Nadia For Aidan

Nadia For Aidan
Wawancara 2


__ADS_3

“Silahkan masuk” terdengar suara yang tak asing dari dalam ruangan tersebut.


Pintupun terbuka,ku lihat seoarang perempuan paruh baya yang bersahaja dengan senyumnya membuka


pintu mempersilahkan aku masuk. Ku anggukkan kepala dan ku ucapkan terimakasih.


“Saya Nadia bu” ucapku sambil mencium tangan wanita itu.


“Saya Bu Hana, silahkan duduk bu” Bu Hana memperkenalkan dirinya dan mengarahkanku ke bangku yang ada di depan meja besar. Di belakang meja tersebut tengah sibuk seorang perempuan dengan laptopnya.


“Sela-mat pa-gi bu…” ucapku terbata kaget dengan sosok yang ku lihat di depanku.


“Pa-gi….” Jawabnya ikut kaget melihatku.


“Tante ehh ibu…” sapaku bingung harus panggil beliau apa


“Lho…Nadia ya?” beliau kembali bertanya meyakinkan apa yang dilihatnya.


“Iya bu” jawabku cepat.


Kemudian beliau bangkit dari bangku kebesarannya, menghampiriku. Dengan cepat ku raih tangannya dan menciumnya sebagai hormatku. Badanku ditarik ke dalam pelukkannya.


“Sayang kenapa kamu kesini?”


Padahal harusnya aku yang bertanya kenapa beliau ada di sini?


“Kemarin Nadia dapat panggilan wawancara kerja di sini bu”


“Panggil saja tante seperti biasanya jangan ibu, atau mama juga boleh” ucap tante Vera hangat mengajakku untuk duduk di sofa di tengah ruangan.


“Gak apa-apa bu” jawabku gugup karena masih kaget kenapa tante Vera ada di sini. Waktu satpam bilang bu Vera sudah menunggu, tak sedikitpun pikiranku mengarah ke tante Vera yang ku kenal.  Ternyata dunia memang selebar daun kelor pikirku.


“Beberapa waktu yang lalu Nadia, mengirimkan lamaran kerja di sekolah ini bu, dan hari ini ada panggilan untuk wawancara” jelasku pada tante Vera yang masih menggenggam jemariku sambil mendengarkan penjelasanku.


“Jadi Nadia mau kerja di sini?”


“Kalau di terima bu” jawabku sambil tersenyum

__ADS_1


“Tante gak tahu kalau Nadia melamar ke sekolah ini, tadi bu Hana bilang ada beberapa calon guru yang akan melakukan sesi wawancara pagi ini. Tante senang banget yang datang itu kamu, sayang”.


“Maaf bu, nadia gak tahu kalau ibu kepala sekolah di sini”


“Sayang…gak usah panggil ibu gitu, kaya orang yang baru ketemu aja” protes tante Vera sambil mencubit pipiku.


“Kebetulan sekolah ini memang milik keluarga tante, sayang” aku hanya terdiam kaget dengan informasi yang baru aku dapatkan. Sesi wawancara ini dihabiskan dengan obrolan santai seperti ketika aku datang ke rumah tante Vera ketika mengantarkan pesanan. Aku pasti akan mendapatkan kesulitan ketika aku hendak pulang, karena


tante Vera akan terus menahanku dengan obrolan yang gak habis-habis. Sekarang pun sama, untung saja bu Hana datang memotong pembicaraan kami.


“Ibu, mohon maaf. Diluar sudah ada 2 orang lagi yang sedang menunggu untuk sesi wawancara”


“Baik,tunggu sebentar ya bu” jawab tante Vera.


“Sayang gak kerasa kalau sudah ngobrol sama kamu tuh tante suka lupa waktu. Jangan lupa lho hari Sabtu harus datang ke rumah tante. Janji ya!”


“Baik tante, Nadia akan datang”


“Hasil wawancara ini, nanti akan di sampaikan lebih lanjut sama bu Hana ya. Apakah Nadia di terima di sini atau tidak”


Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Entahlah itu wawancara kerja atau ngobrol santai. Ketika keluar ruangan itu, di luar sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu untuk wawancara. Mereka memandangku dengan sudut mata yang tajam. Ku percepat langkahku menjauhi mereka dengan


senyum yang merekah namun terasa ku paksakan. Mungkin mereka kesal menunggu terlalu lama.


Sambil berjalan keluar sekolah aku memesan taksi online untuk mengantarku pulang, karena aku sudah menyuruh pak Imam agar tidak menungguku. Tak perlu menunggu lama, akhirnya taksi pesananku datang. Selama perjalanan pulang terus saja aku berpikir bagaimana semua ini bisa kebetulan sekali. Memang selama ini aku tidak pernah


bertanya tentang hal-hal pribadi tante Vera, kalau bertemu paling hanya ngobrol biasa, seperti wawancara tadi.


Ya ampun, aku jadi ingat. Apa aku bisa diterima kerja di sana dari awal tante Vera tidak bertanya tentang pengalamanku bekerja di tempat lain, kami hanya ngobrol biasa. Sudahlah aku tak berharap banyak bisa diterima disana,lagi pula sainganku juga banyak dan sepertinya mereka lebih berpengalaman. Kupejamkan mata mengakhiri pikiranku.


“Mbak, sudah sampai” suara pak sopir taksi membangunkanku yang tak sengaja terlelap tidur


“Ahh, iya pak. Terimakasih”. Ku bergegas keluar taksi dan masuk rumah.


Ternyata bunda sudah menungguku dengan penasaran tapi beliau tahan penasarannya dengan menyuruhku untuk segera ganti baju dan istirahat.


Setelah membersihkan diri aku menghampiri bunda yang sedang duduk di balkon menikmati hembusan angin dari kebun belakang ditemani dengan secangkir teh manis. Bunda tersenyum melihat kedatanganku.

__ADS_1


“Cape ya anak bunda?” tanyanya sambil mengelus rambut dan mencium pipiku.


“Gak lah bun, belum kerja mana mungkin cape”


“Jadi gimana hasil wawancara tadi?” bunda bertanya penasaran


“Belum bun, besok kalau aku di terima akan dihubungi kembali” jawabku. “bun, tahu gak siapa kepala sekolah disana?”


“Emang siapa sayang? Mana bunda kenal?” jawab bunda bingung


“Bunda percaya gak, kepseknya tuh Tante Vera”


“Maksud kamu, tante Vera yang suka order kue jualan kita? Yang kemaren ketemu di Mall atau tante Vera yang mana nih?” bunda menggempur pertanyaan


“Betul bun tante Vera yang baik itu lho….”


“Masa sih bisa kebetulan begitu? Bunda masih gak percaya


“Beneran bun, Nadia aja gak percaya tadinya” kujelaskan semua yang terjadi ketika wawancara siang tadi pada bunda.


***


“Bunda….bunda…”teriakku dari kamar keluar mencari bunda. “Bunda dimana bi?” tanyaku pada bi Iyah di dapur.


“Tadi sih lagi keluar, kayanya lagi belanja di kang sayur non.” Jawab bi Iyah


“Ada apa?” tiba-tiba bunda masuk sambil menenteng belanjaannya dan sepertinya mendengar teriakkan ku dari luar rumah.


“Bunda, aku diterima kerja mulai senin besok” jawabku bersemangat.


“Alhamdulillah, akhirnya anak bunda sudah dapat pekerjaan.” bunda memelukku dan mengecup keningku. “Bunda yakin anak bunda bisa melakukan yang terbaik.”


“Semua ini berkat do’a bunda.” Ucapku sambil mengeratkan pelukanku pada bunda.


Apa semua ini karena tante Vera ya? Jangan-jangan aku di terima bekerja karena tante Vera telah mengenalku sebelumnya. Aku ingin orang melihatku karena kemampuan yang aku miliki.  batinku ragu.


"Sayang, bukannya besok kamu ada janji mau main ke rumah tante Vera?" bunda mengingatkanku. "Kira-kira bunda bikinin kue apa ya?"

__ADS_1


__ADS_2