
Taya berjongkok, mengambil pasir dengan genggaman tangannya. Ia tidak memperdulikan lagi keberadaan Jean.
Yang pasti saat ini, ia akan menikmati waktunya seorang diri.
Ia ingin membuat istana pasir, tapi kemampuannya sangat nol. Beberapa kilatan cahaya terlihat. Ia tau, namun ia mencoba terbiasa dengan hobi baru laki-lakinya itu.
Kepalanya menoleh dan betapa kagetnya saat melihat Jean telah berada di sampingnya. Laki-laki itu berjongkok dengan tangan menyentuh pasir.
"Apa menyenangkan?" tanya Jean tanpa mengalihkan tatapan dari pasir dihadapannya itu
Taya mengangguk, sebagai jawaban. Jean yang berada di sampingnya itu sukses membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Mau buat apa?" tanya Jean kembali. Terlihat laki-laki tersebut kali ini menatap Taya dengan intens.
"Istana pasir?" Taya menjawab dengan ragu. Ya, ia ragu karena ia tidak bisa membuatnya. Sangat menyedihkan bukan?
Terdengar suara tawa pelan membuat Taya yang awalnya sudah kembali fokus dengan pasir-pasir miliknya kini teralihkan. Kepalanya terangkat menatap Jean dengan mata bulatnya.
"Lo bisa buat gak?"
Taya terdiam kemudian menggeleng. Membuat Jean bergeser menjadi lebih dekat. Alih-alih mengambil pasir yang berada di dekatnya. Laki-laki itu lebih memilih mengambil milik Taya yang sudah Taya kumpulkan susah payah.
"Begini."
Taya mundur, tanganya ia simpan di atas lutut memperhatikan setiap gerak yang Jean lakukan. Laki-laki itu akan selalu menawan dimatanya. Ya, meski ia tau hanya di jadikan objek bagi laki-laki tersebut.
Dan meski ia juga tidak begitu mengerti dengan segala sikap Jean yang cendrung mengabaikannya. Namun terkadang memperhatikannya.
"Sampai kapan lo mau liatin gue kayak gitu?"
Mata Taya mengerjap, ia menggeleng pelan dan menunduk, tanpa mau menjawab.
Langit gelap di atasnya dihiasi bintang yang membuatnya terlihat indah. Dan air pantai sesekali mengenai kakinya.
"Liat." Jean menoleh, ia memundurkan tubuhnya. Memperlihatkan hasil yang telah ia buat. Tidak terlau bagus namun tidak buruk juga.
Mata Taya berbinar saat melihat Jean telah berhasil membuat satu istana pasir yang sering ia lihat.
"Wah, kamu bisa buatnya?" tanya Taya menggeser tubuhnya lebih dekat.
Tidak menghiraukan pertanyaan Taya. Laki-laki itu berdiri. Menepuk-nepuk tanganya, dan mengambil kamera yang terkalung di lehernya.
Tangannya bergerak memerintah agar Taya lebih dekat dengan istana pasir yang ia buat.
Kilatan cahaya kembali terlihat.
Taya menoleh ke arah istana pasir dan tersenyum manis.
Mengecek hasil gambarnya, Jean tersenyum tipis, dan itu dapat Taya lihat dengan jelas.
Apa Jean tersenyum karena melihatnya atau hal lain? Biarkan Taya mengira itu karenanya.
"Lo cantik pake baju kayak gitu." Perkataan Jean yang tiba-tiba tersebut membuat Taya tersentak pelan.
__ADS_1
"Tapi gue gak suka milik gue jadi tontonan orang lain. Gue udah pernah bilang? Atau belum?" ujar Jean masih dengan mata yang fokus dengan kamera di tangannya.
Taya terdiam ia sedang mencerna perkataan laki-laki itu. Ia mengikuti ekstrakurikuler renang dan tentu cendrung memakai pakaian yang cukup memperlihatkan bagian tubuhnya.
"Belahan dada lo."
Taya reflek menarik kedua ujung jaketnya. Matanya mengerjap.
Ah, memang dress-nya ini sangat terbuka. Taya mengerti maksud laki-laki tersebut.
"Kenapa gak lo tarik resletingnya?"
Taya menunduk. Sebenernya ia ingin, tapi ia sedikit kesusahan. Jadi ia membiarkannya begitu saja.
"Kalau gak bisa, lo bisa minta tolong," ujar Jean. Laki-laki itu melangkah mendekati Taya.
Kepalanya menunduk menarik resleting jaket perempuan itu sampai leher.
"Atau lo emang suka orang lain liat?"
Taya menggeleng dengan cepat. Tentu saja tidak, ia benar-benar tidak ada pernah berpikir untuk melakukan itu. Bagaimana bisa? Selama ini ia hanya memikirkan bagaimana tidak jatuh kepada laki-laki dihadapannya. Meski semua sia-sia karena nyatanya ia tetap kembali jatuh.
Jean menghembuskan napasnya. Terlihat sekali laki-laki dihadapannya menahan tekanan.
Jadi apa yang membuat Jean seperti itu. Itu bukan karena dress-nya, 'kan? Itu sangat tidak mungkin.
"Lo buat gue gila." Sudah berapa kali Jean mengucapkan ini?
Mereka saling berhadapan. Jean menjatuhkan kameranya. Tangan laki-laki itu merambat menyentuh pipi Taya pelan. Memberi getaran yang menyenangkan bagi Taya.
Mata Taya turun menatap tangan Jean yang menyentuh pipinya. Usapan lembut ibu jari laki-laki itu terasa begitu hangat dan penuh. Bisakah Taya berharap?
Taya mencoba menahan senyumnya. Segala atensi yang Jean berikan terasa seperti hanya sebuah fantasi baginya.
Taya tersentak saat Jean menarik pipinya hingga dahi mereka saling bersentuhan. Mata perempuan itu mengerjap. Tatapan yang Jean berikan sungguh membuat kerja otaknya sedikit lambat.
"Jean," lirih Taya. Perempuan itu memegang erat ujung jaketnya. Menyalurkan rasa gugup yang ia punya saat ini.
"Hem?"
Sungguh ingin rasanya Taya berteriak sekencang mungkin. Jean terlihat sangat-sangat berbeda!
Taya mengulum bibirnya.
"Can i?"
***
"Job yang menyenangkan?"
Seorang laki-laki berdiri di sebuah jembatan dengan tangan memegang sebuah kamera.
Di bajunya terdapat sebuah pin dengan bentuk setengah sayap. Terlihat elegan dan berkelas.
__ADS_1
"Go f*** yourself," umpat pemilik pin setengah sayap tersebut. Matanya tengah fokus dengan objek yang berada di depannya.
Terdengar suara tawa yang cukup keras. Seorang laki-laki lainnya. Bersandar pada pembatas jembatan dengan kedua tangan menyilang di depan dada.
Laki-laki itu menepuk dadanya berkali-kali merasa tersakiti dengan ekspresi merengek.
"Oh, itu menyakitkan," ujarnya.
Laki-laki pemilik pin setengah sayap itu menurunkan kameranya. Matanya menatap tajam laki-laki yang menjadi partnernya itu.
"Sebuah malapetaka," ujarnya memberi tahu bahwa menjadikan mereka berdua partner kerja bukanlah ide yang bagus.
Dan sebuah tawa kembali terdengar.
"Hei! Harusnya lo bangga kita jadi partner. Tanpa gue lo gak bakal tau kemana mereka akan pergi. Keluarga Brivtarico pintar menutup akses. Tapi, gue lebih pintar tentunya."
Terdengar dengusan tidak setuju.
"Dan buat apa kita ngikutin mereka? Mereka tidak terlihat berbahaya?"
"Apa kamu bodoh? Kamu pikir tua bangka gila itu akan menugaskan kita pada hal yang sia-sia?"
"Oh! Konglomerat boy!"
Laki-laki itu menutup mulutnya dengan satu tangan lainnya terulur menggerakkan tangannya keatas kebawah dengan cepat.
"Berhenti bercanda!"
"Oke."
"Jadi apa sekarang?" tanya laki-laki itu menegakkan tubuhnya. Kakinya melangkah mendekati sang partner. Mencoba mengintip hasil jepretan yang berhasil laki-laki yang memiliki kesabaran setipis tisu itu dengan penasaran.
"Kembali."
"Heh? Kembali?" Laki-laki itu menegakkan tubuhnya. Matanya menatap laki-laki di sampingnya dengan heran.
"Apa yang mau kamu lakukan lagi? Menonton orang yang sedang berciuman?" sarkasnya.
Laki-laki dengan pin setengah sayap itu menurunkan kameranya. Hendak pergi dari sana.
"Apa itu ngebuat lo, berdiri?" Goda partner itu dengan gerakan alis naik-turun.
"You got dirty mind." Membuka pintu mobil, membiarkan laki-laki itu dengan segala pikiran anehnya.
"Yeah, it's me."
"Jika kamu masih ingin berasa di sini, terserah. Aku akan kembali." Laki-laki dengan pin setengah sayap itu menurunkan kaca mobilnya. Menatap sang partner dengan datar.
"Hoi! Hoi! Masa gue dibiarin nonton sendiri. Yodah, yok pulang."
"Perhatikan apa yang kamu ucapkan. Grey!" Laki-laki bernama grey itu tersenyum manis. Kakinya melangkah, membuka pintu mobil.
"Gue gak biasa sama perhatian jadi gini. Hahahaha."
__ADS_1