
Verel Aidan Paramulya
Hari ini, rumahku akan sedikit ramai karena ada pesta kecil untuk hari ulang tahun adikku Valery. Juga sebagai pesta
syukuran atas kembalinya aku ketengah keluarga ini setelah hampir enam tahun
aku putuskan untuk melanjutkan pendidikanku di Australia.
Semua keluarga tengah sibuk mempersiapkan segala keperluan pesta, meski hanya pesta sederhana, namun Mama ingin menjadikan pesta syukuran ini tetap berkesan. Hingga terdengar suara bel pintu
berbunyi pun hampir tidak ada yang menyadarinya. Terpaksa aku yang sedang tidak sibuk pun, ambil langkah untuk membuka pintu.
Kenapa tidak langsung masuk saja, padahal rumah ini selalu terbuka untuk keluarga.
Ketika ku buka pintu, jantungku berdetak
kencang. Akupun menyembunyikan perasaanku dengan ucapan yang datar. Seorang gadis tengah berdiri dan menundukkan kepala melihat ujung sepatunya sedang menunggu
pintu di buka. Begitu melihatku berdiri tepat dihadapannya, dia mengangkat wajahnya dan terlihat bingung melihatku.
“Nona, apa kau mau masuk? Kalau tidak aku akan tutup kembali.” Ucapku menyembunyikan kecanggunganku.
Kulihat dia sama seperti halnya diriku yang
terkejut melihatnya ada di rumahku, entah apakah dia masih mengingatku seperti aku selalu mengingatnya walau sudah terpisah ruang dan waktu. Urusan perasaan memang sering tak bisa diihubungkan dengan logika.
Sebelum dia menjawab pertanyaanku, tiba-tiba Valery datang membawanya masuk ke dalam menggeserku dari hadapannya. “Kakak gimana sih ada cewek cantik begini bukannya di suruh masuk malah diplototin.”
Ku hanya diam, dan berpikir kenapa Valery bisa mengenalnya.
Ketika acara di mulaipun aku tak terlalu menikmatinya. Selain tak suka dengan pesta akupun tak suka suasana ramai. Tapi ku tetap bertahan ikut bergabung karena memang ini acara special untukku dan ada satu alasan yang membuat aku ingin tetap duduk menikmati acara walau sambil sibuk
memainkan ponselku untuk menghilangkan kebosanan.
“Wahh, bu guru cantik...” celetuk salah satu
teman Valery yang ku rasa sedang menggodanya dan membuatku harus mengalihkan pandanganku pada ponsel untuk melihat sosok yang sedang dibicarakan.
Kenapa aku tak senang dengan apa yang ku dengar tentangnya, rasanya ingin memasangkan kaca mata hitam untuk teman Valery agar tak bisa melihat dia dengan jelas.
Flashback on
*Senin ini, giliran kelasku untuk menjadi
petugas upacara pengibaran bendera. Setelah beberapa hari sebelumnya telah
ditentukan siapa saja yang akan menjadi bagian petugas upacara ini. Semua
mendapat tugas masing-masing dan begitupun denganku. Aku seperti biasa terpilih untuk menjadi pemimpin upacara.
Tepat jam tujuh pagi, bel panjangpun terdengar ke seluruh lingkungan sekolah. Seluruh muridpun keluar berhamburan menuju lapangan sekolah tempat akan dilaksanakannya upacara. Tiap murid berbaris menurut kelasnya masing-masing. Setelah semuanya rapi dan siap maka upacarapun di mulai dengan dibacakannya susunan acara oleh pembawa acara.
__ADS_1
“Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara.” Ucap pembawa acara.
Dengan langkah tegap aku menghentakkan kakiku memasuki lapangan menuju titik tempatku berdiri. Semua mata tertuju padaku. Akupun berdiri tegap dengan percaya diri. Namun, satu yang membuat
konsentrasiku terpecah. Tepat lurus di depanku berdiri satu murid perempuan yang
berbaris di barisan depan, yang mencuri
perhatianku. Dia yang selalu menundukkan wajahnya ketika bertemu denganku.
Ku perhatikan wajahnya yang manis, dan terlihat butiran keringat sudah muncul di dahi turun ke pelipis matanya. Ingin rasanya aku menyeka keringatnya dan menariknya ke tempat yang teduh agar dia tak kepanasan. Mungkin ini adalah kesempatan emasku melihatnya jelas. Pandangan kami bertemu, dan aku tak memberikan izin pada mataku untuk berkedip, karena kesempatan ini tak akan bertahan lama.
“Nadia Paramitha.” Ucapku dalam hati ketika membaca bet nama yang terbordir di bajunya. Nama yang selama ini aku cari, dan akhirnya tak sengaja aku temukan. Rasanya ku ingin menghentikan waktu tetap
seperti ini agar bisa memandangnya lebih lama.
“Pembina upacara memasuki lapangan upacara.”
Perintah pembawa acara ini mengakhiri
kesenangan mataku dan ku harus membalikkan badanku mengahadap pembina upacara*.
Flashback off
“Tante, aku mau daftar sekolah lagi boleh ya?” kembali terdegar godaan teman Valery yang membuatku ingin menyumpal mulutnya.
Kenapa dadaku panas mendengar kata pujian untuknya, kenapa aku merasa tersulut emosi ketika ada orang memujinya. Ada apa dengan diriku.
menemukkan banyak perubahan dengan dirinya. Kulit putih bersih, bibir pink
alami, mata yang lebar dan bentuk tubuh yang tidak terlalu tinggi membuatnya
terlihat menggemaskan juga senyumnya yang selalu membuat dadaku berdetak tak
normal. Dia bukan murid populer di sekolah, namun dia punya daya tarik tersendiri. Ketika murid perempuan lainnya sering bertingkah aneh mencari perhatian dariku, hanya dia yang selalu menundukkan pandangannya ketika bertemu denganku.
Hari ini dia berada dekat denganku, tentu saja aku bahagia bisa bertemu kembali dengannya. Dia terlihat dekat sekali dengan mamaku.
Meski acara telah selesai, sebagian saudaraku masih menjadikan ku sebagai bintang acara untuk dijadikan objek wawancara mereka. Sehingga tenggorokanku kering menjawab pertanyaan mereka. Aku pun segera bangkit mencari sesuatu untuk melegakan tenggorokanku.
“Ehhmmm…” suaraku ternyata mengagetkan mama yang sedang asik ngobrol dengan tante Hana dan Nadia. Sepertinya mereka kaget dengan kedatanganku. Ku ambil orange jus di meja hidangan di samping mereka bertiga yang menghentikan obrolannya karena kehadiranku. Kemudian kubawa minumanku ke balkon meninggalkan acara.
Tak lama kemudian mama datang mengagetkanku. “Sayang, tolong anterin Nadia pulang ya!” seperti biasa perintah ibu ratu adalah mutlak tak bisa di ganggu gugat.
“Kan ada Pak Maman mam.” jawabku membantah perintah mama, walau dalam hatiku senang dapat mandat ini.
“Pak Maman mau nganterin tante Hana, apa kamu mau anter tante Hana aja? biar pak Maman yang anterin Nadia?” mama memberi pilihan.
“Biar Aidan aja yang anter Nadia.” Jawabku cepat.
“Kamu sudah kenalan belum sama Nadia?Tanya mama. “Bukannya dulu kamu penah satu sekolah? "
__ADS_1
“Iya Aidan tahu.”
“Waaahhh, jadi kamu sudah kenal sama Nadia ya” mama dengan wajah sumringahnya. “Bagus deh kalau begitu”
“Memang kenapa?” tanyaku penasaran
“Sudah cepat ambil mobil kamu, kasian Nadia sudah nungguin kamu dari tadi”
“Apa dia sekarang seorang guru?” tanyaku memberanikan diri.
“Hhmmm, tanya saja langsung pada orangnya” jawab bunda sambil tertawa.
Dengan sedikit kesal karena tak mendapatkan jawaban dari Mama, segera ku ambil mobilku, dan ku lihat dia sedang berdiri di depan rumah. Sepertinya dia
tidak tahu bahwa Range Roverku yang akan mengantarnya pulang. Kubuka jendela
mobilku dan memberi tanda agar dia cepat masuk. “Nona, sampai kapan kau akan
berdiri di sana?” tanyaku menutupi keteganganku.
Kemudian Papa dan Mama muncul dari dalam rumah menghampirinya. Kemudian dia pun berpamitan dengan orangtuaku dan segera masuk mobil setelah mendengar suara klaksonku yang ku bunyikan karena acara pamitan mereka yang terlalu lama.
Diapun masuk duduk di sampingku yang sedang mengemudikan mobilku membelah jalan. Tanganku tiba-tiba terasa berkeringat dingin dan jantungku berpacu.
“Sudah puas memandangku nona?” ucapku dengan dingin ketika mendapatinya sedang memandangku. “Maaf sudah merepotkan.” Jawabnya dengan suara yang bergetar. Kulihat dia menggigit bibir bawahnya.
Ya tuhan dia sungguh menggemaskan sekali.
Ku tak mengajaknya berbicara lagi, lidahku terasa kelu sekali. Selain ini adalah pertama kali aku membawa perempuan selain Mama dan Valery, juga hanya berdua di dalam mobil, situasi ini lebih sulit dari pada ketika aku harus menghadapi klien. Apa penyejuk udara mobil ini bermasalah? Kenapa jadi panas begini, gerutuku dalam hati.
Mulutku tidak sesuai dengan ucapaku. Padahal aku senang sekali bisa berdua dengannya dan sepertinya hatiku sedang senang, karena dia bertemu dengan sang pemiliknya. Senangnya seperti kemarau yang bertemu hujan.
Aku memlilih menyalakan audio pada dashboard untuk menutupi ketegangan yang kurasa dan aku sengaja memilih lagu “The Way You Look at Me” yang dinyanyikan oleh
Christian Bautista. Lagu ini seperti isi hatiku saat ini. Sesekali aku meliriknya yang sedang duduk kaku membuang pandangannya keluar mobil.
Ku jalankan mobil dengan kecepatan sedang, karena tak ingin waktu ini cepat berlalu. Setelah kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya aku sampai di depan rumahnya.
“Nona, apa aku harus menunggumu melamun sampai malam?”
Sepertinya dia melamun, dan tak menyadari kalau dia sudah sampai di depan rumahnya. Betapa dia terkejut dan mukanya merah seperti tomat, lucu sekali. Tanpa melihatku dia membuka seatbelt dan mengucapka terima kasih langsung keluar dari mobil. Setelah dia menutup pintu mobil ku tarik napas panjang meredakan kembali detak jantungku.
Semoga dia tidak curiga, aku tahu alamat rumahnya tanpa bertanya sebelumnya.
Entahlah dari semenjak aku tahu siapa namanya, aku tidak mampu menghapus tentangnya dari ingatanku. Diam-diam ku mencari informasi tentangnya, hanya saja sebelum aku mendekatinya, papa memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku di luar negeri. Berat rasanya harus membuang rasa yang mulai tumbuh.
Pada hari itu ketika melihatnya keluar gerbang sekolah dijemput oleh pria paruh baya dan dari belakang motor sport ku tak terasa mengikutinya sampai mobilnya masuk gerbang rumahnya.
Setelah itu, aku menertawakan kebodohanku sendiri. Kadang cinta membuat orang tidak menyadari bahwa dia telah melakukan sesuatu yang bodoh.
Aku sudah menemukan alamat rumahnya, ini salah satu cara mudah agar suatu nanti aku tak salah alamat membawa orangtuaku untuk melamarnya untuk hidup semati denganku.
__ADS_1
bersambung