Never Let Me Go

Never Let Me Go
Shaka Tidak Kenal Lelah


__ADS_3

Bir mengetuk-ngetuk meja di depannya, kepalanya fokus kepada buku Dengan sekali-kali ia dongkakkan untuk melihat papan tulis di depannya.


"Gue kepo."


Bir melirik, ia menatap teman sebangkunya itu dengan tatapan bertanya.


"Tentang Taya, kemarin ia nyoba bunuh diri?"


Tatapan Bir berubah menjadi tajam, ia mengerti kemarin yang temannya maksud adalah saat dimana Taya sengaja menenggelamkan dirinya di kolam.


"Dia tidak sedang mencoba bunuh diri. Dia hanya sedang melatih pernapasannya," ujar Bir, kemudian mengalihkan tatapannya kembali pada buku.


Teman sebangkunya ini terlalu banyak bertanya.


"Dan mana ada orang bunuh diri di tengah-tengah kerumunan orang seperti itu," lanjutnya.


"Selain itu-"


Bir mengeratkan genggaman tangannya, napasnya ia hembuskan dengan perlahan. Hah sungguh ingin rasanya ia menyumpal temannya itu.


"Apalagi Shey," ujar BIr pelan penuh dengan penekanan.


"Gue pernah lihat bekas sayatan di perut kirinya."


***


"Kantin?" tanya Shey setelah mendengar suara bel istirahat, matanya menatap Bir yang sedang membereskan buku-bukunya.


"Gak," jawab Bir singkat kemudian berjalan menuju pintu kelas. Dapat Bir liat Anggor berdiri di sana dengan punggung menyandar dan mata fokus pada ponsel.


"Ayo," ujar Bir menarik tangan Anggor cukup keras, membuat perempua itu kaget, karena sedari tadi hanya fokus dengan ponsel. Dan tidak mengira Bir menyelesaikan acara-acara beberes  bukunya ke dalam tas secepat itu.


"Lo buat gue kaget setan," ujar Anggor melepaskan pegangan Bir.


Bir mendelik kemudian berjalan mendahului Anggor.


Anggor, perempuan itu berdecak pelan dan berjalan menyusul Bir.


"Malem ini, jadi?" tanya Anggor berjalan berdampingan.


Bir menoleh dan tersenyum, memberi kesan menakutkan pada wajahnya itu.


"Jadi lah. Lo, jadi ikut, 'kan?" tanya Bir mendatarkan kembali wajahnya.


"Sorry banget, gue gak bisa ikut."


"Why?" tanya Bir tanpa menoleh. Tujuan mereka saat ini adalah taman belakang sekolah.


Bir menoleh ke samping menatap kelas Taya yang ia lewati.


Dapat Bir lihat perempuan itu sedang memebereskan buku-bukunya ke dalam tas.


Tatapa matanya beralih ke depan, menatap laki-laki jauh di depannya itu dengan sinis.

__ADS_1


Sudah ia duga, Shaka akan stand by di depan kelas Taya seperti bakteri jahat.


"Lo dengerin gue gak sih?"


Bir menoleh dan mengngguk, padahal ia tidak dapat mendengar suara Anggor sama sekali.


"Wah, temen sekelas lo pejuang juga, ya."


"Berhenti bilang dia temen sekelas gue!" ujar Bir kesal. Dan Anggor membuatnya semakin kesal saat dengan tidak tau dirinya malah menyapa Shaka.


"Hei Shaka!"


Bisakah Bir menari rambut ikal itu?


"Hai Anggor!"


Bir memberhentikan langkahnya dan membiarkan Anggor berjalan melewatinya.


"Semangat banget ngejar cinta," ujar Anggor menepuk pundak Shaka cukup kencang.


"Ya harus dong," jawab Shaka dengan lantang, tangannya bergerak memperbaiki letak dasi dan juga kerah kemeja, bersikap keren.


"Oh! Ada temen sekelas! Hai teman kelas!"


Bir membuang napasnya dengan kasar tanpa mau balik menyapa laki-laki aneh itu.


Kakinya melangkah cepat berjalan melewati keduanya.


"Oh! Gue duluan ya Shaka. Semangat mengejar cinta!"


"Terimakasih Anggor doain gue ya!"


Anggor mengangkat tangannya memberikan Shaka jari telunjuk, disusul dengan Bir yang juga mengangkat tangannya, memberikan laki-laki salam jari tengah.


"Yeah, love you teman sekelas!"


***


Taya memberhentikan gerak tangannya yang sedang membereskan buku. Kepalanya menolehke depan saat mendengar suara yang cukup familiar di di telinganya.


Disana, dapat Taya liat Bir, Shaka dan satu orang perempuan yang selalu bersama Bir, berdiri di depan kelasnya.


Taya menghembuskan napasnya.


Shaka, laki-laki itu benar-benar menganggunya setiap hari.


Tangan Taya kembali  bergerak, dan kini menjadi lebih  cepat, ia ingin menghindari Shaka.


"Kenapa buru-buru? Santai aja, gue tungguin kok."


Gerak tangan Taya berhenti, tubunya ia tegakkan dan membalikkan tubuhnya ke depan. Dapat ia lihat Shak yang telah duduk di depan bangkunya dengan kedua telapak tangan yang menahan dagu.


"Gak bakal gue tinggal tenang."

__ADS_1


Tidak menghiraukan atensi Shaka, Taya kembali memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, meski tidak secepat tadi.


Selesai dengan bukunya, Taya melangkah keluar kelas meninggalkan Shaka tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Bener ya kata orang, perempuan yang jual mahal tuh, bener-bener mempesona," ujar Shaka masih dengan posisinya.


"Lebih ke murahan gak sih?"


"Gue lakban mulut lo!"


***


Taya menatap buku-buku yang berjajar di hadapnnya. ia menghembuskan napasnya, dan entah untuk keberapa kalinya.


Kagiatannya di sekolah tidak yang menarik menurutnya. Hanya belajar berenang, dan mendapatkan tatapan remeh bahkan oleh gurunya sendiri.


Taya mengambil sebuah buku dengan asal. Perpustakan adalah tempat berikutnya yang sering Taya kunjungi setelah kolam renang. Selain sepi, ia sangat menyukai bau buku yang tercium, itu seperti membawanya pada sebuah ketenangan.


Kehidupannya tentu sangat tidak menarik. Itu akan sangat menarik jika ia bersama Jean.


Taya memeluk bukunya, kakinya melangkah menuju meja yang berada di ujung ruangan dekat dengan jendela yang mengarah langsung pada lapangan upacara.


Dapat Taya lihat Jean berjalan dari ujung lapangan ke ujung lapangan lainnya. Sebuah keberuntungan yang menyenangkan.


Tidak bisa dipungkiri rasa cinta yang ia miliki untuk Jean itu benar-bear nyata. Taya rasa ia akan mengikuti jejak ibunya.


Dulu ia berusaha memendam rasa cintanya. Tapi, untuk sekarang biarkan Taya berlagak seperti orang bodoh dan menganggap apa yang Jean lakukan untuknya adalah aksi dari sebuah rasa.


Dulu ia terlalu naif, dan belum terbiasa dengan tatapan tajam yang Jean berikan padanya, hingga ia beberapa kali melakukan hal nekat.


Selain karena Maran, biarkan perasaannya menjadi alasan. Ia hanya perlu terbiasa dengan tatapan yang Jean berikan padanya, itu saja.


Kepalanya menunduk menatap sebuah liontin yang bersembunyi di kemeja sekolahnya.


Sebuah liontin pengganti yang Jean berikan padanya karena laki-laki itu tidak sengaja menghilangkan liontin pemberian sang ibu.


Kepala Taya semakin menunduk, ia tertawa kecil.


Ia jatuh cinta kepada laki-laki yang sama untuk kesekian kalinya.


"Nah gitu dong senyum, kan makin cantik."


Taya menoleh dengan cepat, matanya sedikit melebar saat melihay wajah Shaka berada tepat di depa wajahnya.


Reflek Taya memundurkan kepalanya cukup cepat membuat kepalanya membentur bingkai jendela yang berada di belakangnya dengan keras.


Ekspresi wajah Shaka yang awalnya terlihat senang berubah drastis menjadi khawatir.


Laki-laki itu semakin mencodongkan wajahnya mecoba memeriksa keadaan Taya. Namun laki-laki itu tidak kalah cepat karena Taya sudah lebih dulu berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh, seolah tidak terjaadi apa-apa.


Menatap tembok jendela, Shaka tertawa kecil. Kepalanya menoleh menatap Taya yang sudah melangkah jauh.


Kepala itu beralih menoleh ke depan, kembali menatap jendela.

__ADS_1


Sudut bibirnya terangkat dengan tangan terangkat, melambai.


"Hai senior."


__ADS_2