
"Iya deh nanti Nadia ke sana sendiri" jawabku sambil menjatukan kepala di pangkuan bunda tempat ternyaman di dunia ini. "Kenapa tante Vera baik banget sama Nadia ya bun? padahal tante Vera juga punya anak perempuan?
"Berbuat baik itu kadang tidak memerlukan banyak alasan sayang" jawab bunda bijak. Ku hanya mendengarkan perkataan bunda dengan pikiran ke sana kemari mengingat kejadian-kejadian yang pernah ku alami. Tak lama berselang, ponselku pun bergetar tanda pesan masuk. Kulihat ternyata ada email yang masuk. Seketika mataku membola kaget dan bahagia.
"Bun, aku dapat panggilan kerja!" ucapku bersemangat sambil bangun dari pangkuan bunda. "Ahammdulillah" bunda mengecup keningku. "Dimana sayang?" tanya bunda penasaran. "Di Sekolah Bintang Prestasi bun" jawabku sambil membaca email tadi.
"Hebat, anak bunda bisa diterima kerja di sekolah yang bagus"
"Katanya besok aku harus ke sana bun, buat wawancara dulu" jawabku ragu. "Tapi bun, kayanya ada beberapa orang yang akan jadi sainganku"
"Kenapa anak bunda sekarang jadi pesimis begitu sih? semangat dong, coba dulu siapa tahu memamg itu rezeki anak bunda".
"iya bun" jawabku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Bagaimana gak pesimis coba, Bintang Prestasi adalah salah satu sekolah favorit di kota ini, pasti banyak orang yang melamar kerja di sana sebagai pengajar semenjak dibuka pengumuman lowongan kerja di sekolah itu. Sekolah ini mencakup tingkatan pendidikan dari Daycare, Taman Kanak-kanak sampai sekolah menengah atas. Walaupun lokasinya agak jauh dari rumah, tapi ini adalah kesempatan besar buatku.
Kuberanjak meninggalkan bunda, pamit masuk kamar. "Makan dulu yu, kamu belum makan siang lho" ajak bunda."Sebentar bun, Nadai belum lapar" sambil melangkah meninggalkan bunda. Perasaanku campur aduk antara senang dan deg-degan. Kenapa tanganku jadi berkeringat dingin? Kubaca email itu lagi untuk melihat apa saja yang besok harus aku persiapkan. Ternyata besok jam tujuh pagi sudah harus ada di sana.
Kurebahkan badanku di tempat tidur sambil memeluk bantal guling dan kubuka mesin pencari di ponselku. Kemudian ku ketikkan "Apa yang harus dilakukan ketika wawancara kerja" sebegitu menegangkannyakah dapat panggilan wawancara ini? aku menghembuskan nafasku kasar. Ini pengalamanku yang pertama setidaknya aku harus punya sedikit gambarannya. Tak lama mesin pencari itu memberikan banyak jawaban hasil dari pertanyaanku itu. Kubuka satu persatu dan mempelajarinya agak besok tidak terlalu nervous.
Setelah makan makan malam aku kembali ngobrol sama bunda. Memang di rumah ini cuma ada aku, bunda dan seorang maid sopir keluarga yang sudah lama bekerja di keluarga ini semenjak aku belum lahir. Jadi bi Iyah dan suaminya sudah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri.
"Bun, dulu bunda deg-degan gak sih waktu mau wawancara kerja?" tanyaku minta pendapat bunda.
"Nggak dong" jawab bunda percaya diri
"Hebat banget sih bun, kasih tahu dong resepnya" jawabku sambil menggoyang-goyang badan bunda.
Jawaban bunda hanya tertawa melihat ku penasaran. "Bunda, bukannya jawab malah ketawa gitu"
__ADS_1
"Bunda belum pernah melamar pekerjaan, habis lulus kuliah langsung ada yang mau kerja sama bunda" ku kerutkan dahiku bingung dengan jawaban bunda. "Emang bunda punya perusahaan?" tanyaku heran
"Papa kamu ngelamar kerja sebagai suami bunda"
"Bundaaaa....aku tuh serius tahu" aku mengerucutkan bibirku. "jadi bunda belum pernah kerja ya?" tanyaku lagi
"Jadi ibu itu pekerjaan mulia yang paling bunda banggakan"
Mataku berkaca-kaca mendengar jawaban bunda dan langsung ku peluk dan cium bunda.
"Sudah, lekas tidur. Gak lucukan kan wawancara datangnya telat" bunda melepas pelukkanku. "Tenangkan hatimu, bunda akan bantu doa ya, sayang"
"Makasih bun"
Benar kata bunda, lebih baik tidur supaya besok gak kesiangan dan jangan sampai wajahku terlihat kusam karena kurang tidur. Ku membolak-balik badan karena belum juga bisa memejamkan mata. Hingga ku temukan posisi tidur yang nyaman dengan otak yang berhenti berpikir untuk besok dan terlelap memasuki alam mimpi.
Alarm ponselku memekakkan telinga, dan segera ku sentuh tanda silang untuk menghentikkannya. Bergegas ku menuju kamar mandi dan melaksanakan shalat subuh. Terdengar ketukan pintu dan seseorang masuk. "Kirain belum bangun" tanya bunda sambil melangkahkan kakinya masuk kamarku. Aku yang masih duduk bersimpu di sajadahpun bangkit meraih tangan bunda dan menciumnya. Kemudian bunda membalas dengan ciuman sayang di keningku.
"Iiiih bunda, emang Nadia anak kecil ?" jawabku protes
"Walau kamu dah punya suami nanti tetap saja kamu bayi bunda" jawab bunda yang bikin leleh hatiku dan ku hanya jawab dengan tawa bahagia. "Mau pakai baju apa sekarang?" tanya bunda
"Kemeja sama rok aja bun" jawabku sambil membuka lemari mencari yang ku butuhkan. Setelah mendapatkannya aku pun memakainya dan merapihkannya di depan cermin. Ku lihat pantulan diriku di cermin dan minta pendapat bunda. "Gimana bun, cocok gak?"
"Anak bunda memang cantik" jawab bunda sambil memainkan rambutku untuk mencari gaya rambut yang cocok dengan baju yang aku pakai. Kemudian aku duduk di bangku meja rias dan membiarkan bunda membantu merapikan rambutku. Bunda membagi dua bagian rambut yang sedikit bergelombangku menjadi bagian atas dan bawah, bagian atas lebih sedikit dari yang bawah dan bunda menjepitnya kuat menggunakan hiasan rambut sederhana berbentuk persegi panjang berwarna hitam. Sebagian rambutku yang bawah dibiarkan tergerai.
Kuhanya menggunakan riasan wajah sederhana dan menggunakan lipstik sesuai warna bibirku. "Bunda rasa sudah cukup, sederhana tapi bikin kamu jadi cantik sayang" bunda memuji anaknya.
Ya iya lah, kalau bukan bundanya sendiri yang memuji ankanya siapa lagi? haahaha
__ADS_1
"Sudah jam enam sayang kita sarapan dulu. Bi Iyah dah bantuin bunda bikin sarapan"
"Ayo bun" bunda melangkah duluan keluar kamar. Segera ku ambil beberapa keperluan yang harus aku bawa. Tak lupa sepatu yang melengkapi penampilanku.
Setelah selesai sarapan akupun pamit pada bunda untuk segera berangkat dan akupun menyetujui permintaan bunda untuk berangkat di antar pak Imam sopir keluargaku dan juga suami bi Iyah. Sebelumya aku mau berangkat dengan skuter kesayanganku, lebih cepat dan bisa membelah kemacetan, tetapi bunda tidak memberika izin.
Butuh sekitar tiga puluh lima menit menuju Bintang Prestasi. Di gerbang sekolah ku hampiri satpam yang sedang bertugas, kemudian beliau mengarahkanku untuk segera masuk.
"Mbak jalan lurus kesana, di ujung koridor ada ruangan kepala sekolah. Bu Vera sepertinya sudah menunggu di ruangannya"
Deg
Apa aku terlambat? batinku menjerit
Dengan cepat ku melangkahkan kaki menuju ujung koridor yang tadi ditunjukkan. Sambil merapalkan doa agar aku bisa menenangkan diriku sendiri. Masih ada waktu beberapa menit lagi. Yakin aku gak terlambat. Sambil berjalan ku lihat di sekitarku. Riuh rendah suara anak-anak yang masuk ke kelas masing-masing, terlihat senyuman mereka yang riang ketika bertemu teman-temannya.
Di depan pintu yang tertera tulisan Ruang Kepala Sekolah, ku ketukkan tanganku dan ku ucapkan salam. terdengar balasan salam ku dari dalam.
"Silahkan masuk" terdengar suara yang tak asing dari dalam ruangan tersebut.
***
bersambung
__ADS_1