
Jangan lupa vote,like,and komen ya
Author gak maksa tapi author ikhlas kalo kalian ngevote,like,and komen
****
"Jangan dekat-dekat dengan orang asing,vani" ujar nara berjalan sambil memegang tangan vani yang mengikuti langkahnya.
"Tapi dia temen vani,kak" jawab vani
"Kenapa kak?" tanya vani melihat nara menghentikan langkahnya berbalik menoleh kearah dirinya.
"Berteman boleh tapi dia lawan jenis kamu yang dimana ia bukan mahram kamu,apa lagi dia bermata keranjang" ujar nara menggengam kedua tangan vani melihat vani dalam
"Jadi,vani gak boleh temenan sama dia ya kak?"
"Menurut kamu,hm" nara mengusap lembut kepala vani dengan satu tangan dan satu tangan yang lain masih menggengam tangan vani
"Loh,kalian kok ada disini" ucapan seseorang itu berhasil membuat keduanya menoleh melihat kearahnya.
"Aku sama kak nara nunggu mas shaka loh" ucap vani melipat tangan didepan dada
"Hehee,sorry" shaka mengaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal
"Kau ingin berenang?" tanya nara melihat shaka yang sudah menganti bajunya.
"Iya" jawab shaka diakhiri dengan kekehan pelan khas miliknya
"Ayo kita duduk disana" ucap nara
"Kak shaka,aku tadi ketemu farrel loh" ucap vani duduk disamping nara dan shaka duduk didepan mereka dihalangi oleh sebuah meja kaca.
"Oh ya?,kamu jangan terus-terusan main sama farrel" ucap shaka melihat kearah vani
"Iya kak,kak nara tadi udah nasehatin aku kok" ucapnya tersenyum mencoba menyembunyikan rasa sakit dihatinya
"Farrel,siapa?" tanya nara
"Farrel sahabat vani" jawab shaka melihat kearah vani yang sedang menunduk
"Permisi mbak,mas,ini es kelapa mudanya ya" ucap seorang pelayan tersenyum kearah mereka sambil membawa 3 gelas dinampan
"Hm" shaka berdehem
"Ada-ada aja" batin nara tersenyum melihat tingkah shaka yang dengan cepatnya berubah
"Terimakasih" ucap nara kepada pelayan
"Iya mbak,saya permisi dulu ya" pamit pelayan itu tersenyum kearah nara
"Kita menginap disini hari ini" ujar nara meminum minumannya
"Hah?"
"Disini?,ditempat ini?" tanya vani
"Tidak,kebetulan disini ada paviliun" ujar nara mengambil benda pipih disakunya.
"Huftt,aku kira kita bakalan tidur disini" ujar vani lega
"Kau saja jika mau" ucap shaka enteng
"Gelud yok mas" vani menatap tajam shaka yang sedang minum
"Gk,belum gelud saja kau sudah kalah" jawab shaka membuat vani semakin kesal
"Sudah,jangan bertengkar disini" ujar nara menyimpan benda pipih miliknya melihat kearah vani yang sedang mencengkram gelas
__ADS_1
"Ayo,vani" ucap nara berdiri lantas berjalan pergi meninggalkan keduanya
"Kemana kak" ujar vani sedikit berteriak melihat kearah nara lantas berdiri
"Ikuti saja aku" jawab nara tanpa mengalihkan pandangannya
"Gimana" vani bersedekap dada melihat kearah shaka yang masih duduk melihat kearahnya
"Apanya?" tanya shaka bingung
"Liatlah,kak nara lebih menyayangi ku" ucap vani tersenyum penuh kemenangan
"Wleee" vani menjulurkan lidahnya mengejek shaka yang wajahnya sudah memerah
"Vani" ucap shaka pelan menahan emosinya melihat vani yang sudah berlari mengejar nara
******
"Baik,terima kasih bu" ujar nara kepada seorang ibu-ibu yang dipastikan pemilik paviliun itu
"Iya neng,neng teh geulis pisan euy" ucap ibu-ibu itu tersenyum melihat kearah nara
"Hadza min fadhli rabbi" ucap nara pelan
"Terimakasih" ujar nara
"Neng dah ada suami?" tanya ibu itu
"Iya bu" jawab nara singkat
"Padahal ibu teh mau kenalin eneng ke anak ibu" ujar ibu itu sedikit kecewa
"Maaf,tapi saya sudah memiliki suami" ujar nara tersenyum kearah ibu itu
"Yaudah neng,ibu pergi dulu ya ada urusan soalnya" pamit ibu itu sedikit terburu-buru
"Geuuliissss" ucap seseorang memegang bahu nara
"Ibu-ibu itu siapa kak" tanya vani melihat nara yang berjalan kearah kursi didepan paviliun itu
"Pemilik paviliun ini" jawab nara singkat
"Huft"
"Ternyata disini" ucap shaka teregah-egah
"Kak,vani boleh masuk gak" tanya vani tanpa menghiraukan shaka yang masih mengatur napasnya
"Ayo" ucap nara dingin berjalan masuk kedalam paviliun itu
"Aku sudah mencari mereka kemana-mana tetapi ini balasannya" ucap shaka sedikit kesal mendudukkan diri dikursi yang sudah diduduki nara tadi.
Shaka mendongak ketika melihat sebuah tangan mengenggam gelas yang berisi air ternyata tangan itu milik nara
"Ambil" ucap nara datar
"Terimakasih" shaka mengambil gelas yang berisi air itu lantas meneguknya sampai tetes terakhir
"Kenapa kita tidak boleh membawa oma kesini?" tanya shaka melihat nara duduk dikursi sebelahnya yang dibatasi oleh sebuah meja kaca
"Dia akan curiga" jawab nara menatap kedepan yang dimana ia melihat setengah matahari sudah terbenam
"AAAAAAAA" teriak seseorang membuat keduanya berlari kedalam
"Ada apa vani?" tanya shaka melihat vani yang berdiri diatas kursi
"Cicak kak" vani menunjuk kearah sudut dinding
__ADS_1
"Sudah pergi" ujar nara setelah melihat kearah yang ditunjuk vani
"Mengapa kau didapur vani?" tanya shaka yang melihat vani masih berdiri dikursi
"Mau masak kak" jawab vani menurunkan satu kaki hendak turun dari kursi
"Ckckckck"
"AAAAA" teriak vani tidak jadi hendak turun karena mendengar suara cicak
"Vani.." nara menghembuskan nafas lelah menatap wajah vani yang sudah pucat
"Lebih baik kau bawa vani kekamar" ucap nara kepada shaka
"Hm"
"Ayo naik" ujar shaka menyuruh vani naik kepunggungnya
"Ta-"
"AAAA" teriak vani kaget ketika shaka mengendongnya ala bridal style
"Ada-ada aja" nara melihat kearah punggung shaka yang mengendong vani
"AAA" kaget nara memegang dada ketika kepala cicak ada didepannya
"Ckckckckckck"
"Sama aja ternyata,ckckckck" ujar cicak melihat nara
******
Matahari sudah terbenam sepenuhnya dan digantikan oleh bulan dengan ribuan bintang bahkan tidak terhitung jumlahnya
"Kau ingin kemana?" tanya shaka melihat nara membawa nampan berisikan piring yang sudah ada makanan dan satu gelas jus melon
"Kekamar vani" jawab nara singkat berjalan menuju kamar vani
"Gara-gara mereka berdua aku tidak jadi berenang dipantai,huftt" gumam shaka pelan lantas memakanan makanan yang ada dimeja
"Percuma saja aku mengganti bajuku" ucap menyesal
"Tapi siapa sebenarnya yang salah" gumam shaka bingung
"Salsa" jawab nara berjalan kearah shaka
"Darimana kau tau?" tanya shaka
"Ingin tau apa sangat ingin tau" nara bersender dikursi sambil bersedekap dada tersenyum miring kearah shaka
"Jangan bercanda" ujar shaka malas
"Hahaha,baiklah" nara melipat kedua tangannya diatas meja
"Jadi..?" tanya shaka yang tidak mendapat jawaban dari nara sejak tadi
"Kau akan tau nanti" ucap nara dengan diakhiri kekehan khas miliknya membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi WOWW gitu loh.
"Ck" shaka berdecak kesal melihat nara pergi keluar
"Dasar wanita" gumam shaka
"Tetapi dia menarik" ucap shaka tersenyum simpul lantas berjalan kearah nara
"Eh?" nara tersentak kaget ketika shaka memeluknya dari belakang menyimpan dagunya dibahu nara
"Kau jangan terlalu sibuk dengan ribuan bintang,lihatlah bulan yang sendirian namun mengikutimu ketika kamu berjalan dimalam hari" ujar shaka menatap bulan yang terang dan dihiasi ribuan bintang
__ADS_1
"Tetapi,kau coba lihatlah bulan itu dikelilingi ribuan bintang yang menemaninya" ujar nara
"Dan lihatlah bulan itu tidak menghiraukan ribuan bintang yang mengelilinginya" balas shaka memeluk nara erat