Nadia For Aidan

Nadia For Aidan
Puteri yang Tertidur


__ADS_3

Sejak aku ikut serta dalam kepanitiaan untuk acara amal di sekolah, hari-hariku semakin sibuk. Terkadang piulang sekolah sampai ke rumah,  matahari sudah ada dalam peraduannya. Bunda selalu khawatir karena aku selalu pulang terlambat. Namun, dengan penjelasan yang aku berikan akhirnya bunda mengerti.


“Semua proposal sudah masuk ke calon donatur acara…” tegas pak Ardi di depan anggota rapat.


“Maaf pak, ada satu proposal lagi yang belum diberikan.” Potong bu Mia sambil  mengangkat proposal yang di maksud.


“Kenapa belum diberikan bu? hari ini seharusnya semua proposal sudah di terima oleh para calon donatur acara kita.”


“Maafkan saya pak, kemarin waktu saya tidak cukup untuk ke tempat donatur yang terakhir. Kantornya sudah tutup pak.” Bu Mia menjelaskan dengan raut wajah kecewa. “Besok saya tidak bisa ke sana lagi pak, ada jadwal praktikum.”


“Baik, kalau begitu besok siapa yang punya waktu untuk mengantarkan proposal itu ke sana?” Tanya pak Ardi. “Bu Nadia besok ada jam pelajaran sampai jam berapa?” pakArdi menunjukku langsung.


“Besok jadwal saya sampai jam sepuluh pagi saja pak.” Jawabku sambil melihat jam dinding di ruangan itu.


“Kalau begitu saya minta bu Nadia yang menggantikan bu Mia untuk mengantarkan proposal itu ya.” Pak Ardi memberi perintah.


“Baik pak.” Jawabku sambil menganggukkan kepala.


Meeting terus bergulir sampai sore. Hampir tujuh puluh persen persiapan acara amal ini, tinggal mempersiapkan tempat untuk acara tersebut.


******


“Bun, hari ini Nadia sepertinya pulang sore lagi sepertinya.” Ucapku sambil memakan nasi goreng sarapanku pagi ini.


“Memang mau kemana lagi sayang?” bunda sepertinya agak kecewa dengan penuturanku.


“Hari ini Nadia mau anterin proposal ke salah satu perusahaan calon donatur acara kami bun.” Jelasku pada bunda.


“Ya udah hati-hati ya di jalan jangan lupa untuk terus hubungi bunda ya.”


“Oke bun.” Jawabku sambil menghabiskan sarapanku untuk segera berangkat ke sekolah.


*****


Waktu terus bergulir, tak terasa waktuku di kelas sudah habis. Setelah ku ucapkan salam kepada para siswa aku pun bergegas ke luar.


Setelah menyiapkan beberapa keperluan yang harus ku bawa, aku melangkahkan kaki untuk pergi ke perusahaan itu. Sekolah masih ramai, terlihat di lapangan para siswa sedang melakukan pertandingan basket. Riuh suara khas siswa memberi semangat teman-temannya yang sedang bertanding.


“Bu Nadia” terdengar suara yang tak asing menyerukan namaku. Aku pun menoleh ke belakang ke arah sumber suara. “mau berangkat sekarang?” tanyanya kembali ketika jarak kami sudah dekat.


“Iya pak, sepertinya saya akan sedikit terlambat tiba di sana.”

__ADS_1


“Maaf ya kalau sudah merepotkan bu Nadia.” Pak Ardi dengan suara yang tertahan-tahan dan keringat yang bercucuran dibadannya yang atletis.


“Jangan sungkan seperti itu, saya senang melakukannya. Lagi pula kita satu team yang harus saling membantu.” Jawabku sambil tersenyum.


“Ok terimakasih ya. Oya.. mau ke sana naik apa?” tanyanya kembali.


“Hmm… hari ini saya gak bawa motor, lagi pula jarak ke perusahaan itu gak terlalu jauh. Jadi, saya mau naik taksi saja.”


“Kalau begitu hati-hati di jalan ya. Semoga berhasil.”


Aku tersenyum semangat mendengar ucapan dari pak Ardi, dengan sedikit berlari ke menuju taksi yang sudah menungguku di depan gerbang sekolah. Jalanan hari ini cukup ramai, dan sepertinya akan mengurangi waktuku untuk sampai ke sana.


Victory Star Corp, nama perusahaan itu terlihat jelas terpampang di depan mataku ketika ku turun dari taksi. Dari tempatku berdiri ku lihat ke atas gedung yang menjulang ini, terlihat pantulan biru dari warna langit pada kaca yang membungkus gedung. Pukul dua belas kurang sepuluh menit, segera ku berlari menuju meja resepsionis.


“Selamat siang mbak ada yang bisa saya bantu?” Tanya respsionis itu bertanya dengan ramah ketika ku berdiri di depannya.


“Siang mbak, saya Nadia dari sekolah Bintang, mau menyerahkan proposal untuk acara amal di sekolah kami.” Jawabku menjelaskan.


“Sudah ada janji sebelumnya?” resepsionis cantic itu kembali bertanya.


“Sudah.” Jawabku singkat. Kemudian dijawab dengan anggukan resepsionis itu dan dia mengambil telepon untuk menghubungi seseorang.


“Mbak Nadia silahkan untuk langsung naik saja ke lantai lima puluh satu.” Ucapnya sambil


“Selamat siang.” Ucapku dengan suara rendah pada seorang wanita di sana.


“Mbak Nadia ya?” tanyanya ramah seperti orang yang sudah mengenal lama namaku. “Perkenalkan saya Joana sekretaris di sini.” Akupun menyambut uluran tangannya.


“Mohon maaf, sepertinya mbak Nadia harus menunggu sedikit lebih lama karena CEO kami sedang keluar kantor sebentar dan sekarang sedang istirahat makan siang.” Jelasnya lagi.


“Baik bu, saya akan tunggu.” Jawabku pasrah.


“Silahkan mbak Nadia tunggu di sini.” Bu Joana mengajak masuk ke ruangan CEO itu.  Aroma maskulin begitu menyeruak ke dalam hidungku begitu pintu besar itu di buka. Mataku terpana dengan apa yang ku lihat. Ruangan yang begitu besar dengan beberapa furniture yang tampak serasi dengan pilihan warna dan bentuknya. Sepertinya menggambarkan sisi pribadi sang pemimpin.


“Maaf kira-kira pak CEO akan kembali pukul berapa?” tanyanku memastikan. Karena ini jam istirahat siang, aku lapar dan ingin melaksanakan dulu kewajibanku. “Sekitar pukul satu siang mbak.”


Masih ada waktu kira-kira satu jam pikirku, dan akhirnya aku mengutarakan keinginanku sebelum bertemu pemimpin perusahaan ini. Bu Joana pun tak keberatan untuk mengantarku. Bahkan dia mengajakku makan siang, tapi aku tolak. Setelah itu memilih untuk menunggu di ruangan lagi. Ku duduk di sofa panjang berwarna abu-abu, ku lihat ada beberapa majalah di meja sofa itu. Ku ambil satu majalah tersebut untuk ku baca, lumayan untuk tambah ilmu.


Ternyata semua majalah bisnis, hikss.


Bukannya membantuku mengusir bosan karena masih harus menunggu malah membuatku jadi ngantuk. Suasana ruang kantor yang sejuk mendukungku untuk memejamkan mata. Aku sedikit meluruskan punggungku disandaran sofa itu. Ku lihat di dinding sudah menunjukkan pukul satu lebih empat puluh lima menit.

__ADS_1


Lama banget sih, aku jadi ngantuk.


Verrel Aidan Pramulya


Aku terlambat kembali ke kantor setelah makan siang karena tiba-tiba aku bertemu dengan rekan bisnis yang mengajak ngobrol hingga aku melupakan agendaku siang ini.


“Perwakilan dari sekolah bintang sudah menunggu dari tadi di dalam.” Ucap bu Joana ketika aku sudah sampai di depan pintu ruanganku.


“Apa dia sudah menunggu lama?” tanyaku pada bu Joana tanpa menunggu jawabnnya ku langsung masuk ke ruanganku.


Begitu ku buka pintu, ku mengedarkan pandanganku ke dalam mencari seorang yang menungguku. Bermaksud ingin meminta maaf karena keterlambatan yang ku buat,


Nadia.


Badanku terasa kaku ketika melihat siapa yang sedang terlelap tidur dengan posisi duduk dan majalah di pangkuannya. terbersit dalam pikiranku untuk menjahilinya, dan kubiarkan dia tidur tanpa membangunkannya. Mungkin dia lelah menungguku terlalu lama.


Andai saja aku tahu siapa yang akan datang untuk mewakili sekolah Mamaku itu, pasti aku akan rela menunggunya. Ku berjalan perlahan agar tak mengeluarkan suara. Segera ku duduk di bangku kerjaku yang berhadapan dengan sofa itu. Ku pandangi wajah damainya yang sedang bermimpi. Kenapa hatiku terasa bahagia, dan rasanya bibirku tertarik untuk tersenyum. Dia yang selama beberapa minggu ini kembali hadir melintas di pikiranku dan tiba-tiba ada di depan mata tanpa ku duga sebelumnya.


Sungguh Tuhan itu maha baik. Gumamku sambil menyembunyikan senyumanku.


Sepertinya dia sedang membaca buku dan dia tertidur, ingin rasanya membetulkan posisi tidurnya. Entahlah kenapa setiap melihatnya naluri lelakiku selalu muncul, padahal aku sering bertemu dengan banyak gadis yang cantik dan seksi, dia sungguh gadis yang istimewa. Sepertinya aku harus memilikinya, karena dia yang


telah lama mencuri hatiku, dan harus bertanggung jawab atas pencurian yang dia lakukan.


Kamu harus dipenjara dalam hatiku.


Ku putuskan untuk melanjutkan pekerjaan ku sambil menikmati pemandangan langka di depanku. Ada rasa yang berbeda ketika bersamanya walaupun dia sedang tertidur.


Mungkin kalau setiap hari dia menemaniku di sini, aku akan lebih semangat bekerja.


Tanpa sengaja aku menjatuhkan map besar yang ada di mejaku dan membuat puteri yang tertidur lelap itu kaget dan bangun dari mimpinya tanpa menunggu ciuman dari sang pangeran untuk membangunkannya.


Sial!


Ucapku karena kecerobohanku dia terbangun dan aku kehilangan waktu untuk memandang wajahnya lagi.


Dia terlihat lucu seperti orang yang sedang kebingungan. Aku bersikap biasa agar dia tidak melihatku menahan tawa.


“Bu guru sudah bangun?” tanyaku ketika dia bangun dan sepertinya kaget melihatku.


“Maaf pak, saya tertidur menunggu pak CEO.” Jawabnya sambil berdiri menundukkan kepalanya. “Saya mohon pamit ke toilet sebentar pak.”

__ADS_1


“Silahkan.” Jawabku sambil duduk memutar-mutar tempat dudukku.


bersambung


__ADS_2