
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, kegiatan rutin yang diselenggaralkan setiap tahun. Panitiapenyelenggara harus sampai lebih pagi ke sekolah untuk memastikan bahwa kegiatan ini benar-benar siap dilaksanakan. Acara
ini melibatkan banyak pihak, mulai dari pihak sekolah, komite sekolah yang mewakili orangtua murid, para sponsor yang telah memberikan dukungannya, dan tentu saja murid-murid sekolah ini yang akan mengisi dan memeriahkan acara konser amal yang kami usung sebagai tema tahun ini.
Tidak semua murid bisa tampil dalam acara ini, karena telah melewati proses seleksi. Jadi, acara ini juga sebagai ajang lomba untuk mencari yang terbaik. Para murid sangat antusias dalam acara ini, mereka bisa menampilkan bakat mereka, mulai dari bernyanyi, menari, drama musikal atau tampil bersama band yang mereka bentuk sendiri. Selain itu akan ada penampilan khusus dari perwakilan guru yang akan memberikan penampilan terbaik mereka di panggung dengan iringan orchestra sekolah ini.
“Sebelum acara dimulai kita awali dengan do’a agar semua berjalan dengan lancar” kami pun menundukkan kepala merapalkan do’a sesuai intruksi Pak Ardi ketua acara ini. “ok, silahkan teman-teman untuk melaksanakan tugas dengan baik, mohon untuk selalu mengedepankan kerjasama team.” Tambah Pak Ardi dengan semangat.
Satu persatu tamu undangan yaitu para orangtua dan wali murid datang beberapa menit sebelum acara di buka. Para tamu undangan bisa melihat-lihat pameran lukisan dan seni rupa hasil dari murid kelas seni yang ditampilkan berjejer sepanjang lorong kelas menuju aula, tempat diselenggarakan konser amal ini.
Kemeriahan acara diawali dengan penampilan stand up komedi dari kelas X IPA II yang mengocok perut penonton dan dilanjutkan dengan penampilan dari murid-murid eskul teater, Kemudian dilanjut dengan penampilan perwakilan murid yang lainnya. Mereka menampilkan bakat mereka yang terpandam, dengan semangat muda yang luar biasa.
Mereka bisa berekpresi dengan leluasa melupakan sejenak tugas belajar di kelas. Tepuk tangan dari penonton mengapresiasi setiap penampilan mereka. Masa muda adalah waktu yang tepat untuk menorehkan segala prestasi, yang akan menjadi kenangan berharga yang akan di ingat sebagai pengalaman berharga. Itulah yang sekarang sedang mereka lakukan.
Acarapun terus berlanjut ke acara inti dan penutup. Penampilan terakhir persembahan dari team paduan suara perwakilan guru guru yang diiringi lansung oleh orchestra kebanggaan sekolah ini. Akupun ikut berpartisipasi
untuk menyumbangkan suaraku yang pas-pasan..hihi. Memang benar padus team guru ini hanya grup dadakan yang dibentuk untuk memeriahkan acara ini. Kami berusaha mengeluarkan kemampuan kami yang terbaik.
Degg..
“Kenapa dia ada disini sih” batinku kaget melihat jajaran tamu paling depan. Dia menyilangkan tangan
di dada sambil memandangku dengan tatapan mata tajamnya. Ya ampun bikin horror aja tuh cowok. Eehh apa cuma perasaanku saja? Bodo ahh…
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Luar biasa acara ini berjalan dengan sangat meriah, semua berkat kerjasama semua pihak yang terlibat dari awal persiapan hingga terlaksana.
Satu persatu tamu undangan meninggalkan acara, tinggal team panitia dan beberapa murid yang terlibat acara masih ada di sekolah.
“Bu Nadia…bu Nadia….”
Suara dari arah belakang mengagetkanku. Kulihat Jasson sedang berjalan setengahberlari mengejarku dengan buket bunga di tangannya.
“Ini untuk ibu.” Jasson menyerahkan buket bunga itu kepadaku dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Terimakasih Jasson” aku menerima bunga itu dengan senang hati. “Apa benar ini untuk ibu?”
“Tentu saja inisebagai ucapan terimakasih dari kelas kami” jawabnya. “Apa bu Nadia suka?”
“Ya, saya suka. Ini indah sekali.”
“Syukur kalau begitu, lain kali aku akan memberi bunga yang cantik lagi.” Ucap Jasson dengan suara yang lirih
“Hhmmm..? kenapa?” tanyaku karena tidak mendengar ucapan Jasson.
“Ehm.. tidak bu, saya permisi dulu. Sampai jumpa lagi..” ucapnya dengan dengan tergesa-gesa meninggalkanku sebelum membalas ucapannya.
Sambil berjalan menuju ruang guru kuciumi bunga ini, hingga tak memperhatikan langkahku dan badanku hampir
terjatuh karena tak sengaja hidungku terbentur dengan sesuatu yang keras dan ku kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
__ADS_1
Saking kagetnya aku tak bisa bersuara hanya memejamkan mataku kuat-kuat, berharap mengurangi rasa
sakit yang akan timbul karena kepalaku akan terbentur lantai.
“Are you ok?”
Terdengar suara yang sangat enak di dengar dan aku tidak merasakan sakit pada kepalaku dan ada aliran hangat di pundakku.
***
Verrel Aidan Pramudya
“Aidan, mama tunggu di sekolah sekarang, sebentar lagi juga selesai acaranya. Mama gak terima alasan
apapun.” Hinnga panggilan itu selesai aku tidak sempat bicara apapun.
Kulihat jam menunjukkan pukul 13.30 WIB, dan ku berpikir mana mungkin baru jam segini acara
sudah selasai. Ku pertimbangkan ajakan atau perintah mama yang lebih tepatnya.
Ku hubungi sekretarisku, untuk memundurkan satu lagi agenda rapat yang harus aku hadiri, dan segera mengambil jas ku dan keluar kantor. Semoga disana ada sesuatu yang menarik sehingga aku tidak akan merasa rugi karena telah meninggalkan setengah pekerjaanku.
Tak butuh waktu yang lama untuk sampai di sekolah, akupun disambut oleh beberapa murid petugas
menyambut tamu dan mereka mengantarkanku ke tempat acara berlangsung.
kembali di sini. Setelah keputusanku untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas di sekolah yang lain keluar dari zona nyamanku dan itu adalah keputusan terbaik yang ku ambil, walau tahun terakhir akupun harus pindah sekolah keluar negeri.
Ku edarkan pandanganku dan ku menemukan beberapa kenangan yang pernah tertinggal di sekolah ini. Ternyata
sekolah ini sudah banyak berubah semenjak aku lulus.
“Nak, akhirnya kamu punya waktu untuk datang.” Mama menyambutku dan beberapa tamu yang sedang
dudukpun berdiri menyambutku ramah. Setelah, mama memperkenalkanku dengan para tamu, akhirnya aku bisa duduk dengan tenang. Huuffttt…
“Bukannya dia mengajar disini?”gumamku sambil mencari seseoarang.
“Kenapa? Kamu cari siapa?” tiba-tiba suara mama mengagetkanku. “Gak, mam. Cuma agak asing aja,
udah lama baru ke sini lagi.”
“Mama seneng kamu mau datang,” ucap mama sambil meletakkan tangannya di pipiku. “Semoaga ke depannya
kamu bisa sedikit membantu pekerjaan mama di sini, kalau pun tidak bisa, setidaknya kamu bisa punya istri yang mau bantu mama mengelola sekolah ini.” Ucap mama lirik di telingaku sambil tersenyum jahil.
Ku tak menjawab harapan mama itu, dan ku coba untuk menikmati acara. Melihat anak muda
berkreasi mengingatkan ku pada zaman sekolah dulu, yang ku torehkan dengan banyak prestasi dan kenangan masa sekolah yang menyenangkan.
__ADS_1
Walaupun aku termasuk anak dengan segudang prestasi tapi aku juga pernah beberapa menorehkan namaku
di buku catatan guru BK. Mengingat itu membuatku ingin tersenyum.
“Bapak/ibu sampailah kita di acara terakhir kita. Terimakasih atas kedatangan dan partisipasi
bapak/ibu semua dalam mendukung acara konser amal sekolah kali ini. Selanjutnya sebagai penutup acara ini, mari kita sambut persembahan special dari guru-guru kami. Tepuk tangan yang meriah dan sampai jumpa di acara konser amal selanjutnya.” Pembawa acara menutup acara ini.
“Ternyata kamu ada di sini.” Gumamku melihat siapa yang ada di atas panggung. Mataku hanya fokus pada
satu orang yang sedang bernyanyi di panggung dan aku rasa dia pun tahu bahwa aku memperhatikkannya. sesekali dia membuang pandangannya ke arah yang lain dan kemudian pandangan kami bertemu kembali.
“Nak, kamu mau ikut
makan bersama dulu atau mau langsung pulang?” Tanya mama ketika acara sudah
selesai.
“Aku mau langsung pulang saja mah, makan di rumah.”
“Baik kalau begitu tunggu mama dulu. Mama mau pamit dulu. Kita pulang sama-sama, mama juga sudah
lelah. Mama meninggalkanku di koridor sendirian, untuk berpamitan dengan staf sekolah.
Sambil menunggu aku berkeliling melihat-lihat hasil kreasi murid-murid yang dipajang sepanjang
lorong koridor sekolah. Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil nama orang yang aku rasa aku mengenalnya. Dugaanku ternyata benar. Disebrang koridor sebelah utara ada bocah ingusan yang sedang memberikan buket bunga pada gurunya.
Kenapa aku merasa tidak suka dengan apa yang ku lihat itu, dan kenapa dia menerimanya dengan bahagia. Hingga tak terasa aku mengepalkan tanganku melihat mereka tersenyum bersama.
Dengan kesal aku membalikkan badanku dan menjauh dari sana. Sampai beberapa menit kemudian seseorang
menabrak dadaku. Hampir saja dia terjatuh kalau tidak dengan cepat aku menarik badannya, sehingga kami berada dalam jarak yang begitu dekat sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya.
Persekian detik waktu terasa berhenti, mata kami bertemu seakan kami tidak bisa berkedip. Aku segera
menguasai keadaan dan membuyarkan waktu yamg terhenti kami.
“Are you ok?” tanyaku mengagetkannya. Sebelum dia menjawab kami di kagetkan dengan suara yang datang dari arah belakang kami.
“Aidan… Nadia….”
bersambung
__ADS_1