
"Ahahaha" tawa seseorang diruangan yang gelap dan hanya diterangi oleh beberapa lilin.
"Tidak sia-sia aku membunuh salsa dan mengubah wajahku menjadi dirinya" ujar orang itu.
"Rexsa,kakak udah berhasil balas dendam sama mereka" ucapnya melihat foto anak laki-laki ditangannya.
Flashback
Rexsa seorang anak laki-laki berumur 8 tahun yang sangat ceria dan begitu aktif dalam hal apapun.
"Kak,ayo main bola" ujar rexsa kepada perempuan yang dipastikan hanya berbeda 1 tahun dengannya.
"Gak ah,kamu aja sendiri" ujar perempuan itu yang masih fokus dengan buku ditangannya.
"Kak reysa mah gitu..." ujar rexsa.
"Yaudah,aku main sendiri aja" ujar rexsa berlari hingga berhenti disebuah pohon yang sedikit besar tidak jauh dengan reysa yang sedang duduk.
"Yeyy" ucap rexsa senang melempar kembali bola itu kepohon.
"Yahh,bolanya kemana" ujar rexsa yang tadi tidak fokus dengan bola sedang mencari kemana bola itu pergi.
"Nahh,itu bolanya" ujarnya melihat bola itu dipertengahan jalan.
Rexsa berlari hingga berhenti ditempat bola itu,tangannya hendak meraih bola miliknya.
Suara klakson berhasil mengalihkan atensinya hingga melihat sebuah mobil yang dimana seorang perempuan seumuran dengannya memainkan klakson sedangkan orang tua perempuan itu tertawa melihat putrinya seperti sedang bercanda gurau.
"AAAAAA" teriak rexsa melihat mobil itu semakin dekat hingga membuat orang yang dimobil itu menatap kedepan.
"REXSAAA" teriak reysa berdiri panik melihat sang adik.
"Rexsa..." reysa menangis dan berlari melihat keadaan sang adik yang sudah berlumuran darah.
Reysa menatap kaca mobil yang dimana terlihat perempuan seumuran rexsa melihat kearahnya dengan mata yang sudah merah ketakutan.
"Ayo pergi saja" ujar seorang perempuan paruh baya yang berada didalam mobil.
"Tap-"
"Sudah,ayo pergi" mobil itu pergi meninggalkan reysa yang sedang memangku rexsa.
Flashback off
"Dek,apa kamu bahagia disana?" tanya orang itu yang masih fokus dengan foto ditangannya.
"Kakak disini sendirian,dek.." air mata memanjiri wajahnya yang cantik.
"Tapi kalau kakak nyusul kamu,balas dendam kakak belum selesai dek" ujarnya.
"Reysa,are you okay?" tanya temannya.
__ADS_1
"Hm" reysa berdehem lantas mengusap air matanya yang terus menerus turun tanpa diminta.
"Thanks,karena lo gue jadi kenal sama salsa yang notabenya sepupu vani" ucap reysa menatap kearah temannya.
"Tapi jujur gue gak pernah ganggap salsa itu temen" ujar teman reysa.
"Terus lo ganggap dia apa,Erlinnnn" tanya reysa dengan suara yang parau.
"Angin yang lewat doang".
"Dia itu sok polos anjir,mana sok alim lagi".
"Gak suka gue" sambung erlin-sahabat reysa.
"Hahaha,tapi dia pinter loh lin" ujar reysa.
"Pinter si pinter,tapi gue juga gak suka sama sikapnya yang sok polos" ujar erlin memutar bola matanya malas.
"Tapi thanks loh,lo udah ngenalin dia ke gue sampe bantu gue ngebunuh dia juga" ujar reysa.
"Gapapa,tapi muka lo pengen gue tonjok cuy" ujar erlin menatap wajah reysa yang menyerupai wajah salsa.
"Lo punya dendam sama gue?" tanya reysa menatap erlin tajam.
"Gak sih,tapi jujurly gue gak suka liat muka lo yang sama kaya salsa,jadi pengen gue bunuh" ujar erlin.
"Tadi lo mau nonjok doang sekarang malah pengen ngebunuh,gue lempar juga lo" ujar reysa sedikit kesal.
"Hehehe,bercanda doang aelah" ujar erlin.
"Sa,tunggu" ujar erlin mengejar reysa.
****
-Paviliun
"NARA,VANI,AYO BERENANGGG" teriak shaka merendamkan diri ditepi kolam renang.
"Gak ah mas,kamu aja" jawab vani yang baru saja dari dapur.
"Nara,mana?" tanya shaka melihat vani yang duduk dikursi dekat kolam renang.
"Kak nara ada didalam kamar" ujar vani memainkan handphone miliknya.
"Kenapa kau tidak mandi?" tanya shaka memainkan air.
"Aku sudah mandi" shaka dan vani mendongak melihat kearah suara itu dan terlihat nara yang sedang bersedekap dada.
"Kenapa kau mandi disiang hari begini?" tanya nara berjalan kearah mereka yang hanya meneguk salivanya susah.
"Ini masih pagi,buktinya masih jam sebelas" jawab shaka enteng.
__ADS_1
"Jam sebelas itu sudah termasuk siang" jawab nara mendudukkan diri dikursi sebelah vani.
"Tidak,buktinya matahari belum terang sepenuhnya" keukeh shaka.
"Huftt" nara menghela nafas lelah.
"Terserah kau saja" ujar nara.
"Bagaimana keadaan oma,kak?" tanya vani melihat kearah nara.
"Oma baik-baik saja,aku menyuruh dia untuk tidak terlalu dekat dengan salsa" ujar nara yang masih fokus dengan shaka yang sedang bermain air seperti anak kecil pikir nara.
"Aku masih tidak percaya,kak" ucap vani pelan menatap kosong kedepan.
"Percaya atau tidak,kau harus percaya karena ini kenyataan atas kehendak allah" ujar nara menatap vani.
"Tenanglah,semua akan baik-baik saja,kau hanya perlu berdoa" ucap nara menenangkan vani.
"Hey,kalian berdua membahas apa,sepertinya serius sekali" ujar shaka melihat kearah keduanya lantas naik keatas berjalan kearah keduanya.
"Tidak penting" jawab nara singkat.
"Yasudah" shaka melangkahkan kaki masuk kedalam rumah melewati pintu dapur.
"Kenapa berhenti berenang?,bukankah ini masih pagi?" tanya nara membuat shaka menghentikan langkahnya.
"Aku kedinginan" jawab shaka singkat tanpa menoleh kearah nara lantas pergi menuju kamar mandi.
Tidak terasa matahari sudah digantikan oleh bulan.
"Vani,panggil shaka untuk kemeja makan" ujar nara menyiapkan makanan.
"Oke" vani berjalan menuju kamar shaka dan nara sambil bernyanyi.
"Mas,kamu dipanggil kak nara" ujar vani dari luar pintu.
"Hello~"
"Mas,dipanggil kak nara kedapur" ujar vani.
"Iya-iya,nanti aku kesana" jawab shaka dari dalam.
"Jangan lama-lama" ucap vani berjalan kedapur.
"Nah,itu dia onyetnya" canda vani melihat shaka yang berjalan kearah mereka.
"Husttt,gak boleh gitu" ujar nara membuat vani membekap mulutnya dengan kedua tangan miliknya.
"Maaf kak" ujar vani yang masih setia membekap mulutnya membuat nara mengeleng kepalanya pelan.
__ADS_1
"Sudah,ayo makan" ujar nara melihat shaka yang sudah mendudukkan dirinya.
Mereka memakan makanan mereka dengan lahap membuat suasana diruangan itu tenang tanpa ada gangguan kecuali suara sendok yang meradu dengan piring.