Never Let Me Go

Never Let Me Go
Jean as Bero


__ADS_3

"Itu tidak mungkin Bir, kakakmu tidak mempunyai ketertarikan dengan perempuan."


Taya menoleh, ia menatap wanita berbaju hitam itu dengan aneh. Apa ia tidak salah dengar saat wanita itu bilang Jean tidak tertarik kepada perempuan?


"Mata lo buta?" sindir Bir dengan datar.


"Oh liatlah!" Wanita berbaju merah tertawa, punggung wanita itu bersandar pada sofa, menikmati setiap ekspresi yang Bir tampilkan.


"Tenang kawan," seorang wanita lain berjalan dari arah pintu masuk dengan memakai dress berwarna silver serta sebuah mahkota kecil di atas kepalanya.


"Acara puncak akan segera di mulai," ujarnya mendekat ke arah Taya.


"Aku mempercayaimu Bir," ujar wanita tersebut mengambil gelas yang berada di tangan Bir dan menegaknya hingga habis.


Mata wanita itu beralih menatap Taya dengan senyum kecil.


"Benarkah, haruskah aku juga percaya?" Seorang wanita lain menimpali.


Keberadaan mereka disini persis seperti dua anak ayam yang terkurung di rumah kucing. Dan ya Bir adalah anak ayam yang bar-bar, hingga tidak menunjukkan rasa takutnya sama sekali.


"Kamu begitu serius dengan taruhannya, sayang," ujar wanita berpakaian silver itu kembali berjalan ke arah meja bartender.


"Tidak ingin keluar?"


Bir mendongak, sedangkan Taya. Perempuan itu mencari ponselnya. Dahinya berkerut, ia rasa tadi masih memegang ponselnya dengan erat. Namun mengapa sekarang tidak ada.


"Kakakmu, aku seperti melihatnya tadi."


"What?"


"Aku mengundangnya, ada banyak pria membutuhkan jasanya." Dapat Bir liat wanita itu tersenyum miring.


"Jangan membuat kalimat dengan arti bercabang, brengsek!" ujar Bir dengan kesal, namun ia mencoba mengontrol emosinya. Dan apa tadi? Kakaknya? Disini?


"What the ****!" jerit Bir.


Tubuhnya berdiri, membuat Taya yang sedari tadi sedang mencari ponselnya mendongak. Menatap Bir dengan penasaran sekaligus cemas karena ponselnya yang tidak kunjung ia temukan.


"Huh? Kenapa begitu kaget? Apa kamu takut jika Bero tidak mengenali pacarnya?" ujar wanita itu dengan menekan kata; pacarnya.


Bir mendelik, tentu bukan karena itu alasannya.


"Oh mungkin? Karena perempuan lugu ini hanya sewaan." Dan gelak tawa terdengar.


Bir memejamkan matanya. Oh, benar-benar melelahkan.


Bir menoleh ke samping, matanya menatap Taya yang tampak sedang mencari sesuatu.


Tidak mempedulikan itu, Bir menoleh kembali ke depan, menatap wanita berpakaian silver itu dengan tajam.


"Kamu sudah berusaha Bir, tapi fakta bahwa kakakmu tidak menyukai perempuan tidak bisa di bantah bukan. Akui saja, jadi apakah perempuan itu- telah bisa disewa kembali."


Bir mengambil botol di depannya dan melemparkannya ke arah tembok, persis samping perempuan itu.


"YAK!" 


Brak!

__ADS_1


"What the **** is going on here!"


***


"Jadi benar dia pacarnya Bero?"


Bir menegak minumannya, kepalanya berputar, mengingat bagaimana sang kakak muncul di belakang tubuh Navella.


Kakaknya itu hanya menatapnya sekilas dan kemudian menarik tangan Taya untuk mengikutinya, meninggalkan Bir serta para wanita haus belaian dengan mulut menganga.


Navella orang yang tiba-tiba datang itu kini duduk di sampingnya. Melirik Bir yang tampak was-was dan ia mengerti mengapa.


Perempuan itu pasti takut karena telah membawa pacar lugu Bero ke tempat penuh dosa seperti ini.


"Josh, i'll kill you," gumam Bir penuh penekanan.


Navella terkekeh, ia mendongak menatap teman-temannya yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Ya, aku sempat bertemu dengannya kemarin. Jadi, berhenti membuat Bir marah. Perempuan lugu itu benar-benar pacar Bero" ujar Navella mengusap kepala Bir.


"Ah, ku masih tidak mempercayai ini."


***


Tangan Taya di seret cukup keras, ia mendongak menatap punggung tegap Jean yang di lapisi oleh jaket kulit hitam.


Tangannya tiba-tiba di tarik lebih kencang, dan dapat ia rasakan punggungnya membentur dinding di belakangnya.


Apa Jean marah? pikir Taya saat itu. Tapi untuk apa?


"Lo gak bilang Bir bakal bawa lo kesini?" Meski dengan suara yang cukup normal, Taya tau Jean sedang menumpuk seluruh emosinya yang berada di kepala.


Taya mengulum bibirnya sebelum kembali membuka mulut.


"Maran?" Sebuah kata yang berbanding terbalik. Namun saat melihat Jean di depannya fokusnya memang hanya kepada Maran.


Dengan siapa sang adik kini berada, jika Jean saja kini tidak bersama Maran.


Terlihat Jean memejamkan matanya sejenak sebelum tangan yang berada di kedua bahu Taya kini laki-laki itu lepaskan.


"Apa lo minum?" tanya Jean dengan tubuh tegak. Laki-laki itu menatap Taya tajam meminta jawaban sesegera mungkin.


Taya menggeleng, "Tidak."


"Bir?" Taya terdiam sejenak sebelum ia kembali menggelengkan kepalanya.


"Ponsel lo?"


Taya terdiam sejenak, ia menunduk dan kembali mendongak. Lagi-lagi kepalanya menggeleng. Ia pun tidak tau dimana ponselnya itu berada saat ini.


Terdengar hembusan napas dari belah bibir Jean. Laki-laki itu menjatuhkan kepalanya ke pundak Taya membuat tubuh Taya menegang.


Sebenarnya ada apa dengan laki-laki di hadapannya ini? Tidak bisanya Jean seperti sekarang.


"Jean?" panggil Taya pelan, dan dapat ia rasakan juga hembusan napas hangat Jean pada lehernya.


Taya menggigit bibir bawahnya, tanganya ia kepal meremas dress miliknya erat.

__ADS_1


Jean bergumam, dan Taya tidak dapat mendengar apa yang laki-laki itu katakan. Sangat pelan namun penuh penekanan.


"Ingin melihat hal menarik?"


***


Cekrek!


Cekrek!


Cekrek!


Silauan cahaya terjadi berulang kali.


Sebuah ruangan yang cukup luas kini Taya berada, ia tida sendiri.


Di depannya terdapat Jean dan dua orang lainnya.


Taya mengeratkan genggamannya pada dress. Seharusnya ia tidak berada di sini.


Bagaimana bisa ia menonton orang yang sedang memotret tindakan tidak senonoh di depannya.


Suara napas saling beradu terdengar, rintihan serta jeritan mengudara, membuat telinga Taya tidak nyaman.


"Huh, ya .. fas-"


Bisakah Taya pulang saja?


Taya tau Jean laki-laki paling gila yang ia temui sepanjang hidupnya. Namun, di luar dugaan laki-laki itu membawanya pada kegilaan lainnya.


Menyaksikan bagaimana laki-laki itu memotret pasangan muda sedang melakukan aktivitas duniawi mereka.


Taya mengalihkan pandangannya ke samping, enggan melihat lebih jauh apa yang ketiga orang di depannya itu lakukan.


"Bero," seorang wanita yang manjadi model potret Jean memanggil.


"Your girlfriend?"


Jean menoleh kebelakang, dapat laki-laki itu lihat Taya yang mengalihkan perhatiannya kepada hal lain.


Kembali menoleh ke depan, Jean mengangkat Kameranya kembali memotret pasangan muda itu.


"Huh, stop Richard."


"Why?"


Wanita itu menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.


"Oh Bero ku tidak menyangka kamu mempunyai pacar selugu itu."


Jean terdiam, kameranya ia turunkan menatap wanita di depannya dengan satu alis terangkat.


Entah sebuah sindiran atau pujian, namun Taya dapat mendengarnya dengan jelas.


"Kamu mau ini berakhir?"


Wanita itu terkekeh dan menatap Taya dengan senang, menghiraukan suara yang wanita itu dengar tadi.

__ADS_1


"Hei love, kamu sungguh beruntung mendapatkannya."


__ADS_2