Nadia For Aidan

Nadia For Aidan
Secret Admirer


__ADS_3

Untung saja cowok kulkas itu tidak menghampiri kami, hanya melewati kami bertiga yang langsung terdiam karena takut ketahuan membicarakannya. Dia menuju meja hidangan mengambil orange jus, mungkin dia haus. Setelah itu kami bertiga seakan punya pikiran yang sama, dan menahan tawa kami.


“Tan, Nadia pamit pulang dulu ya, udah sore.” Ucapku pada tante Vera. Sebagian keluarga sudah ada yang pulang, hanya beberapa teman Valery yang masih terlihat menemani pemilik pesta.


“Kenapa buru-buru sih? Baru juga jam tiga.” Sanggah tante Vera mencegahku pulang.


“Aku juga mau pamit kak” tambah bu Hana ikut pamit pulang.


“Kenapa pulang semuanya sih, sepi lagi deh” ucap tante Vera yng dibuat terlihat sedih.“Biar pak Maman yang anter kamu pulang”


“Iya kak, makasih.” Jawab bu Hana. “Dek, rumah kita searah gak? Biar bareng kita pulangnya. Tanya bu Hana padaku.


“Nadia di Perum Biru bu.”


“Ternyata kita gak searah ya.”


“Gak apa-apa nanti Nadia dianter sama Aidan aja” tante Vera memberi usulan.


“Jangan khawatir tan, nanti Nadia naik taksi on line aja, sudah biasa ko.” Jawabku cepat-cepat menyanggah usulan tante Vera.


“GAK BOLEH.” Perintah tante Vera tak bisa di tolak. Bu Hana hanya tersenyum sambil berjalan masuk menuju mobil dan pamit pada kami semua.


“Tunggu sebentar ya, tante panggil dulu Aidan. Awas jangan pesan taksi online!” ancam tante Vera.


Aku menunggu sambil memainkan ponselku biar gak keliatan nervous. Mimpi apa coba, bisa bertemu kembali dengan cowok idaman cewek-cewek di sekolah dulu.


Flashback on


Jamistirahat sudah habis, sepertinya aku tak mendengar bel masuk berbunyi. Aku masih di pojok perpus sendiri menikmati waktu istirahat dengan membaca salah satu buku sastra roman karya seniman anak negeri. Tiba-tiba perasaanku terasa sunyi, ku lihat jam di tangan dan aku terperanjat melihatnya. Sudah sekitar sepuluh menit aku telat masuk kelas. Segera ku bawa ke petugas perpus untuk meminjamnya karena aku berniat meneruskan membacanya di rumah.


Dengan sedikit berlari aku menuju kelasku, koridor kelas sudah sepi. Murid-murid sudah masuk kembali ke kelas dan memulai melanjutkan kegiatan belajar kembali. Ku lihat ada seseorang yang keluar dari kelas ku, jantungku berdentum karena ku tahu siapa orang itu dan berjalan ke arahku. Ketika jarak kami sudah dekat ku angkat buku di tanganku menutupi mukaku sampai hidung dan menundukkan kepalaku. Dia pun berjalan dengan wajah datarnya. Aku tak memiliki keberanian memandang wajahnya dari dekat, padahal ini kesempatan emas untuk curi-curi pandang. Walau hanya melihatnya sekilas pun, hati ini sudah seperti pasar bunga. Sampai di kelas beruntung, belum ada guru yang masuk. Akupun duduk dengan nafas terengah.


“Kenapa Nad, kayanya lho cape banget.” Tanya Fika teman dekatku


“Kirain, Pak Dirga dah masuk Fik, aku takut telat nih.” Jawabku


“Belum tadi Verel kasi info dari pak Dirga, hari ini dia telat datang ke kelas, dan ada tugas dari Pak Dirga.” Fika menjelaskan. “Btw, tadi lho ketemu dong sama Verel di depan kelas.” Fika penasaran.


“iya” jawabku singkat.

__ADS_1


“Pantesan lho masuk kelas dah kaya abis di uber-uber anjing, ternyata oh ternyata…” Fika meledekku. Dia tahu bahwa aku secret admirernya Verel, Cuma dia yang tahu akan rahasia ini.


Flashback off


Ku tak menyadiri kalau di depanku sudah ada Range Rover menungguku. Kemudian jendela mobil itu terbuka dan dengan wajah datar  dia mengagetkanku.


“Nona, sampai kapan kau akan berdiri di sana?” tanyanya padaku.


Ya ampun nih, cowok dari pagi jutek banget sih, senyum dikit kenapa sih.


Kemudian, tante Vera dan om Aiman menghampiriku.


“Terimakasih atas kedatangannya ya dek Nadia.” Ucap om Aiman.


“Sampai ketemu lagi hari senin ya bu guru cantik.” Tante Vera kembali memelukku.


Tak lama terdengar suara klakson mobil mengagetkan kami. Aku pun bergegas masuk kedalam


mobil duduk bersebelahan bersama Aidan.


“Hati-hati ya.” teriak tante Vera sambil melambaikan tangan.


Mobil pun melaju keluar meninggalkan rumah keluarga Aiman. Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat ini, hanya berdua sama cowok super ganteng ini. Tatapan matanya seakan membiusku, rahang wajah yang tegas, alis hitam yang tebal, hidung mancung dan bibir yang tidak tipis tapi tidak tebal dengan warna merah yang menunjukkan bahwa dia bukan perokok. Bentuk tubuh yang proporsionsl semakin membuatnya sempurna. Hanya saja mungkin tante Vera melahirkannya di waktu musim dingin di daerah bersalju lebih dari minus nol derajat. Dingin…bbbrrrr.


Aku merutuki dariku sendiri karena malu, mungkin wajahku sekarang terlihat lebih merah dari kepiting rebus.


“Maaf sudah merepotkan.” Jawabku bergetar dan dia tak menjawab hanya diam dengan wajah yang datar.


Ini adalah perkataan kami terakhir, sepanjang jalan kami memilih diam memandang keluar mobil dan hanya alunan lagu The Way You Look at Me milik Christian Bautista saja yang terdengar.


No one ever saw me like you do


All the things that I could add up to


I never knew just what a smile was worth


But your eyes say everything without a single word


 

__ADS_1


‘Cause there’s somethin’ in the way you look at me


It’s as if my heart knows you’re the missing piece


You made me believe there’s nothing in this world I can’t be


I never know what you see


But there’s somethin’ in the way you look at me


 


If I could freeze some moment in my mind


Be the second that you touch your lips to mine


I’d like to stop the clock, make time stand still


‘Cause, baby, this is just the way I always want to feel


 


I don’t know how or why I feel different in your eyes


All I know is it happens every time


Aku terhanyut dalam suasana lagu ini. Khayalanku berkelana, membayangkan ada seorang pria yang menyanyikan


lagu ini khusus untukku. Entah sampai kapan aku menutup hatiku. Waktu seakan mempermainkanku, sekian lama aku hampir melupakannya dan sekarang entah apa yang ku rasa. Apakah cintaku sedang mencari jalannya? Atau sudah menemukan tuannya? Cowok yang ku sukai dalam diamku kini sedang berada di sampingku.


“Nona, apa aku harus menunggumu melamun sampai malam?”


Rasanya inginku menjerit, mendengarnya berkata membangunkan lamunanku. Ternyata mobil sudah sampai di depan rumahku.


Darimana dia tahu alamat rumahku, sejak awal dia tidak bertanya.


“Maaf kak, terimakasih sudah antar Nadia pulang.” Jawabku sambil membuka seatbelt tanpa melihat wajah ganteng Verel dan segera keluar mobil.


Ku segera berlari masuk rumah dan ingin segera memendamkan wajahku ke bantal karena malu. Aaaarrgh…

__ADS_1


**


bersambung


__ADS_2