Not A Wedding Dream

Not A Wedding Dream
PTC 11


__ADS_3

Sekarang Khalid sudah memegang knop pintu rumah Iqbal, semakin jelas terdengar suara seperti pertengkaran dua orang pria.


"Lid. Gue takut suwer lid, gimana kalo kita nanti kena tusukan pisonya, trus gue lawan dia ampe mati, eh trus gue ditendang ke penjara lid? ga mau gue lid ah. Mana belum nikah lagi gue."


Khalid memandang datar Rio disampingnya, seperkian detik kemudian, Khalid menoyor kepala Rio. "Lu mikirnya kejauhan"


Ceklek!


Khalid membuka pintu rumah Iqbal, "assalamualaikum " tanpa ba bi bu, Khalid lansung masuk kedalam meninggalkan Rio yang masih termangu diluar.


"Gila. Santuy amat itu om om."


Rio melihat Khalid yang lansung menyelonong kedalam dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana.


"Eh ada orang ga ya?" Rio melihat kiri kanan, takutnya mereka dicurigai. Setelah melihat keadaan disekitar yang aman, Rio lansung menuju kedalam rumah Iqbal menyusul Khalid.


...


Tak perlu berjalan lama, hanya sekitar 10 detik saja, Khalid lansung menemukan 2 orang yang sedang berkelahi dengan satunya yang sudah babak belur tapi si pemukul masih saja puas untuk memukuli pria yang sudah tak berdaya itu.


"Mati lo anj*ng, pria go*lok. Jahannam!!!"


Teriak pemukul tersebut kearah pria yang sudah terkulai dengam beberapa sisi wajah yang mengeluarkan darah segar.


Keduanya. Ralat, ketiganya sama sekali tak sadar akan kehadiran Khalid termasuk si wanita yang berdiri dengan air mata yang sudah bercucuran mencoba menghentikan pria disampingnya yang masih saja belum puas memukuli Iqbal.


Tak hanya bogemannya, kakinya juga tak tinggal diam menendang kaki Iqbal. "Jauhin Sabrina setan!!!"


Khalid berdehem santai, "yang harusnya jauhin Sabrina itu elo, bukan Iqbal suaminya."


Setelah itu Khalid lansung mendaratkan bogeman kewajah pria yang ia tak ketahui namanya sama sekali.


Bagh!


Bugh!


Bugh!


Bagh!


Hingga akhirnya pria tersebut jatuh pingsan dan tak sadarkan diri akibat hujaman pukulan Khalid padanya.


"Khalid lo si*lan"


Sabrina mendorong dada Khalid agar tak menghujami bogeman lagi pada pacarnya. "Lo mihak Iqbal atau dia?" tunjuk Khalid pada pacar Sabrina dan Iqbal bergantian.

__ADS_1


Rio yang baru masuk lansung merasakan atmosfer ketegangan yang luar biasa, hingga matanya tertuju pada Iqbal yang sudah tak sadarkan dengan darah yang tak berhenti.


Melihat keadaan Iqbal seharusnya ia sudah dibawa kerumah sakit segera, tapi jalanan cukup macet sekarang.


Dia melangkah cepat kearah Iqbal. "Bal lu masih sadar kan? Iqbal!"


Iqbal tak menyaut, sepertinya ia benar-benar pingsan. Tak pikir lama dan tak ingin mendominasi suasana Khalid dan Sabrina, Rio pun lansung menelfon pihak rumah sakit terdekat untuk datang segera serta membawa ambulance karena suasana diluar yang macet.


"Halo pak, tolong datang ke perunahan kenanga merah, rumah nomor 23. Tolong cepat pak, ini darurat!"


"..."


"Sekalian ambulance nya pak sebab diluar lagi macet banget, sedangkan kondisi temen saya juga parah banget ini."


"..."


"Baik pak, tolong cepat segera. Ini darurat"


"..."


"Ok!"


Pria tersebut mematikan ponselnya kemudian mengambil bantal sofa dan menjadikan bantal itu sebagai bantalan kepala Iqbal.


Rio menjelajah mencari keberadaan kotak tisu atau segelas air atau apalah itu yang bisa Rio lakukan untuk Iqbal sambil menunggu dokter datang.


Rio menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "eh mbak, suami lo sekarat lu ga ngeh apa-apa atau gimana?" tanyanya pada Sabrina yang memegangi tangan pacarnya yang babak belur akibat ulah Khalid.


Mendengar seruan tersebut, Sabrina hanya menoleh sebentar dengan mata yang masih berair, kemudian ia kembali membantu memapah pacarnya yang sudah agak sadar untuk berjalan.


Rio meneguk ludahnya susah payah ketika menyaksikan respond Sabrina pada Iqbal yang notabene adalah suaminya sendiri.


Ok! baiklah. Rio tak ingin berurusan lagi dengan Sabrina. Ini memang kali pertama baginya bertemu dengan Sabrina, tapi melihat dari sifatnya tersebut membuat Rio mengerti keseluruhan tentang Sabrina.


Khalid sedari tadi menatap tajam pacar Sabrina, sungguh dia belum puas sama sekali. Ingin dia menghujami bogeman dan tendangan lebih banyak lagi ketika membandingkan lukanya dan luka Iqbal.


15 menit kemudian terdengar suara ambulance dari luar. Rio dan Khalid sendiri sangat yakin bahwa itu dokter yang mereka panggil kemari.


Khalid melangkah keluar, dan benar mobil orang sakit tersebut sudah terparkir tepat didepan mobil Khalid.


Suara sirine ambulance sepertinya menarik perhatian beberapa penghuni tetangga, bahkan ada beberapa yang keluar sambil berjalan kerumah Iqbal dan Sabrina.


Khalid berdecak malas, inilah yang dia pikirkan saat Rio menyuruh dokter untuk serta membawa ambulance juga.


Dari belakang, Khalid mendengarkan hentakan pantofel. "Khalid lo kenapa ga suruh masuk dokternya?"

__ADS_1


Khalid tak menjawab Rio, karena memang Rio tak berhenti disampingnya melainkan terus berjalan kearah ambulance berhenti.


"Assalamualaikum dek," tiba-tiba seorang pria yang Khalid perkirakan berumur setengah abad muncul disampingnya.


"Waalaikumsalam pak."


"Dek, apa Sabrina atau Iqbal sedang sakit ya?"


"Iya pak."


Orang tua tersebut ber-oh ria, sedangkan Khalid ingin cepat-cepat masuk kedalam saat melihat Rio menuntun seorang dokter dan suster masuk kedalam rumah.


"Pak, saya izin masuk dulu kedalam."


"Baik dek, silahkan."


...


"Ini yang mana satu yang kami obati pak Rio?" dokter muda tersebut bingung ketika melihat ada dua orang pasien disini. Sedangkan dirinya hanya membawa perlengkapan untuk satu orang saja, karena memang begitu yang dikatakan Rio ditelfon tadi.


Rio dan Khalid berjalan kearah Iqbal, "yang ini pak!"


Dokter dan suster tersebut berjalan mengikuti Rio dan Khalid, dia menatap lekat kondisi Iqbal.


"Mashaallah, kondisi beliau agak parah. Boleh kita angkat dulu kekasur atau kesofa dulu pak Rio?"


"Bisa pak!"


Kemudian dokter tersebut melepaskan tas kerjanya dan mengangkat Iqbal. "Pak sepertinya diangkat saja kesofa" tutur Rio yang merasakan berat tubuh Iqbal.


Sabrina dan pacarnya disana hanya memperhatikan seperti nyamuk. Merasa dicueki, akhirnya merekapun berjalan pelan keluar rumah.


Keadaan tersebut tak disadari oleh dokter, Rio dan suster. Tapi disadari oleh Khalid, hanya saja ia tak ingin ikut campur dengan sampah.


Setau Khalid, dari pintu samping rumah Iqbal mereka bisa menuju keparkir belakang. Disana terdapat mobil juga, memang Sabrina dan pacarnya berjalan kesana karena Khalid mendengar suara deru mobil sekarang.


Khalid memijit pelipisnya merasakan pusing yang teramat, dia tak ingin pernikahannya juga akan berimbas seperti ini suatu hari jika saja ia menikah dengan orang yang sama sekali tak ia kenal.


Tak lama, dokter pulang meninggalkan Khalid, Rio dan Iqbal yang masih terkulai lemas disofa. Sabrina dan pacarnya entah kemana dan hal itu sama sekali tak penting untuk Khalid.


Rio duduk disebelah Khalid yang termangu sambil terus menatap Iqbal yang tak sadarkan diri sana. "Woi pak gosah galau gitu, dah kek pacarnya aja lu. Istrinya aja ga peduliin."


--------


jangan lupa like, vote dan komennya :)

__ADS_1


Instagram: shinta_fahira29


__ADS_2