Not A Wedding Dream

Not A Wedding Dream
PTC 2


__ADS_3

Aisyah berjalan mendekati ambang pintu kamar dengan hati yang was-was. Bagaimana tidak was-was jika ia akan dinikahkan dengan seorang Khalid yang naudzubillah sangat sempurna di matanya


Aisyah menggenggam kedua telapak tangannya kuat. Bau-bau make up yang membuatnya pusing hilang seketika saat kegugupan lebih mendominasi ia saat itu.


"Udah, gugupnya ngak usah ditahan" gumam Karin mencoba menenangkan Aisyah yang sudah seperti patung, Aisyah membatu ditempat, ia tak sanggup berjalan.


Jauh dari pintu ia sudah mendengar cipika-cipiki dibawah sana. Aisyah kembali melangkah dengan lengan kanan yang dipegang dan dituntun oleh Karin.


Setttttt!!!


Aisyah menuruni tangga dengan anggun dan mencuri pandang kearah ruang tamu.


Deg!


Benar! benar sekali apa yang diucapkan oleh Karin. Disana ia kembali melihat Khalid yang sudah 4 tahun ini mengisi relung hatinya.


Khalid sedikit berbeda; Rambutnya sedikit cepak dan kulit yang sedikit terlihat lebih cerah, juga brewok tipis yang menghias sisi wajahnya.


Wanita berusia 21 tahun itu tak mampu menyembunyikan senyumnya, Aisyah sekarang tersenyum dalam malu.


Ia berusaha mati matian agar tidak ada yang tau bahwa ia sedang tersenyum bahagia sekarang.


Jangan tanyakan jantungnya, yang sudah pasti berdetak sangat kencang.


Aisyah kembali dituntun oleh Karin, ia mendengar pujian yang dilempar kepadanya dan Aisyah tak kuasa menahan malu.


"Waw! cantik sekali calon mantu saya"


Kalimat itu berasal dari wanita paruh baya yang duduk disamping Khalid yang Aisyah sangat yakini bahwa itu Ibu dari Khalid.


Karin mendudukkan anak perempuannya ditengah tengah ia dan suaminya, sedangkan Alvan berada disofa single satu lagi.


Aisyah mencoba mengangkat pandangan malu malu, ia ingin melihat wajah suaminya.


Deg!


Darahnya berdesir saat melihat Khalid yang sedang menyesap sirup dari dalam gelas cantik milik Aisyah.


Gelas itu adalah gelas yang Aisyah pilihkan beberapa minggu yang lalu saat ia menemani Karin berbelanja.


"Baiklah, tinggal tunggu persetujuan dari calon mempelai saja sekarang nih!"


"E-eh," Aisyah Terkesiap, "Gimana?" Tanyanya sekali lagi.


"Akad pernikahan akan diadakan 2 hari lagi, sekarang Aisyah bagaimana? setuju kan?" Tanya Ernaldi pada Aisyah.


Aisyah mengerjap-ngerjap takut salah menjawab dan akan mengecewakan Keluarga.


"A-aisyah ikut kak Khalid Aja deh!" Jawab Aisyah kikuk dan lansung disoraki oleh kedua belah pihak keluarga.


"Cieeeeeeeee!!!"


"Udah pakek kaka kaka aja" Goda Karin sambil menoel pipi Aisyah yang sudah memerah karena menahan malu.


Sedangkan Khalid hanya memutar bola matanya malas, perasaannya sangat jauh seperti perasaan Aisyah.


Ia ingin Pulang sekarang juga!

__ADS_1


15 menit berlalu dan mereka masih mengobrol membicarakan konsep pernikahan dan hal-hal lainnya.


"Ma, pa! Khalid izin keluar sebentar ya"


"Kamu mau kemana?"


"Mau cari udara malam sebentar Ma,hehe!" Khalid tersenyum dan hal tersebut membuat Aisyah tertegun.


"Yasudah! jangan lama lama ya!"


"Iya ma"


Pria berperawakan 182 cm tersebut bangkit dari sofa dan menuju keluar rumah saat sudah menerima persetujuan dari Zahra ibunya.


Ia menghirup udara malam yang menyejukkan, pandangannya menangkap sebuah ayunan besi.


Tap


tap


tap


Suara pantofel miliknya yang berjalan diatas semen teras rumah.


Setidaknya ini lebih baik daripada harus bertatap muka dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya didalam.


Entah mengapa Khalid merasakan sesak dan pengap yang luar biasa didalam, mungkin ia belum terbiasa dengan suasana yang hangat ini.


Mulutnya berkomat-kamit melafadzkan dzikir, ini adalah kebiasaan Khalid saat senggang.


Pria yang sedang duduk diayunan tersebut mencoba relax dan menetralkan pikirannya.


"Kak!"


Khalid menoleh kesamping saat sebuah suara menyeruak keseisi teras tersebut.


"Kamu?" Khalid mengernyitkan pandangannya melihat Aisyah yang berdiri kikuk diteras rumah "ada apa?"


"Ma-maaf kak, kaka dipanggil kedalam" tutur Aisyah gugup dan tak sanggup memandang ciptaan Allah yang sangat sempurna dipandangan Aisyah.


Mendengar hal tersebut lansung saja Khalid bergegas berdiri dari Ayunan dan masuk kedalam rumah melewati Aisyah begitu saja.


...


Setelah melaksanakan segala tujuan, keluarga Khalid pun beranjak dari kediaman keluarga Aisyah.


Saat perjalanan pulang tak henti henti Zahra ibu Khalid memuji Aisyah calon menantunya.


"Menantu kita pak udah cantik sholeha pulak, ya kan?"


"Iya buk, bapak suka tipikal menantu seperti si Aisyah itu, dari wajahnya saja sudah kelihatan kalau dia wanita baik hati, sopan..."


"Mama sama papa daritadi ngomongin Aisyah mulu deh kayaknya" selak Khalid yang muak mendengar pembicaraan Orang tuanya.


Zahra menatap Khalid heran, begitu juga dengan Arif yang kebingungan.


"Iya-iya Khalid salah," Khalid menjeda pembicaraannya "tapi bisa ga sih kalian ga ngomongin dia mulu?"

__ADS_1


"Khalid! kamu kenapa nak?" Zahra mengelus-ngelus puncak kepala Khalid.


"Ngak biasanya kamu suka kesal gini!" ujar Arif yang masih fokus menyetir.


Khalid membuang pandanganya kejendela, ia merasa bersalah karena telah membentak kedua orangtuanya.


Gerimis mulai membasahi segala yang ada dibawahnya, rintik rintik yang beraturan tersebut membuat Khalid sedikit tenang dan merasa agak damai.


Setelah hal tadi tak ada lagi percakapan antara anak dan orang tua tersebut, seisi mobil membisu dan Khalid merasakan kesalahan akan hal tadi.


Saat sampai dirumah, Khalid lansung turun dan masuk kedalam rumah begitu saja.


Dia memang sudah lancang lansung masuk kedalam rumah tanpa menunggu Zahra dan Arif yang masih tercengang didalam mobil.


"Gue ga mau nikah!" Gerutu nya ditengah jalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua.


Sedangkan Zahra dan Arif masih kebingungan dimobil "Khalid kenapa pak ya?"


"Bapak juga ngak tau buk, mungkin dia ada masalah dikantornya!"


"Bener jugak pak! mungkin dia lagi stress"


"Yasudah buk, hayuk kita turun!"


"Iya pak."


Dilantai dua rumah yang agak megah tersebut, dikamarny khalid menghempaskan tubuh dan mendesah berat.


Pandangannya menyapu langit-langit kamar yang bernuansa putih dan abu-abu.


"Astagfirullah!" Khalid bangkit dari tidurnya dan mencoba mengelus-ngelus dadanya "Ya Allah maafkan hamba yang sudah diperbudak oleh Emosi!"


Khalid kembali menatap nanar lantai kamarnya.


Plakkk!!


Sebuah tamparan mendarat dipipi kanan Khalid, dan tamparan tersebut ia lakukan sendiri "beneran gue mau nikah??"


Plakkk!!


Sekarang sebuah tamparan mendarat dipipi kirinya "sama anak bos gue dikantor!"


"Arghhh!" Khalid menjambak rambutnya frustasi, ia merasa serba salah jika harus menikahi Aisyah.


"Semua orang ga bakal ngerti perasaan gue ke dia!"


Khalid menghembuskan nafasnya kasar, tangan kekarnya menculuti satu persatu anak kancing kemeja yang sedang ia pakai sekarang.


Kakinya menuntun tubur perkasa tersebut menuju kamar mandi.


Mandi dengan air dingin adalah satu hal yang biasa khalid lakukan saat stress seperti ini.


--------


jangan lupa like, vote dan komennya :)


Instagram: shinta_fahira29

__ADS_1


__ADS_2