Never Let Me Go

Never Let Me Go
Bero's Girlfriend


__ADS_3

"Jangan sampai mobil gue lecet!" 


Bir menoleh, matanya menatap sang teman dengan datar, tidak memperdulikan ancaman yang Anggor ucapkan. 


"Lo denger gue gak?" 


Mengibaskan tangannya, Bir menaikkan kaca mobil dan mulai menyalakan mesin. Kepalanya menoleh menatap Taya yang tampak tidak nyaman dengan baju yang ia kenakan. 


"Lo ngapain sih?" ujar Bir menarik tangan Taya yang terus bertengger di dada perempuan itu. 


"Lo harus belajar jadi wanita hot mulai dari sekarang," ujar Bir mulai melajukan mobil milik Anggor, meninggalkan sang pemilik dengan wajah masam karena Bir tidak mendengar ancaman tadi.


"Ya?" 


Mata Bir manatap jalanan yang cukup ramai. Langit tampak cerah dengan bintang-bintang yang berkelip.


"Gue gak sabar," gumamnya yang masih bisa terdengar oleh Taya. 


Taya menjatuhkan tangannya ke paha, berhenti dari usahanya menutupi baju yang menampilkan lekuk tubuhnya. 


Kepalanya menoleh ke samping menatap gedung-gedung tinggi. Taya tidak menyukai malam hari, karena itu akan membuatnya sesak oleh gelepan. Namun berbeda untuk kali ini. Lampu-lampu jalanan tampak bersinar dengan terang. 


Selain itu dapat ia lihat juga beberapa orang membawa balon udara dengan warna yang indah, berlari dan tersenyum.


Apakah hari ini, ada sebuah perayaan atau semacamnya? 


"Bir," panggil Taya pelan. Matanya masih setia melihat indahnya jalanan di malam hari. 


"Hum?" gumam Bir sebagai jawaban. Perempuan itu melirik dari ekor matanya, memperhatikan apa yang Taya lakukan. 


"Apakah jalanan malam hari, memang seramai ini?" 


Taya menoleh menatap Bir dengan mata berbinar, dan tentu itu menjadi tanda tanya di otak Bir. Mata perempuan itu mengedar mencari letak dimana hal menyenangkan menurut Taya itu terjadi. 


"Ya, terkadang." 


Bir lupa jika Taya sangat jarang keluar pada malam hari, dan mungkin jika itu terjadi, Taya keluar bersama kakaknya, dan sudah di pastikan kakaknya itu mencari jalanan yang sepi untuk dilewati. 


Jangan heran, terkadang Bie juga merasa aneh.


"Lo seneng?" Bir bertanya, kepalanya menoleh sebentar hanya untuk melihat apa yang sedang Taya lakukan kemudian tersenyum lebar. 


"Di klub nanti kita akan lebih bersenang-senang." 


***


Taya menarik dress mininya, namun itu tentu sia-sia.


Matanya mengedar menatap parkiran mobil yang tampak ramai. Banyak sekali orang yang mengunjungi klub malam ini.


Bir keluar dari mobilnya, tatapan matanya berubah menjadi sedikit tajam. Menatap orang-orang yang berlalu-lalang di hadapannya dangan bosan.


Jika melihat respon Bir yang berbanding kebalik dari awal mengajak dirinya ke klub, tentu membuat Taya sedikit takut.

__ADS_1


Bir tidak akan melakukan hal aneh, 'kan?


Bir berjalan ke pintu masuk dan melewati Taya begitu saja, membuat tubuh Taya membeku. Matanya menatap punggung polos Bir yang terpangpang karena dress yang perempuan itu kenakan.


Apa ia ditinggalkan?


Taya menunduk menatap dress mininya itu dengan bimbang.


"Kenapa gak ngikutin gue?" bisikan dari telinga kanannya membuat Taya reflek menoleh. Dapat ia lihat Bir di sampingnya dengan mata yang menatap dirinya.


Bir menghela napas, kemudian mengenggam tangan Taya agar tidak hilang, atau tertinggal kembali.


"Lo gak pernah ke klub?"


Taya yang di beri pertanyaan seperti itu, bungkam. Tentu saja ia pernah namun tidak lama, hanya sekedar memeriksa Jean kemudian kembali lagi ke rumah.


Dan pada saat ia ke klub, klub tidak seramai malam ini.


Namun meski begitu, Taya tidak mungkin bukan mengangguk kepala. Jadi ia hanya diam saat ini.


"Jangan pergi kemana-mana, ikutin gue. Oke," bisik Bir kembali yang Taya jawab dengan anggukan.


Mendekati pintu masuk, mereka di hadang oleh seorang pria berbadan besar lengkap dengan atribut kerjanya yang serba hitam.


Tangan pria itu mengarah pada Bir.


Bir merongoh tas kecilnya, mengambil sebuah kartu dan memberikannya pada sang penjaga.


Namun tubuh Taya dihadang oleh sang penjaga membuat Taya reflek memberhentikan langkahnya. Taya mengangkat kepalanya menatap pria itu dengan risi.


"Bero's girlfriend!" ujar Bir menyingkirkan tangan sang penjaga yang hampir mengenai tubuh Taya.


Bir mendelik, ia menarik pelan tangan Taya agar berdiri sejajar dengannya.


"Inget kata gue tadi?" bisik Bir. Kini keduanya telah berada di dalam Klub.


Taya menoleh, ia semakin merapatkan tubuhnya pada Bir, membuat Bir tertawa kecil.


"Kalau ada yang nanya atau ngedeketin lo, cukup bilang lo milik Bero! Oke?"


"Bero siapa?" tanya Taya. Ia seperti pernah mendengar nama Bero sebelumnya.


"Jean." Ah, benar. Sebelumnya Taya mendengar Jean di panggil Bero oleh Navella dan kekasihnya.


Taya mengangguk sebagai jawaban, membuat senyum Bir semakin melebar.


"Ayo, gue bakal tunjukin hal yang menarik."


Tangan Bir menarik Taya menuju meja bar. Menghampiri seorang pria yang berdiri di balik meja.


"Josh," panggil Bir pada salah satu bartender yang sedang sibuk meracik minuman.


Menarik kursi, Bir menatap Taya menyuruh perempuan itu agar duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Oh, hai hot girl!" sapa sang bartender kepada Bir dengan kedipan mata.


Bir memutar bola matanya.


"Membutuhkan sesuatu?" Josh berjalan setelah menyelesaikan racikannya untuk seorang wanita di sampingnya itu.


Tangan Bir terangkat, menunjukkan bahwa ia membutuhkan dua gelas.


"Who's the pretty girl beside you?"


Bir tersenyum kecil. Dan Josh mengerti, pria itu mengangkat tangannya, dan membalas senyum Bir dengan anggukan.


"Let me guess."


Bir mengangkat satu alisnya, menunggu Josh melanjutkan perkataannya.


"Bero's girlfriend?"


Meski tidak menjawab Josh tau bahwa tebakannya itu benar. Matanya berbinar, dan mendekati tubuhnya pada Taya.


"Woah!"


"Why?" tanya Bir dengan datar. Ada nada tidak suka saat Josh bereaksi seperti itu di hadapan Taya.


"She looks so innocent."


Dan perkataan Josh tentu terdengar oleh Taya. Namun, perempuan itu mencoba tidak mempedulikannya dengan mengalihkan tatapannya pada sudut lain klub.


"See i told you."


Josh bergeser, menggerakkan tangannya, meminta agar Bir lebih mendekatkan wajahnya.


Menurut, Bir sedikit mengangkat tubuh atasnya.


"Apa Bero tau lo bawa pacarnya ke sini."


Bir terdiam, matanya menatap Josh dengan datar.


"Lo bilang kakak gue ada projek lain di luar klub," jawab Bir dengan pelan, tatapan matanya semakin tajam.


Jangan bilang Josh berbohong, batin Bir saat itu.


Josh menegakkan tubuhnya, matanya sekali lagi melirik ke arah Taya yang tampak berada di dalam dunianya sendiri.


"Jangan bilang lo bawa pacar kakak lo karena taruhan itu?"


Bir memundurkan tubuhnya, menoleh ia juga menatap Taya. Sudut bibirnya terangkat perlahan, sebelum kembali turun dan membentuk garis lurus.


"Don't **** this up."


Tatapan mata Bir beralih ke pintu masuk.


"Kapan mereka datang."

__ADS_1


__ADS_2