Nir Cinta

Nir Cinta
Menunggu!


__ADS_3

"Nat, Nata sayang. Makan yuk, Mama masakin yang kayak Oma masakin dulu di kampung loh. Sayang, keluar yuk. Teman-teman kamu datang nih."


Semakin sesak saja mendengar perkataan Mama. Sungguh Mah, aku memang menyukai Masakan Oma. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk memasaknya dan aku tidak ingin keluar. Maaf Mah. Untuk perkataan Mama yang terakhir, teman? Oh yah? Apa sungguh aku punya teman? Omong kosong.


"Sisain buat nanti yah, Mah. Sekarang Nata belum laper. Nanti juga bakal keluar kok." kalian bisa tebak aku sedang menahan habis-habisan agar air mataku tidak keluar. Aku benar-benar sedih. Oh, mungkin terdengar golongan menyedihkan.


Aku tebak, Mamah sudah meninggal pintu. Meskipun pintu itu membuat aku tidak bisa melihat Mama tapi aku bisa merasakan kehadirannya.


Kenapa ya Tuhan. Kenapa ini harus terjadi padaku. Aku memang terlalu berlebih-lebihan mendefinisikan seorang teman. Sehingga sakit yang aku terima pun sangat menyayat.


Hah, 24 jam berlalu begitu cepat. 24 jam yang lalu aku masih berada di bukit cinta. Yah, cinta. Aku benar-benar muak mendengarnya. Aku tidak akan mempercayai siapapun sekarang ini. Bahkan diriku sendiri. Kenapa? Karna diriku sendiri pun menipuku.


Aku mendengar langkah. Itu pasti Mama. Tapi kenapa begitu banyak langkah kaki?


Tok tok tok, "Nat. Ini temanmu sayang mau ngomong. Buka yah sayang pintunya?" Suara Mama begitu tenang. Sesaat mendengar kata teman aku berubah pikiran.


"Aku tidak punya teman Mah!" Lirihku.


"Sayang...." Terdengar suara Mama begitu prihatin.


"Nat, kamu salah paham. Serius deh, kita gak ada niat buat ninggalin kamu. Kita udah coba hubungi tapi gak ada jawaban dari kamu. Kita udah kabarin Tante kok, tante bilang...." Perkataan Azmi di potong Lala.


"Iya Nat, kita minta maaf. Kita udah jemput baju kamu, trus kita berencana jemput kamu ke bukit. Tapi tiba-tiba mobilnya bocor. Kita harus nunggu 3 jam buat perbaiki, yah memang aneh kalo bocor gak mungkin sampai 3 jam bukan? Ternyata gak cuma bocor Nat, mesinnya juga harus diperbaiki. Makanya sampai memakan waktu 3 jam." Jelas Lala panjang lebar yang membuat aku muak.


"Diam. Pergi kalian." Aku benar-benar muak mendengar suara itu. Sangat memuakkan.

__ADS_1


flashback


"Huaaa, Bukit cinta. Bukit cinta. Bukit cinta. Aku datang. Aku datang. Huyeeehhh. Piknik."


Aku senang banget ya Tuhan. Engkau memang Maha baik. Terima kasih sudah memberikan aku teman-teman yang super duper pengertian. Huaa, ini hari yang paliiinggg indah semenjak pandemi.


Hari ini aku liburan bareng temanku. Huyehh asikkkk. Ini hari yang aku tunggu. Aku mempersiapkan semua barang-barang yang hendak aku pakai buat piknik.


Aku pakai baju kesukaan, ransel kesukaan, tempat makan dan minum kesukaan. Semua kesukaan.


Kemas berkemas. Aku Habiskan hanya 1 jam. Aku siap.


"Mah, Pah, berangkat yah. Bye. Salam angin buat sepupuku. Heheheh." Ucapku meninggalkan mereka. Capcuss ke Stasiun kereta.


Hanya butuh 3 jam untuk aku bisa sampai kebukit. Tapi ada yang aneh, bukankah seharusnya mereka sudah sampai? dari Tadi pagi kami sudah membuat janji kan? Ahh pikiran macam apa ini, mereka lagi terjebak macet. Yah, mereka terjebak macet.


Aku dengan percaya diri beranggapan bahwa mereka terjebak macet. Hingga sampai senja, aku menyadari hanya aku di karpet cantik ini.


Kemana mereka? Bukankah kami sudah berjanji untuk kesini?


Aku sampai kerumah pukul 8 malam. Dengan perasaan yang teramat hancur. Kemana teman-teman yang sudah berjanji? Bukankah saat kita mengucapkan sesuatu maka kita harus menepati?


Aku sudah kehilangan. Kehilangan kepercayaan. Kau tau apa yang aku ketahui setelah pulang ke rumah?


"Gimana partynya sayang?" Kata Mama.

__ADS_1


Alisku nyaris menyatu. Party apa?


"Gak seru yah? Atau karna kamu kecapean. Tapi kok baju kamu tetap gini sayang? Gak dibawain Azmi tadi yang Mama titipin?" Lanjut Mama.


Aku akhirnya mulai mengumpulkan seluruh tenaga. "Party apa Mah?"


"Loh, bukannya kamu habis dari party yah? Tadi Azmi minta izin ke Mama trus nyiapin gaun buat kamu loh sayang?" Jelas Mama.


"Siapa yang party Mah?" Tanyaku dengan tidak bisa menahan air mata lagi.


"Sayang kamu kok nangis," memelukku.


"Siapa yang party, Mah?" Aku mengulangi pertanyaan yang sungguh menyesakkan.


"Nurul, Azmi bilang Nurul yang party sayang."


Mendengar ucapan Mama, aku langsung melepaskan rangkulannya, dan berjalan perlahan dengan tatapan kosong.


"Nata, sayang!"


Aku membalikkan badan, "Iya Mah, apa yang mau Mama dengar? huh, Nata tidak ke party Mah. Nata ke bukit. Rame Mah orang di bukit tapi Nata kesepian. Hanya Nata, tidak ada teman."


"Meraka tadi datang kesini sayang...."


"Mereka juga bilang bakalan ke bukit Mah. Tapi apa? Hanya Nata sendiri. Mereka kemana Mah? Ah, ke party. Aku terlalu percaya Mah. Terlalu mengandalkan orang lain. Nata kecewa. Apa sungguh perkataan manusia tidak bisa di pengang Mah? Yah, orang bodoh mana yang bisa memegang omongan? Omongan memang tidak akan pernah bisa di pegang. Nata cape, ke kamar dulu Mah. Nata, gak laper. Langsung bobo aja."

__ADS_1


__ADS_2