
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Bir memasuki kamar Taya dengan tidak tau malu. Perempuan itu duduk di samping Taya dengan membawa cemilan di tangannya.
"Ah tidak ada," jawab Taya pelan. Namun jawaban itu tidak membuat Bir puas. Setelah Taya di seret kakaknya waktu di klub, Bir hanya berdiam diri sebentar kemudian pergi dan kembali ke apartemen sang kakak. Ia muak menghadapi para nenek sihir yang selalu mengolok-oloknya.
Bir pikir Taya tidak akan kembali ke apartemen sang kakak. Namun ternyata setelah lewat tengah malam sang kakak pulang dengan Taya yang berada di belakangnya. Menunduk dengan wajah yang memerah.
"Ya! Lo gak bisa ngebohongin gue, ya! Gue tau pasti ada apa-apa!"
Bir menyimpan cemilannya di atas meja nakas. Menarik wajah Taya agar melihat matanya. Menangkup pipi Taya lembut.
Mata Bir meneliti setiap jengkal wajah calon kakak iparnya itu, dan berakhir di bibir Taya.
Bir melepaskan tangannya, tersenyum kecil menggoda Taya, dan mengambil kembali cemilannya.
"Gue tau, gue tau," ujar Bir berdiri. Kakinya melangkah menuju sofa dan duduk dengan nyaman di sana. Tidak melepaskan tatapannya, mata Bir terus menatap Taya.
"Gimana rasanya?" tanya Bir tersenyum lebar.
"Iya?" tanya Taya dengan heran, dan jawaban spontan yang Taya berikan mengundang gelak tawa bagi Bir.
"Hum, bagaimana rasa bibir abang?" ulang Bir kembali. Sungguh Bir tidak bisa menahan senyumannya. Ini sangat menyenangkan.
Blush!
Wajah Taya kembali memerah, dan Bir tau tebakannya benar dan tidak akan pernah meleset.
Bir yakin, seribu yakin. Kakaknya telah jatuh cinta pada Taya. Kakaknya tidak bisa mengelak! Lihat saja, ia telah menyiapkan banyak kalimat ledekan untuk sang kakak karena telah meminum ludahnya sendiri.
"Ah! hari yang menyenangkan!" teriak Bir merebahkan tubuhnya di sofa. Tidak apa ia menjadi bahan olok-olokan oleh para nenek sihir di klub tadi, jika akhirnya akan seperti ini. Bir benar-benar rela.
"Tanggal berapa sekarang? gue bakal catet, dan menetapkan sebagai tanggal, bulan, dan tahun paling waw!"
Taya menatap Bir dari tempatnya. Ia merasa aneh dengan tingkah Bir, sekaligus malu karena wajahnya yang memerah saat pertanyaan itu keluar dari mulut Bir tanpa hambatan, dan ia bingung, mengapa Bir bisa sebahagia itu.
"AH!"
Taya mengerjap, ia sempat melamun tadi.
"Nanti kalau kalian nikah harus gue yang milih baju pengantinnya? gak mau tau sih harus gue! Pilih cincin gue ikut! Nanti yang nentuin tema acara gue, harus gue!"
Kenapa Bir selalu memikirkan hal yang mustahil?
***
Taya membuka lemari bajunya, hari ini hari minggu, dan ia sudah berjanji akan mengikuti kumpulan yang Hisel perintahkan.
__ADS_1
Taya menoleh kesamping menatap Bir yang masih terlelap dengan boneka rubah raksasa di dekapannya.
Setelah tadi malam terus menggodanya dengan berbagai pertanyaan dan rencana aneh, Bir memutuskan untuk tidur bersama Taya. Dengan maksud ingin terus menggoda Taya, dan ia hanya menanggapi setiap godaan Bir dengan tersenyum tipis malu.
Taya menghembuskan napasnya pelan. Menatap Bir yang tertidur begitu nyenyak. Ia tidak tega jiga harus membangunkan Bir. Namun, ia yakin Hisel juga akan mengajak Bir dalam kumpul ekskul itu.
Setelah mengambil sebuah kaos dan celana, Taya melangkah mendekati ranjang, duduk di tepi ranjang dengan tangan terulur menyentuh pelan bahu Bir.
"Pergilah aku sudah bangun."
Taya menautkan alisnya. Nada bicara Bir terasa berbeda di telinganya. Menarik kembali tangannya.
"Kamu ikut kumpulan juga, 'kan?" tanya Taya dengan suara lembut.
Dan dengan tiba-tiba Bir bangun dengan cepat, membalikkan tubuhnya menatap Taya dengan mata melebar.
"Ada apa?" Mata iu mengerjap, seolah sedang mencerna sesuatu.
"Bir?"
"Ah benar." gumam Bir yang masih terdengar oleh Taya.
"Apa yang benar?" tanya Taya bingung. Sepertinya Bir masih belum mengumpulkan nyawanya dengan baik.
Terlihat Bir mengusap lehernya pelan, kemudian menggeleng.
"Pukul sembi-" ucapan Taya terhenti saat mendengar pintu kamarnya di buka, memperlihatkan Jean dengan kaos abunya.
"Mau kemana?"
"Kepo lo Bang!"
"Gue gak nanya sama lo."
Taya menggeleng pelan dan melangkah mendekati Jean.
"Aku ada kumpulan ekskul nanti jam sepuluh. Gak papa?" tanya Taya hati-hati. Ia lupa belum meminta ijin pada laki-laki itu.
Belum sempat Jean membuka suara, Bir dengan anggunnya melewati keduanya dan memegang tangan Jean agar ikut bersamanya.
"Dah lah pasti boleh," ujar Bir membawa Jean.
Taya mematung dengan mata yang tidak lepas dari punggung keduanya. Menghembuskan napasnya dan menutup pintu untuk segera mengganti pakaian.
***
__ADS_1
"Lo gue pindahin ke sekolah asrama."
Bir memberhentikan langkahnya. Matanya menatap sang kakak dengan tajam.
"Gak ya, enak aja. Siapa yang mau nemenin Taya di ekskul kalau gue pindah? Hayo hayo! Jangan bego deh, banyak yang iri sama dia. Jadi, lo gak bisa buang gue," ujar Bir diakhiri dengan lidah yang menjulur.
"Gue bisa."
"Jangan ngada-ngada deh. Nanti kita bakal ada latihan gabungan. Nah siapa yang bakal jaga Taya dari para laki-laki hidung zebra? Udah lah Bang. Gue kan, udah minta maaf nih, maaf-maaf. Udah ya. Please," ujar Bir membujuk kakaknya itu. Ia tidak tau idenya membawa Taya ke klub membuatnya harus terancam pindah sekolah.
"Eh btw Maran mana?" Bir melangkahkan kakinya menuju lemari es. Mengambil sebuah kaleng soda.
"Sama mama." Gerak tangan Bir terhenti. Ia menoleh dengan mata menyipit.
"Lo gak bilang ke mama, 'kan?"
"Kalau lo ngelakuin hal aneh-aneh lagi. Gue aduin lo sekaligus pindahin lo ke sekolah berbasis asrama."
Bir tersenyum lebar. Kakinya melangkah, memeluk sang kakak dengan erat, dan menggoyang-goyangkannya.
"Gue tau lo gak bakal tega. Love you bang. Meski gue lebih love sama Taya."
Tubuh Bir berhenti, kepalanya terangkat menatap sang kakak dengan senyuman aneh.
"Kenapa lo?"
"Hihihi. Rasa bibir Taya gimana?" tanya Bir dengan senyum lebar.
Terdengar hembusan napas kasar. Jean mendorong tubuh Bir agar melepaskan pelukannya.
"Minggir, gue ada kerjaan." Pupus sudah rencana Bir untuk menggoda sang kakak. Padahal ia semalaman telah menyiapkan berbagai macam kalimat untuk menggoda sang kakak.
"Huh! Lo gak bakal nganterin Taya apa!" Bir melipat tangannya di depan tubuh, menatap sang kakak dengan mata menyipit.
"Gue udah telpon sopir buat anterin lo sama Taya."
"Ya? Hei mana bisa begitu!"
"Gue bisa!"
"Jangan ngelakuin hal aneh-aneh lagi. Bilang sama Taya buat selalu mengecek ponselnya."
Bir berdecih, ia menegak sodanya dengan cepat.
"Bang f*** you!"
__ADS_1
"Inget kata-kata gue Ms. Anggo Brivtarico!"