
Khalid menyambar tas kerjanya dari jok belakang mobil lalu lansung berjalan menuju lantai 4 kantornya.
Setelah lift berhenti di lantai 4, dengan cepat ia berlari ke ruangnya.
Ceklek!
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab 3 orang yang ada didalam ruangan kerja Khalid.
"Lid, sumpah ini numpuk banget tau ngak" seseorang lansung menyambar tangan Khalid dan mendudukkan Khalid dikursi dengan komputer didepannya.
Ini memanglah ruang kerja Khalid. Tapi ia sudah meminta 3 orang teman kerjanya untuk membantunya selama acara pernikahan.
Bahkan mereka bertiga tidak dapat mengerjakan ini dalam waktu 2 hari. Sama sekali tidak ada pegawai yang sama seperti Khalid di kantor ini.
Khalid bisa mengerjakan banyak laporan dalam waktu sehari saja belum lagi presentasi dia yang sangat memuaskan membuatnya tak sempat memandang hal lain.
Sekarang tangannya sedang sibuk mengetik ini dan itu. Sedangkan 3 temannya sudah sangat kega karena sang pawang sudah tiba.
Mau lembur atau tidak mereka tidak akan bisa menyelesaikan ini semua. 3 teman Khalid, Syauqi, Rio dan Iqbal.
Rio sudah merebahkan tubuhnya di sofa single, sedangkan Iqbal dan Syauqi duduk di kursi didepan meja Khalid bekerja.
"Argh!" Khalid merasakan pusing yang teramat kala ia melihat banyak kerjaan yang belum ter-ceklis. Khalid memijit pelipisnya pelan, sebelum sore 3 kerjaan ini harus sudah usai.
Kemudian tangan Khalid kembali lihai mengetikkan ini dan itu. Suara ketikan keyboard memenuhi Seisi ruangan
Disudut ruangan, disofa Rio mengambil rokok nya dan menyulut nya dengan api.
Rio mengembuskan asap dari hidungnya, sesekali ia melihat kearah jendela yang memperlihatkan pemandangan luar perusahaan.
"Gimana kabar lo 2 hari ini lid?" tanya Rio pada Khalid yang terlihat sangat fokus dengan pekerjaannya.
"Seperti yang lo tau."
"Maaf gue ga sempet ke acara pernikahan lo. Iqbal sama syauqi juga katanya sibuk banget, biasalah orang udah beristri." Goda Rio sengaja pada Iqbal dan Syauqi.
Syauqi berdecak, "Pernikahan gue ga seindah yang gue pikirin ges. Gue pikir perjodohan akan berjalan bahagia walau kita ga saling kenal."
Jantung Khalid berdetak, disusul dengan suara ketikan yang berhenti. Kalimat yang baru diucapkan oleh Syauqi sangat menohok baginya.
__ADS_1
Iqbal membuka suara. "Apalagi gue, gue pikir menikah sama orang yang kita cintai akan membuahkan kebahagiaan. Rupanya ga semuanya ya, istri gue udah kek eneg liat gue. Katanya gue terlalu baik."
Rio Terbahak kala ia mendengar ucapan Iqbal barusan. "Istri lo marah karna lo terlalu baik?"
Iqbal memandang Rio yang masih terbahak, "Iya. Napa?"
"Lucu aja." Sahut Rio disela-sela tertawanya.
"Dan gue juga udah muak sama dia. Baru-baru ini dia sering pulang malem," Rio berhenti tertawa. "Kemarin malem aja gue cium bau alkohol dibadan dia." Lanjut Iqbal, terdengar jelas kepedihan melalui ucapannya tersebut.
Tak hanya Rio, Khalid juga mendengar seksama curhatan Iqbal walau matanya sangat fokus pada monitor didepan Khalid sekarang.
Rio menghisap batang rokonya dan menghembuskan asap. Hidup lajang sepertinya lebih baik daripada menikah, beda cerita jika pernikahannya akan baik-baik saja. Tapi bagaimana jika akan seperti pernikahan Teman-temannya?
Iqbal memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Memikirkan Sabrina istrinya, semakin lama Sabrina semakin berubah. 8 tahun yang lalu Sabrina tidaklah seperti sekarang. Iqbal merindukan Sabrina yang pertama kali ia kenal, bukan Sabrina yang keras hati seperti sekarang.
"Eh lid. Lu bawa kan yang gue suruh?" tanya Iqbal melihat kearah Khalid.
Khalid menganggukan kepalanya dan lansung mengambil sesuatu diantara dokumen-dokumen yang ada dalam tas kerjanya.
Dan akhirnya yang Iqbal pesankan beberapa hari yang lalu usai. 5 tahun ia bekerja, inilah yang paling paling paling sulit bagi Khalid.
Khalid menyodorkan amplop tersebut pada Iqbal. Iqbal lansung membuka pemberian Khalid dan membacanya dengan seksama.
"Nih!" Iqbal menunjukkan isi dari kertas yang ia baca, "gue g suruh ini deh lid."
Ya tuhan. Amplop ini tertukar, amplop milil iqbal ada di Aisyah dan milik Aisyah sudah ada di Iqbal.
Khalid lansung beranjak dari ruangan tersebut. "Khalid lo mau kemana woi?!" teriak Rio pada Khalid yang sudah berlari jauh menuju lift.
...
Khalid membuka pintu apartment yang kebetulan lupa dikunci oleh Aisyah tanpa mengucapkan salam. Kemudian ia lansung mencari-cari keberadaan wanita tersebut.
Tampak tenang diluar, namun Khalid agak panik juga karena yang akan dia hadapi sekarang adalah seorang wanita.
Seusai dari dapur Khalid berjalan kencang menuju kamarnya, ralat, kamarnya dan Aisyah.
Dari kejauhan Khalid bisa melihat pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Dia sangat yakin bahwa Aisyah sedang berada didalam.
Khalid mengambil langkah besar dan lansung masuk kedalam kamar dan benar saja Aisyah berada didalamnya.
__ADS_1
Sedangkan Aisyah tidak sadar bahwa Khalid sudah berada tepat dibelakangnya yang berdiri didekat ranjang.
Air matanya tak berhenti berlinang saat membaca kata per kata yang tertulis di kertas putih dari amplop pemberian Khalid.
Aisyah selesai membaca semua poin-poin yang tertulis, badannya terduduk lemas tak berdaya. Aisyah berusaha keras untuk tak menangis terlalu keras, tapi menangis tanpa suara adalah suatu yang sangat menyakitkan.
"Perjanjian pernikahan... Kenapa? kenapa harus Aisyah?" tanya Aisyah pada dunia dan seisinya.
Ia telah membaca 10 poin perjanjian pernikahan yang ia dapatkan tadi.
Tangisannya masih saja berlanjut, Aisyah merasa tenggorokannya sudah tercekat. Berulang kali ia menyeka matanya yang sudah sembab namun tak bisa.
"Bangun."
Deg.
Aisyah melihat kebelakang dan mendapat pemandangan sepasang kaki panjang berbalut celana kain, kemudian ia mendongakkan kepalanya melihat siapa yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya.
"K-kak Kha.."
"Bangun." Ulang Khalid sekali lagi dan lansung dituruti oleh Aisyah.
Aisyah masih tersedu, air matanya tak berhenti mengalir. Dia merasa sedikit malu pada Khalid yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya.
"Lihat saya." Tutur Khalid dengan nada dingin khasnya. Apa? beberapa waktu yang lalu Aisyah memang sudah berani menatap lansung kemata Khalid. Namun sepertinya sekarang tidak bisa.
"Aisyah. Lihat saya." Baiklah, Aisyah perlahan-lahan mengangkat wajahnya dan menatap Khalid.
Sorot hangat mata Khalid seakan-akan mengunci mata Aisyah yang berair. Sebentar lagi tangisan Aisyah akan pecah lagi. Tapi sepertinya tidak akan ketika tiba-tiba kedua tangan Khalid merengkuh tubuhnya.
Khalid membawa Aisyah dalam pelukan hangatnya. Jangan tanyakan keadaan Aisyah, ia mencoba mencerna apa yang terjadi sekarang.
"Maafkan saya, maafkan kecerobohan saya." lirih Khalid dalam pelukannya pada Aisyah.
Khalid mempereratkan pelukannya sedangkan Aisyah masih terpaku. Khalid bisa merasakan detak jantung Aisyah yang berdegub kencang.
---
Jangan lupa like, komen, vote.
Insta:@shinta_fahira29
__ADS_1
XD:)