’a agar hari pertamaku mengajar bisa berjalan lancar. Ku perkenalkan diri kepada para siswa di depan kelas. Kemudian kegiatan belajar mengajar pun di mulai. Bersyukur, karena mereka terlihat antusias belajar denganku. Waktu terus bergulir hingga bel istirahat pun terdengar.
Waktu istirahat pun habis, para siswa sudah kembali masuk ke kelasnya masing-masing. Aku pun kembali masuk ke kelas. Hanya tinggal dua jam lagi hari ini aku mengisi kelas, setelah itu aku bisa istirahat kembali karena sudah tidak ada jadwal.
Setelah itu aku menemui ibu kepala sekolah karena tadi ada pesan bahwa beliau memanggilku ke kantornya.
“Sayang, bagaimana hari pertama mengajar? Cape gak?” Tanya tante Vera langsung mencercar dengan pertanyaan ketika aku baru saja masuk ruangannya.
“Gak capek bu, Nadia senang banget.” Jawabku bersemangat.
“Baguslah kalau begitu, tante senang mendengarnya.”
Kemudian terdengar ketukan suara pintu, “Silahkan masuk.” Ucap tante Vera. Pintupun terbuka dan masuklah pria berbadan atletis itu.
“Maaf kalau kedatangan saya menggangu.” Sambil melangkah masuk dan pria itu menghampiri kami berdua.
“Pak Arditama silahkan duduk pak.” Perintah tante Vera dan pria itu, Pak Ardi. Kemudian dia menarik kursi di sampingku dan kami duduk bersampingan dan tersenyum ramah padaku. “Pak Ardi sudah kenal dengan bu Nadia belum?” lanjut tante Vera.
“Sudah bu, tadi pagi kami sudah berkenalan.” Jawab pak Ardi.
“Bagus kalau begitu.” Tante Vera tersenyum sambil mengangukkan kepalanya. “Jadi, untuk acara amal kita sudah sampai mana persiapannya pak?” Tanya tante Vera pada pak Ardi, dan aku hanya mendengarkan percakapan mereka.
“Sampai pengumpulan data para donatur bu. Kurang dari dua minggu ini persiapan dan pencarian donatur harus sudah rampung semua bu.” Jawabnya tegas. Ku lihat tante Vera wajahnya berubah menjadi serius.
“Saya mau semua berjalan lancar, dan tolong masukkan bu Nadia ke dalam kepanitian acara amal ini.”
“Baik bu,” jawabnya singkat.
__ADS_1
“Bu Nadia tidak keberatankan?” Tanya tante Vera padaku dan ku jawab dengan dengan gelengan kepala dan bersedia membantu acara ini.
Pak Ardi melaporkan beberapa rencana yang akan dilaksanakan dan aku ikut mendengarkan secara seksama penjelasannya itu. Setelah itu, aku dan pak Ardi pamit undur diri kepada tante Vera.
“Bu Nadia besok kita akan ada agenda rapat untuk acara amal ini.”
“Baik pak, saya akan hadir.”
“Bu Nadia mau pulang sekarang?” tanyanya sambil melihat jam tangan yang di pakainya.
“Iya pak.” Jawabku cepat. Sebagian guru sudah pulang karena jadwal pulang sudah lewat dari satu jam yang lalu. Tiba-tiba terdengar sesuatu yang memalukakan. Perutku berbunyi, pak Ardi mengulum senyumnya.
“Ayo kita ke kantin kebetulan saya juga belum makan, tadi gak sempat istirahat.” Ajaknyapadaku dan belum sempat aku menolaknya tiba-tiba tanganku ditariknya menuju kantin. Untung sekolah sudah sepi hanya ada beberapa staf yang masih tinggal di sekolah menyelesaikan pekerjaannya.
Sampai di kantin hanya tinggal beberapa menu yang tersedia, siomay dan mie ayam.
“Bu Nadia mau makan apa?” tanyanya padaku
“Siomay aja deh.” Jawabku sambil berpikir.
Kemudian pak Ardi berjalan memesan makanan dan aku mencari tempat yang enak untuk kami makan. Aku merasa aneh dengan keadaan ini, kenapa kami bisa langsung akrab padahal baru hari ini bertemu.
Kami pun duduk berhadapan sambil menunggu makanan yang kami pesan datang.
“Pak Ardi sudah lama menjadi guru di sini?” tanyaku membuka percakapan.
“Panggil saja Ardi, jangan terlalu formal. Kitakan sedang makan bukan sedang kerja.”
Aku hanya tertawa mendengar jawabannya, dan makanan pun datang. Ternyata Ardi memilih mieayam untuk makannya. Aku menghabiskan siomay dan jus jeruk untuk menghentikan suara gemuruh perutku. Setelah selesai makan kami meninggalkan kantin.
“Bu Nadia…” ku potong ucapannya. “Nadia aja…” ucapku membalas permintaan Ardi tadi.
“Ehhmm… Nadia aja mau pulang bareng gak?” Tanyanya sambil senyum.jahil.
“Na..dia..” aku menegaskan gak pakai ‘aja’ sambil tertawa. Ternyata dia suka bercanda juga.
“Nadia..?” ucapnya lagi
“Saya bawa motor pak.”
“Ardi .” dia meralat ucapanku.
“Saya pulang naik motor, Ardi…” sambil menunjuk motor yang tak jauh dari tempat kami berdiri.
Kami pun tertawa hanya karena merasa canggung menyebut nama panggilan ketika di luar jam kerja tanpa tambahan pak atau bu.
"Ok, kalau begitu hati-hati di jalan, sampai jumpa lagi besok." ucapnya.
__ADS_1
bersambung