Nadia For Aidan

Nadia For Aidan
Calon Menantu


__ADS_3

Verel Aidan Pramulya


Sebelum kembali bergelut dengan pekerjaan yang menyita waktu dan pikiranku, aku meminta waktu sehari saja untuk rehat sejenak. Selain itu aku juga merasa perlu lagi beradaptasi dengan lingkungan yang telah aku tinggalkan selama enam tahun ini.


Pagi ini ku awali dengan menunaikan kewajibanku di awal ku membuka mata. Setelah itu, ku langkahkan kaki keluar kamar dengan pakaian yang pas untuk berolahraga. Ku berjalan lurus menuju pintu utama, terdengar kesibukan dari dapur, sepertinya Mama tak menyadari aku keluar rumah, karena sedang sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk sarapan keluarga.


Kuayunkan kaki dengan santai dengan menghirup dalam oksigen yang sepertinya baru dikeluarkan oleh pepohonan di sekitar rumah. Benar-benar terasa sampai ke otak dan membuatku semakin merasa segar. Langkahku tertuju ke taman luas sekitar komplek perumahan kami, di tengah taman ada danau buatan yang sangat terlihat tenang di pagi hari, seakan penghuni danau belum ada yang melakukan aktivitasnya. Hanya suara nyanyian pagi burung saja yang terdengar jelas, seakan mereka sedang sibuk mempersiapkan ritual mereka menjemput rezeki.


Hampir satu jam ku habiskan waktu di taman ini, dan taman terasa tambah ramai. Satu persatu orang datang untuk menikmati suasan pagi di tempat ini. Ku putuskan untuk segera pulang mengingat matahari akan segera memperkuat cahayanya.


"Kakak, habis dari mana sih, aku cari kakak ke kamar gak ada?" Valery menggelayut manja di tanganku sambil mengerucutkan bibirnya. Ku tak menjawabnya, hanya mengusap lembut kepalanya.


"Ayo sarapan dulu, Mama dah bikin nasi goreng kesukaan kamu" terdengar suara Mama dari arah ruah makan.


"Bentar Mam, aku mandi dulu" jawabku sambil melepaskan tangan Valery yang sedari tadi terus nempel. "Emang, kamu gak ngerasa lengket peluk kakak gitu dek?" tanyaku sambil mencubit pipi adikku.


"Biarin aja, habis aku kangen banget sama Kak Aidan" jawab Valery dengan sorot mata bahagia.


Selesai sarapan, Valery pergi ke kampus dan Papa sudah berangkat lebih dahulu ke kantornya. Ku bawa kopi ke balkon sambil memainkan ponselku. Kubaca berita tentang bisnis juga politik yang berkembang di negeri ini.

__ADS_1


"Sayang, maukan anter Mama jalan hari ini? sebentar saja ko". Tiba-tiba Mama datang mengagetkanku.


"Memang Mama mau aku temenin kemana?Aidan males mah, pengen di rumah aja" sanggahku


"Sebentar doang ko sayang" Mama merayuku dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


Kata sebentar dalam arti perempuan itu beda dengan sebentar menurut laki-laki 


"Baiklah" jawabku singkat yang membuat Mama tersenyum lebar.


Dengan setelan celana jeans dan kemeja biru navy aku masuk kedalam mobil dan mengendarainya menuju salah satu mall terbesar di kota kami sesuai dengan permintaan sang Ratu di hatiku.Ada sekitar enam puluh persen saham keluarga kami tertanam di Mall ini.


Kulihat jam tanganku, sudah menunjukkan waktu shalat, dan sepertinya Mama belum selesai dengan acara pilih memilihnya. "Mam, sudah siang nih" ku hampiri Mama yang sedang mencoba bajunya.


"Gimana menurut kamu, bagus gak?" Mama meminta pendapatku sambil memutar-mutar badannya. "iya Mam bagus".jawabku agar Mama bisa lebih cepat memilih. "Oke, Mama pilih yang ini aja, kamu sih dari tadi sibuk sendiri gak bantuin Mama milih"


"Kita shalat dulu Mam" jawabku membelokkan pembicaraan.


Penantian ku semakin panjang, selesai shalat aku masih harus sabar menunggu. Maksudku benar-benar harus sabar. Kulihat dari jauh, Mama sedang ngobrol dengan dua orang perempuan, ibu-ibu dan satu lagi sepertinya anak dari ibu tersebut. Mereka terlihat akrab terutama dengan gadis itu,

__ADS_1


Akhirnya, penantianku usai sudah. Terasa ada tangan yang menggandengku sambil menarik untuk melangkah keluar.


"Gak usah pasang muka serem gitu lah, nanti anak Mama gak ada yang ngelirik" dengan santainya Mama meledekku yang terleihat sedang kesal.


"Memang tadi siapa sih mam, kayanya akrab banget" tanyaku penasaran.


"Oohh..itu.. kandidat kuat calon menantu Mama" jawab Mama dengan wajah penuh percaya diri.


Aku hanya mengerutkan dahiku dengan jawaban aneh Mama.


"Sebelum pulang kita makan dulu ya" ajak Mama padaku yang sedang bingung, memikirkan perkataan Mama tadi. "Kita makan di restoran Jepang saja"


Cinta...satu kata yang sepertinya belum masuk kedalam rencana hidupku saat ini.


***


to be continue


 

__ADS_1


 


__ADS_2