
Setelah selesai dengan segala ritual aku yang uwuuu bangetttt hahahahahaha.... Aku langsung turun ke dapur. Lebih spesifik nya lagi ke meja makan. Aku benar lapar sekali. sesungguhnya itu bukan alasan utama. karna yang pasti alasannya sarapan lagi adalah wajib bagi keluarga ku.
Sangat pagi, jam 06.00 WIB.
semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana. Seperti fakta yang kalian ketahui. Aku anak tunggal. Jadi hanya ada aku, mama sama di meja makan.
Oh iya, mama juga tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Karna dia berpendapat bahwa itu semuanya adalah tugas seorang istri.
Huaaaa sungguh mulia mamaku ini. Aku juga jadi termotivasi untuk menjadi istri yang hebat untuk suami dan anak-anak nanti. Hahhaha sesuatu yang sederhana bisa jadi luar biasa untuk orang lain sehingga membuat mereka termotivasi. Ini semacam candu untuk ku. Hahahahah aneh bukan main memang.
Saking asyiknya di meja makan membuat aku harusnya sadar ada yang aneh dengan dapurku pagi ini. Sampai suara membuat ku kembali ke dunia nyata.
"Di, ... " kata mama.
__ADS_1
Aku menoleh ke sumber suara sebelum memberikan sahutan,
" iya mah???",
*aku merasa tidak ada suatu yang aneh. karna setiap pagi mamaku selalu saja memberi wejangan untuk ini lah, untuk itu. Tidak begini, harus begitu. Dan bla bla bla... khas ibu ibu tentunya.
Terkadang ini membuat rasa kagum ku pada sebuah peran ibu yang dia mainkan jadi sedikit berkurang. sungguh menyebalkan*.
"pusttt..." Mama melirik ke samping papa.
" sepupumu Jack datang tengah malam. Dia bilang jangan membangun kan mu.." langsung berpaling melihat mama
"Ingin memberikan kejutan, hehehehe" sembungnya menyela ucapan mama dengan cengir busuk. Membuat aku kembali untuk menoleh padanya. Dengan ekspresi datar tentunya.
__ADS_1
"Sapa sepupumu sayang..." kata mama Paripurna dengan senyuman manis.
*Bisa ku perhitungkan, aku hanya melihat nya 5 detik tanpa senyum dan kaum kerabat nya. Lalu fokus pada sarapan ku. Cuek bebek begitulah hahahahah.... Tapi ini seriuss.
Dengan langkah yang pasti aku bisa merasakan dia berjalan memutari meja menuju kearah ku meskipun aku tidak melihatnya sama sekali karna aku fokus pada sarapan ku. insting ku memang patut di kasih jempol*.
"Kamu sudah besar rupanya, wkwkwkw" *kekehnya sambil mengacak-acak rambut ku yang sudah aku rawat dengan kasih dan sayang lalu kembali ke kursi di dekat papa tempatnya semula. Masih dalam posisi stay dengan senyuman yang membuat aku merinding.
Aku meliriknya dengan tatapan elang berapi-api, "Apaan sih" Hanya itu dan langsung kembali setia dengan sarapan ku. Aku harus siap siap untuk me non aktifkan fitur pendengaran ku*.
" Didi, kamu harus bersikap sopan dan santun pada yang Lebih tua denganmu, apa lagi dia sepupumu, Jack. Cepat minta maaf." Cerocott papa.
"Kapan kau pergi, maksud ku pulang?" Tak ku hiraukan papa, aku malah berkata sinis pada si Jack yang mengaku-ngaku sebagai sepupuku.
__ADS_1
"Dinata Pramuja sahardi." kata papa dengan sangat keras dan penuh penekanan sampai papa mengertakkan giginya. Ada dua fakta tentang itu pertama dia marah di buktikan dengan suaranya yang keras. Yang kedua, jika dia sampai menyebut namaku sampai lengkap ke akar akarnya berarti dia benar-benar marah.
seolah bebal atau mungkin sudah terbiasa. Aku harus bersiap untuk ledakan kedua.