
Lucu sekali melihatnya gugup karena ketiduran. Aku bersiakap biasa saja, seolah tidak mempermasalhkannya tertidur, agar dia tidak merasa malu. Tak lama setelah dia ijin untuk ke toilet, di kembali dengan suara yang sedikit gugup dan berdiri di depan mejaku.
“Sekali lagi saya minta maaf.” Ucapnya tanpa melihat wajahku.
“Silahkan duduk.” Jawabku dengan menatapnya intens.
Kamipun duduk saling berhadapan, dan akhirnya mata kami saling bertemu. Mata bulat dengan bulu mata yang lentik, hidung kecil yang mancung dan bibir merah yang alami, dia benar-benar sangat menggemaskan.
“Ada perlu apa bu guru datang ke kantor saya?” tanyaku santai dengan suara datar menyembunyikan gejolak dadaku.
“Maaf pak, saya datang ke kantor bapak untuk menyerahkan proposal permohonan untuk acara amal yang akan kami selenggarakan di sekolah.” Ucapnya sambil memberikan proposal yang ada di tangannya dan meletakkannya di depanku.
“Menurut bu guru, apa saya terlihat sudah tua?”
“Maksud bapak?” dahinya berkerut terkejut dengan pertanyaanku.
“Kalau tidak salah, kemarin waktu kita bertemu, anda tak memanggil saya seperti itu.”
“Maaf pak Verel, saya tidak tahu kalau anda adalah CEO di perusahaan ini.” Ucapnya kembali.
“Mohon maaf kalau ucapan saya tidak berkenan di hati anda.” Ucapnya dengan raut mukanya terlihat takut.
Kenapa dari tadi dia selalu minta maaf.
Aku tak menjawab atau merespon ucapannnya, ku ambil proposal yang dia serahkan padaku. Beberapa pertanyaan ku ajukan kepadanya mengenai acara tersebut. Berbagai rencana yang dia ajaukan bersama dengan proposalnya begitu terdengar menarik. Gaya bicaranya yang santun dan meyakinkan, sehingga menurutku dia pantas sebagai utusan perwakilan sekolah Sungguh dia pribadi yang hangat, berbicara dengannya membuatku lupa akan waktu.
“Kalau begitu saya pamit undur diri pak” ucapnya ketika dirasa dia cukup mengutarakan maksud kedatangannya di kantorku.
“Baik, silahkan”
“Sekali lagi saya ucapkan terimakasih”
Setelah berjabat tangan, akhirnya dia keluar dari ruanganku. Ku Tarik nafas dengan panjang menormalkan kembali detak jantungku. Padahal aku bernafas dengan paru-paru, tetapi kenapa jantungku yang terasa sesak? Ku kendurkan dasiku yang terasa mencekik leherku. Berhadapan dengannya serasa lebih menegangakan daripada
bertemu dengan para investor.
Kenapa tak kutawarkan pulang bersama atau mentraktirnya makan atau sekedar minum kopi? Pasti dia sudah kelaparan karena dari siang menungguku. Gumamku dalam hati. Tapi, egoku lebih besar dari keberanianku. Terlalu memalukan mendekatinya secaepat ini.
“Bu Joana, apakah agendaku hari ini sudah selesai?” tanyaku melalui telepon menghubungi sekretarisku.
“Sudah selesai pak”
Kuputuskan untuk segera keluar dari kantor, dan hari masih sore sepertinya menyenangkan sampai di rumah sebelum larut malam. Ku lajukan mobilku keluar dari parkiran gedung perusahaanku, aku selalu membawa mobil sendiri tanpa sopir pribadi. Jalanan ibukota ternyata sudah mulai padat dengan kendaraan pribadi yang mungkin sama denganku, menuju rumah mereka masing-masing setelah selesai bekerja.
󠅲󠅲󠅲***
Nadia Paramitha
Lelah sekali hari ini, setelah keluar dari gedung milik Verel itu, aku membeli segelas kopi dan sepotong roti di sebuah kedai dekat halte untuk mengganjal perutku yang keroncongan . Beberapa hari ini hidupku terasa penuh
kejutan dan apakah ini hanya kebetulan saja. Terlalu lapar sehingga otakku banyak berpikir kemana-mana.
Ternyata Verel tak sedingin pertama bertemu, malah tadi kami bisa mengobrol banyak. Beberapa kali juga kulihat dia tersenyum, yang membuat jantungku seakan lepas dari sarangnya.
Ddrrrttt…
Ponselku bergetar tanda pesan masuk. Ya ampun aku melupakan bunda, dari siang belum memberi kabar padanya. Sepertinya aku akan sedikit terlambat, dan aku masih di halte bus duduk sambil sesekali meminum kopi yang ku beli tadi.
Tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkanku, ternyata di depanku sudah berhenti sebuahmobil dan tak lama jendela kacanya terbuka. Terlihat jelas siapa yang ada di dalam sana. Aku merasa terhipnotis, hanya mendengar kata “ayo masuk” dari dalam mobil. Kembali ku terkejut karena suara klakson bis yang akan berhenti di halte
__ADS_1
terhalang oleh mobil di depanku.
Dengan langkah cepat aku pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk disamping bangku kemudi.
“Saya kira bu guru sudah pulang dari tadi”
“Saya tadi mampir sebentar ke kedai membeli kopi pak” jawabku sambil menunjukkan kopi yang masih aku pegang.
Jawabku, namun tak ada jawaban kembali dari Pak Verel. Ya, sekarang aku sedang bersama pak Verel kembali setelah beberapa menit sebelumnya kami berpamitan. Entah kenapa aku tak menolak ajakannya. Kenapa pula kami kembali dalam mode gugup lagi, padahal tadi kami sudah banyak ngobrol.
“Eehmm…terimakasih pak, maaf sudah merepotkan..”
Ucapku memecah keheningan.
“Bisakan bu guru,,..ehmm”
Ku menoleh ke arahnya yang sedang menyetir dan menunggu lanjutan kalimatnya yang terpotong.
“Saya rasa usia kita tidak jauh berbeda”
“Lantas kenapa pak?”
“Bisakan bu guru panggil saya Verel atau Aidan saja” ucapnya santai
Kenapa dia mau aku hanya memanggil namanya tanpa “pak” padahal dia sendiri manggil aku bu guru, huhhh..
Sebelum menjawab permintaannya, kenapa tiba-tiba pandanganku terasa menguning, dan muncul keringat yang tidak enak di sekitar dahi dan leherku. Kupejamkan mataku agar tubuhku tetap seimbang. Dan kurasa ada tangan yang menempel di dahiku, dan mobil menepi di pinggir jalan.
“Apa bu guru tidak apa-apa?”
Kubuka mataku dan kaget karena jarak kami begitu dekat dan kulihat wajah panik pak Verel.
Kemudian mobil kembali berjalan dan berhenti disalah satu restoran.
“lho, kenapa kita ke sini pak?”
“Sudah ayo turun, temani saya makan. Saya yakin kamu belum makan apa-apa dari tadi siang.”
Akupun turun dengan perasaan malu, pasti pak verel tahu kalau aku laper banget hingga keluar keringat dingin, dan salahnya aku juga belum makan malah minum kopi. Kalau bunda tahu pasti ngomel nih. Aaarrgh…maluuu…
“Mau makan apa?”
“Apa saja pak”
“Minumnya?”
“Lemon tea aja”
Kemudian Pak Verel memesan menu makanan untuk kami berdua.
Aku mimpi apa sih bisa makan bareng sama dia, cuma berdua. Rasanya pengen deh berhentiin waktu sebentar, biar terus bareng sama dia. tapi bareng dia terus kayanya gak baik untuk kesehatan, jantungku berdebar gak normal.
Setelah selesai makan, kami pun segera melanjutkan perjalanan pulang. Hari sudah hampir malam ketika aku sampai di rumah.
“Terimakasih pak sudah….” Pak Verel memotong ucapanku.
“Aidan…panggil saya Aidan”
“Tapi pak…”
__ADS_1
“Gak ada tapi-tapi” jawabnya tegas
“Kalau Kak Aidan gimana?”
“Hhmmm… oke lah” jawabnya sedikit terpaksa
Kamipun kembali suasana diam hingga sampai didepan rumahku.
“Ehmm, pak Kak Aidan terimakasih ya untuk semuanya” ucapku gugup sambil membuka pintu mobil.
“Bu guru gak nawarin saya untuk mampir?”
“Hah..”
“Maksud saya silahkan kak”
Ternyata sport jantung masih berlanjut, kenapa dia mau mampir segala sih?
Segera ku buka pintu gerbang dan dia mengikutiku dari belakang.
“Assalamualaikum” ucapku memasuki rumah
“Waalaikumsalam” bunda menjawab salamku dengan terbata dan wajah terheran-heran.
Aku mencium tangan bunda di susul dengan Aidan yang ikut mencium tangan bundaku.
“Bun, ini Kak Aidan putranya tante Vera”
“Selamat malam tante” ucap aidan
“Ternyata bu Vera punya putra ganteng ya” ucap bunda dengan tatapan kagum.
“Yuks, masuk dulu kita ngobrol di dalam”
“Makasih tante, Aidan mau langsung pamit saja. Kapan-kapan Aidan mampir lagi”
“lho ko buru-buru”
“Makasih lho, sudah nganterin Nadia sampe rumah”
“Gak apa-apa tan, sekalian lewat aja” jawab Aidan ramah
“Pasti hari ini Nadia ngerepotin nak Aidan ya? Anak tante bandel nih, habis minum kopi kan suka bikin orang panik.” Terang bunda sambil melihat gelas kopi yang masih aku pegang
“Bundaaa…” jawabku malu
Aidan hanya menjawab dengan mengeluarkan senyuman mahalnya, bikin orang sesak aja.hahhaa
Akhirnya mobil Aidan menghilang dari pandangan kami, setelah dia pamit pulang.
“Wah sepertinya ada yang akan curhat sama bunda sampe larut malem nih” goda bunda
“Gak bun, Nadia pengen istirahat. Curhatnya nanti aja”
Segera ku berlari meninggalkan bunda yang terus menggoda. Ku melompat ke atas Kasur dan berguling-guling sampir menahan ketawa. Kenapa bisa sesenang ini sih hari ini? Aaaaa…waktunya mandi, dan segera tidur.
Bersambung
__ADS_1