Not A Wedding Dream

Not A Wedding Dream
PTC 9


__ADS_3

Aisyah merasakan tangannya sangat berat untuk membalas pelukan Khalid. Tangisannya mereda, bukan mereda tepatnya seperti terhalang dengan keterkejutan yang amat luar biasa akibat perbuatan spontan Khalid.


"Aisyah, maafkan saya."


Dari tadi hanya itu yang diucapkan Khalid dalam pelukannya pada Aisyah. Satu tangannya masih memegang secarik kertas berisikan perjanjian pernikahan.


Khalid merenggangkan pelukannya. "Saya akan menjelaskan semua."


Falshback on


5 hari yang lalu.


Khalid merasakan getaran dari saku celananya. Rupanya getaran tersebut berasal dari seseorang yang menelfon Khalid.


"Halo. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam lid. Lu ada waktu ngak? kalo ada waktu gue mau bicara sama lu di caffe biasa tempat kita nangkring."


"Iya."


"Sempet kan lo? ngomong-ngomong gue lagi ke kafe nya sekarang."


"Ok."


"Sip deh. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam."


Khalid meletakkan kembali ponselnya ke dashboard mobil. Kabar dari Iqbal tadi membuat Khalid memutar arah, ia tak jadi lansung pulang melainkan lansung menuju ke kafe yang tempat ia dan temannya ngopi.


Mobil melaju sedang bersamaan dengan kendaraan lainnya. Tepat disamping mobil Khalid yangs sedang melaju terdapat sebuah mobil dengan seorang wanita yang sangat dikenal oleh Khalid.


Khalid melihatnya sekali saja dalam rentang waktu tak lebih dari 5 detik. Kemudian ia kembali fokus dengan laju mobilnya.


Sekitar 1 kilometer sebelum sampai ke kafe, tiba-tiba Khalid harus berhenti dilampu merah. Hal ini membuatnya menoleh lagi kesamping, kebetulan mobil dengan penumpang wanita tersebut juga berhenti didepannya.


Waktu untuk lampu hijau menyala masih 30 detik lagi, Khalid kembali melihat kedepan. Samar-samar ia mendengar cekikikan wanita tersebut bersama dengan pria didalamnya.


Inilah yang membuatnya kembali menoleh, tawa yang sudah lama tak ia dengar kabarnya. Sorot tajam mata Khalid terus menerawang wanita yang terlihat sangat bahagia tersebut.


Seperti seorang ABG yang kasmaran dan akan pergi untuk jalan-jalan. Tapi ini berbeda, dia bukan lagi remaja.


Wanita yang sangat dikenal Khalid bahkan sebelum ia bekerja.


Tin! Tin!


Suara klakson dibelakang Khalid membuyarkan fokusnya. Rupanya lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau.


Mobil Khalid kembali melaju dengan kecepatan sedang kearah selatan tepatnya ketempat kafe itu berada. Pikirannya masih terpaku pada kejadian yang tadi ia lihat.


Tak sampai 10 menit sampailah Khalid didepan Kafe tersebut, ia memakirkan mobilnya ditempat parkiran. Sudah lama ia tak kesini, sudah sekitar 1 bulan lamanya.


Kafe ini sudah berdiri sejak 8 tahun belakang, sejak sebelum Khalid bekerja. Dari luar Khalid sudah melihat Iqbal dengan segelas minumannya.

__ADS_1


Iqbal yang menyadari hal tersebut juga turut melambaikan tangannya kearah Khalid yang berjalan menuju pintu masuk.


Cling!


Suara lonceng yang berbunyi saat Khalid membuka pintu kafe tersebut. Khalid yang sebenarnya baru pulang dari kantor juga memboyong tas kerjanya kedalam kafe.


Langkah kakinya berjalan kemeja paling pojok, inilah yang dilakukan Iqbal saat hatinya sedang pilu. Duduk dimeja paling pojok supaya ia bisa fokus pada dirinya sendiri.


Namun matanya selalu memandang kesisi luar Kafe sambil melihat lalu lalang pejalan, namun ia tak terlalu sadar dengan apa yang ia lihat.


"Hai bro. Lama kita ga ngumpul!" Iqbal ber-high five dengan Khalid. Kemudian Khalid menarik kursi didepan Iqbal dan mendudukkan badannya disana.


"Kenapa?" tanya Khalid lansung tanpa basa-basi, memang begitu tabiatnya.


"Gue mau elu buat perjanjian pernikahan buat gue dan Sabrina." Jelas Iqbal pada teman didepannya.


Khalid menaitkan satu alisnya tanda ia bertanya maksud dari permintaan Iqbal untuk membuatkan perjanjian pernikahan untuknya.


"Plis lid."


"Kenapa gue?"


"Karna cuma elu yang kenal gue dan sabrina sejak SMP."


"Ga mau."


"Ayolah lid, gue mau liat Sabrina yang kek sebelumnya, bukan Sabrina yang gini."


"Kenapa?"


"Itu urusan lu."


Lonceng kafe berhunyi, entah kenapa mata Khalid tertarik untuk melihat siapa pengunjung tersebut.


"Lid ayolah," Khalid fokus pada pemandangan yang sedang ia lihat. "Khalid bantu gue untuk nyelesain semu ini."


Pengunjung tersebut adalah orang yang sama yang ia lihat dalam mobil tadi, seorang wanita yang ia kenal dan seorang pria yang mungkin saja pacarnya.


"Khalid lu liat apa sih? " Iqbal melihat Khalid yang tak fokus, ia pun mengikuti garis pandangan Khalid.


Tak sampai melihat kebelakang, Khalid memanggil Iqbal, "gue setuju."


Iqbal kembali melihat kearah Khalid dengan senyum lega, "Khalid gue ambil besok ya?"


"Sekarang?"


Mata Iqbal membulat, "lu bisa sekarang?" tanya Iqbal. Khalid mengangguk mengiyakan permintaan Khalid.


"Gue perlu kertas sekarang sama pulpen juga."


Iqbal lansung mengulik-ngulik isi dari tas kerjanya, dan mengambil apa yang dibutuhkan oleh Khalid.


"Nih lid."

__ADS_1


Khalid meraih kertas tersebut sambil sesekali mencuri pandang ke wanita dan pasangannys tersebut, terlihat begitu bahagia dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


Khalid mencabut penutup ujung pulpen, menarik agak dekat kertas yang akan dia pakai dan mulai menulis satu-persatu bait.


Ia pernah membaca tentang bab perjanjian pernikahan yang dulu ia baca.


Yang pulang ketika larut malam, maka tidak akan diberikan fasilitas kendaraan.


Berani menyentuh saya maka akan saya diamkan sebulan.


Tidak ada kontak fisik sama sekali.


Tidak ada lagi tidur seranjang dengan saya.


Tidak akan saya berikan uang belanja lagi jika berani berbicara dengan saya.


Terpenting, akan saya ceraikan jika berani menentang perintah saya.


Setelah selesai menulis, Khalid menyerahkan kertas tersebut kepada Iqbal. Iqbal menerima kertas tersebut dan membaca poin-poin yang sudah disiapkan oleh Khalid.


"Satu, yang pulang ketika..."


Semakin ia membaca, semakin Iqbal mengernyitkan matanya karena agak aneh untuk sebuah perjanjian pernikahan.


Iqbal menelan ludahnya susah payah kala ia membaca poin terakhir, disana tertera bahwa ia akan menceraikan Sabrina jika ia menentang perintahnya.


"Lid, bisa lu ganti ga? ini terlalu berlebihan woi."


Khalid menautkan alisnya, seperkian detik kemudian ia mengngguk.


Iqbal mengehela nafasnya lega, semuanya berjalan lancar dengan izin Tuhan.


Iqbal menyesap kopi hitam miliknya, kopi Toraja memang sangat pas untuk menemani suasana hati Iqbal yang sedang sendu sekarang.


"Eh lu ga pesen kopi?"


Khalid mengangguk sambil menatap keluar jendela. Terlihat jelas suasana yang mulai gerimis diluar sana.


"Mbak. Kopi satu."


Iqbal memesan sebuh kopi tersebut, Khalid dalam tenangnya terkejut bukan kepalang. Terkejut bukan karena Iqbal yang memesankan kopi untuknya tapi terkejut saat Iqbal menolehkan kepalanya kebelakang karena bar kopi tersebut berada ditengah ruang kafe.


Khalid mengecek suasana sekitar, ia tak menemukan wanita tersebut, mungkin mereka sudah duluan pergi. Pikir Khalid!


Saat Iqbal kembali memutar kepalanya kearah Khalid yang menautkan alisnya, Iqbal malah menyengir karena telah memesankan kopi untuk Khalid yang jelas-jelas menolaknya tadi.


"Anggap aja itu traktiran gue buat elu yang udah bantu gue, walaupun ngak seberapa."


--------


jangan lupa like, vote dan komennya :)


Instagram: shinta_fahira29

__ADS_1


__ADS_2