
"Mantan aku."
Deg!
Jawaban Khalid terdengar seperti dentuman keras yang berhasil mengguncang gendang telinganya.
Mantan?
Mantan, tapi masih sedekat dan seakrab itu? bahkan tadi dia bisa melihat raut khawatir di wajah Khalid saat Azzura izin pamit untuk pulang.
Saat prosesi salam dengan tetamu tak sengaja Aisyah menangkap ekspresi khawatir Khalid sambil terus melihat ke tamu undangan. Aisyah pikir Khalid sedang menerawang para tamu, tapi mungkin ia mengecek kehadiran Azzura.
Jika dibandingkan dengan Aisyah tentu Azzura lebih baik, Azzura memiliki tinggi sehidung Khalid, kulit putih bersih, wajah yang sangat cantik pula.
Sedangkan Aisyah, dia hanya sebahu khalid, Kulitnya tak terlalu cerah, wajahnya juga standar tak secantik Azzura.
Tapi bukankah rasa akan tumbuh seiring waktu? Aisyah yakin walaupun mereka dijodohkan tapi Khalid akan mencintainya suatu saat nanti.
Aisyah sangat suka membaca novel di mangatoon dan noveltoon, terlebih novel yang menceritakan tentang perjodohan.
Saat awal perjodohan mereka terlihat canggung dan bahkan saling tidak mengenal, namun lama-lama rasa cinta akan tumbuh diantara keduanya dan merekapun saling mencintai satu sama lain.
Dia tersenyum sambil terus memegangi gaun putihnya. Ia membayangkan saat dimana Khalid akan mempunyai rasa yang sama sepertinya.
Menyalami Khalid saat ia pulang kerja, menemani Khalid makan, curhat sebelum tidur, bukankan itu semua hal yang sangat menyenangkan?
Brukk!!!
"Aw." Aisyah meringis dan memegangi dahinya yang menabrak punggung bidang Khalid. Mungkin karena terlalu lama menghayalkan masa depannya dengan Khalid hingga ia tidak memperhatikan jalan.
"Kamu melamunin apa?" Khalid membalikkan badannya dan menatap wanita dihadapannya sekarang.
Aisyah tekesiap untuk kesekalian kalinya. "Eh ngak kok kak, tadi cuman terlalu fokus sama bajunya." sungguh Aisyah tak berani untuk menatap mata Khalid.
"Oh." jawab Khalid singkat dan kembali berjalan kedepan.
Tak lama sampailah mereka dikamar hotel bernomor 444.
Ceklek!
Khalid memutar knop pintu dan mendorong pintu tersebut. "Assalamualaikum" salam Khalid dan membuat Aisyah tertegun, syukurlah ia diberikan jodoh sesholeh Khalid.
"Assalamualaikum." Ucap Aisyah pelan saat memasuki ruang kamar tersebut, betapa takjub saat ia melihat kamar hotel ini.
Saat pintu dibuka, Aisyah dan Khalid lansung disuguhkan oleh penampakan ranjang besar dan luas yang menghadap kearah jendela.
Aisyah mengucap syukur ketika ia bisa menikmati ini, Aisyah memang datang dari keluarga terpandang. Namun, ia lahir dari seorang ibu dan ayah yang sangat taat agama, sehingga kekayaan bukanlah target hidup mereka.
Hari telah gelap, Aisyah melepas segala pernak pernik yang ada dibadannya dan meletakkan dimeja kecil dekat jendela.
"Ini kerjaan mama pasti."
Aisyah membalikkan badannya dan menemukan Khalid yang menghempas kelopak bunga yang ditabur diatas ranjang kasur.
"Kenapa emangnya kak?"
__ADS_1
"Ngapain pulak tebar bunga gini, udah kayak kamar janda aja."
Kalimat Khalid tadi membuat Aisyah tertawa geli, dibalik sifat dingin Khalid rupanya ia memiliki selera humor juga walau sebenarnya ia sedang tidak becanda.
"Saya mau mandi dulu."
"Baik kak."
Setelahnya Khalid lansung menuju kekamar mandi dan berniat mengguyur badannya dengan air hangat.
Pria dingin tersebut menculuti satu-satu pakaian yang melekat dibadannya. Kemudian ia meletakkan dengan rapi dimeja yang ada disudut kamar mandi.
Hari ini sangatlah melelahkan, ia harus berdiri berjam-jam untuk menyalami para tamu. belum lagi teman sekantor nya yang berlama lama mengobrol dengan Khalid.
Ia sempat istirahat sebentar saat jam Sholat Maghrib.
Tentang Azzura, Khalid jadi memikirkan Azzura sekarang. Entah apa yang sedang ia lakukan malam ini.
Azzura tampil sangat anggun tadi, namun entah kenapa semua tentang Azzura tidak menarik lagi bagi Khalid.
Sebelum menikah dan sah menjadi suami Aisyah sungguh Khalid sangat mencintai dan menyayangi Azzura.
Hingga hari ini terjadi, Khalid masih belum menyangka ini semua akan terjadi dengan begitu tiba tiba.
Padahal seminggu yang lalu, Khalid baru saja memberikan sebuah mukena yang khusus dipesan olehnya dari Mesir sebagai hadiah ulang tahun Azzura.
Sudut bibir Khalid tersenyum miring. "Jodoh emang ga ada yang tau."
Setelahnya Khalid menghidupkan shower dan berdiri dibawah guyuran air hangat.
Milik siapa lagi jika bukan milik Aisyah, koper tersebut memang sudah Karin siapkan untuk malam ini.
Isinya adalah baju-baju dan perlengkapan pribadi Aisyah lainnya. Aisyah teringat sesuatu, ia melirik kepintu kamar mandi. "Kak Khalid punya baju ganti ngak ya?"
Ia masih berada dalam balutan gaun pernikahan. Rasanya ingin melompat kedalam kolam renang sekarang. Badannya terasa sangat lengket dan lelah.
Matanya kembali menatap koper yang telah terbuka. Tangannya meraih sebuah gamis rumahan berbahan katun dingin warna putih dan juga jelbab instan berwarna hitam.
Satu fakta yang ia tau tentang Khalid malam ini: Pria itu sangat lama jika sedang mandi. Padahal 15 menit lagi adzan isya akan berkumandang.
Aisyah memilih duduk disisi ranjang, ia memegang pakaian yang akan dipakainya setelah mandi nanti.
Guyuran air masih terdengar lewat kamar mandi, Aisyah setia menunggu. Ia masih belum mempercayai bahwa hari ini ia resmi menjadi istri dari seorang yang sangat ia cintai selama 4 tahun ini.
sudut mulutnya mengembang tersenyum namun kembali tercekat saat memikirkan Azzura, betapa Sempurnanya Azzura dimata Aisyah.
Apa mungkin Khalid maish mencintai Aisyah? menurut sifat Khalid terhadap Azzura tadi jelas memperlihatkan betapa dekatnya mereka berdua.
Ceklek!
Kamar mandi terbuka dan keluarlah Khalid dari dalamnya.
Deg!
Jantung Aisyah terasa ingin keluar saat melihat Khalid dalam balutan baju koko dan sarung.
__ADS_1
Dia terlihat lebih tampan dalam balutan pakaian tersebut daripada memakai Tuxedo seperti tadi.
Seperti Pangeran!
"Aisyah?"
Khalid mencoba memanggil Aisyah yang mematung melihat kearahnya. "Kamu kenapa?" tanya Khalid dengan suara dingin Khasnya.
"Ng-ngak apa-apa kok kak. kaka mau sholat ya?" Aisyah bangkit dari duduknya, sekarang ia mencoba memberanikan diri berbicara dengan Khalid sambil menatap matanya.
"Iya. saya mau kemesjid sekarang, kamu ngak apa kan kalo saya tinggal?"
"Ngak kok kak, ngak apa-apa."
"Kamu sendiri ngak sholat?"
"Eh..itu-anu, aku lagi datang bulan."
"Oh." Khalid menatap ke jendela kamar hotel. "Saya kemesjid sekarang."
"Iya kak."
Khalid berjalan melewati Aisyah. Aisyah teringat akan satu hal, malam ini adalah malam pertama mereka, bukankah setiap pasangan akan melakukan 'itu'.
Aisyah merasa sangat bersalah karena tidak bisa memberikan hak Khalid sebagai seorang suami.
Lantas Aisyah pun membalikkan badannya menghadap Khalid yang sudah memegang gagang pintu.
"Kak Khalid!"
Khalid menoleh ke arah Aisyah dan menaikkan sebelah alisnya tanda ia sedang bertanya pada Aisyah.
"Kak. Aisyah minta maaf!" Lirihnya sambil menurunkan pandangannya menatap lantai kamar.
"Untuk?"
"A-aisyah sedang datang bulan."
"Terus?"
"Otomatis, ki-kita ngak bisa ber-bercampur." Pipi Aisyah merona.
"Lupakan, saya mau sholat dulu."
Ceklek!
Brak!
Khalid menghilang dibalik pintu meninggalkan Aisyah yang terpaku ditempat.
--------
jangan lupa like, vote dan komennya :)
Instagram: shinta_fahira29
__ADS_1