
"Minggir atau gue tarik kembali izin gue!"
Bir menekuk wajahnya saat mendengar ancaman itu keluar dari mulut Jean. Kakinya bergeser dengan tubuh tegak ke samping, seperti seorang prajurit teladan.
"Ay! ay! Capten! Silahkan memotret barang, milik lo, sesuka hati."
Jean menatap Bir tajam saat mendengar kata barang tersemat pada perempuan di depannya.
Melihat tatapan itu Bir tersenyum.
"Gue tau lo tuh cinta Bang, jangan ngelak deh. Sok-sok jadiin Taya temeng buat gak di deketin cewe-cewe. Hemeh," ledek Bir kemudian melangkah ke ruang ganti.
Ketika ia sudah hampir sampai keruang ganti, badannya ia balikkan dengan senyum yang merekah.
"By the way, thank you atas izinnya. Much!" ujar Bir memberikan Jean sang kakak kiss dari jauh.
Taya yang masih di dalam kolam melihat tingkah keduanya, dan bahkan ia dapat mendengar pembicaraan keduanya mengenai dirinya. Menghembuskan napasnya pelan, ia mengangkat tubuhnya menggunakan tangan untuk naik ke permukaan.
"Diam di situ!"
Taya memberhentikan gerakannya. Tubuhnya ia turunkan kembali ke kolam renang dengan mata tidak lepas dari wajah Jean. Laki-laki memakai kacamata dengan kamera yang berada di genggaman tangan.
"Gue cuma mau ngambil gambar lo, gak lama."
Jean menurunkan tubuhnya dengan satu lutut yang menyentuh lantai.
"Lo berenang aja, gak perlu pose gimana-gimana." Jean mengangkat kameranya, mengarahkannya pada Taya.
Taya terdiam sesaat sebelum tubuhnya ia tenggelamkan dan mulai berenang ke tengah kolam. Ia berenang mendekati sebuah tangga untuk melakukan lompatan.
Taya mengusap wajahnya, mulai naik ke permukaan dan menaiki tangga. Matanya melirik Jean yang benar-benar fokus dengan kamera yang mengarah kepadanya. Cahaya beberapa kali keluar dari kamera tersebut, menandakan bahwa laki-laki itu telah banyak mengambil gambarnya.
Taya melompat-lompat kecil, menyeimbangkan tubuhnya yang kini berada di ujung lompatan. Tangannya ia luruskan ke depan, bersiap untuk melakukan lompatan indah.
Byur!
Taya membuka matanya, gelembung-gelembung yang tercipta di depannya karena ia berusaha bernapas. Mengatupkan bibinya, ia berenang dengan merayap ke arah Jean. Dapat ia pastikan laki-laki itu akan bingung mencarinya, karena area kolam renang yang cukup gelap.
Sudut bibir Taya terangkat, ia sudah hampir mendekati Jean. Saat setelah ia rasa sudah pas dengan berdirinya Jean. Taya membawa tubuhnya ke permukaan, untuk mengagetkan laki-laki itu.
__ADS_1
Kepalanya muncul dengan cepat, sudut bibirnya terangkat sempurna. Dan dia sangat menyukai respon alami yang laki-laki itu berikan. Terlihat bingung awalnya, dan berakhir dengan senyum tipis diakhiri dengan kekehan.
Taya tau, reaksi itu tidak akan pernah Jean sadari, karena selanjutnya Jean kembali mengangkat kameranya dan memotretnya.
"Lo objek terindah yang gue miliki."
Sebuah fakta yang hampir Taya lupakan.
***
Taya berjalan di koridor sekolah, ia telah selesai dengan renangnya dan kini ia berniat untuk pulang. Di sampingnya Jean, meraka berjalan beriringan. Kacamata yang tadi bertengger di hidung mancung itu kini hilang. Membuat kesan seniman gila bak bangsawan itu juga hilang seketika, digantikan dengan seorang anak populer yang selalu manjadi pusat perhatian dan di puja-puja oleh banyak wanita.
"Mau mampir dulu?" tanya Jean memecah keheningan. Jam sudah menunjukkan pukul lima dan tiga puluh menit lagi gerbang sekolah akan di tutup.
Taya menoleh, tersenyum dan menggeleng.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Jean hanya mengangguk pelan.
"Gue mau! gue mau mampir ke kedai eskrim!" Dari belakang Bir berteriak. Perempuan itu berlari cukup kencang membuat gema langkahnya terdengar dimana-mana. Menghampiri mereka dan merangkul bahu keduanya.
Taya menoleh, ia cukup kaget saat mengetahui perempuan itu masih berada di sekitar sekolah, karena yang ia tau sejak satu jam yang lalu Bir telah keluar dari area kolam renang dengan menyeret tasnya.
Jean menghempaskan tangan Bir kencang.
"Gue nebeng! lagi males nyetir. Ya? Ya?" Bir melepaskan rangkulannya pada Taya dan mulai bergelayutan pada lengan Jean. Jika sekarang masih berada di jam masuk sekolah, dapat Taya pastikan Bir tidak akan melakukan hal itu.
"Gak!" tolak Jean tegas. Laki-laki itu berjalan cepat meninggalkan Bir bersama Taya di belakangnya.
"Gue tau! lo pasti gak mau diganggu, 'kan? mau ekhem, ekheman, 'kan? Gak gue gangu suer!" teriak Bir dan menatap Taya saat mengatakan kata; ekhem, dengan senyum jail.
"GAK!" balas Jean tidak kalah keras.
"Bang lo tega sih! kaki gue sakit liat nih! liat!" ujar Bir menunjukkan kakinya entah pada siapa, padahal Jean sendiri sudah sangat jauh di depan mereka dan tidak terlihat bahwa laki-laki peduli dengan setiap perkataan sang adik.
Taya yang di samping Bir menunduk, memeriksa kaki perempuan itu. Dan, benar ada garis biru cukup panjang pada betis perempuan itu.
"Kaki kamu gak papa, kenapa bisa gitu?" tanya Taya khawatir.
Bir tersenyum dengan gigi-giginya. Tangan ia angkat, menjentikkannya hingga menimbulkan sebuah suara.
__ADS_1
"Ini tipuan, hehe."
Taya menghembuskan napasnya perlahan merasa lega.
"Hei ladies!"
Seseorang datang dari belakang dan merangkul keduanya dengan erat.
Bir mendatarkan ekspresinya, dan menghempaskan tangan yang berada di bahunya dengan kasar. Perempuan itu juga menarik orang yang merangkul keduanya menjauh dari Taya.
"Jangan sembarangan rangkul orang, ya!" ujar Bir tajam.
Shaka oknum yang telah tiba-tiba merangkul mereka itu tersenyum manis.
"Yaudah gue gak bakal rangkul lo, gue cuma mau-" Gerak tangan Shaka yang akan merangkul Taya Bir hentikan.
Ia menatap teman sekelasnya itu tajam. Seolah tidak takut, Shaka balas menatap mata Bir dengan senyum yang semakin lebar.
"Kenapa sih? kan gue gak mau rangkul lo, gue cuma mau rangkul Taya."
Taya memundurkan langkahnya menghindari rangkulan laki-laki itu. Sungguh tingkah Shaka ini membuat dirinya tidak nyaman. Apa laki-laki tidak tau bagaimana marahnya Jean nanti.
"Lo tau kan, Taya milik kakak gue. Gak aneh-aneh deh lo," ujar Bir kesal saat melihat betapa tidak sadarnya laki-laki dihadapannya.
"Oh teman sekelas, lo tau kan pepatah tentang-" Shaka memberhentikan langkahnya dan menatap satu mata berkedip.
"Sebelum janur kuning melengkung semua sah-sah sa-"
"Kalian masih di sini? tidak ingin pulang?" Jean terlihat berdiri dari jarak dua meter, menatap mereka bertiga dengan datar.
"Oh, hai senior!" sapa Shaka terlihat bersemangat.
Jean hanya melirik Shaka melalui ekor matanya, dan kembali menatap Taya dan adiknya itu untuk segera menghampirinya.
Bir mendorong bahu Shaka agar memberinya jalan untuk menarik tangan Taya. Setelah berhasil Bir melangkah menjauhi Shaka dan mendekati sang kakak.
"Oh?" Shaka terlihat bingung, namun selanjutnya laki-laki itu melambaikan tangannya.
"Okey, bye senior, bye teman sekelas dan bye calon istri," teriaknya.
__ADS_1
Bir menoleh dan mengacungkan jari tengah kepada Shaka.
"Love you juga teman sekelas!"