
Suasana di mobil tampak hening.
Bir, perempuan itu duduk di belakang, menatap ke dua orang di depannya dengan mata meneliti.
Dagunya ia simpan di tangan dengan kaki yang saling menindih.
"Apa gue buat spanduk yang besar supaya tuh soang satu berhenti nyosor Taya," ujar Bir memberi solusi di dalam heningnya mobil.
"Taya lebih tua dari lo panggil dia kakak," ujar Jean menimpali ke abstrakan adiknya itu.
"Kita seangkatan, apa kata dunia gue panggil dia kakak?" Tunjuk Bir ke arah Taya. Matanya memutar malas saat mendengar penuturan dari kakaknya itu.
Jean melirik tangan yang menunjuk Taya itu dengan tajam.
"Lo dua tahun lebih muda dari Taya."
Bir menjentikkan tangannya, punggungnya ia sandarkan pada kursi mobil.
"Big no!" jawab Bir dengan penuh penekanan, matanya menatap Jean dari kaca mobil. Menolak mentah mentah.
Taya yang mendengar perdebatan keduanya hanya bisa diam dengan mata menatap luar jendela. Angin berhembus cukup kencang hingga menjatuhkan beberapa dedaunan dari pohon.
"Dan, oh! bang besok Taya balik bareng gue. Kan kita mau maen, oke! Tenang jam sebelas kita udah balik kok," ujar Bir membuka ponselnya. Tangannya mengambil sebuah earphone guna menghilangkan keheningan yang ada.
Jika menyuruh sang kakak untuk menyalakan musik pasti akan di tolak. Kakaknya itu pencinta keheningan.
"Jam setengah sembilan udah dirumah."
Gerak tangan Bir terhenti, ia menoleh ke arah Jean dengan pandangan mata datar. Bagaimana bisa mereka pulang pukul segitu, klub bahkan baru akan ramai. Menghembuskan napasnya kasar dan kembali menggerakkan tangannya.
Ia tidak peduli jika Jean menyuruhnya pulang di lebih awal. Bir akan tetap dengan jadwalnya, pulang dijam sebelas malam.
"Hei, jangan lupa! gue mau ke kedai eskrim dulu!"
Bir mengangkat sedikit bokongnya, tangannya bertumpu pada kedua kursi yang berada di depannya.
"Lihatlah jalanan!" perintah Jean tanpa mau melirik ke arah adiknya itu.
"Gue bakal bunuh lo Bang!"
***
Pukul menunjukkan pukul sebelas malam. Apartemen Jean kini tampak sepi. Taya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang menatap Maran sang adik yang sudah tertidur. Matanya beralih menatap ke samping yang tampak kosong. Satu jam lalu Jean membaringkan dirinya di sana menemani Maran mendengarkan dongeng yang ia bacakan.
Namun, laki-laki itu tiba-tiba berdiri saat menerima telepon yang entah dari siapa, dan pergi begitu saja.
Taya menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Maran. Kakinya ia jatuhkan ke sisi tempat tidur, melangkah menuju pintu. Tenggorokannya terasa kering saat ini dan ia membutuhkan air secepatnya.
__ADS_1
Saat membuka pintu Taya di suguhkan dengan Bir yang sedang bermain ponsel. Ia merebahkan tubuhnya di sofa dengan kaki yang mengarah ke atas dan kepala yang menggantung. Jika di lihat posisi seperti itu akan membuat siapa saja ngilu. Namun sepertinya Bir tidak merasakan hal itu. Perempuan itu tampak tenang dengan tangan beberapa kali mengambil snak yang berada di sampingnya.
"Kamu gak pulang?" tanya Taya melangkahkan kakinya melewati Bir menuju meja pantry.
Bir mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"Tidak, terlalu berisik berada di rumah," jawab Bir. Perempuan itu bangun dari acara rebahannya. Kakinya melangkah mendekati Taya yang kini sedang duduk di kursi pantry.
"Besok, sebelum berangkat kita ke salon dulu, okey!" ujar Bir dengan mata berbinar.
"Untuk?"
"Mempercantik diri lah!" jawab Bir.
"Huh, gue gak bisa tidur karena gak sabar sama hari esok," ujar Bir sambil tersenyum.
"Masuk sekolah bisa di skip aja gak sih?" tanya Bir entah pada siapa. Perempuan itu meletakkan dagunya pada telapak tangan.
Mata yang awalnya menatap Taya intens beralih, menatap pintu rahasia milik kakaknya.
Seumur hidupnya Bir tidak mengetahui barang apa yang ada di balik pintu itu, atau apa yang disembunyikan kakaknya disana. Pintu dengan nama Emerland's Room itu sungguh membuatnya penasaran.
Namun, ia juga tidak berani untuk mendobraknya. Nyawa bisa menjadi taruhannya.
"Taya," panggil Bir pelan.
Taya menoleh, ia mengikuti arah pandang Bir dan berdehem pelan.
"Lo pernah ke sana belum?" tanya Bir menunjuk pintu rahasia itu dengan dagunya.
Taya terdiam sejenak dan menggeleng pelan. Dalam hati ia berucap maaf beberapa kali karena telah berbohong kepada Bir.
"Ck, gak asik," ujar Bir dengan lemah menyandarkan kepalanya pada meja.
Suara tombol pin si tekan mengalihkan keduanya.
Ceklek
"Kenapa belum tidur?"
"Gue gak ngantuk," jawab Bie tanpa ingin melihat Jean.
"Gue gak nanya sama lo," jawab Jean. Laki-laki itu melangkahkan kakinya mendekati keduanya atau lebih tepatnya ia ingin membawa kembali Taya kembali ke kamar.
"Ayo," ajak Jean menarik tangan Taya cukup kencang hingga hampir membuat perempuan itu oleng.
"Santai Pak, buru-buru banget. Mau kisse-kisse ya- Eh anjir lo minum!" teriak Bir saat dapat cium bau alkohol dari tubuh kakaknya itu.
__ADS_1
"Berisik lo, pulang sana!"
"Heh lo tega biarin adik lo pulang malem-malem gini!"
"Gue gak peduli!"
Bie memutarkan bola matanya saat mendengar perkataan Jean. Tangannya ia lambaikan dengan pelan.
"Ya lo cuma peduli sama Taya. Heh jangan macem-macem ya lo berdua! Belom sah, belom kelar juga sekolah!" Perkataan Bir tak Jean hiraukan. Bagaikan burung yang berkicau ribut di pagi hari, Jean tidak peduli.
Jean membuka pintu kamar dengan kasar. Melepaskan genggaman tangannya pada lengan Taya, laki-laki itu melangkahkan menghampiri Maran dan mengangkat pelan.
Melewati Taya Jean melangkah keluar.
"Heh? Maran mau di kemanain?" tanya Bir saat melihat kakanya itu keluar kamar dengan Maran yang berada dalam gendongannya.
Dapat Bir liat juga Taya yang berdiri di depan pintu dengan wajah kebingungan.
"Maran tidur sama lo," jawab Jean. Laki-laki baru saja dari kamar di samping kamar laki-lali itu.
"Ya-"
Brak!
Bir menatap pintu kamar itu dengan datar. Dengan perlahan tangan Bir terangkat, perempuan itu mengacungkan jadi tengahnya kepada pintu yang telah tertutup.
Setelah menutup pintu dengan kasar, Jean langsung menghamburkan tubuhnya pada pelukan Taya dengan erat.
"Em, kamu mabuk?" tanya Tanya pelan. Tangannya ia angkat untuk mengusap punggung laki-laki yang berada di pelukannya.
"Enggak."
"Ah, maksudku, kamu minum?" tanya Taya kembali. Bukannya menjawab laki-laki itu malah mengangkat Tubun Taya.
Kakinya berjalan mundur dan menjatuhkan tubuhnya pada kasur.
Dari tempatnya berbaring Taya dapat melihat betapa menawannya Jean dari bawah.
"Em, ada masalah?" tanya Taya sedikit takut. Pasalnya Jean tidak menyukai jika seseorang mengusik hidupnya.
Jean tidak menjawab, laki-laki itu menjatuhkan kepalanya pada pundak Taya dan mengecupnya beberapa kali.
"Jean," panggil Taya lemah.
Laki-laki itu beralih, kepalanya terangkat dan mengecup singkat bibir Taya, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Taya.
Taya bingung, bau alkohol dan asap rokok menjadi satu. Selama satu jam diluar tadi apa yang sebenarnya laki-laki ini lakukan.
__ADS_1
Satu jam bukan waktu yang lama untuk bersantai dengan minuman beralkohol dan juga mengisap satu batang nikotin.
"Gue cuma butuh pelukan lo."