Nadia For Aidan

Nadia For Aidan
Undangan


__ADS_3

Semua orang mengucapkan ucapan selamat pagi sambil sedikit membungkukkan badan menunjukkan rasa hormatnya kepadaku yang baru memasuki gedung perusahaan yang terhitung mulai hari ini dipimpin olehku. Aku hanya mengedipkan mata dan mengganggukkan sedikit kepala sebagai jawaban salam mereka secara tersirat. Langakahku tertuju pada satu lift khusus yang akan aku gunakan yang menghubungkan lobby dengan ruanganku itu, bersama salah satu manager dan sekretarisku yang telah menyambutku di depan. Beruntung sekretaris yang mengatur kegiatanku nanti bukan gadis cantik yang akan menggoda atasannya atau terjerat cinta lokasi seperti dalam cerita novel. Sepertinya dia wanita yang sudah berkeluarga.


 


Tak perlu waktu lama, akupun sampai di ruanaganku yang terletak dibagian tertinggi bangunan pencakar langit ini. Dari jendela kaca terlihat gedung-gedung tinggi lain yang seakan menunjukkan kekuasaan mereka masing-masing. Pemandangan dari atas memang terlihat indah, birunya langit dan awan yang terlihat seakan lebih dekat. Kesibukan di bawah juga terlihat jelas dari atas, hilir mudik kendaraan dan untaian kemacetan ibukota seakan menjadi pelengkap kesibukkan kota ini.


 


"Pak Verel, jam sebelas nanti kita ada acara penyembutan kedatangan anda yang akan dihadiri oleh seluruh staf dan direksi" Bu Joana membacakan beberapa agenda yang harus  aku hadiri di hari pertamaku bekerja. Aku menganggukkan kepala mengisyaratkan paham akan agendaku hari ini. "Kalau anda memerlukan sesuatu silahkan hubungi saya" pamit Bu Joana sebelum keluar ruangan meninggalkanku dengan tumpukkan berkas-berkas yang harus segera baca dan dipelajari atau perlu tanda tanganku secepatnya.


 


Satu persatu tumpukkan berkas-berkas itu aku selesaikan hinnga akhirnya terdengar suara ketukan pintu. "Pak Verel, semua orang sudah menunggu kehadiran anda di ruang pertemuan" Bu Joana mengingatkan agendaku. "Pak Aiman juga sudah ada disana". Ternyata Papa sudah datang tanpa menemuiku sebelumnya, batinku. "Oke, kita langsung ke sana". jawabku cepat.


 


Ternyata disana sudah berkumpul para staf direksi dan juga beberapa tamu undangan dari perusahaan lain yang merupakan rekan bisnis kami.. Papa menyambutku dengan merentangka tangan dan memelukku. "Luar biasa, kau baru masuk kerja dan langsung kerja tak kenal waktu?" Papa sengaja meledekku. "Aidan hanya berusaha melakukan yang terbaik saja Pa" tangkasku.


 


Semua mata tertuju pada kami dengan pikiran mereka masing-masing tentunya. Sekejap kulihat mereka satu persatu dan kenapa sebagian staf perempuan seperti sedang membeku, mereka belum bergeming melihatku. Kutundukkan mataku ke bawah melihat bajuku apakah ada yang salah atau kotor? Kurasa tak ada yang salah dengan diriku.


 


Akupun memberikan sedikit sambutan sebagai perkenalan atas jabatan yang aku emban mulai hari ini dan terdengar tepuk tangan dari mereka diakhir pidato singkatku. Kemudian acara penyambutan dan serah terima jabatanku selesai dan lansung dilanjutkan dengan makan siang bersama.


 


***


Nadia Paramitha


 


Hari ini masih belum ada email masuk dari beberapa tempat kerja yang aku lamar dalam beberapa minggu ini. "Hmm...ya ampun, apa ada yang salah ya? ko, belum ada yang nerima lamaran pekerjaan aku sih" gerutuku serasa prustasi. Baiklah, mungkin belum waktunya,gumamku menghibur diri sendiri. Ku ambil ponsel dan ku buka akun sosial mediaku kemudian post a picture tentang kegiatanku yang unfaedah. "Bukankah kita harus membuat diri kita sendiri bahagia? kalaupun itu tak berguna menurut orang lain tapi membuat kita bahagia, maka lakukanlah. Hidup akan lebih melelahkan jika hanya menunggu pujian darimorang lain". Caption yang aku tulis melengkapi postinganku,  dan setelah itu beberapa notif pun masuk. Beberapa komentar dari teman-teman dan ada satu yang menarik perhatianku. sebuah komen dengan tiga tanda hati dari tante Vera.


 

__ADS_1


Tidak berselang lama, notif pesan masuk ke ponselku dari tante Vera.


 


"Lagi bosen ya cantik?" tanya tante Vera. kemudian segera aku membalasnya "Iya tan, lagi gak ada kegiatan" jawabku cepat.


 


"Sini main ke rumah tante, dah lama gak ketemu. Tante kangen Nadia" Dahiku berkerut karena kaget, bukannya baru kemarin ketemu di Mall itu.


 


"Kapan-kapan Nadia mampir ke rumah tante ya" jawabku


 


"Hari sabtu nanti di rumah tante ada acara, kamu bisa datangkan sayang?" Lama ku balas chat tante Vera, karena sedikit berpikir mencari jawaban yang pas, terima atau tolak.


 


"Gak bisa ya?" tanya tante Vera dengan menambahkan emot sedih


 


 


"Syukuran aja, ulang tahunnya Valery. beneran lho kamu harus datang ya. Nanti biar sopir tante jemput kamu ke rumah". balas tante Vera tak menerima sanggahan.


 


"Jangan repot-repot tan, Nadia bisa ko datang sendiri" jawabku cepat.


 


"Gak apa-apa sayang, kamu tuh tamu istimewa tante" Mataku membola dan mulutku ternganga kaget membaca jawaban tante Vera.


 

__ADS_1


"Baik tan, terimakasih undangannya" jawabku mengakhiri chat dengan tante Vera.


 


Entahlah tante Vera itu kenapa bisa baik banget sama aku. Gegera suka lihat postingan jualan aku dan terus refeat order, dan aku menjadi semakin akrab. Yang ku tahu tante Vera hanya punya satu anak permpuan yang juga akrab denganku dan tinggal di salah satu komplek perumahan ellit di kotaku. Tak pernah aku melihat tante Vera mengunggah kehidupan pribadinya di aku media sosial yang beliau gunakan. Waktu kemarin ketemu di Mall terlihat tante Vera bersama seoarang laki-laki muda tapi aku tak begitu jelas melihatnya dan aku yakin itu bukan Om Aiman suaminya.


 


"Bun, hari sabtu lusa tante Vera ngundang aku ke acara ulang tahun Valery di rumahnya" ucapku pada bunda yang sedang santai nonton televisi. "Datang aja sayang, gak baik nolak undangan orang lain, lagian tante Vera kan baik banget sama kamu" jawab bunda mengizinkan.


 


"Tapi bun, Nadia sama siapa ke sananya?" tanyaku ragu. "Sayang..kamu kan sudah biasa berkunjung ke sana, kenapa bingung?"tanya bunda heran sambil membelai rambutku.


 


"Iya sih bun, tapi aku biasanya gak lama cuma nganterin orderan, ngobrol sedikit terus pulang deh" jelasku pada bunda. "Gimana kalau bunda ikut?" ajakku pada bunda.


 


"Gak bisa sayang, kan yang di undang itu cuma anak bunda, lagian hari Sabtu bunda juga ada undangan dari Bu Raffi buat pengajian Aqiqahan putranya" jawab bunda memberi alasan. "Nanti bunda buatin sesuatu deh buat kamu bawa ke rumah tante Vera" jawab bunda menghiburku.


 


"Iya deh nanti Nadia ke sana sendiri" jawabku sambil menjatukan kepala di pangkuan bunda tempat ternyaman di dunia ini. "Kenapa tante Vera baik banget sama Nadia ya bun? padahal tante Vera juga punya anak perempuan?"


 


"Berbuat baik itu kadang tidak memerlukan banyak alasan sayang" jawab bunda bijak.


 


**


*


bersambung

__ADS_1


 


 


__ADS_2