
"Ma. Mama masih di apartment aku? aku ga pulang ya?"
"..."
"Temen Khalid lagi sakit ni, si Iqbal"
"..."
"Iya mama."
"..."
"Waalaikumsalam"
Khalid meletakkan kembali ponselnya ke saku. Ia kembali mengingat kejadian tadi sore, saat-saat dimana ia melihat ketidakadilan dalam sebuah hubungan. Ketika yang benar malah disia-siakan dan ketika yang bukan hak malah menjadi sebuah prioritas. Khalid memandang susanasa malam melalui rooftop rumah Iqbal.
Syukurlah Iqbal sudah sadarkan diri, tapi Rio dan Khalid memutuskan untuk tak pergi dahulu sebab mereka takut pacar Sabrina akan menyerang Iqbal lagi dan bisa saja bukan lebih keras dari tadi?
Angin malam membuat Khalid merasakan tenang. Udara sepoi-sepoi tersebut seakan-akan membawanya kedalam dunia yang damai, dunia yang tidak ada pertengkaran sama sekali. Hingga deru angin tersebut bercampur dengan bau-bau khas yang sering Khalid cium.
Dari belakang badannya, samar-samar ia mendengar suara hentakan pantofel yang dikenakan oleh seorang pria. Suara tersebut semakin dekat, disusul dengan bau sesuatu yang semakin tercium tajam.
"Makan malam datang."
Khalid memutar tubuhnya, dari belakang badannya ia melihat Rio datang dengan membawa nampan berisi 2 mangkuk yang sudah tentu berisi makanan.
"Makan dulu lid, dari tadi abis sholat ashar, maghrib, isya lu gak makan apa-apa!"
Rio meletakkan nampan tersebut keatas sebuah meja yang tersedia disana. Baiklah, memang sedari tadi Khalid tidak mengonsumsi apapun. Khalid melangkah pelan, suasana agak remang-remang sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas makanan tersebut.
"Emang itu apaan?" tanya Khalid.
"Mie rebus plus ada telor buatan gue." Rio menepuk-nepuk dadannya bangga karena berhasil membuatkan makan malam untuknya dan Khalid.
__ADS_1
Pantas saja bau tersebut sangat familiar, Khalid sudah lama tak menikmati mie instan. Mungkin sudah 2 tahun lamanya, saat berpacaran dengan Azzura pun ia tak pernah sekalipun mengonsumsi makanan favorit masyarakat indonesia itu. Azzura sering kali melarang Khalid untuk mengonsumsi panganan tersebut.
"Cobain bro!" Rio yang sudah duduk duluan dikursi mempersilahkan temannya untuk menikmati masakan yang baru saja dibuat itu.
Khalid menarik sebuah kursi santai yang ada dimeja itu dan mendudukkan tubuhnya disana. "Kelihatannya enak" komentar Khalid saat melihat makanan dihadapannya sekarang.
"Oh tentu. Cobain lid!"
Khalid meraih garpu yang ada disamping mangkuk mie, dia menyendokkan sedikit kudapan dengan bau lezat dihadapannya. Tapi entah kenapa sisi hatinya tidak ikhlas jika ia menyantap ini.
Mata Khalid menyorot Rio yang tersenyum sumringah kala melihat masakan yang berhasil ia buat sendiri. Rio mengambil sendok, "wih, bakal enak nih... HOEKK!"
Khalid hampir saja tertawa keras saat melihat Rio yang malah memuntahkan masakan yang ia bangga-banggakan tadi.
"Gila. Kok bisa nggak enak gini yak. Argh!" Rio melempar asal sendok kedalam mangkuk tersebut. Baiklah, Khalid tak jadi melahap habis mie buatan Rio.
Sekarang Khalid mengambil ponselnya dan membuka salah satu aplikasi pesan-antar makanan.
Rio yang terduduk kesal melihat aktivitas Khalid. "Lu lagi apa?"
Pria dihadapan Khalid mengernyit. "Lu ga mau makan masakan gue?" Rio menatap mienya sekilas, "orang keliatannya enak kok!"
Tangan Khalid masih aktif meng-scroll daftar restoran makanan dilayar ponsel miliknya. "Lu mau makan apa?" Tanya Khalid pada Rio tanpa menjawab pertanyaan Rio tadi, mendengar hal tersebut membuat Rio menjadi lesu dan membungkukkan badannya sambil menatap kearah mie buatannya dimeja.
"Ayam goyeng."
Khalid menyorot Rio bingung. Mendengar tutur Rio tadi, ingin rasanya Khalid melempar temannya itu ke planet lain saja. "Liyo mau ayam goyeng pokokna, ga mau yang lain." Ujar Rio lesu sembari mengaduk pelan masakan gagal yang ia masak tadi.
15 menit kemudian.
Sedari 15 menit yang lalu, Khalid sudah memesan 3 porsi makan malam untuknya, Rio dan Iqbal. Perkiraannya, pesanan ia tersebut akan tiba sebentar lagi. Khalid sengaja memesan makanan di restoran terdekat yang hanya berjarak 1 kilometer, karena ia sudah sangat kelaparan sekarang.
Khalid memandang Rio, Rio masih sama seperti tadi, terduduk lesu dengan sambil mengaduk-ngaduk mienya pelan. Khalid menatap Rio intens, kemudian ia mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Lu sakit?" Khalid menempelkan tangannya didahi Rio, namun saat merasakan suhu tubuh Rio yang biasa saja, Khalid kembali menarik tangannya dan beralih menatap Rio intens.
"Liyo dak takit kok, liyo cuma pingin ayam goleng aja, babang Kayid duga ga mau makan mie buatan liyo kan?" Rio memasang tampang wajah puppy's face dan dibuat-buat agar terlihat seperti tampang anak kecil yang imut nan menggemaskan. Khalid meneguk ludahnya susah payah melihat sikap pria dihadapannya sekarang.
Baru saja Rio ingin berbicara dengan nada imut lagi, seseorang malah menoyor kepala Rio. "Sok imut lu bambang." Rio mendongak keatas melihat orang yang menoyor kepalanya.
Iqbal, yap! dialah Iqbal. "Dah sembuh lu?" tanya Khalid yang mulai menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Sedangkan yang ditanya hanya tersenyum mengangguk tanda ia sudah sembuh.
Wajah Iqbal masih agak memerah dan membiri dibeberapa sisi, sudut bibirnya juga ditempelkan perban, juga didahi kirinya.
Iqbal mendudukkan badannya disamping Rio. "Nih!" Iqbal meletakkan sebuah kresek berisi 3 kotak styrofoam yang mungkin saja berisi makanan keatas meja dihadapan mereka.
"Yang gue pesen?" Khalid bertanya sambil mengeluarkan satu persatu kotak makanan tersebut dan meletakkannya didepan Iqbal dan Rio.
"Iya, mayan kan. Istri gue juga ga masak." Tutur Iqbal, namun seperkian detik kemudian ia sadar apa yang barusan ia ucapkan tadi. Ia tersenyum getir memikirkan nasib pernikahannya.
Rio dan Khalid merasa canggung terhadap apa yang Iqbal ucap barusan, seakan-akan mereka bisa merasakan juga apa yang sedang Iqbal rasakan.
"Dahlah, yok makan." Khalid dan Rio mengiyakan ajakan Iqbal untuk menikmati santap malam mereka.
Satu persatu dari 3 pria tersebut membuka pembungkus makanan itu. "Lho kok puna liyo bukan yam goyeng cih?" Liyo melipat tangannya didada persis seperti anak kecil yang sedang merajuk. "Liyo mauna yam goyeng bang kayid." Tutur Rio dengan suara yang dibuat-buat agar terdengar sama seperti anak kecil.
Khalid jengah dengan sifat Rio yang begini, kemudian tangan kanannya menoyor kuat dahi Rio. "Makan buru!"
Melihat kejadian tersebut membuat Iqbal tertawa keras, apalagi saat ia melihat Rio yang tampak terkejut saat Khalid menoyornya dengan keras.
Rio melihat kesamping, melihat tawa lepas Iqbal, hingga ia turut tertawa mengingat tingkah konyolnya barusan.
Khalid? Khalid hanya tersenyum, melihat Iqbal yang tertawa lepas seperti seorang yang tidak punya beban pun cukup baik untuknya sekarang.
...
--------
__ADS_1
jangan lupa like, vote dan komennya :)
Instagram: shinta_fahira29