
Hallo readers..
Ini merupakan episode revisi
Selamat membaca :):)
Deringan handphone yang berbunyi membuat tidur gadis cantik itu terganggu. Deringan handphone itu bukan
merupakan panggilan masuk, melainkan alarm yang berguna membangunkan sang pemilik dari tidur nyenyaknya.
Deringan itu tidak membuat sang gadis terbangun dari tidurnya, melainkan saat ini sang gadis tersenyum dalam mimpinya. Entah hal apa yang telah terjadi dalam mimpinya sehingga membuat senyuman indah terukir di bibir mungil itu.
Kamar itu kembali sunyi karena handphone yang berdering sedang lelah akibat tidak ditanggapi oleh sang
pemilik. Selang 5 menit kemudian handphone itu kembali berdering untuk menjalankan tugasnya membangunkan sang pemilik pada pukul 05.30 WIB.
Gadis itu terbangun akibat deringan handphone-nya sendiri, dia mencoba membuka matanya yang terasa sangat
berat. Jika boleh, dia sangat ingin melanjutkan tidurnya hingga matahari terbit di bagian timur. Tapi apa daya, hal itu tidak akan pernah terjadi padanya.
Setelah berhasil menguasai kantuknya, gadis itu duduk di bibir ranjangnya. Dia meraih handphone-nya guna mematikan alarm yang telah ia setel sebelum tidur. Tidak lupa ia menonaktifkan airplane mode agar pesan atau chattingan sebelumnya bisa terkirim ke handphone-nya.
“Ternyata sekarang jam setengah enam lewat” gumam gadis itu dengan suara serak khas orang saat bangun
tidur. Segera dia berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi, tidak lupa ia meletakkan handuk dibahu yang sebelumnya ia ambil dibelakang pintu kamar mandi.
Setelah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi, gadis itu keluar dengan wajah fresh yang tampak
berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya tampangnya seperti pakaian kusut yang belum disetrika maka sekarang wajahnya tampak lebih fresh seperti bidadari yang selesai mandi di sungai ketika ada pelangi yang tampak setelah hujan turun di sore hari.
Gadis itu memakai celana jeans dan baju kaos lengan panjang berwarna green army yang menjadi outfit-nya hari ini. Tidak lupa ia memakai make up ringan di wajahnya agar terlihat lebih fresh. Setelah memoles sedikit liptint di bibir mungilnya, gadis itu tersenyum manis didepan cermin. “Perfect” gumamnya memperhatikan penampilannya didepan cermin.
Gadis itu bernama Nia Adriani, seorang anak yatim piatu yang hidup sendiri di sebuah kosan yang tidak jauh dari tempatnya berkuliah saat ini. Bisa saja Nia menyewa kosan yang lebih dekat dari kampusnya, tapi itu menjadi bahan pertimbangan mengingat harga yang harus dibayarnya perbulan. Kosan yang dekat dari kampus tentunya lebih mahal karena jaraknya yang sangat dekat sehingga tidak memerlukan biaya tambahan untuk transportasi. Tapi semua itu sudah menjadi bahan pertimbangan untuk Nia dalam memilih sebuah kosan yang akan menjadi tempatnya berteduh dan juga beristirahat setelah beraktifitas di luar sana.
Kosan yang Nia pilih tidaklah terlalu buruk, ia rasa tempat ini sangat sesuai dengan harganya yang murah. Setidaknya ruang lingkup kosan ini cukup bersih dan indah dipandang mata, sehingga bisa membuatnya bisa merasa lebih tenang saat berada ditempat yang akan menjadi rumahnya sementara ini.
Sebenarnya bisa saja Nia mencari kosan yang lebih baik lagi dari yang sekarang, tapi dia berfikir lebih baik uang itu ditabung untuk keperluan magangnya nanti. Walaupun seorang yatim piatu, Nia masih memiliki seorang Nenek dari pihak Ibunya yang selalu mengirimkan uang padanya tiap bulan. Saat ini, Nenek Nia berada di kampung menjalankan bisnis kecil sebagai mata pencahariannya. Walaupun berat, Nenek Nia tetap melepaskan Nia untuk mengejar cita-citanya walau harus pergi ke negeri orang.
Walaupun sudah mendapatkan uang saku maupun uang sewa rumah dari neneknya, Nia tetap melakukan kerja part time setelah selesai kuliah. Selain untuk menambah pundi-pundi keuangannya, hal tersebut ia gunakan untuk menyibukkan dirinya dengan melakukan hal-hal yang berguna.
Saat ini Nia merupakan mahasiswi Jurusan Manajemen Bisnis di salah satu Universitas Negeri di Kota Yogyakarta. Saat ini Nia kuliah di semester 5, antara menjadi senior ataupun junior di kampus karena posisinya berada ditengah-tengah.
Setelah puas memandangi dirinya di depan cermin, Nia segera meraih tasnya yang terletak di meja belajar
tak lupa pula ia memasukkan handphone-nya kedalam tas. Sembari mengunci pintunya dari luar, Nia merasakan getaran di tasnya seperti ada pesan yang masuk. Segera Nia mengambil kembali handphone dan memeriksa pesan yang masuk. Ternyata pesan itu berasal dari sahabatnya yang telah ia kenal dari awal kuliah hingga
__ADS_1
saat ini.
Nia tersenyum membaca pesan dari sahabatnya, Icha. Seorang gadis cantik yang sangat ceria yang mampu
membuat Nia tersenyum dengan tingkahnya yang kadang-kadang konyol menurut Nia.
“Makanya, jangan terlalu sering nonton marathon drama Korea” tulis Nia membalas pesan Icha, kemudian Nia
memasukkan kembali handphone-nya kedalam tas.
Nia menarik nafas dalam untuk memasukka udara segar di pagi hari ke dalam paru-parunya. Sambil memicingkan
matanya, Nia tersenyum untuk memulai harinya di pagi ini dengan harapan semuanya akan berjalan dengan lancar.
***
Saat ini sedang menunjukkan pukul 07.15 WIB. Nia baru saja sampai dikelasnya yang terletak di gedung E
lantai dua. Ketika berada didepan pintu, Nia memperhatikan sekeliling ruangan kelas mencari tempat duduk yang strategis untuknya belajar. Tidak didepan dan juga tidak dibelakang. Setelah mendapatkan tempat yang dirasanya cocok, Nia segera meletakkan tasnya di meja dan mendudukan dirinya di kursi.
Masih ada sekitar setengah jam lagi sebelum perkuliahan dimulai. Nia melirik ke arah pintu melihat kedatangan Icha yang belum datang. Sembari menunggu, Nia mengeluarkan buku dari dalam tasnya untuk membunuh waktu hingga dosen tiba.
Setelah sepulu menit membaca buku, Nia menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara gaduh di luar kelas. Suara gaduh itu berasal dari langkah kaki Icha yang berlarian agar tidak terlambat masuk kelas. Setelah sampai di depan pintu, Icha mencoba untuk menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan akibat lari pagi yang ia paksakan pagi ini. Icha mengedarkan pandangannya melihat sekeliling mencari sosok gadis cantik yang akan menjadi teman sebangkunya.
Tatapan mata Icha tertuju pada sosok gadis cantik yang sedang melambaikan tangannya saat ini agar bisa terlihat olehnya. Setelah melihat Nia, Icha segera berjalan kearah tempat duduk Nia.
“Iya. Untung saja kamu tidak telat! Kalau tidak kamu akan diusir sama ibuk sama Bu Eva” jawab Nia cengengesan. Icha memutarkan bola matanya menatap tidak suka pada Nia.
***
“Baiklah! Sekian kuliah hari ini. Tugas yang saya berikan harus dikumpulkan minggu depan! Bagi yang tidak mengerjakan akan mendapatkan konsekuensinya. Selamat siang!!” ucap Bu Eva mengakhiri kuliahnya pada siang hari. Setelah menutup kelasnya Buk Eve segera meninggalkan ruangan kelas.
“Yang benar saja ?? di hari pertama kuliah lansung belajar ?? ditambah ada tugas pula” ucap Icha mengucap
wajahnya kasar mengingat tugas yang harus ia kerjakan agar tidak mendapatkan pengurangan nilai dari Buk Eva.
“Jika tugas itu dikerjakan, maka pasti akan selesai. Jika kamu hanya mengeluh seperti ini, bagaimana tugas
itu akan selesai ?” Tanya Nia dengan menopangkan dagunya pada kepalan tinju tangannya yang bersandarkan pada meja.
“Iya. Tapi kan tidak harus lansung diberikan tugas. Rata-rata dosen pada umumnya hanya akan memberikan
modul perkuliahan atau batasan-batasan dalam pemberian nilai. Tapi Bu Eva ???” ucap Icha sambil menggelengkan kepalanya.
Sejujurnya Nia setuju dengan apa yang dikatakan Icha, tapi dia tidak mempunyai kuasa untuk membantah apa
yang dikatakan oleh dosennya itu. Sebagai mahasiswa, Nia hanya bisa mengikuti perintah dosennya agar nilainya aman.
__ADS_1
“Sudahlah. Daripada membahas hal ini,lebih baik kita ke kantin!” ajak Nia yang merasa perutnya keroncongan
akibat terlalu fokus mendengarkan materi yang diajarkan Bu Eva.
“Baiklah. Ayo!!” ucap Icha dengan senyum senangnya.
***
“Ini makananya kak, silahkan dinikmati.” ucap karyawan kantin yang meletakkan makanan pesanan Nia dan Icha
diatas meja
Mereka menatap makanan di atas meja dengan wajah yang berbinar. Tatapan mereka seperti orang yang akan
menghabiskan makanan itu tanpa sisa. Karena belajar dengan Bu Eva sangatlah menguras energi mereka.
“Selamat makan!!” ucap mereka kompak, mereka mulai memakan nasi goreng pedas dan teh es yang menjadi menu kesukaan mereka di kantin.
“Ah, kenyangnya” ucap Icha mengelus perutnya yang sedikit membuncit
Setelah selesai makan, nia bersandar di kursi kantin. Nia melihat sekeliling kantin, tampak wajah baru dan
polos yang belum pernah ia temui. Tampak wajah polos yang bahagia tanpa ada tekanan ketika melihat mahasiswa baru yang saat ini sedang makan siang di kantin kampus.
“Nia! kamu tau tidak? Ketika aku tadi berjalan di koridor kampus, aku mendengar gossip tentang senior pindahan
yang sangat tampan” kata Icha dengan wajah berbinar mengingat kejadian tadi pagi.
Nia menaikkan alisnya heran. Alasannya jika dia adalan senior, otomatis saat ini ia sedang berada di semester tujuh. Akan sulit bagi seseorang pindah kuliah jika tidak punya orang dalam yang akan membantunya.
“Tidak tahu! Dan tidak mau tahu!!” ucap Nia cuek. Icha memutar bola matanya jengah mendengar jawaban Nia.
“Ah!! Terserah deh!!” ucap Icha kesal “Oh iya. Habis ini kamu pergi kemana?” tanya Icha lagi.
“Habis ini aku kerja, sebelum itu aku akan ke took buku mencari bahan untuk tugas Buk Eva” ucap Nia “Hmmm…bagaimana jika kamu ikut denganku? Dari pada kamu pulang cepat?” ucap Nia menawarkan Icha untuk pergi ke took buku bersama.
“Baiklah!” ucap Icha sambil meraih tasnya di atas meja dan berlalu ke kasir untuk membayar tagihan mereka
sambil menggandeng tangan Nia.
***
Saat ini Nia dan Icha sedang duduk di halte, menunggu bus yang akan membawa mereka ketempat tujuan mereka.
“Nia? Apa kamu baik-baik saja? Tidak melihat yang aneh-aneh?” tanya Icha mengingat sesuatu.
Nia menoleh dan menatap Icha sambil tersenyum “Aku baik-baik saja. Apa kamu lupa sekarang hari apa?” tanya Nia.
__ADS_1
“Ah… ternyata hari senin” ucap Icha cengengesan melupakan arti hari senin bagi Nia.