
Jam menunjukkan pukul tiga sore, dimana bel sekolah telah berbunyi beberapa menit yang lalu.
Tangan Taya dengan gesit membereskan semua peralatan sekolah miliknya, memasukinya ke dalam tas.
Kepalanya menoleh, menatap ponsel yang berada di atas meja.
[Gue tunggu diparkiran.]
Sebuah pesan yang ia dapatkan dari Bir tiga puluh menit yang lalu. Dilihat-lihat anak itu sangat bersemangat tentang agenda yang akan dilakukan malam ini.
Taya menghembuskan napasnya perlahan, semoga malam ini akan berjalan dengan baik.
Selesai dengan acara beberesnya, Taya mengambil tasnya cepat beserta ponsel yang berada di atas meja tadi.
Kakinya dengan pasti melangkah menuju keluar kelas sebelum koridor sekolah semakin ramai. Ia biasanya akan menunggu sampai tiga puluh menit bel pulang sekolah agar bisa pulang dengan aman tanpa tatapan remeh yang selalu ia dapatkan.
Namun saat ini ia sudah ada janji bersama Bir, dan takut jika anak itu harus menunggunya lama, jika ia melakukan rutinitasnya seperti biasa.
Kepala Taya menunduk, seolah telah tau tata letak koridor tanpa menyenggol siapapun.
Langkah Taya berhenti mendadak saat melihat sebuah sepatu tepat di hadapannya. Napasnya ia hembuskan sangat pelan, takut jiga orang di depannya akan terganggu.
"Buru-buru banget Say?"
Taya mendongak, dapat ia lihat seorang perempuan berperawakan tinggi dengan rambut di bawah telinga, menatapnya dengan satu alis terangkat.
Hisel kakak seniornya sekaligus ketua ekskul renang.
Seniornya itu memberikannya sebuah kertas, yang mana membuat Taya heran. Menatap kertas itu sejenak kemudian mengambilnya dengan hati-hati.
"Akan ada latihan gabungan sama sekolah sebelah, gue harap lo ikut."
Taya kembali menatap kertas tersebut kemudian mengangguk setuju.
Dapat ia lihat senyum lebar terpatri di wajah tirus sang senior.
"Oke, besok meski gak ada jadwal, lo harus kumpul di ruangan, oke." Dan Taya kembali mengangguk.
Hisel, perempuan itu menatap Taya dengan jengah.
"Lo lama-lama bisa bisu kalau gak pakai mulut lo buat ngomong."
Perempuan itu mendekatkan wajahnya, tangannya terangkat menyentuh kedua pipi Taya dengan satu tangan. Menggerakkannya seolah bibir Taya sedang berbicara.
Tidak kencang, namun cukup membuatnya kaget. Seniornya itu terlihat sangat menakutkan saat memimpin latihan, namun saat ini berbanding terbalik yang ia sering lihat.
Kembali menegakkan tubuhnya, seniornya itu berjalan melewati Taya, seolah hal tadi tidak pernah terjadi.
Mungkin bagi orang yang melihat itu, akan menyangka ia sedang di bully. Lihatlah tatapan mereka, mengejek dan terlihat senang.
Taya menggeleng pelan, kakinya kembali melangkah ingin sesegera mungkin sampai pada tempat tujuannya saat ini.
Kini ia telah sampai di tempat parkiran. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari letak keberadaan mobil Bir. Namun sampai lima menit mencari ia tidak kunjung menemukannya.
__ADS_1
"Taya!" Seseorang memanggilnya dari sudut kanan, membuat Taya menoleh. Dapat ia lihat sebuah mobil putih dengan seorang perempuan melambaikan tangannya dari dalam mobil, itu Anggor.
Tidak lama kaca belakang mobil itu terbuka memperlihatkan keberadaan Bir yang sedang mengunyah makanan.
Tangannya melambai, menyuruhnya agar segera mendekat.
"Sorry gue gak bilang pake mobil Anggor," ujar Bir keluar dari mobil.
"Mobil kamu kemana?"
Masih dengan mengunyahnya, Bir membuka bibirnya membuat sebuah gelembung.
Taya menunggu sampai perempuan itu dapat bisa menjawab.
"Di pake temennya bang Jean. Ayo, masuk kita persiapkan diri kita untuk bermain," ujar Bir girang. Perempuan itu mendorong tubuh Taya masuk ke dalam mobil dan memasukkan tubuhnya sendiri.
"Ayo Anggor," ujar Bir setelah kini keduanya telah siap dengan sabuk pengaman yang telah terpasang.
"Gue kayak sopir, ya," ledek Anggor menyalakan mesin.
Tidak mendengar protes dari Anggor, Bir lebih memilih memfokuskan atensinya pada ponsel.
"Gue udah milih dress yang bakal lo pake." Bir menunjukkan layar ponselnya pada Taya, memperlihatkan sebuah potret dress mini.
"Itu-"
Taya mendongak, menatap wajah Bir.
Alis Bir menaut, tangganya ia tarik kemudian ia lihat kembali dress yang telah ia pilih tadi untuk Taya.
"Pendek? Enggak kok."
"Bi-"
"Enggak ada penolakan."
Anggor dari balik kemudi terkekeh pelan.
"Lo buat dia takut Bir," ujarnya dengan mata melihat dari arah kaca.
"Emangnya gue genderewo."
"Mirip."
"Gue lempar lo keluar!"
Dan Taya, perempuan itu hanya memperhatikan keributan yang dilakukan oleh dua manusia di samping dan depannya itu.
"Pokoknya lo harus pake baju ini!" ujar Bir menoleh kembali ke arah Taya.
Dan meski pun Taya kembali menolak, ia rasa Bir tidak akan mendengarkannya. Perempuan itu masih sama, sangat keras kepala.
Tin!
__ADS_1
Taya dan Bir menoleh, di belakang sana ada sebuah mobil yang mereka kenali.
Anggor yang melihat dari kaca spion meminggirkan mobilnya, membiarkan mobil di belakang melewatinya.
Namun bukannya pergi begitu saja, mobil tersebut malah berhenti tepat di samping mobilnya.
Alis Anggor menaut, berbeda dengan dua perempuan di belakangnya. Bir dan Taya sudah mengetahui mobil siapa yang berada di samping mereka itu.
"Itu-"
Kaca mobil terbuka, memperlihatkan Jean yang berada di balik kemudi. Laki-laki itu meminta agar kaca mobil milik Anggor diturunkan.
Sebelum melakukan perintah itu, Anggor lebih dulu menoleh ke belakang meminta persetujuan dari Bir, selaku adik dari laki-laki tersebut.
"Ya tinggal turunin, kenapa lo liat-liat gue!" sensi Bir saat dirinya merasa diperhatikan.
Anggor mendelik, jadi ia menurunkan kaca mobilnya.
"Iya kak?" tanya Anggor dengan kepala ia dekatkan ke kaca mobil yang berada di sebrang.
"Taya."
Meski hanya satu kata. Namun tenang, Anggor mengerti. Perempuan itu mengarahkan jempolnya ke belakang.
Dan yang harus kalian tau, laki-laki itu dengan tiba-tiba memundurkan mobilnya hingga kini sejajar dengan kursi belakang mobil. Dan Akibat dari tingkahnya itu, terdengar banyak sekali klakson saling bersautan di belakang mobil mereka.
Anggor memejamkan matanya. Keluarga Anggo tidak ada yang waras, itu adalah sebuah kalimat yang selalu ia tanam dalam otaknya.
Taya yang melihat mobil Jean mundur, langsung menurunkan kaca mobilnya hingga kini wajah mereka sejajar.
"Iya?"
"Jangan pernah matiin ponsel lo," ujar Jean singkat. Tatapan laki-laki itu beralih ke samping menatap sang adik yang tengah asik dengan ponselnya.
"Bir!"
"Iya jam sebelas, 'kan?"
"Delapan tiga puluh!"
Bir mendelik, ia menoleh dan menatap kakaknya itu datar. Tangannya mengibas meminta agar kakaknya itu segera pergi karena telinganya terasa akan meledak mendengar suara klakson kendaraan di belakang mereka.
Mengerti, Jean melirik ke belakang dengan datar.
"Cek ponsel lo, Taya!" ujar Jean sebelum pergi dengan mobil mewahnya itu.
Setelah mendengar perkataan itu, Taya merongoh ponselnya yang berada di dalam tas. Matanya melebar saat melihat panggilan tidak terjawab cukup banyak dari Jean, dan beberapa pesan menanyakan keberadaannya saat ini.
"Posesif banget tuh laki satu," gumam Bir setelah dengan sengaja mengintip ponsel Taya.
"Jalan Anggor lo kenapa masih diam!"
"Bentar elah, lo sensi banget perasaan!"
__ADS_1