Not A Wedding Dream

Not A Wedding Dream
PTC 10


__ADS_3

Di Apartment.


Khalid tidak pulang kerumah orangtuanya, melainkan menuju ke apartment nya saja. Ia terlalu malas untuk membahas pernikahan dengan ayah dan mamanya.


Sekarang ia sedang merebahkan tubuhnya dikasur. Pikirannya memutar kejadian tadi siang saat ia melihat teman wanitanya berjalan dengan pria lain.


Padahal ia sudah menikah, apakah semu wanita begitu? Khalid tidak ingin mendapatkan wanita seperti itu.


Sama sekali tidak. Padahal ia sangat ingin menikahi Azzura pacarnya, perihal perjodohan tersebut juga sudah ia bicarakan dengan Azzura dan ia menerima hal tersbeut dengan lapang dada.


Ini semua diluar ekspektasi Khalid, sebelumnya ia membayangkan saat ia memberitahukan tentang ini pada Azzura, mungkin saja Azzura akan menangis lalu berlari meninggalkannya sendiri.


Namun sama sekali tidak, Azzura malah tersenyum dihadapannya dan memberikan beberapa wejangan untuknya jika ia sudah menjadi suami nanti.


Kemudian Azzura diantar kembali kerumahnya oleh Khalid, dan saat itulah pertemuan terakhir mereka sebelum ia menikah dengan Aisyah.


Khalid membalikkan badannya memeluk guling, tapi tangannya terasa menyentuh sesuatu. Khalid memegangi tas kerjanya, hingga ia kembali teringat tentang perjanjian pernikahan yang ia buat tadi.


Ia mendesah berat, memejamkan matanya. Seberat ini kah menikah? Iqbal yang menikah dengan Sabrina saja sudah diberi cobaan seberat ini, apalagi Khalid yang akan menikah dengan orang yang tak dikenalnya sama sekali.


"Gue harus nyelesaiin ini sekarang."


Khalid spontan bangkit dari kasurnya kemudian ia meraih tas kerja dan berjalan menuju meja kerja.


Pria tersebut meletakkan tasnya diatas meua kerja, membuka resleting tas tersebut dan mengambil kertas yang berisi perjanjian pernikahan yang ia tulis tadi siang.


Iqbal sepertinya agak berat untuk menerima poin-poin ini, ini sangat susah sekali bagi Khalid, sebelumnya ia bekerja demi perusahaan dan itulah bidangnya.


Tapi ini bukan bidang Khalid sama sekali, ini mempertaruhkan pernikahan antara  dua insan.


Khalid menatap lekat bait-bait didepannya, ia menggigit ujung jari sambil mengetuk-ngetukkan ujung pulpen ke meja.


Ia berpikir keras untuk menulis-nulis poin yang logis untuk ini semua. Khalid memejamkan matanya mencoba memutar akal agar semua ini menyambung dengan keadaan Iqbal.


15 menit kemudian, ia mengacak rambut frustasi. Mengapa ini sangat susah? ia tinggal menyusun kata-kata saja dan itu semua selesai.


Tapi ini tak bisa, tidak semudah memikirkan hal tersebut. Ini bukan hanya tentang kalimat melainkan sebuah perasaan dan ketentuan didalamnya.


Tunggu!


Tunggu!


Tunggu!


Ini akan mudah jika ia menyambungkannya dengan kejadian tadi siang. Khalid tersenyum miring, akhirnya ia menemukan sebuah ide untuk merangkai segalanya.


Ia mulai menulis.


...


Seperti biasa, paginya diawali dengan mandi dibawah guyuran air panas yang dipancurkan dari shower setelah sebelumnya ia menunaikan ibadah sholat dimesjid terdekat.


Setelah merasa seluruh tubuhnya bersih, Khalid meraih handuk yang ia sangkutkan dan keluar dari kamar mandi.


Ia menutup pintu kamar mandi, dan lansung menuju lemari pakaian miliknya. Satu masalah tentang Iqbal selesai, tinggal ia memikirkan masalah pribadinya.


Setelah usai berpakaian rapi, Khalid meraih jam tangan rolex yang ia taruh diatas nakas. Khalid menghela nafas gusar, ia akan menikah dengan seorang yang tidak ia kenal sama sekali.


Kemudian ia memakai pantofel barunya. Berkaca sebentar dan ketika memastikan sudah bersih dan wangi, Khalid menyampirkan tas kerjanya.


Ceklek!


Khalid membuka pintu kamar, tapi ia seperti mencium bau masakan yang sangat khas. Seperti masakan mamanya.


"Ma!"


Panggil Khalid, ia ingin memastikan bahwa itu memang mamanya. "Disini nak!" dan benar saja itu memang Zahra yang sedang memasakkan sarapan untuk Khalid.

__ADS_1


Khalid berjalan kearah dapur, melewati lorong kecil dan lansung sampai didapur yang sangat jarang ia pakai.


"Khalid. Kamu mau pergi kerja nak?"


"Hm."


Zahra sedang mengaduk-aduk nasi goreng kesukaan Khalid. Nasi goreng dengan bumbu khas Aceh. Dulu saat mereka pergi keaceh 6 tahun yang lalu, Khalid lansung jatuh cinta dengan nasgor Aceh, apalagi mie Acehnya. Tiada dua.


Klek.


Zahra mematikan kompornya. "Mama kapan kesini?"


"Tadi abis subuh, lansung kesini. Tadi kayaknya kamu lagi mandi deh, mama ga ganggu. Terus mama liat dimeja makan ga ada apa-apa, lansung deh mama masakin."


Zahra mengambil piring untuk Khalid dan akan ia pakai untuk menuang nasgor yang sudah matang itu.


"Oh."


"Kamu tiap pagi ga suka sarapan?"


"Suka!"


"Terus kenapa pas mama sering kesini mama ga liat tuh makanan dimeja makan kamu."


"Mager."


"Wah, kayaknya kamu kudu cepat dinikahin biar ada yang masakin."


Skak mat!


Khalid menatap punggung Zahra dengan tatapan yang bingung, sedangkan Zahra yang memunggungi Khalid tersenyum penuh kemenangan.


Singkat cerita, setelah sarapan ia lansung melaju menuju tempatnya bekerja. Hal yang pertama ia lakukan adalah menemui Iqbal untuk memberikan perjanjian tersebut.


Sesampainya dikantor.


"Selamat pagi pak Khalid." sapa hangat seorang satpam, dan Khalid hanya mengangguk saja, semuanya juga mengetahui tabiat cuek Khalid.


"Assalamualaikum."


Orang tersebut membalikkan badannya. "Waalaikumsalam lid, kenapa?"


"Iqbal ada?"


Orang yang bernama Danar tersebut tersenyum hangat, "wah, ga nampak tuh. Biasanya juga dia datang awal, padahal hari ini kita ada deadline."


Ini sedikit aneh bagi Khalid. Dalam masalah kedisiplinan, Iqbal patut diacungi jempol. Tidak mungkin hanya karena kecemburuannya pada Sabrina ia rela meninggalkan pekerjaannya. Kecuali...


"Terimakasih."


Ucap Khalid, kemudian ia membalikkan badannya. Ia tidak pergi menuju ruang kerjanya, melainkan kembali menuju keparkiran kantor.


Untuk kerjaan akan ia selesaikan lewat laptop saja, ia mempunyai firasat buruk tentang Iqbal.


Khalid mengeluarkan mobilnya, kemudian melaju kencang. Firasat buruk itu semakin kuat, entah kenapa memang sesuatu sedang terjadi.


Khalid meraih ponselnya dan mencari kontak Rio.


Telepon terhubung.


"..."


"Waalaikumsalam ri."


"..."


"Kerumah Iqbal sekarang."

__ADS_1


"..."


"Gue punya firasat buruk."


"..."


"Ok."


"..."


"Waalaikumsalam."


Kemudian Khalid mematikan ponselnya dan meletakkannya asal saja. Kurang dari lima menit lagi ia akan sampai ditempat tujuan.


...


Rumah Iqbal tertutup rapat, gorden jendela juga tak dibuka. Ini aneh atau bisa dibilang wajar juga.


Tapi didepan rumahnya terparkir sebuah mobil, tunggu. Itu mobil yang sama yang Khalid lihat kemarin siang dilampu merah.


Apakah?


"Khalid!"


Seseorang memanggil Khalid, Rio. Untunglah ia datang tepat waktu. Kemudian Khalid memberikan kode agar Rio dan dirinya menuju kerumah.


"Lu yakin lid?" sekarang Rio dan Khalid sudah berdiri tepat didepan pintu masuk rumah Iqbal.


"Lid, kita sama aja ikut campur urusan rumah tangga orang woi," bisik Rio agar tak terdengar kemana-mana.


Khalid masih saja menatap lekat pintu rumah Iqbal yang hanya berjarak satu meter darinya.


"Lid, kok gue jadi mendadak gak enak hati yak?" Rio menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Eh, gue tau ya masalah dia tapi gue ga mau main tonjokan ame pacar istrinya."


Rengek Rio ketakutan, maklumlah ia termuda diantara mereka ber-empat dan masih lajang juga.


"Eh lid..."


"Lu ga bisa diem bentaran yak?" selak Khalid cepat sambil mentap Rio.


"Emang kenapa sih?"


"Lu denger?"


"Apaan?"


"Fokus."


"Gue ga denger!"


"Fokus."


"Gue ga..."


Rio mendengar itu, seperti suara umpatan dari 2 orang pria. Rio mencoba memastikan pendengarannya, ia mencoba fokus. Dan benar ia mendengar suara cekcok antara 2 orang dan 1 wanita yang menjerit.


"Khalid gue takut."


"Ngapain takut?"


"Gue ga mau ikut campur."


"Dia temen kita, dan kita wajib bantu dia."


--------

__ADS_1


jangan lupa like, vote dan komennya :)


Instagram: shinta_fahira29


__ADS_2