Nadia For Aidan

Nadia For Aidan
Mata Elang


__ADS_3

Dari malam tadi, tante Vera terus mengingatkan aku agar tidak lupa datang ke acara di rumahnya siang ini.  Benar saja tepat jam sepuluh pagi ini, sebuah mobil warna hitam sudah ada di depan rumah menungguku.Segera aku keluar dengan membawa kado untuk Valery karena hari ini adalah ulang tahunnya.


“Sayang jangan lupa kuenya bawa.” Aku menepukkan tanganku ke dahiku karena benar saja aku melupakannya kalau saja bunda gak mengingatkan. “Sampaikan juga salam bunda untuk tante Vera ya.” Bunda menambahkan. “Baik bun.” Jawabku sambil mencium tangan bunda untuk pamit. “Hati-hati di jalan ya sayang.”


Kulihat pak sopir keluarga tante Vera sudah berdiri di depan pintu dan segera membuka pintu mobil ketika melihat aku sudah mendekat. Akupun masuk dan pak sopir kembali menutup pintu mobil. Aku merasa  tersanjung dengan semua ini. Kenapa tante Vera repot-repot menjemputku. Hhhmmm…sudahlah aku malas memikirkannya.


“Maaf pak, nunggu lama.” Ucapku pada pak sopir yang terlihat sehat walau sudah tua.


“Gak apa-apa Non.” Jawabnya ramah.


“Bapak sudah lama kerja di keluarga tante Vera?”


“Sudah Non, dari bapak bujangan.” Jawabnya renyah sambil tertawa. “Panggil saja saya pak Maman ya Non.” Pak Maman memperlkenalkan diri. “Kalau tidak salah Non yang suka main ke rumah Nyonya pakai motor metik ya?”


“Betul pak, pak Maman sering lihat saya ya?”


“Iya Non,gak sering sih.”


Tak terasa mobil sudah masuk ke gerbang rumah tante Vera. Ku segera membuka pintu mobil, mendahului pak Maman yang ingin membukakan pintu untukku.


“Makasih pak”


“Sama-sama Non, langsung masuk aja Non.” Jawab pak Maman.


Bukannya ada acara ko sepertinya sepi, hanya ada beberapa mobil terparkir.


Kemudian aku menekan bel rumah besar dihadapanku. Tak lama pintupun terbuka.


“Nona, apa kau mau masuk? Kalau tidak aku akan tutup kembali”


Ucapannya menyadarkanku yang terdiam membisu kaget dengan yang apa yang ku lihat di depan mataku. Mata


elang itu seakan tengah membidikku. Beberapa kali main ke rumah ini, baru kali ini melihatnya. Bukannya dia Verel? Jantungku berdegup kencang, mengingat siapa dia. Kenapa dia ada di rumah tante Vera?


“Nadia ya?” terdengar suara Valery dari dalam rumah menyambutku dan menggeser sosok dingin di depanku. "Kakak gimana sih ada cewek cantik begini bukannya di suruh masuk malah diplototin" Valery menarik tanganku masuk ke dalam rumah. “Mam, Nadia dah datang nih..”

__ADS_1


Ternyata di dalam sudah ada beberapa tamu yang datang, sepertinya beberapa kerabat dekat tante Vera, dan beberapa teman dekat Valery dan satu yang ku kenal. Ternyata ada bu Hana yang kemarin aku bertemu di sekolah ketika melakukan wawancara. Semoga beliau masih mengenaliku, batinku berharap.


“Sayang, sudah datang?” tante Vera merentangkan tangannya menyambutku dengan pelukanyang hangat. Kemudian beliau memperkenalkanku pada keluarganya.


“Wahh, bu guru cantik...” salah satu dari mereka ada yang menanggapi ucapan tante Vera yang memperkenalkan ku kepada teman Valery sebagai guru baru di sekolah yang beliau pimpin.


“Tante, aku mau daftar sekolah lagi boleh ya?” salah satu teman Valery menggodaku.


Tante Vera hanya menanggapi dengan tertawa yang di susul oleh yang lainnya juga. Aku hanya tersipu malu tanpa menanggapinya serius. Hanya ada seorang yang tampak biasa saja duduk dengan menyilangkan kaki seperti tak perduli keadaan di sekitarnya.


Acarapun di mulai dengan sambutan dari tuan rumah yang diwakili oleh Om Aiman suami tante Vera.


“Puji syukur kami ucapkan atas segala limpahan nikmat yang tak henti-hentinya dari Sang pemilik alam. Bahwa tepatnya hari ini, rasa syukur kami ucapkan atas bertambahnya usia putri kami tercinta Valery dan syukur kami atas berkumpulnya kembali putra kami Verel, di tengah keluarga ini. Terimakasih kepada seluruh  keluarga dan teman yang telah menyempatkan waktunya untuk datang memenuhi undangan sederhana ini.”


Sedikit sambutan yang diberikan oleh om Aiman tapi merangkum isi acara ini. Tak terlihat hingar bingar pesta yang biasa kaum jetset lakukan. Mereka melakukannya sesederhana mungkin, hanya do’a-do’a yang terdengar sebagai pengiring pesta kecilnya.


Aku memilih duduk bersama bu Hana sambil menikmati hidangan.


“De Nadia, berarti waktu SMA bareng Aidan ya?” Tanya bu Hana


“Aidan?” Tanyaku heran


“Semua orang kenal sama Verel bu, tapi sepertinya Verel gak kenal sama saya” jawabku sambil menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal.


Siapa yang gak kenal coba sama cowok most wanted itu, bahkan semua cewek di sekolah bisa histeris hanya dengan melihat dia lewat saja. Mana mungkin dia kenal sama akuyang hanya sebutir debu di kaca kelas yang kotor, hikhiks.


“Kami juga belum pernah satu kelas yang sama”


“Mungkin juga karena waktu kelas XI Aidan pindah sekolah ke Australi, dan baru seminggu ini dia ada di rumah setelah lama tidak pernah pulang walau sedang libur sekolah”. Tegas bu Hana.


Pantesan aku tak pernah melihatnya di rumah ini, dan ku pikir Valery anak tunggal keluarga tante Vera.


“Maaf bu Hana punya hubungan keluarga dengan tante Vera?” Tanyaku penasaran.


“Saya adiknya om Aiman de” jawab bu Hana.

__ADS_1


Aku hanya menjawab Oooo.


“Sekali lagi saya boleh bertanya gak bu?” dan langsung dijawab dengan anggukkan kepala bu Hana.


“Saya mau tahu saja, kenapa saya bisa di terima kerja di sekolah? Maksud saya….” Aku bingung melanjutkan kata-kataku.


“Kami menerima dek Nadia di sekolah karena beberapa pertimbangan sesuai dengan standar penilaian sekolah kami. Adapun dek Nadia sudah mengenal Bu Vera itu tidak terlalu mempengaruhi hasil penilaian kami.” Jelas bu Hana padaku.


Aku sangat senang mendengar apa yang telah dijelaskan oleh bu Hana.


“Lagi pada ngobrol apa nih? Serius amat” pertanyaan tante Vera mengagetkan kami. “Sayang, sudah kenalan belum sama anak tante?”


“Ternyata mereka pernah satu SMA lho Kak.” bu Hana mendahului ku menjawab pertanyaan


tante Vera sambil tersenyum menggodaku.


“Masa sih?” entah kenapa tante Vera begitu berbinar mendengar jawaban bu Hana.


“Berarti Nadia lulusan SMA 1 juga?”


“Betul tan” jawabku singkat.


“Aidan tuh gak punya teman dekat, dia orangnya tertutup. Tante yakin gak ada cewek yang mau deketin dia deh. Buktinya sampai sekarang belum pernah ngenalin pacarnya sama tante.”


Ya ampun tan, yang mau sama Verel tuh banyak banget kalau suruh antri bisa ngelebihin macetnya jalan ibukota


kita. Dianya aja yang udah kaya bintang di langit yang susah di gapai..hihiii


Aku hanya tersenyum menanggapi curhatan tante Vera.


“Ehhmmm…”


Suara itu mengagetkan kami bertiga, dan membuat jantungku kembali berisik ketika melihat arah sumber suara.


Ya Tuhan, jangan sampai suara debaran jantungku terdengar olehnya. nih jantung berisik banget sih. Apa harus aku cek ke dokter?

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2