OBSESI GILA

OBSESI GILA
Chapter 9


__ADS_3

"Zidan"


Zidan tersenyum saat Maya berlari kecil menghampiri dirinya yang baru saja selesai futsal. Sudah satu Minggu ini Maya dan Zidan dekat. Namun Zidan tak berani mengubah status pertemanan mereka menjadi pacaran. Ia takut jika nantinya hal buruk terjadi pada Maya. Zidan bahkan sekarang sudah berhenti mengencani perempuan.


"Ada apa?" tanya Zidan saat Maya sudah berada didepannya.


Maya tersenyum malu malu. "Gak papa sih. Emm nanti sore kamu ada waktu gak?"


"Hmm ada kayaknya. Kenapa emang?" Tanya Zidan.


"Aku mau ngajak kamu main ke rumah aku"


Zidan terkejut. "Ehh? Ngapain?"


Maya tersenyum geli. "Adik aku hari ini ulang tahun, nanti sore pestanya dirayakan. Aku mau ngajak kamu ke pestanya adikku. Kamu emang mikir apaan?"


Zidan menggaruk kepala belakangnya salah tingkah. Sialan ia tadi sudah mikir macam macam. "Gak mikir apa apa kok"


Maya tersenyum manis. "Kamu mau kan?" Tanya Maya.


Tanpa pikir panjang Zidan mengiyakan tawaran Maya. Kapan lagi ia bisa dekat dekat dengan Maya, mengingat mereka yang beda kelas tentu saja komunikasi mereka pun juga terbatas. Ditambah mereka tak ada hubungan apa apa dan hanya sebatas teman.


#


Bianca menatap dua manusia yang sedang kasmaran itu dari atap sekolah. Bibirnya mengukir senyuman manis. Di otaknya sedang memikirkan cara apa yang pantas untuk menghabisi korban selanjutnya.


Maya.


Sepertinya akan sangat menarik jika Bianca membunuh Maya secara perlahan. Ia ingin menikmati jerit ketakutan korbannya. Sudah lama ia tak membunuh orang secara pelan pelan. Semua korbannya akhir akhir ini ia bunuh dengan cepat karena tak ingin meninggalkan banyak bukti.


Bianca tertawa ngikik saat ia sudah menemukan cara yang pas untuk menyingkirkan Maya.


#


"Kamu pulang naik apa?" Tanya Zidan saat ia dan Maya berjalan beriringan menuju gerbang depan.


"Aku naik ojek" jawab Maya.


Yes. Dalam hati Zidan bersorak bahagia.


"Kamu sendiri naik apa?" Tanya Maya.


"Aku naik motor"


Maya menatap Zidan bingung.


"Parkir depan" jawab Zidan saat melihat tatapan bingung Maya.


"Ohh" Maya mengangguk singkat.


"Gimana kalau kamu pulang bareng aku aja" tawar Zidan.


Maya menatap Zidan. "Gak ngrepotin?" Tanyanya tak enak.


"Gak kok. Santai aja" jawab Zidan


"Emm. Iya boleh deh"


"Ibra" Zidan menoleh lalu mendengus saat melihat Bianca berjalan kearahnya.


Sesampainya didepan Zidan, Bianca menatap Zidan, raut wajahnya terlihat khawatir. "Emm, tadi aku ditelpon sama rekan kerja mommy, katanya mommy pingsan dikantornya, sekarang baru dibawa di rumah sakit. Aku boleh minta tolong gak buat nganter aku ke rumah sakit. Please kali ini aja ya" Bianca menatap Zidan dengan mata berkaca kaca.


Zidan menatap tak tega pada Bianca, sebenci bencinya Zidan pada Bianca ia tak mungkin tega membiarkan Bianca berangkat sendiri saat pikirannya sedang kacau memikirkan mommy nya. 


Maya menatap Zidan tersenyum. "Aku bisa naik ojol kok" katanya.


Zidan menatap Maya tak enak. "Maaf ya"


Maya mengangguk. "Iya. Gapapa"


"Aku ambil motor dulu ya, kamu tunggu sini aja" kata Zidan pada Bianca. Bianca mengangguk.


Setelah Zidan pergi, tersisa Maya dan Bianca dengan suasana canggung. Maya yang sedang menunggu ojek dan Bianca yang menunggu Zidan.


Maya yang tak tahan dengan situasi seperti ini akhirnya mengajak bicara Bianca. "Duduk situ aja yuk bie"


Bianca hanya mengangguk singkat lalu berjalan mendahului Maya tanpa basa basi sedikitpun.


Maya menatap Bianca sedikit bingung. Raut wajah Bianca cepat sekali berubah, dari yang tadi terlihat sangat khawatir sekarang terlihat datar.


"Aku turut sedih ya denger kabar mommy kamu yang pingsan, semoga keadaan mommy kamu baik baik aja ya" ucap Maya turut prihatin.


"Hmm" Bianca hanya bergumam bahkan ia tak perlu repot repot menoleh ke Maya.


Maya jadi makin tak enak saat ia merasa suasananya jadi makin canggung. Untung saja tak lama setelah itu Zidan muncul menaiki motornya.


"Ayo bie naik" kata Zidan sesampainya didepan Bianca yang sudah berdiri menunggu Zidan.

__ADS_1


Maya menatap Bianca. Ia makin heran, setelah Zidan muncul raut wajah Bianca berubah drastis, dari yang tadi sangat datar sekarang jadi khawatir bahkan nyaris ingin menangis.


"May, kita duluan ya" ucap Zidan mengagetkan Maya.


"Eh i-iya, hati hati ya" kata Maya.


Saat motor Zidan melaju, Maya sempat melihat Bianca yang tersenyum menyeringai ke arahnya.


Maya merinding.


Maya menggelengkan kepalanya, ia mengusir pikiran buruk yang mampir di kepalanya. Bukannya Maya tak sadar, setiap gadis yang dekat dengan Zidan berakhir mati semua. Ia sadar akan hal itu. Tapi tak mungkin kan ini semua ulah Bianca? Iya. Pasti tak mungkin.


Semua ini pasti karena kebetulan.


#


Sesampainya di rumah sakit, Bianca memaksa Zidan untuk menemaninya menemui mommy nya.


Di kamar VIP, Renata terbaring lemas dengan selang infus menancap di tangannya. Ia terkejut dan heran saat putrinya mau menengok dirinya, ditambah putrinya datang dengan air mata membanjiri wajahnya dan raut khawatir yang terlihat jelas di wajah cantik putrinya.


"Mommy" Bianca berhambur memeluk Renata. "Mommy gak papa kan?"


"Eh?" Renata kaget. Putrinya yang kaku mau memeluk dirinya. Ia tersenyum lembut. Dalam hati Renata sangat bahagia karena mengira sedingin apapun putrinya ia akan tetap sayang pada ibunya.


"Mommy udah medingan kok" jawab Renata seraya mengelus surai kecoklatan yang diturunkan suaminya untuk putrinya.


Bianca melepas pelukannya pada Renata "aku tadi khawatir banget waktu Bu Nisa ngabarin aku kalau mommy pingsan" katanya.


Padahal yang terjadi sebenarnya Bianca sama sekali tak khawatir saat Bu Nisa menelponnya dan mengabarkan jika mommy nya jatuh pingsan. Bianca tadi bahkan masih sempat menguntit Zidan yang sedang latihan futsal dan memikirkan bagaimana cara membunuh Maya disaat mommy nya terbaring di ranjang rumah sakit. Bianca hanya berpura pura sedih agar Zidan mau bersimpati kepadanya.


"Mommy baik baik aja kok, gak ada yang perlu dikhawatirkan. Mommy cuma kecapekan aja" jawab Renata.


Zidan sejak tadi hanya diam melihat ibu dan anak itu yang terlihat saling mengasihi satu sama lain.


"Eh ada teman Bianca ya?" Renata baru menyadari keberadaan Zidan yang hanya berdiri diam dibelakang Bianca.


Zidan tersenyum sedikit kaku. "Selamat sore tante" sapa Zidan.


Renata tersenyum "Sore juga. Tante seneng akhirnya Bianca punya teman disekolah, selama ini Tante selalu khawatir karena sedari masih tinggal di Australia Bianca sama sekali tak punya teman. Makasih ya nak mau berteman dengan anak Tante" Renata tersenyum haru.


Zidan tersenyum kaku. Jelas tak ada yang mau berteman dengan Bianca mengingat kelakuan Bianca yang aneh dan sedikit menyeramkan. Orang waras mana yang mau berteman dekat dengan Bianca kecuali dirinya dulu. Batin Zidan.


"Silahkan duduk nak.. siapa namanya?" Tanya Renata.


"Zidan tante, gak usah repot repot Tante, saya harus segera pulang kok, soalnya petang nanti ada les" jawab Zidan.


"Gak usah repot repot tante, kalau gitu saya pamit pulang dulu ya Tante" pamit Zidan.


Renata mengangguk ramah. "Hati hati ya nak"


Setelah Zidan keluar, Bianca yang tadi duduk di ranjang Renata buru buru berdiri dan mengejar Zidan. Renata sampai dibuat heran dengan kelakuan putrinya.


"Ibra" panggil Bianca saat melihat Zidan yang berjalan di lorong rumah sakit.


Zidan menoleh. "Ada apa?"


Bianca berlari menghampiri Zidan. "Kata kamu tadi nanti petang kamu mau les ya? Les dimana? Atau itu cuma akal akalan kamu aja supaya bisa cepet cepet pulang?"


Zidan mengerutkan keningnya. Memang sih tadi itu cuma basa basi Zidan supaya bisa cepat cepat pulang. Ia malas berada dekat dengan Bianca. Tapi kalau masalah les ia tidak mengarang, karena memang papinya kemarin menawarinya untuk les bahasa Jerman namun ia tolak.


"Bener kok. Gue mau les" kata Zidan.


Bianca menatap Zidan sedikit sangsi. "Les dimana?" Tanya Bianca. Selama ia menyewa orang untuk menguntit Zidan, Bianca tak pernah dapat laporan jika Zidan sekarang les di suatu tempat. Karena jika Zidan les, maka Bianca pun juga akan les di tempat yang sama dengan Zidan.


"Gak ada urusannya sama lo kan?" Jawab Zidan sinis. "Udah ya gue mau balik"


Bianca diam di tempatnya, ia tak mengejar Zidan. Bianca hanya menatap punggung Zidan yang mulai menjauh.


Bianca tersenyum. Tak apa apa kalau Zidan tak mau memberi tahu tempat lesnya, karena nanti pun ia akan tahu sendiri.


#


"Permisi"


Liliana membuka pintu rumahnya yang diketuk. "Cari siapa?" Tanyanya saat melihat seorang pria membawa bingkisan kotak.


"Benar ini rumahnya nona Mayasari?" Tanya sang pria yang Liliana yakini seorang kurir.


"Iya betul. Saya adiknya"


"Ini ada kiriman paket untuk nona Maya" Liliana menerima bingkisan yang sedikit berat itu, cuma perasaannya saja atau memang benar jika tadi tangan sang kurir sedikit bergetar saat menyerahkan bingkisan ini.


"Saya pamit ya. Permisi" kata sang kurir terdengar buru buru.


"Eh mas. Ini gak pake tanda tangan untuk bukti jika barang sudah dikirim ke penerima?" Tanya Liliana.


Kurir itu tersenyum kikuk. "Maaf saya kelupaan" katanya sambil mengeluarkan ponselnya. "Silahkan tanda tangan disini"

__ADS_1


Setelahnya sang kurir langsung melesat pergi meninggalkan Liliana yang menatapnya bingung.


"Aneh banget sih" gumam Liliana.


"Kak May" teriak Liliana. "Ada paket nih buat kakak"


Maya keluar dari kamar. "Paket buat aku? Dari siapa?" Tanya Maya heran. Baru kali ini ia dapat kiriman paket.


"Gak tau. Kurirnya tadi gak bilang" jawab Liliana. "Cie. Pasti dari pacarnya nih" goda Liliana pada Maya.


Mendengar itu Maya bersemu. Apa mungkin paket ini dari Zidan?


"eciee wajahnya merah ni ye"


"Apaan si? Anak kecil gak boleh mikir pacaran"


"Apaan? Aku sama kakak aja cuma beda setahun"


"Tetep aja. Kamu sama kakak tuaan kakak, jadi kamu masih kecil" jawab Maya sambil berlalu masuk ke kamarnya.


"Eh gak bisa gitu dong" teriak Liliana.


#


"Udah kamu kirim?"


Kurir yang tadi mengantar paket untuk Maya bergetar ditempatnya.


"Su-sudah" ia tergagap.


"Kamu gak melakukan hal hal yang bisa bikin orang curiga kan?" Tanya gadis berkacamata hitam itu.


"Ti-tidak"


Bianca melepas kacamata hitamnya dan menaruhnya di saku kemeja hitam yang ia kenakan. Tangan kanannya menggenggam pisau yang membuat sang kurir bergetar ketakutan di tempatnya.


"Sayangnya aksi kamu yang kelupaan minta tanda tangan tadi sudah menimbulkan rasa curiga pada adik Maya" bisik Bianca di telinga Romi.


Bianca melepas kancing kemejanya. Matanya menatap sensual pada Romi.


Romi memalingkan wajahnya, bukan karena takut tergoda secara seksual pada iblis betina ini. Tapi lebih karena Romi bisa melihat hasrat membunuh yang besar di bola mata coklat terang milik Bianca, ditambah saat ini ia sedang duduk terikat dikursinya dan tak bisa melakukan perlawanan.


"Gimana kalau kita sekarang bersenang senang dahulu" ucap Bianca. Tangan kanannya membelai rahang tegas Romi.


"Kita senang senang yuk" kedua tangan Bianca memeluk leher Romi. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Romi. Bibirnya menyapu lembut pipi dan hidung Romi.


Romi menggeram. Rahangnya mengetat.


"Kamu udah gak tahan ya. Kita mulai sekarang ya" jawab Bianca sensual.


Bianca turun dari pangkuan Romi, ia duduk bersimpuh di lantai. Tangannya membelai paha dalam Romi membuat si empunya memejamkan mata.


Setelahnya..


Bianca menusuk perut Romi berulang kali. Dan jeritan Romi pun makin keras karena sakit yang mendera tubuhnya.


Bianca tertawa lebar. "Terus sayang. Terus menjerit yang kencang"


"T-tolong" mohon Romi disela kesakitannya. "Tolong bunuh aku"


Bianca berdiri, ia melepas kemeja dan celananya yang terciprat oleh darah Romi. Sekarang ia telanjang sepenuhnya.


"Lihat ini. Kemeja dan celanaku kotor kan jadinya" kata Bianca.


Romi menatap Bianca memohon. Ia sama sekali tak tertarik melihat Bianca yang telanjang bulat didepannya. Kesakitan lebih menguasai tubuhnya.


"K-kumohon. Tolong bunuh aku" pinta Romi. Ia berpikir untuk apa ia hidup jika ia tak punya aset untuk menghasilkan keturunan serta mereguk kenikmatan dunia.


"Tentu sayang. Aku pasti akan membunuhmu" Bianca tersenyum manis.


TBC...


halo...


maaf saya hampir satu bulanan gak up. sebetulnya part ini sudah siap di up sejak bulan lalu. tetapi tidak lolos review karena mengandung adegan terlalu vulgar.


kemarin2 saya mau revisi males hihi. sebetulnya saya malas bila harus mengubah naskah yang sudah saya tulis. saya pernah punya pikiran untuk berhenti menulis dan rencananya cerita ini tidak akan saya lanjutkan, walaupun di folder saya cerita ini sudah sampai part 20an.


tetapi..


baru saja saya buka aplikasi noveltoon dan ada satu orang yang menambahkan cerita saya di daftar favorit. hueeee saya terharu sumpah😭


makasih buat kalian yang sudah menambahkan cerita saya didaftar favorit kalian.


luv u😘


btw gais part ini abis revisi langsung saya up, belum saya baca dahulu. so, kalo ada typo n kata2 ga nyambung maklumin ya

__ADS_1


__ADS_2