OBSESI GILA

OBSESI GILA
Chapter 1


__ADS_3

Pukul 10 malam Bianca baru selesai dari pekerjaannya yang super padat. Berbeda dari malam malam sebelumnya, malam ini Bianca menyetir sendiri. Ia kasihan pada Maya asistennya yang sedari pagi tadi mengkhawatirkan adiknya yang sedang opname di rumah sakit.


Seharian beraktivitas membuat perut Bianca keroncongan. Alhasil sebelum kembali ke apartemennya Bianca memutuskan singgah sebentar ke garden restaurant yang menyediakan makanan untuk vegetarian.


Namun sesampainya di garden restaurant. Bianca dikejutkan dengan sosok lelaki muda yang duduk di meja dekat kolam renang.


Bianca mengedipkan mata tiga kali, memastikan jika ia tidak sedang berkhayal bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Setelah memastikan jika ia tak berhalusinasi, bibir tipis yang terpoles lipstik merah muda itu tertarik ke atas. Kaki jenjangnya melangkah mendekat ke meja si lelaki.


"Sayang kok tumben cepet?" Tanya sang lelaki tanpa mengalihkan tatapannya dari gadget yang ia pegang.


Bianca tak dapat berkata kata. Ia tak salah dengar kan? Pujaan hatinya memanggilnya sayang? Sumpah?? Demi apa?


Saking terkejutnya Bianca bahkan tak dapat berkata kata. Ia mematung ditempatnya.


Si lelaki yang heran karena tumben tunangannya yang super bawel ini hanya diam saja pun mendongakkan kepalanya ke atas. Dan dalam sedetik ia terpaku melihat orang yang selama ini ia hindari berada didepan matanya.


"Kamu" hanya satu kata itu yang sanggup keluar dari mulut Zidan.


Bianca tersenyum lebar saat mendengar suara yang sangat ia rindukan. Suara yang sekarang makin seksi di telinga Bianca.


"Ibra? Sumpah ini kamu?" Bianca berteriak histeris tak peduli jika di restoran bertemakan out door ini lumayan banyak orang.


Tanpa bisa menahan kerinduannya Bianca memeluk leher Zidan yang sedang duduk di kursinya.


"Ya ampun Ibra sayang. Aku kangen banget sama kamu"


"Eh apaan sih?" Zidan menggeliat jijik saat dengan tiba tiba Bianca memeluk lehernya. Zidan masih lelaki normal. Melihat Bianca, gadis blasteran indo-australia dengan wajah cantik jelita, body goals, ditambah pakaian seksi yang tiba tiba langsung menubruk memeluk lehernya membuat Zidan mau tak mau berdebar. Ditambah dada montok Bianca yang menempel erat didadanya membuat otak Zidan melayang kemana mana.


"Lo jangan sembarangan meluk gue ya. Ntar kalau calon istri gue liat gimana?" Zidan melepas paksa tangan Bianca yang memeluk erat lehernya, membuat Bianca yang kehilangan keseimbangan hampir terjungkal ke belakang.


"Calon istri kamu kan aku" jawab Bianca santai.


"Minggir gak lo. Gue udah pernah bilang kan ama lo, jangan pernah ganggu hidup gue lagi"

__ADS_1


Bianca tersenyum sedih. Zidan masih sama dengan Zidan yang dulu. Zidan yang sangat membenci Bianca, Zidan yang selalu menyakiti hati Bianca, Zidan yang selalu mempermalukan Bianca. Dan dengan bodohnya Bianca masih saja mencintai lelaki yang bahkan mengatainya jalang dan menghinanya habis habisan di pesta kelulusan sewaktu SMA dulu.


Ya. Sebodoh itulah Bianca.


Namun apa yang bisa Bianca lakukan. Dirinya sudah berusaha menghapus perasaan cinta yang setiap hari membunuhnya secara perlahan. Tapi..


Bianca tak bisa.


Rasa cinta itu bukannya hilang, namun justru makin bertambah di setiap harinya.


Bagi Bianca Zidan adalah separuh hidupnya.


Melupakan kesedihan hatinya saat mendengar bentakan Zidan. Bianca tersenyum lebar seolah dirinya baik baik saja.


"Ibra i love you" Bianca mengecup lama bibir Zidan. Zidan yang terlalu syok terpaku di tempatnya.


"Zidan". Bianca melepaskan kecupannya dan menoleh ke belakang. Disana seorang wanita dengan gaun merah muda diam mematung dengan air mata membasahi wajahnya.


"Tega kamu Zi" Liliana berlari keluar dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.


Zidan bermaksud mengejar Liliana, namun cekalan tangan Bianca di lengannya membuat ia berhenti dan menatap tajam Bianca.


"Ibra please. Aku cinta banget sama kamu. Kamu jangan ninggalin aku lagi ya. Please. Aku gak bisa hidup tanpa kamu" Bianca menangis sambil memegang erat lengan Zidan. Sungguh Bianca tak sanggup jika harus berpisah lagi dengan Zidan. Ia cinta mati pada Zidan. Ia hanya ingin Zidan menjadi miliknya. Hanya miliknya.


Zidan menyentak kasar tangan Bianca. Ia menatap tajam Bianca, Raut wajahnya menunjukkan jika ia jijik setengah mati pada Bianca. Namun Bianca yang sudah terbutakan oleh cinta sama sekali tak peduli dengan tatapan tajam Zidan.


"Gue udah bilang kan sama lo. Jangan pernah lagi manggil gue ibra. Kenapa sih bie sejak dulu lo itu selalu aja gangguin hidup gue. Kelakuan lo itu kayak jalang tau gak?"


Hati Bianca sakit mendengar ucapan pedas Zidan. Air matanya mengalir semakin deras tanpa bisa dicegah. Namun Zidan sama sekali tidak merasa kasihan ataupun iba. Ia sudah terlalu muak dengan Bianca.


"Aku rela jadi jalang asal kamu jadi milik aku" otak Bianca sepertinya sudah hilang. Zidan tak habis pikir dengan kelakuan Bianca yang sejak dulu selalu merecokinya. Kelakuan Bianca lebih pantas disebut stalker.


Dulu saat SMA, Bianca pernah menyadap semua akun sosial media milik Zidan. Mengikuti secara diam diam kemanapun Zidan pergi. Tak pernah absen mengirim surat cinta ataupun coklat pada Zidan, walaupun Bianca tahu jika surat yang ia kirimkan tak pernah dibaca oleh Zidan, dan coklat pemberiannya juga tak pernah dimakan oleh Zidan.

__ADS_1


Bianca bahkan meneror semua gadis yang Zidan kencani, Bianca tak segan membully gadis yang dekat dengan Zidan. Awalnya Zidan membiarkan saja kelakuan obsesi Bianca pada dirinya, ia pikir seiring berjalannya waktu Bianca akan berhenti sendiri. Namun tidak, bukannya berhenti Bianca malah semakin melonjak. Bianca meneror semua gadis yang dekat Zidan dengan teror ekstrim. Bianca bahkan pernah menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa gadis yang pernah jadi pacar Zidan.


Zidan benar benar sudah lelah dengan kelakuan Bianca.


"Bie. Please. Perasaan kamu ke aku itu bukan cinta. Itu hanya obsesi kamu bie"


"Tau kamu apa kamu tentang perasaan aku? Aku cinta banget sama kamu bra. Aku rela mati demi kamu"


Zidan mengusap kasar wajahnya. Sungguh Zidan benar benar lelah dengan semua kelakuan Bianca.


"Bie, aku udah punya tunangan. Dan sebentar lagi aku akan menikah dengan tunangan aku"


"Gak boleh. Kamu cuma milik aku. Gak ada yang boleh milikin kamu selain aku" tangis Bianca makin deras. Tangannya makin erat memegang lengan Zidan.


"Bie. Aku cinta sama Liliana. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Jadi please aku mohon banget sama kamu jangan ganggu hidup aku lagi oke? Kamu cantik, pasti banyak pria yang bisa mencintai kamu. Jangan kejar yang gak akan mandang kamu bie. Karena itu hanya akan menyakiti diri kamu sendiri" Zidan mencoba bicara lembut dengan Bianca, berharap Bianca mau menuruti perkataannya.


Namun Bianca justru menangis makin keras. Tangisannya terdengar menyayat di telinga Zidan.


"Kalau kamu nekat pergi. Aku akan bunuh diri" ancam Bianca.


"Aku gak peduli. Aku justru bersyukur kalau kamu mati dan aku bisa hidup bebas tanpa gangguan gila dari kamu" ucap Zidan kejam.


Nafas Bianca tercekat di tenggorokan. Ia benar benar tak menyangka jika Zidan justru menginginkan kematiannya. Tanpa sadar cengkeraman tangan Bianca di lengan Zidan melemah, Zidan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyentak kasar tangan Bianca di lengannya. Ia harus mengejar Liliana. Ia tak ingin Liliana salah paham.


Zidan mencintai Liliana. Dan Zidan tak peduli dengan Bianca.


TBC..


Note: cerita ini menggunakan alur campuran.


Halo ini cerita pertama saya. Tolong dukung saya ya teman teman.


Terimakasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2