
Hallo readers,
Selamat membaca😊😊
Nia mengucek matanya pelan memastikan penglihatannya. Saat ini ia terkejut melihat ekspresi lain yang diperlihatkan oleh dosen sekaligus bosnya itu. Wanita yang biasanya bersikap tegas dan galak itu tiba-tiba menjadi sosok yang sangat ramah dan lembut. Siapa yang tidak akan terkejut melihat perubahan sikap Eva saat ini.
“Aku benar-benar gak nyangka ternyata Buk Eva bisa senyum seramah ini?” gumam Nia.
“Baiklah! Untuk menghemat waktu, semuanya silahkan berbaris dengan rapi untuk masuk ke dalam bus!” ucap Dita memberikan arahan.
Nia masuk ke dalam bus, ia mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk yang strategis. Tempat yang strategis sudah ditempati oleh karyawan lain, dengan terpaksa Nia duduk di bangku depan.
“Boleh saya duduk disini” ucap Eva.
“Tentu saja boleh” ucap Nia kikuk. Ia terkejut ketika mengetahui teman sebangkunya adalah Eva.
Duh! Kenapa Buk Eva duduk disini? Aku kan jadi bingung!
Nia duduk dengan rasa gelisah, ia bingung harus bersikap seperti apa. Nia memberanikan diri untuk berkenalan dengan Eva.
“Hmmm, halo Buk. Perkenalkan nama saya Nia. Saya pekerja part time di café dan juga mahasiswi di kelas Ibuk” ucap Nia memperkenalkan diri.
“Saya tau kok! Tolong bersikap profesional, jadilah mahasiswa dan karyawan sesuai pada tempatnya” ucap Eva melihat kearah Nia.
“Baik Buk” ucap Nia menelah ludahnya gugup.
Kan keluar lagi sikap tegasnya! Tadi aja pas di awal ramah banget. Eh sekarang..bener-bener deh!
Selama diperjalanan, Nia melihat ke luar jendela. Menikmati pemandangan pohon di tepi jalan. Nia menghela nafasnya panjang karena merasa bosan selama perjalanan. Akhirnya Nia memutuskan untuk mendengarkan musik melalui headset-nya.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya bus sampai di tempat tujuan. Semua penumpang keluar secara bergantian karena bus hanya memiliki dua pintu.
“Segarnyaaaa” ucap Nia ketika meregangkan badannya setelah keluar dari bus.
Air laut yang biru, pasir pantai yang putih, ombak yang tak terlalu besar serta langit yang biru membuat mata siapapun yang berada di sini merasa termanjakan dengan suasana yang bisa membuat fikiran siapapun menjadi tenang.
“Baiklah semuanya, saat ini kalian boleh pergi menikmati pemandangan pantai disini. Tapi ketika jam makan siang, semuanya harus kumpul dibawah pohon rindang yang di sana” ucap Dita memberikan instruksi.
Rumah sakit
Pintu kamar 501 perlahan mulai terbuka memperlihatkan seorang pemuda yang membawa rantang yang berisi makanan untuk makan siang.
“Mama” panggil Fernand pada wanita paruh baya yang sedang membaca buku sambil memegang tangan pasien.
“Fernand?” ucap Mama Ratna menatap Fernand sayu. Ia melepaskan gengaman tangannya pada pasien secara perlahan lalu memeluk Fernand.
“Fernand..hiks..hiks” tangis Mama Ratna tertahan.
__ADS_1
Fernand mencoba menenangkan Mamanya dengan membelai punggung Mamanya dengan penuh kasih. Fernand mencoba menyalurkan kehangatan kepada orangtua satu-satunya yang ia miliki di dunia ini. Karena sang ayah telah meninggal akibat kecelakaan ketika Fernand masih duduk di bangku SMA.
“Mama sudah makan?” tanya Fernand setelah melepaskan pelukannya.
“Belum”
“Ayo kita makan bareng, aku bawakan makan siang untuk mama!” ucap Fernand menarik tangan Mama Ratna menuju sofa di kamar tersebut.
Pantai
Keluarga besar RF Café sedang duduk melingkar menggunakan tikar yang diletakkan di atas pasir. Mereka menikmati makan siang yang sebelumnya telah dipesan oleh bos mereka.
Setelah selesai makan siang mereka membersihkan tempat makan, setelah itu melanjutkan dengan acara briefing untuk membahas ide-ide menarik untuk membuat café lebih ramai lagi untuk kedepannya.
“Baiklah, sampai sini saja kita bahas. Kalian boleh menikmati pemandangan sunset. Setelah pukul 19.00 WIB semuanya harus berkumpul di depan Bus” ucap Bu Eva mengakhiri briefing.
Semua karyawan café mulai berpencar menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh pantai. Beberapa diantara mereka ada yang asik berfoto, mencoba berbagai permainan yang diadakan di pantai dan ada pula yang hanya duduk-duduk atau tiduran diatas pasir pantai.
Nia memutuskan untuk duduk-duduk diatas pasir dan bersandar di pohon rindang. Perlahan Nia mencoba memejamkan matanya karena terbuai oleh tiupan angin.
Hari semakin sore, perlahan matahari mundur untuk bergantian shift dengan bulan dan bintang. Nia terbangun karena merasakan seseorang menyentuh pundaknya.
“....., Bangun, Nia? hey?” ucap Dita menggoyangkan bahu Nia.
“Hmmmm, Kak Dita?” ucap Nia dengan suara khas orang bangun tidur.
“Kok tiduran disini? Gak ikut main sama yang lain?”
Di sebelah kanan, tidak jauh dari tempat Nia duduk terdengar suara gaduh dan juga teriakan. Nia dan Dita segera menoleh kearah sumber suara.
“Kenapa itu Kak?” tanya Nia penasaran.
“Aku gak tau! Ayo kita lihat disana” ajak Dita.
Setelah berada di kerumunan itu, Nia berusaha berjinjit untuk melihat apa yang terjadi. Nia terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Tampak seorang wanita yang berteriak histeris tidak sadarkan diri dan disamping wanita itu ada laki-laki yang terus mencoba menyadarkan wanitanya.
Mungkin bagi mata orang normal wanita itu hanya berteriak histeris seperti orang gila. Tapi tidak dengan Nia, ia melihat wanita itu telah dirasuki oleh sesosok wanita.
“Kak, wanita itu kerasukan!” bisik Nia pada Dita
“Apa kamu bisa membantunya? Kasihan wanita itu?!” ucap Dita menatap kasihan wanita itu yang masih teriak histeris dengan badan yang menegang.
Bagaimana ini? Jujur saja aku merasa kasihan padanya, tapi aku sangat takut. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padaku jika aku ikut campur. Oh iya bukankah ada Fik-
“Nia? apa kamu bisa membantunya?” ucap Dita menyadarkan Nia yang terlihat termenung.
__ADS_1
“Baiklah Kak, akan Ku coba. Tapi sebelum itu, kita harus membubarkan kerumunan ini dulu”
“Baiklah! Aku akan membantu!”
Dita menerobos kerumunan pengunjung pantai yang melihat kejadian itu. Lalu ia berdiri membelakangi pasangan itu.
“Semuanya tolong bubar! Teman Saya sedang sakit, tolong jangan berkumpul disini itu akan membuat teman saya merasa sesak! Jadi tolong pergi!” ucap Dita membubarkan kerumunan.
“Sayang? Apa yang terjadi?” ucap laki-laki itu panik melihat keadaan kekasihnya.
“Kak, bisa minggir sebentar. Aku akan mencoba untuk menyadarkannya” ucap Nia pada laki-laki itu.
“Tapi-..“
“Tolong percayalah, Nia akan membantu agar kekasihmu bisa sadar kembali!” ucap Dita meyakinkan laki-laki itu.
“Baiklah. Aku mohon bantuannya” ucap lai-laki itu melepaskan kekasihnya.
Fiki? Tolong bantu Aku
“Kamu memanggilku?” ucap Fiki ketika muncul dihadapan Nia.
“Syukurlah kamu datang, bisakah Kamu membantunya?”
Fiki menatap Nia dalam, entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini. Fiki menganggukan kepalanya tanda setuju.
“Tolong pegang tangan wanita itu” Ucap Fiki sambil menyentuh dahi wanita itu.
Saat Fiki menyentuh dahi wanita itu, teriakannya semakin keras dan tubuhnya semakin menegang.
“Apa yang Kau lakukan pada pacarku?” teriak laki-laki itu pada Nia.
“Tolong percayalah pada Nia! jika Kau ingin pacarmu selamat! Jangan ganggu Dia!” ucap Dita tegas.
Fiki semakin keras menekan dahi wanita itu dan membuat Ia semakin berteriak histeris. Setelah sekian lama, sosok yang merasuki tubuh wanita itu perlahan keluar. Dan akhirnya wanita yang dirasuki itu pingsan tidak sadarkan diri.
Fiki segera menangkap sosok hantu wanita itu dan memegangi tangannya agar tidak melarikan diri.
“Ikuti Aku” ucap Fiki dan dibalas anggukan oleh Nia.
“Pacarmu baik-baik saja! Tolong buat dia sadar! Aku akan pergi sebentar” ucap Nia.
“Kamu mau kemana?” tanya Dita khawatir.
“Aku pergi sebentar ya Kak, nanti Aku balik lagi”
To be Continued
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya ya! Dan jadikan favorit juga agar mendapatkan notifikasi update
Terima Kasih.