
"Hei love, kamu sungguh beruntung mendapatkannya."
"Ingin berakhir?" tanya Jean menurunkan kamera miliknya.
Wanita itu terkekeh, dan mengibaskan tangannya.
"Bersenang-senang lah Bero, sepertinya pacarmu belum mengetahui begitu menyenangkannya dunia malam," ujar wanita tersebut menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Tangan menarik leher pria yang berada di sampingnya untuk kembali menikmati malam yang panas.
Jean merapikan kameranya tidak memperdulikan ucapan yang keluar dari mulut sang wanita, dan juga kegiatan mereka yang akan berlanjut.
"Jangan bilang kamu belum pernah melakukannya?" tanyanya di sela-sela adegan. Tidak tau malu dan seolah bangga menunjukkan aksinya.
Jean tidak menjawab laki-laki itu melangkah menuju sofa. Matanya melirik ke arah Taya, sekilas memperhatikan respon perempuan tersebut. Tampak beberapa kali Taya mengalihkan perhatian matanya ke arah lain. Dan itu sukses membuat sudut bibir Jean terangkat meski samar.
Matanya turun menatap tubuh perempuannya itu yang sudah terbalut jaket kulit miliknya.
Berdecih pelan, sepertinya Jean akan menyeret adiknya itu dan memasukkannya pada sekolah berbasis asrama, agar tidak melakukan hal aneh lagi.
"Ayo," ajak Jean dengan satu tangan membawa tas.
Taya yang mendengar ajakan itu mendongak, matanya bertatapan langsung dengan mata Jean yang menatapnya intens.
Membuka pintu, dan menutupnya kembali. Jean menarik setiap ujung jaket miliknya yang di pakai Taya.
"Pakai dengan benar," ujarnya. Tidak taukah Taya jika lekuk tubuhnya masih terlihat dan bisa membuat siapa saja hilap?
Taya menunduk dan mengeratkan jaket milik Jean, memeluknya erat. Tidak ingin sampai Jean memperingati untuk yang kedua kali.
Tangan Taya digenggam, mata perempuan itu mengedar menatap orang-orang yang berdansa.
Dan matanya tidak sengaja menatap seorang bartender yang sedang membawa nampan berisikan minuman.
"Jean?"
Tidak ada jawaban. Suara musik yang menggema tentu akan menghilangkan suaranya saat ini. Orang-orang di sana tampak menikmati musik dan jamuan yang ada. Dan akhirnya Taya memilih diam sampai mereka sampai dimana Jean akan membawanya.
Parkiran? Mungkinkah mereka akan pulang? Batin Taya saat itu.
"Mau ke suatu tempat?" Jean menutup pintu mobilnya. Kepalanya menoleh menatap Taya yang tampak tidak mengalihkan pandangan matanya dari dalam klub. Dan sepertinya perempuan itu tidak mendengar perkataannya.
"Lo mau masuk lagi?" tanya Jean cukup keras. Laki-laki memakai sabuk pengaman miliknya, dan juga memakaikan miliknya.
Taya menggeleng sebagai jawaban, tentu saja tidak. Ia cukup dibuat terkejut dengan berbagai aktivitas yang terjadi di dalam klub tersebut. Dan tidak pernah berniat ingin untuk kembali, cukup ini menjadi yang terakhir.
"Jean?"
Jean bergumam.
"Apakah aku boleh meminum minuman sejenis di dalam sana?"
Jean terdiam, kepalanya menoleh menatap Taya dengan datar.
"Wine?"
Dan Taya mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Tidak," jawab Jean. Laki-laki itu menoleh ke belakang.
"Jean."
Jean memejamkan matanya, ia rasa Taya meminum setidaknya setegak air beralkohol itu.
"Apa?" Tapi Jean masih berusaha sabar. Ia menoleh menatap Taya sekilas.
Perempuannya itu tampak sedang berpikir. Entah apa yang ada di otak kecilnya itu.
"Bir masih di dalam."
Benar, Jean melupakan adiknya itu. Dan mari lupakan saja. Adiknya tidak akan tersesat dan tidak akan juga di bawa oleh laki-laki hidung belang.
Ia tau bagaimana adiknya, sebelum ada yang menyeretnya mungkin orang itu telah terkapar dengan segala sumpah serapah yang Bir lontarkan.
"Dia bisa pulang sendiri."
"Ada lagi?" tanya Jean. Laki-laki tidak ingin fokusnya menyetir nanti terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Taya.
Taya menggeleng dan kemudian tersenyum kecil. Dan itu sukses menambah keindahan alami yang telah perempuan itu miliki.
Jean berani bertaruh, tidak ada yang lebih indah dari pada objek miliknya saat ini.
"Lo ngebuat kesalahan Taya."
Ketahuilah, kalimat itu tidak begitu menakutkan lagi bagi Taya.
"Apa kamu mau melanjutkan lukisanmu yang kemarin?"
"Tidak," jawab Jean kembali. Laki-laki itu menyalakan mobilnya.
"Ingin ke suatu tempat?" tanya Jean kembali. Besok adalah hari libur, sepertinya bersenang-senang sedikit tidak akan merugikan.
"Bolehkah?"
***
Taya menatap jalanan yang tampak sepi, jalanan yang Jean ambil sangat berbeda dari yang Bir ambil.
Mata yang tadinya berbinar itu kini meredup. Namun tidak lama, karena lima menit kemudian ia dapat melihat sebuah lampion-lampion cantik di sepanjang jalan.
Taya menoleh, ia menatap Jean yang tampak fokus dengan jalanan.
"Kita kemana?"
"Pantai?" jawab Jean sedikit ragu. Sebenarnya laki-laki itu tidak tau jika jalanan yang ia ambil saat ini sudah benar atau belum.
Ia hanya mengikuti ponselnya menunjukkan arah.
"Lo gak suka?" tanya Jean saat tidak mendengar respon apapun dari Taya.
Matanya melirik, dapat ia lihat perempuan itu menatap ke atas. Sepertinya langit malam lebih menarik perhatian perempuan itu dari pada dirinya.
"Apa seindah itu?" tanya Jean, mobilnya ia pinggirkan meminta jawaban Taya sesegera mungkin.
__ADS_1
"Hum?"
"Ya."
"Lo tau, lo punya kesalahan disini?"
Dahi Taya mengerut, tentu ia tau. Memakai dress mini? Apakah itu?
"Ya? dress?"
Jean menghembuskan napasnya.
"Apa yang mau lo lakuin di pantai?"
Taya yang mendapatkan pertanyaan seperti itu terdiam sejenak. Ia tengah berpikir.
"Berenang?"
Saat mendengar pantai pasti itu bersangkutan dengan air bukan. Jadi yang ada dipikirannya adalah berenang.
"Sekarang?" tanya Jean heran. Jean mengerti perempuan di depannya ini seorang perenang. Namun bukan berarti ia bisa berenang kapan saja dan dimana saja sesuka hati bukan?
"Hanya bermain pasir," jawab ulang Taya.
Mungkin Taya saat ini terlihat sangat bodoh.
Jean menatap Taya intens membuat Taya sedikit risi. Pasalnya tatapan laki-laki itu semakin turun ke bawah tubuhnya.
"Ada yang salah?"
Tatapan Jean beralih. Kemudian menegakkan tubuhnya, matanya menatap jalanan, dan mulai kembali menyalakan mesin mobil.
"Gue rasa gue mulai gila."
***
"Wouh!"
Taya mengeratkan jaketnya, kaki telanjangnya bersentuhan langsung dengan pasir halus di bawahnya.
Berlari kecil, dapat ia lihat di tengah laut sana cahaya-cahaya kecil yang indah.
Ini kali pertamanya bagi Taya, hingga ia meninggalkan Jean jauh di belakang sana.
Matanya berbinar dengan sorot mata menyenangkan. Sebuah tatapan yang jarang ia lihat kan, kecuali bersama Jean tentunya. Dan lagi-lagi sorot mata itu terjadi karena Jean membawanya ke sini.
Jean menatap lurus kedepan. Teringat bagaimana perempuan itu tiba-tiba membuka mobil dan berjalan sendiri mendekati bibir pantai.
Ia bisa merasakan bahwa perempuan itu merasa bebas kali ini.
Apa Jean terlalu mengekangnya? Laki-laki itu menggeleng, ia tidak pernah merasa seperti itu.
Badannya ia sandarkan pada mobil dengan kamera yang telah siap berada di tangannya.
Kilatan cahaya terlihat.
__ADS_1
Tersenyum, perempuannya itu tidak pernah atau tidak akan, tidak terlihat indah.