Nir Cinta

Nir Cinta
Gak bisa


__ADS_3

"Nata!!! Apa ini yang kau pelajari selama kami menyekolahkan mu? Apa ini hasil yang kami dapat? Oh tuhan, apa ini balasan mu setelah papa dan mama membesarkan dan menyekolahkan mu dengan susah payah?"


*Mamaku benar benar dramatis. Bagaimana bisa dia menyusun dialog interaktif yang sangat persis dengan kutipan di film drama Korea favorit nya. sepertinya memang sangat bagus, jika orang tua tidak di biarkan menyaksikan film film yang akan membawa pengaruh yang besar untuk kehidupannya di dunia nyata.


Aku yakin 100% kalo itu kutipan drama yang mama suka tonton. Aku mengetahuinya karna aku juga menontonnya hahahahahaha.


seolah bertambah romantis karna Hanya mama yang memanggil ku dengan julukan **Nata***.


"Tak apa paman, bibi. Aku sudah terbiasa dengan tingkah adikku yang masih labil ini!" ,


Katanya menenangkan papa dan mama, seolah-olah lebih membela diri sendiri dan menunjukkan lebih berkualitas menurut ku. Lebih tepatnya begitu.


Dasar Jack menyebalkan. Kau ingin bersaing denganku hah? Bahkan di hadapan papa dan mama. Kau ingin aku terlihat seperti sebongkah upil disini? apakah itu benar?


Tatapanku seolah mengatakan itu. Dan dia hanya tersenyum penuh kemenangan. Pengecut lebih tepatnya. cihh, sialan kau Jack! ! ! ! !


Papa dan mama menarik nafas dalam-dalam...


Kami tetap baradu pandang meskipun sarapan tetap jalan. Tentu saja dengan si Jack. Masa dengan papa dan mama sih. Bisa bisa aku di coret langsung dari kartu keluarga. Hhahahah mana berani aku. Mau makan apa nanti busung lapar ini. Aku bisa kehilangan cacing cacing peliharaan yang begitu aku sayangi. Tentu saja mereka lebih baik dari pada si menyebalkan Jack!


Sesi sarapan belum lah benar benar berakhir tapi harus aku akhiri dengan paksa setelah berdebat dengan orang tuaku.


"Abang Jack akan tinggal disini sampai keperluan di kota ini siap. Iya kan bang?", perkataan mama bak petir di pagi bolong. hehehe biasanya siang kan? tapi ini kan masih pagi. Jadi author ganti deh hahahahah


" Iya Tan." menjawab dengan penuh kemenangan, tersirat makna ****** kau Di. Tamatlah riwayat mu.


"Apa? kenapa?" kataku histeris.


"Ya gak papa." Malah di jawab papa. Aku menuntut penjelasan.

__ADS_1


"Kamu kan tau Nat, Abang kamu ini lagi menyusun suatu tesis untuk mendukung penelitian nya. Setelah itu dia bakal balik kok ke luar negeri. Iyakan bang? Jadi kita harus mendukung Abang dalam tugas kali ini." Jelas mama.


"Tapi kenapa harus tinggal di Rumah kita Mah?"


"Penelitian Abang Jack ada di kampus mu Nat, salah satunya. Kampus dengan Rumah kita kan dekat? Untuk mempermudah Bang jack"


"Gak bisa! Mama kan tau aku tidak suka ada orang asing di Rumah ini?" Teriakku histeris.


"Apa salahnya dia tinggal di kamar samping kok, bukan di kamarmu. Jadi tidak masalah kan?"


"Itu dia masalah ma, aku gak bisa berbagi udara dengan dia yang berada di samping kamarku."


"Loh, seharian kamu di kamar aja gak pernah keluar?"


"Tetap saja gak bisa Mah. Mama kan tau sendiri kalo jadwal kampus juga belum jelas kapan untuk masuk kembali!"


"Mah, itu artinya aku kan terus 24 jam berada di rumah ini, keberadaan orang lain akan menggangu privasi ku Mama. Aku gak nyaman! Aku bisa depresi Mah lama lama!."


"Teori macam apa itu? Kalian berbeda kamar!"


"Tapi tetap satu atap mah!" Jawabku tak mau kalah


"Nata, jangan kekanakan begini."


"Gak bisa Mah, Jack yang kekanakan. Bagaimana dia selalu ingin hidup di ketek mama sama papa. Dia kan sudah besar. Jangan kambing hitam kan lokasi tesis. Banyak penginapan wisma yang bisa Abang Jack tempati ma, papa ku tersayang. Itu kampus lokasinya strategis. Karna aku sudah besar bisa berfikir begini." Aku tau dia hanya ingin mengganggu ku saja. Aku tau itu bang Jack. Aku kan bertahan. Bukan menyerah sebelum berperang.


"Dinata Pramuja sahardi. Keputusan kami sudah bulat. Sudah di bahas jauh jauh hari. Jika keberatan silahkan cari tempat tinggal sendiri dan semua aset papa sita! Setuju tidak setuju papa tidak mendengar keluh kesah. Mengerti?"


"Gak bisa Pah, kalian mengusir anak kandung sendiri demi si tengik Jack ini? Apa aku benar-benar anak kandung kalian?" Kata ku langsung meninggalkan mereka menuju ruang keluarga.

__ADS_1


"Gak papa Tan, biar Jack susul."


*Jack meninggalkan meja makan dan memilih mengejarku ke ruang keluarga.


Aku tidak peduli padanya. Aku menggambil remote dan menyalakan TV. selamanya aku akan tetap membencinya. Jangan melirik ku begitu, aku tak akan memaafkan mu tengik. Aku tau dia mengamati ku. Aku cemberut, bisa di pastikan bahwa aku benar-benar jelek sekali.


Dia mencoba mambuka percakapan*.


"Berapa tinggi mu?" Dia mendekat kan wajahnya padaku. Jika aku diam saja dia pasti akan menciumi ku seperti bocah.


"148 Cm. Kau bisa tau itu hanya dengan melihat aku berlari tadi." Jawabku sekenanya dengan ketus yang tak pernah hilang.


"Berat mu?"


"Cih, kau benar-benar tidak punya bahan untuk di bincang-bincang yah? 64 KILOGRAM. Mau apa kamu?"


"Hahahaha, ..."


"cih malah tertawa. Kenapa kau bertanya meskipun sudah tau jawabannya? hah? heyyy?."


"Untuk memastikan saja!"


"cih dasar licik. Memastikan apa yang kau masuksud? bicara yang jelas."


"memastikan kembali' bahwasanya kau benar-benar Obesitas. Hahahahahha"


"Hey Jack tengik. Beraninya kauuuuuuu!" *aku langsung melemparkan nya dengan bantal disebelah ku.


Dia pun berlari dengan tertawa dan aku tetap mengejarnya. Bila diperhatikan dengan seksama kami bagai Tom and Jerry. Rumah seperti kapal pecah saat ini. Ini yang orang tuaku ingin kan? Aku gak bisaaaaaa!!! **Tolong***!!!

__ADS_1


__ADS_2