
Bir mengecek ponselnya beberapa kali dengan mata membara.
"Mungkin macet," timpal Anggor saat melihat ekspresi tidak bersahabat dari temannya itu.
Sama seperti Bir, Taya melakukan hal yang sama, menatap ponselnya tanpa henti. Taya takut jika Jean mengirimnya pesan atau menelponnya nada dering ponselnya tidak terdengar, seperti saat di dalam mobil tadi.
Saat ini mereka berada di kediaman Anggor. Entah apa yang akan mereka lakukan yang pasti itu tentang persiapan mereka ke klub.
Taya mendongak saat mendengar umpatan yang keluar dari bibir Bir. Perempuan itu berdiri dengan ponsel yang menempel di telinga kanannya.
Matanya memperhatikan punggung perempuan itu yang sedari tadi bergerak tidak tentu arah. Entah apa yang dibicarakan, yang pasti perempuan itu sedang memarahi seseorang. Tidak lama Bir keluar dari kamar menyisakan ia bersama Anggor berdua, hingga terjadi sebuah keheningan.
Mata taya melirik Anggor dari sudut matanya, dapat ia lihat perempuan itu menatapnya dengan intens.
Mengalihkan pandangannya kepada ponsel, tentu tatapan mata Anggor itu sedikit mengintimidasinya.
Hingga, terdengar suara tawa kecil, membuat Taya mau tak mau mengangkat kelapanya kembali, memastikan suara tawa itu keluar dari mulut Anggor.
"Lo kaku banget sih." Anggor, perempuan itu mendekat dan kini duduk di samping Taya dengan kepala yang perempuan itu sandarkan pada pinggir tempat tidur.
"Akan ada suatu hal yang menyenangkan terjadi."
Kepala Taya menoleh, matanya menatap Anggor dengan aneh. Dalam otaknya bertanya-tanya, apakah Anggor baru saja berbicara kepadanya?
"Percaya deh," ujar Anggor mengalihkan tatapannya ke atas, seolah sedang menerawang.
"Zodiak lo apa?"
Bibir Taya bungkam, ia tidak terlalu mengerti dengan pemikiran Anggor. Perempuan itu sama anehnya dengan Bir.
"Capricorn." Namun, pada akhirnya Taya tetap menjawab.
"Bukannya Jean juga Capricorn?" Anggor menegakkan tubuhnya, bergeser hingga kini berhadap dengan Taya.
"I- ya?"
Terlihat Anggor kembali pada posisi awalnya tadi, kemudian mengangguk pelan.
"Semoga beruntung."
"Kamu mempercayai hal semacam itu?" tanya Taya memberanikan diri, meski dengan suara pelan.
"Tidak juga. Tapi ya, terkadang. Haha."
Brak!
Pintu kamar terbuka, dengan Bir yang berada di depan pintu, tangan perempuan itu membawa sebuah tote bag putih dan menatap kedunya dengan mata menyipit penuh curiga.
Kakinya berjalan cepat ke arah keduanya dan duduk diantara Taya dan Anggor, dan itu membuat Taya dan Anggor mau tidak mau harus menggeser tempat duduknya.
"Lo apaan sih," ujar Anggor kesal karena acara bersantainya terganggu.
Tidak menghiraukan perkataan Anggor, Bir menolehkan kepalanya ke arah Taya.
__ADS_1
"Jangan pernah percaya apapun yang orang gila ini bicarakan!"
Taya mengerjap, tidak lama mengangguk.
"Padahal gue gak ngomong apa-apa," kilah Anggor. Perempuan itu berdiri dan kini duduk di kursi meja belajar, tidak ingin berdekatan dengan Bir.
Tidak menghiraukan itu Bir membawa tangannya mengambil sebuah kain yang berada di tote bag yang ia bawa.
"Liat dressnya baguskan," ujar Bir mengangkat dress di tangannya setinggi mungkin.
Taya menatap dress di depannya dengan lama. Ia ingin menolak namun lagi-lagi itu tidak ada gunanya. Mereka hanya akan mengunjungi klub untuk senang-senang, 'kan? kenapa seniat itu membawa dress mahal kepadanya.
Tidak bisa dipungkiri dress itu terlihat sangat indah. Namun, dress di depannya itu juga terlihat sedikit menampilkan belahan dadanya, dan itu tentu akan membuatnya tidak nyaman.
"Gimana?"
Taya berdehem pelan dan mengangguk. Ya setidaknya ini akan menjadi pertama dan juga terakhir kalinya ia memakai baju dengan belahan seperti itu.
Taya terdiam sesaat. Apa Jean tidak akan marah?
Taya mendongak matanya kembali menatap Bir yang sedang duduk bersila dengan tangan yang mengorek-ngorek tas besar di depannya yang entah Bir dapatkan dari mana.
Taya tenggelam dengan pikirannya sendiri, sebelum nada dering ponsel miliknya mengalihkan setiap atensinya. Tangannya dengan cepat mengambil ponsel itu.
Kelapanya mendongak menatap Anggor yang ternyata sedang menatapnya.
"Boleh aku pinjem balkon?" tanya Taya pelan menunjuk balkon kamar milik Anggor.
Setelah mendapat persetujuan Taya berdiri dan melangkah menuju balkon.
"Halo Jean?" ujar Taya setelah ia mengangkat panggilan dari Jean.
["Sedang apa?"]
Taya tersenyum kecil, sebuah pertanyaan basa-basi yang jarang Jean ucapkan.
"Tidak ada," jawab Taya seadanya dengan suara kecil. Ia takut kebahagiannya dapat terasa oleh laki-laki itu.
Terdengar helaan napas di seberang sana, membuat Taya terdiam.
["Inget perkataan gue tadi?"]
Taya mengangguk, meskipun ia tau Jean tidak mungkin dapat melihatnya.
["Apa?"]
"Jangan matikan ponsel?"
Jean berdehem pelan.
["Jika terjadi sesuatu langsung terlpon gue."]
"Oke," cicit Taya. Sungguh ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
__ADS_1
"Jean," panggil Taya pelan.
["Hum?"]
Taya mengulum bibirnya dan menunduk.
"Apa kamu khawatir?" tanya Taya sangat pelan. Namun begitu, ia yakin jika Jean dapat mendengar suaranya saat ini.
["Ya."]
Dan sungguh, jawaban yang Jean berikan sukses membuat isi perut Taya beterbangan. Bibir bawahnya ia gigit pelan. Ah, ternyata semenyenangkan ini.
Diseberang sana Jean berdehem.
["Mana Bir?"] tanya Jean seolah mengalihkan pembicaraan.
Taya mendongakkan kepalanya, tubuhnya ia putar guna melihat apa yang sedang Bir lakukan. Dan betapa terkejutnya saat ia melihat Bir berada tepat di hadapannya, meski terhalang sebuah kaca.
Perempuan itu tersenyum kecil dengan mata yang berbinar, membuat Taya bertanya-tanya. Apakah Bir mendengar percakapannya?
"Ada, kamu ingin berbicara dengan Bir?" tanya Taya dengan kepala menunduk. Ia malu memikirkan jika Bir benar-benar mendengar percakapannya dengan Jean.
["Ya, berikan ponselnya."]
"Hem." Taya melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam kamar, melangkah menuju tempat dimana Bir berdiri.
Ponselnnya ia berikan kepada Bir setelah itu melangkah kembali ke tempatnya duduk terakhir kali. Memberi ruang untuk kakak beradik tersebut.
"Kan gue bilang apa," ujar Anggor berajalan dari pintu kamar, sepertinya perempuan itu baru saja mengambil sebuah cemilan.
Taya tersenyum sebagai respon, begitu juga dengan Anggor. Perempuan itu melangkah dan duduk di samping Taya.
"Kita udah jadi temen, 'kan?" tanya Anggor mengambil sebuah cemilan dari tangannya dan memasukkannya kedalam mulut.
Mata Taya mengerjap tidak mengerti.
"Ya?"
"Kita udah saling lempar senyum, berarti kita temenan dong," ujar Anggor dengan mata berbinar.
"Begitu ya?"
Pertanyaan Taya sukses membuat Anggor terdiam. Untuk menjadi teman memangnya harus bagaimana?
Meski masih di landa kebingungan, Anggor tetap mengangguk. Tangannya terangkat mencoba bersalaman.
Taya, perempuan itu menatap tangan Anggor yang berada di depannya dan tersenyum. Menjabat tangan itu dengan lembut.
Apakah pertemanan yang Anggor maksud sama dengan pertemanan yang sering ia tonton lewat ponselnya. Tentang seseorang yang dapat berpergian bersama ke tempat bermain, menikmati jajanan di pinggir jalan pada malam atau hal lainnya?
Entah lah. Meski begitu, Taya cukup senang karena ada orang yang secara terang-terangan mengajaknya berteman.
"Sedang apa kalian? Ayo bersiap diri!"
__ADS_1