
Taya masih belum memejamkan matanya. Berbeda dengan Jean, laki-laki itu kini telah terlelap. Menatap dada bidang Jean yang tidak memakai sehelai benang pun. Napasnya ia hembuskan perlahan guna menenangkan detak jantungnya yang terus menggila tanpa henti.
Tangan Taya terangkat hendak menyentuh dada laki-laki di hadapannya itu, namun saat tangannya hampir menyentuh dada tersebut, Taya menghentikan kegiatannya.
Ia menarik kembali tangannya itu dan membalik tubuhnya menjadi membelakangi Jean. Napasnya ia hembusan perlahan dengan mata yang menatap jam weker yang berada di meja dengan mata mengantuk.
Taya memejamkan matanya, ia berharap hari esok perasaan yang tidak seharusnya ada ini, lenyap begitu saja. Ya, semoga.
****
Taya menundukkan kepalanya dengan kening bersentuhan langsung kepada meja. Matanya terbuka dengan kedua tangan terjatuh di samping kedua tubuhnya. Seolah tidak ada semangat hidup.
Tubuhnya ia tegakkan dengan tangan kanan yang terangkat menyentuh kening. Napasnya ia hembuskan kembali. Tangan satu nya ia angkat untuk memegang jantungnya yang berdegup kencang.
Kembali menghembuskan napaanya, Taya menjatuhkan kepalanya kembali pada meja dengan menimbulkan suara cukup keras.
Saat ini ia telah berada di dalam kelas, dan jam menunjukan pukul enam pagi. Ia sengaja berangkat sepagi mungkin agar menghindari Jean. Tadi, setelah sepuluh menit ia memutuskan untuk tidur, laki-laki itu tiba-tiba mengeratkan pelukannya dan dengan gerakan perlahan membalikkan tubuh Taya, hingga mereka kembali saling berhadapan.
Dapat Taya liat mata Jean terbuka, menatapnya dengan penuh kasih sayang. Sebuah tatapan yang tidak pernah ia dapatkan. Dan secara tiba-tiba mengecup keningnya. Sebuah kecupan hangat yang tidak pernah Taya dapatkan.
Kecupan itu terasa lama, waktu seakan berhenti berputar, dan jantungnya kembali menggila. Dan selanjutnya adalah sebuah kalimat yang membuatnya berharap, namun juga membuatnya waspada.
"i love you-" Selanjutnya Taya tidak dapat mendengar apapun karena laki-laki itu membenamkan kepalanya pada perut Taya.
Kaki Taya bergerak dengan abstrak membuat sebuah kegaduhan di pagi hari. Ia tidak takut akan tingkahnya yang terlihat orang lain. Sekarang masih oukul enam, siapa yang akan datang sepagi ini.
"Lo kenapa?"
Taya mengangkat kepalanya dengan cepat, dapat ia lihat Bir yang sedang berdiri di pintu masuk kelas dengan satu tangan memegang ransel dan tangan lainnya yang memegang sebuah cup minuman.
Mata Taya mengerjap dengan mulut sedikit terbuka.
"Ya?"
Terdengar Bir berdecak, perempuan itu melangkahkan kakinya dan menarik sebuah bangku untuk ia simpan di depan meja Taya dan mendudukinya, hingga kini mereka saling berhadapan.
"Lo berangkat pagi banget sih, pas gue keluar kamar lo udah minggat aja sama pakaian sekolah lo."
Bir menyimpan menumannya di meja, tangannya terangkat dan menahan dagunya, menatap Taya dengan intens.
"Semalem, lo ngapain aja sama abang gue?"
__ADS_1
Satu hal lagi yang membuat Taya pusing, ia bingung dengan sebutan Taya kepada Jean, kadang abang, kadang juga kakak.
"Tidur," jawab Taya seadanya. Matanya beralih, ia tidak ingin menatap mata Bir, karena menurutnya itu sangat berbahaya.
Bir memicingkan matanya, seolah tidak percaya dengan perkataan Taya. Tangan perempuan itu mengibas.
"Sebenernya gue gak percaya, tapi yaudah lah ya. By the way-" Bir berdiri dari duduknya dan menyimpan kembali bangku tersebut pada tempatnya.
"Pulang sekolah nanti lo sama gue. Inget, malem ini jadwal lo sama gue! Oke bye!"
Bir memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu kelas. Pada saat sudah melewati pintu tiba-tiba seseorang berjalan dengan cepat memasuki ruangan hingga tidak sengaja menyenggol bahu Bir kencang membuat minuman di tangan perempuan itu jatuh mengenai bajunya.
"Ah! Sorry!"
Taya hendak berdiri untuk melihat keadaan Bir, tapi tangan Bir memberi isyarat untuk tetap diam.
"Bersihin!" ujar Bir pelan namun penuh penekanan.
"Gue udah say sorry," orang itu Shaka.
Namun sepertinya Bir tidak menerima permintaan maaf Shaka, terlihat perempuan itu menari tangan Shaka dengan paksa. Meski Shaka berulang kali bilang, "Hei! gue mau ucapin good morning dulu sama Taya."
Mata Taya terus menatap keduanya hingga menghilang dari pandangan.
Ting!
["Good morning bidadari!"]
Kapan laki-laki itu berhenti menganggunya?
***
[Gue tunggu di atap sekolah.]
Dan disinilah Taya sekarang. Menatap lapangan sepak bola dari atap. Tubuhnya bersandar pada pembatas atap.
Sret
Kepala Taya menoleh, matanya menatap Jean yang baru saja datang, dan sepertinya laki-laki itu belum sempat pergi ke kelasnya, terbukti dengan tas yang masih menempel pada punggung laki-laki itu.
Bukannya menghampiri Taya, Jean melangkah menuju ujung atap. Di sana tersedia sebuah meja brserta beberapa kursi yang memang sudah tidak terpakai dan di bawa anak-anak ke atap untuk duduk duduk santai.
__ADS_1
Jean menoleh ke arah Taya.Matanya memberi tahu, agar Taya segera duduk di hadapannya.
Dengan langkah cepat Taya berjalan dan duduk di hadapan Jean. Matanya tidak berhenti menatap Jean. Memastikan bahwa laki-laki itu tidak melupakan kejadian semalam. Namun, terlihat dari wajah laki-laki tu, sepertinya kejadian semalam bukan sesuatu yang wah, atau mungkin ungkapa itu bukan untuk dirinya?
"Sebuah kemajuan."
Mata Taya mengerjap, sepertinya ia terlalu lama menatap Jean. Mengalihkan matanya, Taya menatap meja di di bawahnya.
Terkekeh, laki-laki itu menertawakannya?
Taya memberanikan diri untuk kembali menatap Jean. Terlihat laki-laki itu tengah sibuk dengan tasnya, entah apa yang Jean cari.
Taya menatap sekilas wajah Jean, tampak datar, apakah tadi Taya sedang berhalusinasi?
"Lo belum makan, 'kan?"
Taya tidak menjawab, matanya menatap sebuah kotak bekal yang berada di atas meja, kemudian beralih menatap Jean yang juga sedang menatapnya intens.
"Gak gue racun, tenang aja," jawab Jean setelah keduanya saling menatap.
"Gue masih butuh lo," lanjutnya kemudian berdiri. Tangannya merongoh saku jaket mengambil sebuah rokok dan juga pematik.
"Abisin makan lo, gue mau ngerokok disana," ujar Jean menunjuk atap teratas, kemudian melangkah menjauhi Taya.
Taya menghela napasnya dan membuka kotak makan di depannya.
Menatap kotak makan di depannya, sudut bibirnya terangkat ke atas. Tampilannya sangat menarik dan menggugah selera, tapi ia cukup khawatir dengan rasanya.
Ting!
[Makanan itu untuk dimakan, bukan untuk diratapi.]
Taya mendongak menatap Jean dari bawah, kemudian tersenyum kecil.
Tangannya dengan cepat mengambil sebuah sendok dan menyicipi masakan tersebut.
Bibirnya berhenti mengunyah dengan wajah yang berusaha menahan ekspresi. Bibirnya ia kulum.
Tidak ada yang aneh dengan makanan yang di baawa Jean. Hanya saja, makanan ini sedikit kelebihan garam.
Ting.
__ADS_1
[Bukan gue yang buat makanannya, tapi Bir.]
Dan Taya hanya tersenyum setelah membaca satu pesan itu.