OBSESI GILA

OBSESI GILA
Chapter 6


__ADS_3

10 tahun lalu.


Zidan menghisap batang rokok yang ia pegang. Di sekolah ia memang terkenal berandal, namun saat dirumah Zidan jadi anak manis yang takut dibentak oleh maminya.


Saat ini Zidan berada di belakang gedung sekolah bersama teman teman berandal nya.


"Denger denger dikelas kita nanti ada murid baru ya?" Tanya Evan Arcadikswara, teman SMA Zidan.


"Katanya orangnya cewek ya?" Dicky balik tanya.


"Kata mesya sih dia bule. Wah cantik dong hehe" Aldi tersenyum mesum.


"Pikiran lo, gak puas lo tiap hari c*li mulu?" Evan memukul kepala Aldi.


"Gini gini gue masih perjaka kali" sahut Aldi ketus. Kepalanya nyut nyutan setelah dipukul Evan.


"Dan, gak takut mati lo, perasaan lo tiap hari ngudud mulu" Dicky menatap heran pada Zidan. Diantara dirinya, Zidan, Evan, dan Aldi hanya Zidan lah yang paling sering merokok.


"Gak" sahut Zidan cuek.


"Kalo ketahuan bapak lo bisa mati lo dan" Evan menimpali.


"Ya makanya lo pada jangan ada yang omong ama bapak gue"


"Balik kelas yuk" Aldi berdiri bersiap kembali ke kelas.


"Tumben lo? Kesambet apaan?" Evan menatap heran pada Aldi. Biasanya Aldi paling malas masuk kelas.


"Hehe gue pengen liat si murid baru. Siapa tahu bisa gue gebet"


"Bah. Gue kira apaan"


"Cabut yuk" Dicky ikut ikutan berdiri.


"Lah lo juga pengen liat si murid baru dik?" Tanya Evan.


"Gue mau nyalin jawaban soal matematika kemarin. Dah lah, yuk al cabut".


Melihat Dicky dan Aldi yang kembali ke kelas, Evan pun ikut ikutan bangkit. "Balik yuk dan" ajak Evan.


#


Bianca memasuki kelas yang sekarang menjadi kelasnya. Ia masuk dengan wajah datar tanpa senyum. Membuat teman teman barunya menilai jika Bianca gadis yang sombong, mentang mentang ayahnya pengusaha kaya raya.


Bianca memulai memperkenalkan dirinya setelah wali kelas menyuruhnya. "Nama saya Bianca Victoria Kidman. Saya dari Australia dan belum terlalu lancar berbahasa Indonesia, jadi mohon bantuannya" ucap Bianca singkat. Logat bahasa Indonesianya masih terlalu kaku.


Aldi menyenggol lengan Zidan yang sejak tadi menunduk sambil main game. Sama sekali tak penasaran dengan wajah si murid baru. "Gila. Kelas kita kedatangan bidadari uyy" ucap Aldi.


"Hmm" Zidan sama sekali tak tertarik.


"Lo gak pengen liat. Cantik banget loh si Bianca"


"Hmm"


"Elah. Cuek banget sih lo. Ntar Lo nyesel loh. Zi, seriusan nih, gue kagak bohong kalau Bianca itu cantik banget loh" Aldi masih saja merecoki Zidan.


"Apa sih" mau tak mau Zidan menengok ke arah Aldi. Wajahnya terlihat kesal karena Aldi mengganggu aktivitas main gamenya.


"Tuh si Bianca jalan kesini" Aldi mengedikkan dagunya.


Saat Zidan menatap ke depan, ia tertegun.


Cantik..


Satu kata itu yang paling pas menggambarkan fisik Bianca. Manik coklat terang Bianca menatap manik hitam pekat Zidan. Namun tak ada reaksi apapun dari Bianca. Ia justru dengan santai duduk di depan kursi Zidan karena hanya itu satu satunya kursi yang kosong. Bianca bahkan tak repot repot menyapa teman sebangkunya.


Entah kenapa hal itu membuat Zidan kesal, baru kali ini ada gadis yang menarik perhatiannya namun ia malah dicuekkin.

__ADS_1


"Ehem" Zidan berdehem mencoba menarik perhatian gadis didepannya ini. Satu kali deheman Bianca tak menoleh, Sampai deheman ketiga Bianca masih tak menoleh. Zidan akhirnya berdehem berkali kali sampai tenggorokannya jadi gatal beneran.


"Lo batuk dan?" Tanya Aldi terganggu. Sedari tadi ia tak bisa tidur karena Zidan yang berdehem terus terusan.


"Kayaknya sih iya" jawab Zidan tanpa mengalihkan pandangannya yang masih tertuju pada rambut sebahu Bianca.


Zidan mendorong kursinya mundur, berharap bunyi deritan kursinya menarik perhatian Bianca. Namun nihil, Bianca tak menoleh sedikitpun pada Zidan. Saat ada pertanyaan dari guru, Zidan aktif bertanya supaya bianca melihat ke arahnya. Teman temannya sampai heran karena biasanya Zidan tak pernah mau bertanya ataupun menjawab pertanyaan dari guru. Dengerin pelajaran aja ia enggan.


Sampai bel pulang pun Bianca hanya menatap Zidan sekilas saat ia berbalik memasukkan buku bukunya ke dalam tas.


Entah kenapa Zidan jadi kesal sendiri.


#


Sudah satu bulan sejak Bianca menjadi murid baru di sekolahnya. Seberapa banyak pun Zidan mencoba menarik perhatian Bianca. Bianca sama sekali tak merespon. Hanya sesekali menatap tanpa ekspresi ke arahnya.


Padahal Zidan sudah menjatuhkan harga dirinya mengajak Bianca mengobrol duluan, namun Bianca hanya menjawab seperlunya.


Zidan membuka galeri hp nya. Menatap wajah Bianca yang ia ambil diam diam. Waktu itu Zidan sedang jogging di taman kota dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan Bianca yang juga sedang duduk di bangku taman. Saat itu Zidan mencoba tersenyum bermaksud menyapa Bianca, namun bukannya tersenyum balik Bianca justru hanya menatapnya datar. Seolah mereka tak saling kenal.


Zidan kesal tentu saja. Namun diam diam ia menikmati pemandangan Bianca yang sedang duduk di kursi taman sambil membaca buku. Rambut kecoklatan Bianca bergerak ke belakang tertiup angin sore. Zidan masih ingat waktu itu jantungnya berdebar sangat cepat saat melihat Bianca. Tak lupa ia mengabadikan wajah cantik Bianca di kamera ponselnya.


Setalah kejadian itu, Zidan sering diam diam mengambil foto Bianca. Dan setiap malam ia sering memandang lama foto Bianca.


Zidan tahu ini gila, ia tak pernah bertingkah konyol seperti ini. Untuk pertama kalinya Zidan jatuh cinta pada seorang gadis.


#


Sudah satu bulan sejak kepindahan Bianca di sekolah barunya. Hari ini ia berangkat sekolah diantar mommy nya.


"Kau menikmati harimu disini?" Tanya Renata, mommy Bianca.


"Hmm" Bianca hanya berdehem, pandangannya mengarah ke kaca mobil.


Renata menghela nafas. Perempuan paruh baya asli Indonesia itu tersenyum sedih melihat sifat putrinya yang terlalu menutup diri. Setelah perceraiannya dengan sang suami sejak tiga bulan yang lalu, hak asuh Bianca jatuh ke tangannya dan Sean jatuh ke tangan suaminya.


Mobil Renata berhenti tepat di depan gerbang sekolah Bianca.


Bianca turun tanpa mengucap sepatah katapun pada mommy nya. Renata hanya tersenyum sedih melihat putrinya. Ini semua salahnya, seandainya dulu sewaktu anak anaknya masih kecil ia memberikan kasih sayang lebih pada kedua anaknya, bukannya menampilkan adegan pertengkaran antara dirinya dan suaminya. Seandainya dulu ia lebih memperhatikan kesehatan mental anak anaknya pastinya sekarang Bianca dan Sean tumbuh menjadi anak yang normal. Tidak psikopat seperti ayah mereka.


#


Byur.


Bianca terpekik kaget saat wajahnya tersiram air bekas mengepel.


Puspita, Sisca, dan Dinda tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Bianca yang terlihat menyedihkan.


Bianca hanya diam. Ia sama sekali tak membalas perlakuan ketiga gadis yang hampir tiap hari membully dirinya.


Bukan. Bukan karena Bianca takut.


Bianca hanya malas meladeni ketiga perempuan sok sokan ini.


Tanpa Bianca sadari, Zidan melihat kejadian saat Puspita, Sisca, dan Dinda menyiram Bianca dengan air bekas pel. Tangan Zidan mengepal. Ia marah. Marah karena beraninya ketiga gadis tak tahu diri itu mengganggu gadisnya.


"Apa apaan kalian" bentak Zidan. Ketiga gadis yang membully Bianca pucat pasi, mereka tak menyangka jika Zidan melihat kejadian ini. Biasanya Puspita dan gengnya membully Bianca dibelakang Zidan. Tentu saja karena Puspita tak ingin Zidan melihat kelakuan busuknya. Karena selama ini dimata Zidan, Puspita adalah orang paling baik, ramah, sekaligus cerdas.


Zidan memegang bahu Bianca. Wajahnya terlihat khawatir. "Kamu gak papa kan?"


Bianca terpaku. Baru kali ini ia merasa ada yang khawatir pada dirinya.


Melihat Bianca yang terdiam raut khawatir Zidan makin kentara. Zidan menggenggam tangan Bianca erat dan berbalik menatap ketiga gadis tadi.


"Kalau sampai terjadi apa apa sama Bianca. Gue tuntut kalian semua"


"Zi. Aku bisa jelasin" Puspita mencoba menggenggam tangan Zidan. Namun Zidan malah menyentaknya kasar.

__ADS_1


"Jangan pernah lagi lo deketin Bianca. Atau gue buat bangkrut bisnis orang tua lo" ancam Zidan.


Puspita pucat pasi.


Zidan menggandeng Bianca meninggalkan Puspita dan kawan kawannya.


#


Zidan menatap Bianca yang memakai jaket milik Zidan. Tadi Bianca terlihat kedinginan saat ia membawa Bianca ke taman sekolah. Ia pun berinisiatif meminjamkan jaketnya pada Bianca. Meskipun terlihat kebesaran, namun setidaknya cukup menghangatkan badan Bianca.


"Kamu gak apa apa kan?" Tanya Zidan.


Bianca menoleh, kemudian menggeleng.


Terlihat Zidan menghembuskan nafas lega. "Lain kali kalau ada yang ganggu kamu, kamu harus berani melawan. Jangan cuma diem aja, nanti mereka malah ngelunjak"


Bianca masih diam menatap Zidan.


Ditatap seperti itu membuat Zidan salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kamu mau izin pulang aja?" Tanya Zidan gugup. Sumpah jantungnya berdegup sangat cepat saat duduk berdekatan dengan Bianca, ditambah tatapan Bianca yang sedari tadi tak lepas dari dirinya.


Bianca hanya diam. Ia masih tak melepas pandangannya dari Zidan.


"Atau kalau kamu gak mau pulang kamu pinjam seragam di kesiswaan aja. Kalau gak gitu nanti kamu sakit, baju kamu kan basah" Bianca masih diam. "Bie kamu denger aku kan?"


Bianca mengangguk. Zidan heran dengan sifat aneh Bianca. Sejak tadi tanpa canggung Bianca terus terusan menatap wajahnya tak tahu malu, justru ia yang malu saat ditatap terus terusan oleh Bianca.


"Kamu mau pulang apa pinjam seragam di kesiswaan?" Tanya Zidan.


"Kalau pulang aku gak ada yang nganter" jawab Bianca.


"Nanti diantar sama satpam kok"


Bianca merengut. Ia tak suka jika diantar oleh satpam.


Bianca menunduk. "Kalau gitu aku pinjam baju di kesiswaan aja" lirihnya.


"Yaudah kalau gitu. Yuk aku anter"


Bianca tersenyum manis membuat Zidan terpesona.


"Ehem" Zidan berdehem menutupi kegugupannya.


Bianca dan Zidan berjalan beriringan menuju ruang kesiswaan. Bianca tak henti hentinya tersenyum manis. Senyum yang mampu membuat dada Zidan bergetar.


"Ibra"


Zidan menoleh. Ia mengangkat sebelah alisnya.


"Makasih ya" Bianca tersenyum manis.


"Kok kamu panggil aku Ibra?" Tanya Zidan.


"Nama tengah kamu Ibra kan?"


Zidan mengangguk. "Tapi gak ada yang manggil aku pakai nama Ibra. Jadi aku sedikit gak biasa aja"


Mendengar itu, lagi lagi Bianca tersenyum. Senyuman yang hari ini sering Zidan lihat. Karena biasanya Bianca hanya menampilkan raut wajah datar.


"Kalau gitu mulai sekarang aku panggil kamu Ibra ya"


"Kenapa?" tanya Zidan.


"Anggap aja itu panggilan sayang aku buat kamu" Bianca tersenyum dan wajah Zidan memerah. Beginikah rasanya jatuh cinta.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2