
"Lo gak mau?" tanya Bir menggeserkan minuman beralkohol kehadapan Taya.
Bir ingin Taya mencicipi minuman beralkohol di depannya meski hanya setegak.
Taya menunduk menatap minuman berwarna merah itu dengan sedikit ngeri. Bau yang keluar dari minuman tersebut cukup membuatnya pusing.
Mengangkat kepalanya, Taya menggeleng sebagai penolakan. Dapat ia lihat ekspresi tidak terima dari Bir. Tapi, mau bagaimana lagi, Taya tidak menyukainya.
"Lo harus coba," paksa Bir menyandarkan samping tubuhnya pada meja. Sikutnya tersimpan dengan tangan yang memegang sagelas air merah pekat, menggerakannya dengan gerakan memutar yang pelan.
"Bukan kah kita belum cukup umur untuk meminum itu?" gerakkan tangan Bir terhenti.
Matanya mengerjap, tidak lama kemudian tertawa pelan dengan kepala menunduk.
"Ya," ujar Bir.
Taya masih memerhatikan perempuan yang mengajaknya ke klub itu dengan bingung. Ia masih penasaran maksud perempuan itu mengajaknya ke sini apa. Jika hanya untuk menemani perempuan itu minum saja, tentu itu sangat tidak mungkin, terlihat juga dari pakaian yang mereka kenakan, cukup mewah.
Bir menyimpan gelasnya di meja. Kepalanya terangkat menatap Taya dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Terlihat mabuk, namun tenang saja. Toleransi Bir terhadap minuman beralkohol cukup tinggi.
Bir mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji satu hal sama gue."
Taya masih diam, memperhatikan Bir dengan serius.
"Jangan kasih tau bang Jean gue minum, oke." Dan Taya pun mengangguk.
"Pemeran utama datang!" Kalimat itu seperti menjadi sebuah alarm kematian bagi Bir, sekaligus kehidupan.
Bir menoleh ke belakang saat mendengar suara Josh mengudara di telinganya. Dapat mereka lihat seorang wanita dengan dress merah menyala masuk ke dalam klub.
Semua pandang mata mengarah pada wanita tersebut, seolah wanita tersebut adalah seorang yang mereka tunggu sedari tadi.
"Menikmati pestanya Bir?"
"Pesta?" batin Taya. Ia menoleh dengan cepat ke arah Bir yang tampak tidak menghiraukan kehadiran wanita tersebut, setelah tadi hanya menoleh menatap sesaat.
Bir menggoyangkan gelasnya, tatapannya terkunci pada air yang berada di gelas.
"Dia yang kamu maksud, Bir?" Wanita itu menunjuk Taya dengan jari telunjuknya membuat Taya reflek memundurkan kepalanya kebelakang.
Seluruh pandang mata mengarah pada mereka. Disini, siapa yang tidak tau Bir dan juga wanita glamor yang berada di depan mereka.
__ADS_1
Mereka cukup dikenal, dan hal itu membuat Bir was-was, karena bisa saja sang kakak tau ia membawa Taya ke Klub. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, mau bagaimana lagi. Sekarang yang harus Bir lakukan adalah menikmati keadaan sebelum ia di bawa mati oleh sang kakak.
Dari samping, mata Taya mengerjap, menatap wanita di depannya serta Bir secara bergantian.
"Kamu nyewa seseorang buat nutupin orientasi seksual kakakmu?"
Gerak tangan Bir terhenti, menoleh menatap wanita tidak cantik itu dengan sinis.
"Pretty girl's don't fight." Josh tiba-tiba datang dengan sebotol minuman beralkohol di tangannya.
"Butuh ruangan pribadi?"
"Bukankah aku sudah memesannya?"
Bir berdiri, ia menatap Josh, meminta agar pria itu segera menunjukan ruangan yang diminta wanita di depannya.
"Oh tentu! Mari nona-nona."
Bir menoleh ke arah Taya memberi isyarat agar perempuan itu mengikutinya dari belakang.
"Jangan berpikir aneh," bisik Bir. Ia tidak bodoh, ekspresi wajah Taya menjelaskan segalanya.
Perempuan itu tidak begitu pintar mengontrol raut wajahnya.
Sebenernya Bir hanya ingin menunjukkan satu hal, seperti sebuah pembuktian mungkin? Bir terlalu muak dengan tingkah laku wanita di depannya hingga dengan sengaja memberi tahu satu hal kebenaran.
Mereka masuk ke sebuah ruangan dengan nuansa yang lebih glamor. Dan tentu ini ada sangkut pautnya dengan wanita di depannya, penyuka lampu berkelip dengan tempo yang cukup ekstrim
"Woah, kalian telah datang?"
"Ku pikir Josh sedang mempermainkanku," saut wanita dengan dress merah berjalan lebih dulu ke sofa.
Bir menoleh dengan cepet ke arah Josh, matanya menajam, menatap Josh dengan tatapan anak singa yang siap menerkam.
Jika tau sebagian dari mereka telah datang, ia tidak akan membuang waktu di Klub begitu lama.
Josh yang mengetahui arah tatapan tajam itu padanya hanya bisa tersenyum manis tanpa dosa.
"Selamat nikmati malam kalian!" ujar Josh menutup pintu.
"Kamu benar membawanya Bir? Atau menyewanya?"
Bir memutar bola matanya, kakinya melangkah dengan satu tangan menggenggam tangan Taya erat.
Kenapa wanita-wanita haus belaian ini sangat tidak mempercayainya! Batin Bir menjerit saat itu.
__ADS_1
"Bisa kita memulainya?"
"Kita sudah memulainya dari tadi." Tentu jawaban seperti itu membuat Bir ingin menjambak dan meninju pipi yang cukup berisi itu dengan keras.
Tangan Bir menarik, menyuruh Taya mengikutinya duduk di sebuah sofa.
Tangan satunya terangkat memberi isyarat pada seorang bartender muda untuk membawakannya minuman, ia juga manarik lebih kencang tangan Taya agar duduk di sampingnya.
Terlihat tidak nyaman bagi Taya namun bagaimana lagi.
Di kelilingi wanita-wanita berpakaian kurang bahan, Taya terdiam sejenak. Bukan hanya mereka tapi Taya juga memakai pakaian kurang bahan seperti mereka.
"Dibayar berapa kamu sama Bir, love?"
Taya menoleh, seorang wanita dengan dress hitam menatapnya intens, gelas berada di ujung bibirnya, menunggu jawaban dari Taya.
Taya mengerjap, ia menoleh ke arah Bir yang tampak acuh.
"Aku?" cicit Taya pelan, dan mendapat anggukan.
"Tidak ada," jawab Taya kembali.
Seorang wanita lain menghela napas cukup kencang, membuat atensi Taya teralihkan.
"I don't believe you, Bir." ujar wanita tersebut dengan suara keras.
Musik menggema di seluruh ruangan membuat telinga Taya cukup sakit. Kapankah ini berakhir? batinnya.
Matanya mengedar, seluruh pandangan wanita-wanita di ruangan mengarah kepadanya. Seolah dirinya adalah sebuah barang aneh yang baru saja muncul di muka bumi.
"Bero? itu tidak mungkin." Seorang wanita lain menimpali. Tatapan mata wanita tersebut cukup membuat Taya risi bukan main.
"Gue gak perlu pengakuan lo," jawab Bir dari samping Taya. Terlihat perempuan tersebut telah muak dengan respon yang wanita-wanita itu berikan.
"But, this is real!" ujar Bir penuh dengan penekanan.
Perempuan tersebut menyimpan gelasnya, tanganya terangkat menyentuh dagu Taya, dan mengangkatnya perlahan.
Taya menoleh dengan cepat tidak mengerti.
"Liat, dia pacar kakak gue!" dan ucapan Bir mendapatkan respon yang cukup membuat Taya menciut.
Mereka tertawa namun entah apa yang mereka tertawakan.
Dan tentu itu membuat mood Bir semakin anjlok.
__ADS_1
Bir menatap wanita wanita tidak tau diri dihadapannya itu tajam. Oh sungguh meyakini para betina haus belaian lebih susah dari pada menyakinkan buaya haus atensi.
"Itu sangat tidak mungkin Bir, kakakmu tidak memiliki ketertarikan dengan perempuan."