
"Ma siapa yang akan dijodohkan dengan Aisyah?"
Aisyah tengah berderaian air mata menatap wanita paruh baya didepannya.
Aisyah merasa sakit yang teramat sangat, keluarganya memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang pria yang sama sekali belum pernah Aisyah temui sebelumnya.
Terlepas dari hal tersebut, Aisyah juga sedang mencintai seseorang.
Pria yang sudah mengisi hatinya selama 4 tahun ini, dan tiba tiba saja akan ada orang yang menelusup masuk kedalamnya?
Sungguh, itu hal yang sangat sulit.
Aisyah menyeka air matanya. Tangannya terjulur memegangi telapak tangan mamanya. Aisyah mengguncang guncang wanita yang juga berderaian air mata didepannya.
"Ma! jawab aisyah ma, siapa yang akan dijodohkan dengan Aisyah ma?"
Mama Aisyah yang bernama Karin lansung memeluk Anak pertamanya.
"Aisyah. Jangan sedih nak, tolong jangan sedih. Percaya mama dia akan membahagiakan mu nak!"
Aisyah tak kuasa membalas pelukan ibunya. Sekujur badannya lemas tak berdaya.
Hingga Aisyah pingsan terkulai di lantai kamar yang dingin.
Perlahan namun pasti, Aisyah membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah; ayahnya, ibunya, dan adiknya.
Aisyah mencoba untuk duduk namun lansung dibantu oleh Ernaldi ayahnya.
"Hati-hati nak!" Ernaldi memegangi punggung Aisyah yang berusaha untuk duduk.
Aisyah memegangi tenggorokannya "ma,aku haus"
Mendengar lirihan lemas Aisyah, Karin sigap mengambil segelas air untuk Aisyah yang memang sudah disediakan untuknya.
"Bismmillah" Aisyah meneguk setengah dari isi gelas tersebut kemudian lansung meletakkannya kembali di nakas.
"Aisyah. Apapun yang terjadi terima saja perjodohan ini!" Ernaldi sengaja menekankan bagian kata perjodohan untuk membuat Aisyah sadar bahwa ini sangatlah penting.
"Aisyah. Terima ini dan tolong jangan menolak" Ernaldi beranjak dari kamar Aisyah, meninggalkan mereka bertiga yang terdiam.
Alvan adik Aisyah melihat tubuh kakaknya yang bergetar. Alvan lansung memeluk kepala Aisyah yang terduduk diatas ranjang.
"Van, aku ga mau dijodohin!" lirih Aisyah dengan air mata yang kembali jatuh.
"Kaka. Alvan ngerti kok, kaka jangan sedih lagi ya. Ayah ga akan menjodohkan kaka dengan laki sedeng,jadi coba terima aja dulu!"
Sejak malam itu Aisyah menjadi murung dan tidak banyak bicara. Ernaldi juga sudah mendesak secara halus untuk Aisyah mengambil cuti Kuliah sepanjang 2 minggu.
Dan 2 hari lagi akan diadakan pernikahan dirumah Aisyah.
Sekarang Aisyah tengah duduk diujung ranjangnya, ia memandang keluar jendela menampakkan sisi samping rumah yang berbatasan dengan jalan komplek.
__ADS_1
Aisyah mengambil ponselnya dan berselancar dimedia sosial.
Jari lentiknya mengetik nama seorang yang sangat ia cintai selama 4 tahun ini.
Khalid Putra Anggara, itulah namanya, seseorang yang sudah mengisi relung hati Aisyah akhir akhir tahun ini.
Saat melihat foto Khalid, Aisyah lansung tersenyum walaupun hanya 1 foto yang diunggah Khalid di media sosial.
Tanpa ia sadari Aisyah tersenyum namun juga menitikkan air mata.
ia belum pernah menjalin cinta sebelumnya, Khalid lah cinta pertamanya dan 2 hari lagi dia akan mengikat janji suci dengan lelaki entahlah yang sama sekali tidak Aisyah kenal.
Khalid.
Mereka tak pernah bertukar cerita, tak pernah saling menyapa, tak pernah saling bertukar pesan, tak pernah menjalin apa-apa.
Dan Khalid, juga tak tau bahwa disini ada seorang wanita yang sudah mencintainya selama 4 tahun.
Bisa dibilang Aisyah jatuh cinta pada pandangan pertama, ia berjumpa dengan khalid pertama kali dikantor Ernaldi.
4 tahun yang lalu atau bisa dibilang saat Aisyah masih duduk dikelas 2 SMA, saat itu Aisyah dan Alvan sedang mengantarkan Ernaldi kotak makan siang.
Tak sengaja ia melihat Khalid yang sedang makan dikantin kantor seorang diri.
Saat itulah kali pertama ia melihat khalid dan lansung jatuh cinta padanya. Perihal seluk beluk tentang Khalid sangat mudah untuk Aisyah ketahui.
Ernaldi adalah seorang Wakil direktur. Dan diwaktu senggang ayahnya, Aisyah mencoba bertanya tanya tentang karyawan-karyawati teladan dan tak sengaja Ernaldi mengucap nama Khalid.
Disitulah Aisyah tahu nama lengkap Khalid. Merasa menemukan sebuah kunci peti emas membuat Aisyah tak pernah bertanya lagi, karena ia juga khawatir jika Ernaldi mengetahui bahwa Aisyah menyukai Khalid.
Jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan akhirnya Aisyah menemukan banyak informasi tentang Khalid.
Mulai dari Sosial media milik Khalid, Blog milik Khalid, keluarga Khalid dan prestasi membanggakan yang sudah Khalid peroleh.
Tentu, saat Aisyah tau hal hal membanggakan tentang Khalid membuatnya semakin mencintai pria yang pernah ditemui olehnya 1 kali tersebut.
Pernikahan yang akan diselenggarakan 2 hari lagi sama sekali bukan beban bagi keluarga kaya seperti keluarga Aisyah.
Ernaldi adalah seorang wakil direktur juga memiliki 2 rumah makan, Karin sendiri seorang wanita karir yang memiliki sebuah butik, dan Aisyah memiliki usaha laundry sendiri.
Tentu bukan hal sulit bagi mereka menyiapkan segalanya dalam 2 hari.
Badan Aisyah terguncang, matanya mengeluarkan kristal kristal bening yang siap meluncur kebawah.
"Ya Allah, bagaimana hambamu bisa menerima seseorang disaat hamba sendiri sedang mencintai orang lain?"
Aisyah menyeka air matanya saat tak sengaja Karin masuk kedalam kamar untuk menemui Aisyah.
"Maaf mama ga ngetuk dulu" Karin duduk disamping Aisyah yang menunduk pandangannya "nak! malam ini setelah Isya, keluarga calon suami kamu akan datang kesini!"
"Apa?!"
__ADS_1
...
Karin dan seorang asisten rumah tangganya sedang menyiapkan makanan manis dan beberapa makanan berat sebagai jamuan makan malam kelurga calon suami Aisyah.
"Bik, tolong ambilkan cangkir coklat ya!"
"Baik buk"
Setelah segalanya selesai mereka menaruh dimeja makan dan menatanya sedemikian rupa agar terlihat rapi dan menggiurkan.
"Alhamdulillah buk, udah selesai semua" Gumam asisten rumah tangga berhijab tersebut dan Karin turut mengiyakan sambil tersenyum.
"Bik, saya permisi kekamar Aisyah dulu, mau liat dianya udah siap belum!"
"Baik buk!"
Karin lansung menuju kelantai 2 kesalah satu kamar yang berpintukan warna coklat.
Ceklek!
"Mama?"
Aisyah sedang berada dimeja riasnya. Karin tersenyum dan mendekati Aisyah yang sudah siap dengan baju dan dandanan tipis andalannya.
"Udah siap kan nak?" Karin memegang bahu Aisyah yang duduk dikursi meja rias.
Aisyah mengangguk lesu dan kembali melihat pantulan dirinya di cermin.
"Kamu udah sholat isya juga kan?"
"Aisyah lagi datang bulan ma!"
"Baiklah, sebentar lagi mereka semua akan datang, kamu tetap disini dan jangan keluar sebelum mama jemput ya?" titah Karin sambil tersenyum lembut khasnya pada Aisyah yang Ogah-ogahan untuk melakukan semua ini.
Karin keluar dari kamar Aisyah menuju kembali ke dapur dan ruang tamu untuk segala persiapan mereka.
Aisyah menunggu didalam kamar sambil termenung meratapi kehidupannya.
Tak lama masuklah kembali Karin yang tampak sumringah dengan senyum mengembang.
"Mereka udah datang nak! yuk," Karin merangkul tangan Aisyah yang masih saja tiada semangat untuk melakukan semua ini.
"Ma, sebelum semuanya berlanjut, setidaknya Aisyah boleh tau nama pria itu"
Karin menoleh sambil tersenyum "namanya Khalid," Karin menjeda dan kembali melanjutkan "Khalid putra Anggara, kebetulan dia kerja dikantor ayah juga."
Deg!
--------
jangan lupa like, vote dan komennya :)
__ADS_1
Instagram: shinta_fahira29